Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. JANJI TULUS ASLAN
Di ruang kerja yang luas dan sunyi itu, Marcel kembali duduk di kursi besarnya. Ponselnya yang tadi ia letakkan dengan kasar kini kembali ia genggam, jari-jarinya melayang ragu di atas layar sebelum akhirnya ia membuka kembali folder tersembunyi yang berisi foto-foto itu. Wajah Aslan yang tertawa lepas di samping wanita asing itu seolah menatapnya balik, menambah rasa perih yang tak kunjung reda.
"Aku tidak bisa membiarkan ini menghancurkan segalanya," bisik Marcel, matanya menatap tajam ke layar ponsel meski hatinya bergetar. Ia tahu, menyembunyikan rahasia ini bukanlah hal yang benar, namun ia juga tidak sanggup membayangkan kehancuran yang akan terjadi jika kebenaran terungkap. Persahabatan dengan Samuel adalah salah satu harta paling berharga dalam hidupnya, dan masa depan Alana serta Aslan adalah harapannya.
Perlahan, Marcel menghapus foto-foto itu dari ponselnya, bukan karena ia ingin melupakan, tapi karena ia tidak sanggup melihatnya lagi. Ia memindahkan salinan file tersebut ke dalam sebuah penyimpanan data yang sangat aman dan terenkripsi, berharap itu akan menjadi cukup untuk menjaga rahasia ini tetap terkubur. Namun, ia sadar, menghapus file di ponsel tidak akan menghapus kenyataan bahwa foto-foto itu ada di luar sana, di tangan orang yang tidak dikenal yang berniat buruk.
"Aku harus waspada," pikirnya. "Aku harus memastikan tidak ada lagi foto seperti ini yang beredar, dan yang paling penting, aku harus memastikan Aslan tidak pernah kembali ke jalan itu."
Marcel menghela napas panjang, berusaha menenangkan dadanya yang masih terasa sesak oleh rasa bersalah. Ia teringat kembali pada percakapan pagi ini dengan Aslan—tatapan tulus di mata putranya saat berbicara tentang Alana, semangat yang membara saat ia meminta izin untuk pergi ke Swiss. Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran hebat beberapa bulan lalu itu, Marcel melihat secercah harapan. Mungkin, hanya mungkin, pertemuan dengan Alana adalah titik balik yang sebenarnya bagi Aslan. Mungkin cinta gadis itu mampu mengubah putranya menjadi pria yang lebih baik, jauh lebih baik daripada apa yang terlihat di foto-foto memalukan itu.
"Tolonglah, Tuhan... biarkan itu terjadi," doa Marcel lirih, menundukkan kepalanya di atas meja kerja. "Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahan ini. Berikan Aslan kesempatan untuk membuktikan bahwa dia bisa berubah. Lindungi Alana dan keluarganya dari rasa sakit yang mungkin timbul karena kesalahan putraku."
Di luar jendela ruangannya, kota Paris terus bergerak, orang-orang sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, tidak menyadari beban berat yang sedang ditanggung oleh seorang ayah dan pemimpin keluarga yang dihormati ini. Marcel tahu, perjalanan ke depan tidak akan mudah. Ia harus mengawasi Aslan dengan lebih ketat, namun juga memberinya kepercayaan agar putranya bisa tumbuh dewasa. Ia harus menjaga hubungan baik dengan keluarga Hadinata, seolah-olah tidak ada rahasia besar yang mengintai di balik pintu.
Marcel berdiri, berjalan menuju jendela besar di ruangan nya. Namun, cahaya itu tidak sepenuhnya mampu menghilangkan bayangan gelap di hatinya.
"Aku akan melakukan segalanya untuk melindungi mereka," ucap Marcel dengan tegas, menatap cakrawala kota yang tampak kabur. "Aku akan memastikan Aslan menjadi pria yang pantas untuk Alana. Aku akan menjaga kepercayaan Samuel, bahkan jika aku harus menanggung rasa bersalah ini sendirian selamanya."
Dengan tekad yang bulat, Marcel berbalik dan kembali duduk di mejanya. Ia akan membiarkan Aslan pergi ke Swiss, ia akan mendukung putranya mengejar cinta Alana, namun di balik itu, ia akan tetap waspada. Ia akan menjadi tameng bagi putranya, melindungi masa lalu Aslan agar tidak melukai masa depan gadis yang dicintainya. Dan ia berdoa, dengan sepenuh hati, bahwa cinta dan perubahan Aslan akan cukup untuk menutupi semua kesalahan yang pernah terjadi. Tapi.... Mungkinkah itu bisa? Darahnya seakan mendidih kembali teringat akan photo-photo Aslan di klub malam itu.
