Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru, Harapan Baru
Suasana gubuk yang biasanya sunyi kini berubah riuh. Alya dan Fikri langsung berlari menyambut kepulangan Azura dan Pak Hadi. Mata mereka berbinar menatap kantong-kantong plastik yang menggantung di motor.
“Kak! Kak Azura bawa apa?” tanya Fikri penuh semangat.
Azura tersenyum lebar, mengangkat tinggi-tinggi sebuah kantong besar yang masih menggantung di motor.
Malam itu, mereka makan bersama di atas tikar pandan yang sudah menipis. Aroma kuah bakso yang hangat memenuhi ruangan, terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan mewah mana pun yang pernah Azura santap di rumah Dimas. Di bawah temaram lampu panel surya, Azura memberikan hadiah ponsel baru untuk adik-adiknya. Isak tangis haru dan tawa Rafa yang berguling di kasur empuk baru menjadi penutup malam yang indah.
Keesokan paginya, sebuah mobil SUV mewah berwarna putih mengkilap perlahan memasuki jalanan tanah menuju ujung desa. Mobil itu berhenti tepat di depan gubuk Pak Hadi.
Sari dan suaminya, Andi, turun dari mobil. Sari sempat tertegun menatap gubuk yang nyaris roboh itu, namun matanya segera beralih ke arah hamparan lahan di belakangnya.
"Ra... ini semua tanah keluargamu?" tanya Sari takjub.
Azura mengangguk, mengajak mereka berjalan ke arah belakang. Andi, sang suami yang merupakan kontraktor, memandang takjub pada pagar alami berupa deretan pohon pinang yang berdiri rapat dan tinggi, membentengi tanah itu sepanjang ratusan meter.
"Luar biasa, Ra," gumam Andi sambil menyentuh batang salah satu pohon pinang. "Pagar pinang ini saja sudah punya nilai estetika tinggi. Lahanmu ini sangat luas dan datar, tanahnya juga subur. Ini bukan sekadar kebun, ini aset bernilai miliaran."
Kehadiran tamu bermobil mewah di gubuk Pak Hadi tentu saja mengundang "pasukan" ibu-ibu desa. Bu Tejo dan Bu Ratmi sudah berdiri di pinggir jalan, berpura-pura sedang memetik daun singkong padahal telinga mereka tegak lurus mendengarkan.
Saat Azura dan rombongan kembali ke depan gubuk, Bu Tejo memberanikan diri mendekat.
"Waduh, Azura... ini siapa? Kok bawa orang kota pakai mobil bagus segala?" tanya Bu Tejo dengan nada kepo yang menyengat. "Mau jual tanah ya buat bayar hutang?"
Sari menoleh, menatap Bu Tejo dari atas ke bawah dengan tatapan elegan, lalu tersenyum tipis. "Bukan jual tanah, Bu. Saya sahabat Azura. Suami saya kontraktor, kami ke sini untuk survei lokasi karena Azura mau membangun rumah besar di sini."
Mata Bu Tejo dan Bu Ratmi nyaris keluar. "Membangun rumah? Di gubuk ini?"
"Bukan di gubuk ini, Bu," potong Azura dengan suara tenang namun tegas. "Kami akan bangun di lahan belakang, di balik pagar pinang itu. Rumah dua lantai dengan galeri di depannya. Mohon doanya ya, supaya pembangunannya lancar dan tidak ada yang iri."
Kalimat terakhir Azura membuat wajah Bu Tejo memerah kaku. Ia hanya bisa terdiam saat Andi mengeluarkan tabletnya dan menunjukkan desain rumah minimalis modern yang sangat megah.
Selesai melakukan pengukuran lahan, aroma harum yang menyengat tiba-tiba tercium dari arah kebun. Pak Hadi tersenyum lebar melihat reaksi Sari yang mulai mengendus-endus udara.
"Wah, kebetulan sekali, Sari. Sepertinya ada durian yang baru jatuh," ucap Pak Hadi ramah.
