NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tak Terduga

Malam itu menjadi tak lebih dari rangkaian bisikan dan pikiran liar. Telepon yang bergetar di tangan Rina seolah membawa hantu masa lalu. Nama Karin, sahabat yang selama ini hilang, menjadi suara yang menggetarkan jantung semua orang di ruangan. Di luar, hujan turun pelan, menimbulkan aroma tanah basah yang menenangkan, namun di dalam, suasana tegang. Lampu di ruang tamu rumah Profesor Dimas redup, memantulkan bayangan para penghuni. Di sudut, sisa mangkuk soto yang belum selesai dimakan mendingin, uapnya lenyap. Mereka duduk melingkar, memandangi ponsel di meja seakan benda itu bisa memberikan jawaban.

Rina memegang dadanya, mencoba menenangkan napas. “Aku yakin itu Karin,” katanya lagi, matanya masih berkaca-kaca. “Aku mengenali suaranya. Dia terdengar lemah dan ketakutan.” Suaranya bergetar, tubuhnya menegang. Ia memandang wajah-wajah di sekitarnya, mencari kepastian.

Tento memejamkan mata sejenak, mengenang wajah Karin di masa lalu: tawa yang keras, semangat yang berkobar saat berorasi di depan kampus, mata yang bersinar ketika membicarakan keadilan. Ingatan itu membuat dadanya sesak. “Jika itu benar dia, berarti dia masih hidup. Dia butuh bantuan. Kita harus mencari tahu di mana dia,” katanya, suaranya lebih tenang daripada perasaannya.

Perikus menatap peta Kalimantan di meja, lalu memandang ponsel, lalu peta lagi. “Mungkin dia berada di fasilitas B16 di Kalimantan,” katanya. “Jika mereka mengirim narapidana ke sana, mungkin Karin di antara mereka. Atau dia di tempat lain. Tapi panggilannya diteruskan ke Rina. Bagaimana? Mungkin kita bisa melacak nomor itu.”

“Nomor itu tak terdaftar di kontak,” kata Rina. “Mungkin itu panggilan sekali pakai, atau telepon umum.” Ia memandangi Profesor Dimas, seakan memohon. “Apa kita bisa mencari tahu?”

Profesor mengangguk, walau wajahnya ragu. “Aku tidak ahli dalam pelacakan digital, tetapi Maya mungkin bisa membantu. Kita bisa minta Maya mencari lokasi panggilan terakhir. Kita juga bisa memeriksa data yang kita punya. Mungkin ada informasi tentang pengiriman orang yang terhubung dengan Karin,” katanya.

Budi memecah kesunyian dengan humor tipis. “Untung kita baru saja ketemu hacker jenius. Kalau tidak, kita hanya bisa menari reog sambil menebak-nebak,” katanya. Tawa kecil muncul, meski canggung, memecah ketegangan sejenak. Perikus menepuk punggung Budi. “Kamu selalu menemukan sisi lucu, bahkan saat kita hampir tenggelam,” katanya.

Maya dihubungi melalui aplikasi chat terenkripsi. Mereka menjelaskan situasi. Jawaban Maya muncul beberapa menit kemudian: “Aku sedang di tempat aman. Kirim nomor lengkap yang menelepon. Aku akan cek. Kalau memang terhubung ke jaringan tertentu, aku bisa men-trace. Tapi hati-hati, mereka mungkin memasang jebakan.” Mereka mengirimkan nomor itu. Maya hanya menulis: “Give me two hours.”

Waktu berjalan pelan. Mereka memutuskan untuk tidak hanya menunggu. Mereka mulai menyiapkan perjalanan ke Kalimantan. Pak Surya, aktivis lingkungan dan teman profesor, dihubungi. Ia tinggal di Samarinda namun memiliki jaringan hingga Nunukan. Telepon menyambung ke suara berat yang ramah. “Pak Dimas! Sudah lama. Ya, saya mendengar tentang artikel itu. Ini gila. Saya siap membantu. Jika kalian ke Kalimantan, saya bisa sediakan tempat tinggal sementara dan jaringan,” katanya. “Tetapi kalian harus hati-hati. Banyak orang di sini menerima dana dari perusahaan. Tidak semua teman adalah teman.”

Mereka membahas logistik. Perjalanan ke Kalimantan bisa ditempuh melalui pesawat ke Balikpapan atau Samarinda, lalu jalan darat ke Nunukan, atau menggunakan kapal laut. Perjalanan via udara cepat tetapi tiket bisa dicatat. Perjalanan via laut lama tapi anonim. “Kita harus pergi tanpa menarik perhatian,” kata Tento. “Mungkin kita bisa lewat pelabuhan kecil dari Jawa ke Sulawesi, lalu ke Kalimantan. Itu memakan waktu, tetapi kita bisa berbaur.” Budi memutar bola matanya. “Perjalanan laut lagi? Perutku belum sembuh,” katanya. Mereka tertawa, meski tawa itu masih kecut.

