Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi itu Olivia sengaja mengunci pintu kamarnya dengan slot tambahan dari dalam. Ia tidak berniat keluar. Kalau mereka ingin memaksanya fitting, setidaknya ia bisa menunda.
Ia duduk di lantai bersandar pada pintu, memeluk lututnya. Piyama masih melekat di tubuhnya. Rambutnya berantakan. Ia bahkan belum berniat mandi.
Beberapa menit kemudian—
Tok. Tok.
“Olive, buka pintunya,” suara Ratna terdengar.
Olivia diam. Ketukan berubah menjadi dorongan.
“Olivia,” kali ini suara Oma Dewi.
Tetap tak ada respons. Lalu terdengar suara lain. Bukan suara keluarga. Suara besi dipukul. Suara obeng. Suara kayu bergesek. Olivia langsung menegakkan tubuh.
Apa mereka…?
“Bongkar saja,” suara Oma Dewi terdengar jelas dari luar. “Lepaskan slotnya.”
Darah Olivia terasa mendidih. Ia bangkit cepat dan membuka pintu sebelum benar-benar dibongkar.
Di luar, dua tukang sudah berdiri dengan peralatan di tangan. Ratna tampak gelisah. Oma Dewi berdiri tegak tanpa rasa bersalah.
“Kenapa sih, Oma?!” bentak Olivia. “Ini kamar aku!”
“Kamar itu ada di rumah keluarga ini,” jawab Dewi dingin. “Jangan berlebihan.”
Olivia mengepalkan tangan.
“Kamu siap-siap. Kita ke butik satu jam lagi,” lanjut Dewi.
Olivia menatapnya dengan mata berair, antara marah dan tak percaya. Ia berbalik masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi.
Saat air mengalir, ia masih bisa mendengar suara Oma Dewi dari luar.
“Lepaskan saja slot tambahannya. Jangan sampai dia kunci lagi.”
Olivia memejamkan mata. Mereka benar-benar tidak memberinya ruang. Baik secara harfiah. Maupun hidupnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Olivia berdiri di depan cermin. Wajahnya terlihat lebih dewasa hari ini, atau mungkin hanya lebih lelah.
Setidaknya ia punya rencana. Kalau mereka membawanya ke butik, ia bisa cari alasan untuk keluar. Dari sana, ia bisa menuju sekolah. Pria itu ingin bertemu di sana. Ia akan datang. Tapi dengan lebih waspada.
Saat menuruni tangga, langkah Olivia terhenti. Di ruang tamu, Juna sudah berdiri. Kemeja hitam, jam tangan perak, wajah yang selalu terlalu tenang.
“Kamu berangkat sama Juna,” kata Ratna singkat.
Olivia menatap tajam.
“Serius?”
“Biar sekalian,” jawab Oma Dewi.
Sepanjang perjalanan dalam mobil, Olivia diam beberapa menit. Lalu amarahnya meledak.
“Kok bisa sih Kak Juna nerima aja semua ini?” tanyanya tajam. “Kayak nggak ada perlawanan.”
Juna tetap fokus menyetir.
“Gue nggak nerima,” jawabnya tenang.
“Oh ya? Tapi Kak Juna tetap datang. Tetap ikut fitting. Tetap duduk manis.”
“Gue juga nolak.”
Olivia menoleh cepat.
“Semalam gue bilang ke keluarga kalau gue nggak setuju.”
“Terus?”
“Mereka nggak peduli.”
Olivia tertawa kecil tanpa humor. “Welcome to the club.”
Beberapa detik hening.
Juna melanjutkan, “Lu masih terlalu mentah untuk nikah.”
Olivia langsung tersinggung. “Apa?!”
“Mentah,” ulang Juna santai. “Baru lulus sekolah. Emosi meledak-ledak. Nikah bukan main rumah-rumahan.”
“Dan lu pikir gue mau?!” Olivia membentak. “Gue juga nggak mau nikah sama Kak Juna!”
“Bagus,” jawab Juna datar. “Karena gue juga nggak mau nikah sama lu.”
Mobil terasa hening seketika. Kalimat itu seperti tamparan, tapi sekaligus… melegakan.
“Terus kenapa Kak Juna nggak pergi aja?” tanya Olivia lebih pelan. “Tinggalin semuanya.”
Juna tersenyum tipis, tanpa humor.
“Lu pikir sesederhana itu?”
Ia berhenti di lampu merah.
“Kalau gue nolak keras, gue harus keluar dari perusahaan. Keluar dari rumah. Kehilangan semua fasilitas. Semua yang gue bangun.”
Olivia terdiam.
