Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Kilometer 23
Suasana di KM 23 jalan raya arah Pelabuhan Ratu itu sangat mencekam.
Kabutnya bukan kabut biasa, tapi kabut yang terasa lengket di kulit, membawa bau mawar busuk dan bau kabel terbakar. Di tahun 2017, jalur ini memang terkenal sebagai jalur "pembuangan" bagi mereka yang kalah dalam perjanjian gaib.
Della menghentikan motornya tepat di samping patok jalan yang bertuliskan angka 23. Angka itu tidak dicat, tapi seperti dipahat paksa menggunakan kuku manusia.
"Ger, lo denger itu?" bisik Della.
Geri mematikan mesin motor trail-nya. Begitu mesin mati, kesunyian hutan di kanan-kiri jalan itu terasa menusuk. Lalu, dari bawah aspal, terdengar suara tangisan. Bukan tangisan sedih, tapi suara wanita yang sedang mencoba bicara namun mulutnya dijahit.
"Suara Bibi Mei..." Della turun dari motor. Tangannya yang memegang stang terasa kebas. Bekas luka putih di telapak tangannya berdenyut, mengeluarkan cairan bening yang berbau amis.
Della melihat ke arah spion kirinya. Di dalam kaca, ia melihat aspal di bawah kakinya transparan. Di kedalaman dua meter di bawah jalan raya itu, terkubur sebuah peti mesin tua yang dililit rantai babi dan kain kafan hitam.
Peti itu bergetar hebat.
"Del, liat bayangan loe!" Sasha menunjuk ke aspal dengan ketakutan luar biasa.
Bayangan Della di aspal tidak mengikuti gerakan Della. Saat Della berdiri diam, bayangannya justru sedang berlutut dan menggaruk-garuk aspal menggunakan kuku yang panjang, mencoba menggali lubang untuk mencapai peti di bawah sana.
Tiba-tiba, dari arah kegelapan hutan di depan mereka, muncul cahaya lampu kuning redup. Sebuah motor tua motor bebek tahun 70-an yang sudah berkarat total melaju perlahan tanpa suara rantai. Pengendaranya adalah sosok tanpa kepala, mengenakan jaket kulit yang sudah hancur.
"Itu 'Kurir Nyawa' yang dibilang kakek..." bisik Della.
Sosok tanpa kepala itu berhenti tepat di depan Della, Ia mengulurkan tangannya yang hanya tinggal tulang. Di telapak tangannya, terdapat sebuah busi yang terbungkus rambut panjang manusia.
"Dia minta tukar, Del," Geri bergidik, ia memegang kunci pasnya erat-erat, bukan untuk menyerang secara teknis, tapi sebagai pegangan agar jiwanya tidak lepas. "Dia mau busi merah yang tadi gue lepas, ditukar sama suara Bibi Mei yang ada di bawah aspal ini."
"Jangan, Ger! Kalau busi itu dikasih, motor gue nggak akan punya 'nyawa' lagi buat ngelawan Sang Kolektor!" Della mencoba menghalangi.
Namun, aspal di bawah kaki Della tiba-tiba melunak seperti lumpur hisap. Tangan-tangan hitam dari bayangan Della sendiri mulai menarik kaki Della masuk ke dalam tanah.
"Suaranya... berisik banget di kepala gue!" Della menjerit sambil memegang kepalanya.
Di dalam pikiran Della, ribuan memori Bibi Mei saat disiksa di dalam gudang transit berputar seperti kaset rusak.
Rasa sakitnya nyata.
Rasa panasnya nyata.
Geri nekat, Ia tidak memberikan busi itu. Sebaliknya, ia mengambil botol oli bekas yang selalu ia bawa, lalu menyiramkan oli itu ke atas patok KM 23 sambil membacakan sumpah yang pernah diajarkan ayahnya tentang "Hutang Besi".
"Satu nyawa untuk satu mesin! Darah di jalanan jangan dibawa pulang!" teriak Geri.
Seketika, tanah bergetar.
Peti di bawah aspal itu meledak. Suara lengkingan wanita yang tadinya terpendam kini pecah memenuhi seluruh hutan. Sosok tanpa kepala itu terpental masuk ke dalam semak-semak, menghilang bersama motor bebeknya.
Namun, ada harganya.
Della terjatuh pingsan.
Saat Geri memeriksa, ia melihat kedua spion di motor Scoopy Della kini menghadap ke arah Della sendiri, dan di dalam kacanya, tidak ada lagi pantulan jalanan. Yang ada hanya wajah Della yang sedang menangis, namun di dalam kaca itu, Della tidak memiliki mulut.