Sementara mereka merencanakan, Maya mengirim pesan: “Lokasi panggilan berasal dari daerah pinggiran Bandung, dari menara seluler lama yang sering dipakai untuk panggilan spam. Tetapi panggilan itu dialihkan. Aku pikir ini semacam ponsel sekali pakai yang dibuang setelah dipakai. Aku tidak bisa mendeteksi lokasi exact. Tapi kuperhatikan data panggilan, sinyal menyebar dari bagian selatan Jawa Barat. Mungkin dari fasilitas tersembunyi. Aku menemukan pola panggilan serupa dalam 24 jam terakhir; beberapa nomor yang terhubung ke pusat data perusahaan. Aku akan terus menelusuri.”

Bandung? Fasilitas tersembunyi? Mereka terdiam. Hal ini memperluas jangkauan pencarian. “Kita tidak bisa terpecah terlalu banyak,” kata Profesor. “Jika Karin ada di Jawa Barat, kita butuh orang lain untuk mencari. Kita tidak bisa mengabaikan Kalimantan, tapi kita juga tidak bisa meninggalkan Karin.”

Saat itu, Pak Mahmud masuk ke ruang tamu membawa sepiring ketan serundeng. “Nak, kalian butuh energi. Makanlah,” katanya. Aromanya menghangatkan ruangan. Mereka makan sambil berpikir. Di kepala mereka, kata demi kata berputar: Bandung, Kalimantan, Widya, Karin, B16, kebenaran.

Keputusan dibuat. Mereka akan membagi tugas. Profesor, Rina, dan beberapa anggota jaringan di Malang akan terus menekan publikasi, menjaga saksi, dan berkoordinasi dengan LPSK. Mereka juga akan menghubungi aktivis di Bandung untuk mencari fasilitas tersembunyi. Sementara itu, Tento, Perikus, dan Budi akan pergi ke Kalimantan dengan dukungan Pak Surya. Mereka akan menyelidiki pengiriman B16, memastikan distribusi dihentikan, dan mencari narapidana yang dibawa ke sana. Jika mereka menemukan petunjuk tentang Karin, mereka akan berkoordinasi.

Persiapan fisik dimulai. Mereka menumpuk pakaian, makanan kering, obat-obatan, dan perlengkapan perekam dalam tas besar. Mereka memasukkan baterai cadangan, buku catatan, dan peta Kalimantan. Mereka juga membawa topeng dan peralatan seni, mungkin peran mereka sebagai seniman akan berguna lagi. Perikus menata tas, memastikan ada minyak kayu putih untuk mengusir nyamuk. “Aku tidak ingin digigit serangga Kalimantan yang besar,” katanya sambil meringis.

Esok harinya, mereka berangkat ke pelabuhan Tanjung Emas di Semarang untuk naik kapal ferry ke Makassar, lalu melanjutkan ke Balikpapan. Perjalanan laut ini panjang, beberapa hari, tetapi memberi mereka anonymity. Pak Mahmud memeluk mereka erat sebelum mereka pergi. “Kalian sudah seperti cucu-cucuku,” katanya. “Jangan menyepelekan bahaya, tapi juga jangan lupa tertawa. Kalian akan menyebarkan kebaikan, bukan hanya berita buruk.” Pakde Selam menepuk bahu mereka, memberikan bungkusan soto ayam kering. “Bawa ini. Kalau rindu rumah, seduh dan makan,” katanya dengan mata basah.

Di kereta menuju Semarang, mereka duduk bersebelahan. Jendela memantulkan sawah dan bukit, sungai kecil dan ladang jagung. Perjalanan dengan kereta selalu membawa kenangan: saat mahasiswa, mereka sering naik kereta untuk demo. Kali ini, kereta membawa mereka ke medan lain. Budi membuka buku sketsanya, menggambar wajah Karin dari ingatan. Garis-garis pensil menari di kertas. “Aku ingin mengabadikan wajahnya, supaya semangat kita tidak padam,” katanya pelan.

Mereka mencapai pelabuhan dan naik ke kapal ferry yang besar. Kapal itu berisi berbagai macam penumpang: pedagang dengan karung, keluarga membawa anak-anak kecil, pekerja pabrik, mahasiswa, dan seorang kakek yang membawa burung peliharaan. Suara percakapan menggema di dek, bau ikan asin dan sop ikan keluar dari kantin kapal. Kapal berangkat pada sore hari, meninggalkan pelabuhan dengan bunyi klakson panjang. Ombak besar mengayun kapal, membuat beberapa penumpang mabuk laut. Budi memegang pagar kapal sambil tersenyum pahit. “Kalian berdua belum pernah lihat aku pucat? Sekarang lihatlah,” katanya, menertawakan dirinya sendiri.