******
Sore itu, Aslan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya dengan langkah ringan. Ia baru saja selesai merapikan beberapa dokumen perjalanan ke Swiss dan ingin memberitahu ayahnya bahwa semuanya sudah siap. Namun, begitu ia membuka pintu, senyum di wajahnya perlahan pudar.
Marcel duduk di belakang meja kerjanya, namun tidak seperti biasanya yang sibuk dengan tumpukan dokumen atau menelepon mitra bisnisnya. Pria itu hanya menatap kosong ke arah jendela besar, wajahnya tampak pucat dan lelah, dengan kerutan dalam yang menghiasi dahinya. Tatapannya kosong, seolah jiwanya sedang berada di tempat yang jauh, jauh sekali dari ruangan mewah itu. Suasana di sekitarnya terasa berat dan suram, berbeda sekali dengan semangat yang Aslan tunjukkan pagi tadi.
"Pa?" panggil Aslan pelan, ragu. Ia melangkah mendekat. "Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat... murung sekali."
Marcell tidak langsung menjawab. Ia perlahan memalingkan wajahnya, menatap putranya yang tampan dan penuh semangat itu. Namun, di mata Marcel, pemandangan itu justru semakin menambah rasa sakit di dadanya. Bayangan foto-foto di klub malam itu kembali berkelebat di kepalanya—Aslan yang tertawa dengan wanita asing, Aslan yang melanggar janji, Aslan yang begitu ceroboh dengan nama baik keluarga.
Rasa marah dan kecewa yang sempat ia coba tahan, yang sempat ia coba redam demi melihat putranya bahagia, kini perlahan naik kembali, memuncak dengan intensitas yang jauh lebih besar. Ia berusaha keras menelannya, berusaha berkata pada dirinya sendiri untuk sabar, untuk tenang.
"jangan marah, Marcel . Aslan sudah berjanji akan berubah. Dia serius dengan Alana sekarang." bisik hatinya, berusaha menenangkan diri.
Namun, semakin ia melihat wajah polos Aslan di hadapannya, semakin ia teringat pada rasa takutnya—takut jika Samuel tahu, takut jika persahabatan mereka hancur, takut jika Alana terluka. Rasa takut itu bercampur dengan kemarahan, menciptakan badai yang tak lagi bisa ia kendalikan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Marcel tiba-tiba, suaranya terdengar rendah namun tajam, memecah keheningan ruangan.
Aslan terkejut mendengar nada bicara ayahnya yang dingin itu. "Aku... aku hanya ingin memberitahu bahwa dokumen perjalananku ke Swiss sudah siap, Pa. Semuanya beres."
"Dokumen perjalanan?" Marcel mendengus kasar, lalu tiba-tiba ia membanting tangan kanannya ke atas meja dengan keras. BAM! Suara itu membuat Aslan tersentak kaget. "Kau pikir semua ini hanya soal dokumen dan perjalanan bisnis, Aslan?! Kau pikir segalanya semudah membalikkan telapak tangan?!"
Mata Aslan membelalak, tidak menyangka ayahnya akan bereaksi sekeras itu. "Pa... apa maksudmu? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Kesalahan?!" Marcel berdiri tiba-tiba, kursi besarnya berdecit keras tertarik ke belakang. Wajahnya memerah padam, napasnya memburu. Ia menatap putranya dengan tatapan yang penuh dengan api amarah dan kekecewaan yang mendalam. "Kau bertanya apa kesalahanmu?! Kau berani bertanya padaku seperti itu setelah apa yang kau lakukan beberapa bulan lalu?!"
Aslan menegang, wajahnya perlahan pucat. Ia tahu kejadian apa yang dimaksud ayahnya. Malam di klub itu, pertengkaran hebat mereka, dan janji yang ia buat untuk berubah.
"Pa, aku... aku pikir kita sudah membicarakan itu. Aku sudah berjanji—"
"Janji?!" potong Marcel keras, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Janji apa yang kau punya, Aslan?! Janji untuk melanggarnya lagi kapan pun kau mau?! Kau berjanji akan fokus pada karirmu! Kau berjanji akan bersiap untuk mengenal Alana dengan hati yang bersih! Tapi apa yang kau lakukan?! Kau menghabiskan malam-malammu dengan mabuk anggur dan berciuman mesra dengan wanita-wanita sembarangan di klub malam!