"Mulutnya... suaranya diambil," bisik Sasha ngeri.
Della membuka matanya. Ia mencoba bicara, tapi yang keluar dari kerongkongannya hanyalah suara gesekan mesin yang kering.
Geri dengan sigap membopong tubuh Della yang lemas. Wajah Della pucat pasi, matanya terbuka lebar namun kosong, menatap lurus ke arah dua spion yang kini menekuk ke arahnya seperti dua mata predator yang sedang mengamati mangsa.
"Del! Ngomong, Del!" Geri mengguncang bahu Della.
Della membuka mulutnya. Ia mencoba berteriak, mencoba memanggil nama Geri, namun yang keluar dari tenggorokannya adalah suara derit besi beradu.
Krieeek... sreeet... Suara itu begitu kasar dan menyakitkan, seolah ada gir-gir kecil yang berputar di dalam pita suaranya.
Sasha menutup telinganya, air mata mengalir deras. "Geri, kita harus pergi! Suara tadi... suara Bibi Mei yang pecah tadi manggil sesuatu yang lain!"
Dari balik pepohonan pinus yang gelap, terdengar suara gemuruh. Bukan suara guntur, tapi suara ribuan mesin motor yang dinyalakan secara bersamaan dari dalam tanah.
Aspal di KM 23 mulai retak-retak hebat. Cairan hitam kental seperti oli bekas yang sudah bercampur darah merembes keluar, membanjiri jalanan.
"Naik ke motor gue!" Geri memerintah.
Tapi Scoopy Della tidak membiarkan tuannya pergi.
Motor itu mendadak menyala sendiri tanpa kunci kontak. Lampu depannya berkedip-kedip merah, mengikuti irama detak jantung Della yang sedang panik.
Della, seolah digerakkan oleh tali tak terlihat, merangkak naik ke atas Scoopy-nya. Tangannya mencengkeram stang dengan kaku. Saat ia memutar gas, suara yang keluar dari knalpotnya bukan lagi suara mesin, melainkan suara tangisan massal yang memilukan.
"Jangan tinggalkan... kami..." bisik ribuan suara dari lubang-lubang retakan aspal.
Geri tidak punya pilihan. Ia melompat ke motor trail-nya, membonceng Sasha, dan berteriak pada Della, "Del! Ikutin lampu belakang gue! Jangan lihat ke belakang, jangan denger apa pun!"
Mereka memacu motor meninggalkan KM 23.
Teror di jalur ini benar-benar memuncak di tahun 2017 itu.
Di sepanjang jalan, nisan-nisan tua yang ada di pinggir hutan tampak bergeser, seolah ingin menghalangi jalan mereka.
Della yang kehilangan suaranya mulai menyadari sesuatu. Meski mulutnya bisu, ia bisa "berbicara" melalui motornya. Saat ia merasa ketakutan karena ada sosok bayangan hitam yang mencoba melompat ke jok belakangnya, klakson motornya berbunyi sendiri dengan nada yang sangat tinggi sebuah lengkingan yang membuat sosok itu terpental.
Della berkomunikasi lewat getaran. Geri bisa merasakan getaran itu di aspal melalui ban motornya. Tok-tok-tok irama mesin Scoopy itu memberitahu Geri bahwa ada bahaya di tikungan depan.
Saat mereka mulai menjauhi zona KM 23, suhu udara perlahan naik, namun rasa nyeri belum hilang. Della melirik ke arah spion kiri dan kanan yang masih menekuk ke arah wajahnya.
Di dalam pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri sedang duduk di jok motor, namun di lehernya terdapat lilitan kabel gas yang mencekik kuat. Dan di belakangnya... di jok belakang yang seharusnya kosong, duduk seorang wanita dengan mulut yang dijahit rapi menggunakan kawat tembaga.
Wanita itu memegang pundak Della, jemarinya yang dingin meresap masuk ke dalam kulit Della.
"Sekarang... kita sama," bisik suara di dalam kepala Della. Bukan suara Bibi Mei, tapi suara dari "Hutang Darah" yang belum lunas.
Begitu mereka sampai di sebuah pom bensin yang masih terang benderang di daerah Cikembar, Della mendadak mengerem mendadak. Ia turun dari motor, berjalan ke arah Geri, dan menuliskan sesuatu di debu yang menempel di tangki motor Geri menggunakan jarinya:
"DIA IKUT PULANG."
Geri menoleh ke arah Scoopy Della. Jok belakang motor itu tampak sedikit melesak ke bawah, seolah-olah memang ada beban tak terlihat yang sedang duduk di sana, menunggu untuk diantar ke rumah Della.