Di atas kapal, mereka duduk di dek, memandang matahari tenggelam di ufuk barat, warnanya oranye keemasan seperti buah jeruk yang matang. Angin laut mengelus rambut mereka, membawa aroma garam dan alga. Mereka berbicara tentang masa lalu: tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu di kampus, tentang dosen favorit, tentang konser band yang mereka tonton bersama. Mereka tertawa kecil, kemudian hening, memandangi bintang yang mulai muncul di langit malam. Laut seolah menelan semua suara, hanya menyisakan desau angin dan deru mesin kapal.

Budi mengambil gitar kecil dari tasnya. Ia mulai memetik senar, memainkan lagu lama yang biasa mereka nyanyikan saat mahasiswa. Suaranya serak, tetapi penuh emosi. Mereka bertiga ikut bernyanyi, suara mereka melayang ke langit malam. Beberapa penumpang lain bergabung, tersenyum. Seorang ibu menepuk tangan mengikuti irama. Seorang bapak duduk, menutup mata, menikmati. Musik menjadi perekat manusia tak dikenal di atas kapal.

Ketika kapal menepi di Makassar, mereka tidak punya waktu lama. Mereka langsung menuju pelabuhan lain untuk naik kapal ke Balikpapan. Kota Makassar hanya terlihat sekilas: gedung-gedung, pasar ikan, aroma ikan bakar, dan lalu lintas padat. Mereka melanjutkan perjalanan. Kapal kedua lebih kecil, menembus Laut Sulawesi yang dalam. Cuaca berubah; hujan turun deras, angin kencang menggoyang kapal. Air hujan menerpa wajah mereka, dingin. Mereka berpegangan, mendengarkan suara guntur. Kapal bergoyang, beberapa penumpang berdoa keras-keras. Namun, kapten kapal berpengalaman, ia menavigasi kapal melewati ombak. Ini pengalaman baru: perpaduan ketakutan dan keindahan.

Sesampai di Balikpapan, mereka disambut sinar matahari terik. Hawa Kalimantan berbeda: lembab, panas, aromanya khas pohon resin dan tanah. Mereka menempuh perjalanan darat ke Samarinda dengan bus. Jalanan berliku melewati hutan, kebun sawit, dan desa-desa Dayak. Mereka melihat rumah-rumah panggung dan anak-anak bermain di sungai. Pak Surya menjemput mereka di terminal. Ia seorang pria berusia empat puluhan dengan rambut bergelombang, kulit sawo matang, dan senyuman bersahabat. “Selamat datang di Kalimantan,” katanya, menyalami mereka. “Kalian pasti lelah. Mari, kita ke rumah saya dulu.”

Rumah Pak Surya terletak di pinggiran kota, dikelilingi kebun buah dan kolam ikan. Aroma durian yang jatuh semalam masih tercium. Mereka duduk di teras, minum es kelapa muda yang segar, merasakan dinginnya meresap sampai ke tenggorokan. “Aku mendengar tentang rencana kalian,” kata Pak Surya. “Pelabuhan K3 di Nunukan sebenarnya untuk kargo industri, tapi akhir-akhir ini ada kontainer-kontainer yang dikirim ke sana. Aku punya teman di koperasi nelayan yang sering melihat barang tersebut. Mereka bilang ada petugas yang mengantar kontainer ke gudang tertutup. Kita bisa bertanya kepada mereka.”

Malam itu, mereka menginap di rumah Pak Surya, mendengar cerita tentang hutan Kalimantan, perjuangan melawan penebangan liar, dan kehidupan suku Dayak. Budi tertawa ketika Pak Surya menunjukkan tato tradisional Dayak di tangannya. “Kalau kamu bertahan di sini lebih lama, kamu akan punya tato juga,” candanya. Perikus tersenyum, membayangkan dirinya dengan tato Dayak, sambil menaburkan minyak kayu putih ke tubuhnya untuk mengusir serangga.

Keesokan harinya, mereka bertemu teman Pak Surya, seorang pria besar bernama Tono yang memiliki perahu cepat. Ia bercerita dengan bahasa campuran Bugis dan Melayu. “Saya sering antar barang ke pelabuhan K3. Ada gudang baru di sudut pelabuhan, dijaga ketat. Tidak ada yang boleh masuk. Petugasnya bukan orang lokal,” katanya, sambil menyeruput kopi hitam. “Tapi saya tahu cara memantau. Kalau kalian ingin tahu apa yang ada di dalam, kalian bisa naik perahu saya malam hari. Kita akan memutari pelabuhan, melihat dari jauh. Tapi hati-hati. Mereka punya lampu sorot dan anjing laut. Bukan, bukan anjing laut hewan, tapi penjaga yang ganas,” katanya, membuat mereka tertawa sejenak.