Marcel melangkah maju, menatap mata Aslan yang kini mulai menunduk karena rasa malu. "Kau tahu betapa berharganya kepercayaan yang diberikan Samuel padaku? Kau tahu betapa mulianya keluarga Hadinata yang mempercayakan putri mereka padamu, seorang gadis yang tumbuh dengan disiplin dan nilai-nilai yang tinggi?! Tapi kau? Kau justru mempermalukan diri sendiri, mempermalukan keluargaku, dan mempermalukan kepercayaan sahabatku!"
"Pa, aku minta maaf..." cicit Aslan, suaranya bergetar. Dadanya terasa sesak, rasa bersalah itu kembali menghantamnya dengan keras. "Itu hanya masa lalu, Pa. Aku sudah berubah. Aku serius dengan Alana sekarang."
"Masa lalu?!" Marcel tertawa sinis, namun tawanya terdengar penuh dengan kesedihan dan amarah. "Masa lalu bisa membunuh masa depanmu, Aslan! Apa yang akan terjadi jika Samuel tahu tentang foto-foto itu? Apa yang akan terjadi jika dia tahu bahwa calon suami putrinya adalah seorang pemuda yang suka menghabiskan malam dengan wanita malam?! Apakah kau tidak berpikir tentang itu?! Apakah kau tidak peduli bahwa persahabatan kita selama puluhan tahun bisa hancur berkeping-keping hanya karena kelancanganmu?!"
Air mata mulai menggenang di mata Marcel. Ia begitu marah, marah besar pada putranya yang tidak tahu diri, marah karena ia harus menanggung beban ketakutan ini sendirian. "Aku takut, Aslan! Aku sangat takut! Aku takut setiap kali ponselku berdering, aku takut setiap kali ada pesan masuk, aku takut itu adalah kabar bahwa Samuel sudah tahu segalanya! Aku takut dia akan menatapku dengan tatapan kecewa, tatapan seolah aku adalah pengkhianat yang telah membohonginya! Dan semua ini karena kau, Aslan! Karena kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri!"
Aslan berdiri terpaku di tempatnya. Bahunya turun lemas, tangannya terkepal erat di kedua bahunya. Setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya seperti pisau yang menusuk hatinya. Ia sadar, ia benar-benar sadar betapa besar kesalahannya. Ia tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi juga menyakiti ayahnya yang begitu mencintainya, dan membahayakan kepercayaan orang-orang yang berharga dalam hidup mereka.
Rasa menyesal itu meluap-luap, membuat tenggorokannya terasa tercekat. Ia menatap ayahnya yang kini tampak begitu tua dan lelah di hadapannya, dan Aslan tahu, itu semua adalah ulahnya.
"Pa..." panggil Aslan lirih, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. "Maafkan aku, Pa. Maafkan aku... Aku tidak tahu bahwa beban yang Ayah tanggung seberat ini. Aku bodoh, Pa. Aku sangat bodoh dan egois."
Aslan melangkah maju, lalu tiba-tiba ia berlutut di hadapan ayahnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku menyesal, Pa. Aku sangat menyesal. Aku tidak bermaksud menyakiti Ayah, dan aku tidak bermaksud mengecewakan Paman Samuel atau Alana. Aku janji, Pa. Aku janji ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan berubah. Aku akan menjadi pria yang jauh lebih baik. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas untuk Alana, dan aku pantas untuk menjadi putramu. Tolong... tolong beri aku kesempatan lagi untuk menebus kesalahanku."
Melihat putranya berlutut dan menangis meminta maaf dengan tulus, kemarahan Marcel perlahan mulai surut, namun rasa sakit di hatinya masih ada. Ia menatap Aslan lama, lalu perlahan mengangkat tangannya, meletakkannya di atas kepala putranya dengan gemetar.
"Aku harap kau benar-benar mengerti apa yang kau katakan, Nak," ucap Marcel dengan suara parau. "Aku harap kau mengerti bahwa kepercayaan itu mudah dihancurkan tapi sangat sulit untuk dibangun kembali. Jangan pernah buat aku menyesal telah memercayai mu lagi. Dan demi Tuhan, lindungilah rahasia ini agar tidak sampai ke telinga Samuel. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan sahabatku karena kesalahanmu."
Aslan mengangguk kuat, masih menunduk. "Aku mengerti, Pa. Aku janji. Aku akan menjaga nama baik kita. Aku akan menjaga kepercayaan itu."
Di ruangan yang sunyi itu, di antara sisa-sisa amarah dan air mata penyesalan, sebuah janji baru terucap. Sebuah janji yang diikat dengan rasa sakit, namun juga dengan harapan bahwa Aslan benar-benar akan berubah menjadi pria yang lebih baik, pria yang layak mendapatkan cinta Alana dan kebanggaan ayahnya.