“Itu ancamannya,” lanjut Juna. “Nama keluarga di atas segalanya.”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
“Kita sama-sama nggak punya pilihan,” gumam Olivia.
“Selalu ada pilihan,” jawab Juna pelan. “Tapi semua pilihan ada harganya.”
Kalimat itu menggantung di udara. Olivia menoleh ke jendela. Butik semakin dekat. Dan sekolah… tidak jauh dari sana.
Ia menelan ludah. Hari ini ia harus lebih hati-hati. Mobil berhenti di depan butik. Juna mematikan mesin.
“Masuk dulu. Habis itu kita lihat,” katanya singkat.
Olivia mengangguk kecil. Ia membuka pintu mobil. Namun sebelum melangkah masuk, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Tangannya sedikit gemetar saat membuka layar.
Aku sudah di sekolahmu.
Napasnya tercekat.
Pesan kedua langsung menyusul.
Dan aku tidak sendirian.
Olivia perlahan mengangkat wajahnya.
Di seberang jalan, dari kejauhan, ia melihat sebuah mobil gelap terparkir. Kaca depannya terlalu gelap untuk melihat siapa di dalamnya.
Olivia tidak tahu apakah yang lebih berbahaya adalah orang asing itu…Atau rahasia yang menunggunya jika ia benar-benar datang.
Posisi mobil van di foto itu—persis di seberang sekolahnya. Dan sekolah itu tak jauh dari butik langganan keluarganya. Kebetulan? Atau… dia memang sedang dipantau?
“Tidak sendirian?” gumam Olivia pelan.
Bisa jadi bersama Olin? Atau pria itu memang jujur—bersama teman-temannya seperti yang kemarin?
Suara Juna memotong lamunannya.
“Oliv. Disuruh duluan malah bengong.”
Olivia tersentak. Ia mematikan layar ponsel dan berjalan dari sisi mobil tanpa menjawab. Wajahnya masih menyimpan sisa kegelisahan.
Butik itu megah, penuh kaca besar dan interior serba putih keemasan. Para pegawai langsung menyambutnya dengan ramah, jelas sudah mengenali siapa dia.
“Selamat pagi, Miss Olivia. Gaunnya sudah siap untuk dicoba.”
Gaun Olin digantung rapi di tengah ruangan. Putih, berkilau, dan… terlalu terbuka. Olivia merengut.
“Ini gaun nikah apa gaun jual dada?” sindirnya tanpa menahan diri.
Beberapa pegawai saling pandang, canggung. Juna, yang duduk santai di sofa dengan kaki menyilang, menjawab datar.
“Itu pilihan Olin.”
Olivia menoleh cepat. Tatapannya tajam.
“Lu santai banget,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Lu sedih nggak sih Kak, Kak Olin kabur? Lu sakit hati nggak sih? Atau jangan-jangan lu memang nggak pernah cinta sama kakak gue?”
Ruangan terasa sunyi. Juna awalnya hanya diam. Tangannya bertaut, wajahnya tetap tenang. Namun tudingan Olivia terlalu tajam untuk dibiarkan begitu saja.
“Gue nggak pernah memaksa Olin untuk mencintai,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah tapi jelas. “Dan gue juga nggak bisa memaksa seseorang yang jelas-jelas memilih pergi.”
Olivia terdiam.
“Apa lu pikir gue nggak kecewa?” lanjut Juna. “Tapi dalam keluarga kita, perasaan sering kali bukan prioritas utama.”
Kata-katanya terdengar bijak. Rasional. Bahkan masuk akal. Dan justru itu yang membuat Olivia semakin bingung. Ia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan getar di matanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan ke arah desainer.
“Gaunnya dibuat lebih tertutup. Bagian dada dinaikkan. Punggung jangan terlalu terbuka. Tambah layer di rok.”
Desainer itu mengangguk cepat. Namun saat Olivia menjelaskan detail demi detail, tiba-tiba ia tersadar. Kenapa dia malah mengikuti alur ini? Dia kan tidak mau menikah. Wajahnya mengeras.
“Sudah,” katanya tiba-tiba, membuat semua orang terdiam. “Bikin aja lebih terbuka sekalian. Belahan sampai paha atas. Atas bawah terbuka. Biar sekalian jadi masalah.”
Ia menatap Juna, menantang. Kalau mereka memaksanya, dia juga bisa mempermalukan mereka. Namun Juna hanya menghela napas ringan.
“Kamu dengar permintaan awalnya saja,” ucap Juna tenang pada desainer. “Jangan yang permintaan gilanya.”
Olivia mendengus kesal. Kenapa pria ini selalu setenang itu?