Mereka mengikuti Tono malam itu. Perahu cepat melaju di sungai Kayan, melewati rumah-rumah kayu di tepi sungai, di mana orang-orang mandi, mencuci, dan memancing. Anak-anak melambaikan tangan. Mereka melaju ke arah pelabuhan. Lampu-lampu kontainer bersinar di kejauhan seperti deretan lilin besar. Mereka mematikan mesin beberapa ratus meter dari dermaga. Dalam gelap, mereka memperhatikan. Mereka melihat gudang baru, didinding besi, dengan lampu neon terang, dijaga oleh beberapa pria berpakaian seragam hitam. Truk datang, menurunkan kontainer. Mereka mendengar suara palu, lalu mesin. Mereka merasakan bahwa di balik dinding itu, sesuatu sedang berlangsung.

Tiba-tiba, sorot lampu menyorot perahu mereka. “Hei! Siapa itu?!” suara keras terdengar. Hati mereka melonjak. Tono segera menyalakan mesin, memutar balik, perahu menembus air dengan kecepatan tinggi. Peluru nyasar ke air di belakang mereka, mencipratkan air. Mereka merunduk, merasakan angin kencang di wajah. Suara teriakan makin jauh. Mereka selamat, tetapi nyaris. Mereka tiba di tempat aman, bernapas terengah-engah.

“Saya lupa kalian bukan turis,” kata Tono sambil tertawa gugup. “Kalian benar-benar menantang maut.” Budi menepuk dadanya. “Aku mau pulang, memeluk ibuku,” katanya bercanda, lalu tertawa. Mereka tertawa bersama, menyalurkan ketakutan menjadi humor.

Malam itu, mereka kembali ke rumah Pak Surya. Mereka menceritakan apa yang mereka lihat ke profesor melalui pesan terenkripsi. Professor menjawab: “Ini sangat berbahaya. Tapi kita harus terus. Kita butuh bukti visual dari gudang itu. Mungkin kita bisa kirim drone. Budi, apakah kamu memiliki kemampuan untuk membuat pesawat kertas yang bisa terbang?” Pesan itu diikuti emoji tertawa. Budi membalas: “Jika perlu, aku akan membuat kapal terbang dari soto ayam.”

Di tengah obrolan itu, telepon Rina berdering lagi, nomor tak dikenal. Semua orang di ruangan saling memandang. Rina mengangkat dengan tangan gemetar. Suara di seberang terdengar jelas namun penuh gangguan, seperti dari ruang sempit. “Rina? Ini Karin... aku... di Bandung... gedung tua... gelap... mereka... mengirim... ” Suara terputus lagi. Lalu, bunyi guncangan, dan panggilan terputus. Rina menatap layar, gemetar. “Dia bilang gedung tua di Bandung,” katanya. “Mereka mengirim sesuatu. Lalu terputus.”

Ini kabar baru. Mereka menyadari waktu tidak memihak. Teman mereka memanggil, terjebak di suatu tempat. Mereka harus mengatur strategi. “Kita akan teruskan penyelidikan di Kalimantan. Tapi kita juga harus mengirim tim ke Bandung,” kata Profesor lewat telepon. “Kita akan menghubungi jaringan di sana. Kalian fokus di sini, cari bukti. Dan, jika memungkinkan, temui Pak Widya. Kita perlu konfrontasi.”

Mereka setuju. Malam itu, di bawah langit Kalimantan yang dihiasi bintang, diiringi suara jangkrik dan katak, mereka duduk di teras Pak Surya. Mereka menatap ke arah sungai yang tenang. Air memantulkan cahaya lampu rumah yang temaram. Mereka tahu mereka terjebak di antara dua misi besar: menghentikan pengiriman B16 ke Kalimantan dan menyelamatkan Karin di Bandung. Beban di bahu mereka berat, tetapi mereka tidak sendiri. Mereka memiliki jaringan, teman, keluarga, dan tekad. Mereka memejamkan mata, berdoa dalam hati, berharap esok hari membawa petunjuk baru.

Malam itu mereka menatap peta Kalimantan dan Jawa Barat yang terbentang di depan mereka, masing-masing dengan garis merah yang menunjukkan rute mereka. Di luar, angin berhembus pelan, membawa suara hutan yang seperti bisikan. Mereka tahu perjalanan mereka masih panjang, namun setiap langkah adalah harapan baru bagi nyawa-nyawa yang menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!