Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5- CKOD 5
Bella membuka matanya perlahan, dia sudah menggunakan pakaian pasien klinik. Karena memang tadi pakaiannya basah semua.
Suara mesin ekg terdengar nyaring di telinganya. Mungkin karena hanya suara itu yang terdengar di dalam ruangan. Bella menunduk, melihat ke arah tangannya yang terpasang selang infus.
Pantas saja dia merasa sedikit lebih baik. Ternyata ada infus yang terpasang padanya. Tapi, bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Seperti yang dikatakan oleh bibi Okta, dia harus kabur, sebelum ada yang datang ke ruangan rawatnya itu.
Bella bangkit perlahan, dia berusaha untuk duduk. Meski kepalanya masih sedikit pusing. Tapi dia berusaha untuk duduk dan melihat sekelilingnya.
Ada sebuah pintu, di depannya yang saat ini sedang tertutup. Lalu ada sebuah jendela kaca. Pikiran Bella segera tertuju ke arah jendela itu, dia berpikir untuk melarikan diri lewat sana.
Bella melepaskan selang infus yang menempel padanya. Perih memang, dia meringis kesakitan. Tapi dia memang harus kabur. Dia akan menemui kakaknya dan mencaritahu sebenarnya apa yang telah terjadi.
Sejak kecelakaan itu, sejak pemakaman Lusi, dan sejak kakaknya di tuntut sampai di penjara. Dia sama sekali belum pernah bertemu kakaknya.
Bella meninggalkan selang infus itu di atas kasur. Dia bahkan datang tanpa alas kaki. Bella melangkah ke arah jendela. Untung saja dia berada di lantai satu. Klinik ini juga tidak cukup besar.
Bella membuka kunci jendela kamar itu, sangat perlahan. Dia tidak mau menimbulkan suara yang akan membuat ada yang tahu dia mau kabur.
Klik
Jendela terbuka, Bella mendorongnya perlahan. Dia mulai dengan duduk di bagian paling bawah, lalu mengangkat satu kakinya. Cukup menegangkan, dia belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Dia juga tidak punya pikiran untuk kabur, sama sekali. Jika bibi Okta tidak memberinya saran seperti tadi. Pikirannya seperti membeku, begitu kacau sampai tidak bisa memikirkan apapun. Setiap yang dilakukan salah, setiap yang dikatakan juga salah. Bagaimana seseorang punya pikiran yang masuk akal saat mengalami semua itu.
Tak
Kedua telapak kaki Bella akhirnya menapak di rerumputan yang ada di luar jendela. Entah kenapa Bella merasa perasaannya begitu lega. Seperti sebentar lagi dia akan benar-benar terbebas dari keluarga Alexander itu.
Bella melihat ke belakang, pintu gerbang klinik juga terbuka lebar. Dia pikir setelah menutup jendela, dia akan kabur lewat sana.
Grepp
Deg
Jantung Bella rasanya mau mencelos. Ada sesuatu yang mencengkeram pergelangan tangannya.
Begitu Bella menoleh, tatapan mata Leo membuatnya seketika menjadi lemas.
"Beraninya kamu!" pekik Leo yang langsung menarik tangan Bella dengan sangat kuat.
Sangking marahnya, Leo bahkan menarik paksa tubuh Bella untuk kembali masuk dari jendela. Leo mengangkat tubuh Bella dengan sangat kasar. Dan menjatuhkannya begitu saja, ketika wanita itu sudah berada di dalam ruangan.
Brukk
Bahu Leo naik turun dengan sangat cepat, mata dan wajahnya merah padam. Bella sampai tidak berani menatap wajah suaminya itu.
"Kamu harus diberi pelajaran! berani benar kamu kabur!" pekik Leo yang langsung mencengkeram rahang Bella dengan begitu kuat.
Bella meringis kesakitan, tapi dia tidak berani menatap Leo. Dia ketakutan, sangat ketakutan.
"Rupanya selama ini aku terlalu baik padamu. Sampai kamu berani kabur. Lihat aku!" pekik pria yang dulu benar-benar sangat mencintai Bella itu.
Bella membuka matanya perlahan. Itu di klinik, dia tidak mau membuat keributan. Meski sangat takut, Bella memberanikan dirinya menatap mata Leo yang benar-benar membelalak lebar, seperti mau makan orang.
"Ma... maaf, agkhh...!"
Bella tidak bisa melanjutkan permintaan maafnya pada Leo. Karena pria itu menekan kuat punggung tangan Bella, dimana tadi ada bekas infus disana. Dan dari tempat yang sama itu, cairan merah keluar perlahan.
Air mata Bella mengalir begitu saja. Rahangnya sakit, punggung tangannya itu juga perih dan sakit. Tapi daripada kedua hal itu, hatinya lebih sakit. Sangat sakit, sampai dadanya terasa begitu sesak, benar-benar terasa begitu pilu.
Wajah Leo masih terlihat begitu geram. Tapi pikiran pria itu justru lebih mengerikan dari wajahnya.
"Karena kamu sudah berusaha kabur, maka seseorang yang harus menanggung akibat ulahmu ini!"
Bella yang masih menangis kesakitan, menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak! mas, aku janji tidak akan kabur lagi. Aku salah, aku minta maaf. Tolong..."
Leo meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang.
"Hajar Bagas Abimanyu Prasetya di penjara! buat dia babak belur sampai tidak bisa bangun!"
Bella terdiam, dia membeku di tempatnya. Seolah tak ada darah lagi mengalir di tubuhnya. Kenapa Leo begitu kejam? kenapa Leo bisa melakukan hal seperti itu pada kakaknya? Kenapa Leo yang dulu sangat dia cintai berubah menjadi seperti ini. Dimana seluruh cinta itu sekarang? dimana Leo yang dia kenal itu?
Melihat Bella terkulai lemas. Leo menarik tangannya dan berdiri.
"Ganti baju dan pulang! kamu sudah baik-baik saja sepertinya. Sampai bisa kabur! aku akan perlihatkan video kakakmu di penjara padamu setelah sampai di rumah!"
Pria itu berjalan keluar dari ruangan rawat itu tanpa menoleh sama sekali ke arah Bella. Bella juga masih terduduk lemas di lantai. Air matanya mengalir, tapi wajahnya pucat tanpa ekspresi.
'Kakak....' Lirihnya dalam hati.
Pintu ruangan itu kembali terbuka. Pak Bidin datang dengan sebuah paper bag di tangannya.
"Non, ini bajunya. Kata tuan Leo, kalau non Bella tidak keluar dalam waktu 10 menit. Tuan Bagas akan di habisi!"
Deg
Mata Bella yang masih basah bergerak dengan cepat menoleh ke arah pak Bidin. Dia meraih paper bag itu dengan cepat.
Tangannya bahkan masih mengeluarkan darahh. Tapi Bella berusaha berdiri dengan cepat. Pak Bidin yang melihat Bella sudah menuju ke kamar mandi segera keluar dari ruangan itu.
Bella membuka paper bag itu. Rasa perih di tangannya, dia tahan. Rasa sakit di rahangnya, tak lagi dia perdulikan. Dia hanya ingin cepat ganti pakaian. Supaya kakaknya tidak dihabisii. Air matanya mengalir begitu deras. Bahkan sudah jelas mulai sekarang, dia juga tidak mungkin bisa kabur dari Leo. Lalu dia harus bagaimana?
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