Pak Hadi mengajak Sari dan Andi masuk lebih dalam ke balik pagar pohon pinang. Di sana, beberapa pohon durian tua yang menjulang tinggi sedang berbuah lebat. Pak Hadi memungut dua buah durian yang baru saja jatuh dan langsung membelahnya di bawah pohon.
"Ayo, silakan dicicipi. Ini durian asli dari pohon kakeknya Azura," ajak Pak Hadi.
Sari memekik senang. Sebagai orang kota, ia jarang sekali bisa menikmati durian yang benar-benar masak di pohon dan langsung dimakan di tempat. Daging buah yang kuning tebal, legit, dan sedikit pahit itu membuat Sari dan Andi tak henti-hentinya memuji kualitas hasil kebun Pak Hadi.
"Ya Allah, Pak Hadi... ini enak sekali! Di kota, durian seperti ini harganya mahal, itu pun belum tentu sesegar ini," seru Sari sambil menikmati suapan demi suapan.
Melihat Sari sangat senang, Pak Hadi pun segera bergerak. Ia tidak membiarkan tamunya pulang dengan tangan kosong. Dengan cekatan, Pak Hadi mengambil parang dan menebang satu tandan pisang ambon yang sudah tua, memetik satu keranjang mangga madu yang kulitnya mulai menguning, serta membungkus tiga buah durian terbaik.
"Ini, bawa pulang untuk oleh-oleh di kota," ucap Pak Hadi sambil menaruh hasil kebun itu di bagasi mobil mewah Sari.
"Aduh Pak, jadi merepotkan... ini banyak sekali," Sari merasa sungkan melihat keroyalan ayah sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, Nak Sari. Ini hanya hasil bumi, tidak perlu sungkan. Oh iya, tolong sampaikan salam saya untuk Bapakmu ya, Pak Haji Ruslan. Bilang salam dari Hadi," tutur Pak Hadi dengan tulus.
Sari tersenyum haru. "Inggeh Pak, nanti pasti saya sampaikan. Bapak pasti senang sekali dapat kiriman dari Pak Hadi."
Adegan ini tak luput dari penglihatan Bu Tejo dan Bu Ratmi yang masih berdiri di kejauhan. Wajah mereka makin berkerut masam melihat bagasi mobil mewah itu dipenuhi oleh buah-buahan kualitas terbaik yang biasanya hanya bisa mereka beli dengan harga mahal di pasar.
"Tuh lihat, gayanya sombong sekali. Pakai kasih durian segala, padahal buat makan saja susah," bisik Bu Ratmi penuh dengki.
Tapi, keluarga Azura tidak peduli. Bagi mereka, memuliakan tamu adalah bagian dari martabat yang sedang mereka bangun kembali.
Setelah mobil Sari melaju pergi, barulah Azura bersiap untuk membawa Farhan ke rumah sakit.
Pak hadi meminjam mobil Pak Malik untuk membawa Farhan ke rumah sakit besar di kabupaten. Kali ini, Azura sendiri yang duduk di kursi kemudi. Rafa ikut serta, wajah bahagia Rafa terlukis bahagia ketika pertama kali naik mobil.
Di rumah sakit, setelah serangkaian pemeriksaan, dokter memberikan kabar yang membuat napas Farhan seolah terlepas dari beban berat.
“Kondisi saraf Anda masih sangat bagus, Mas Farhan. Dengan operasi kecil untuk memperbaiki posisi tulang dan terapi rutin, dalam satu atau dua bulan Anda bisa berjalan normal kembali tanpa tongkat.”
Farhan tertegun, air matanya jatuh tanpa suara di depan dokter. Harapan untuk menjadi pria yang utuh kembali kini terpampang nyata.
Dalam perjalanan pulang, saat hari mulai senja, mereka mampir ke minimarket. Rafa melonjak kegirangan saat Azura menyuruhnya mengambil es krim dan cokelat sepuasnya.
Di balik kemudi, Azura sempat melirik notifikasi di ponselnya: “Resepsi Megah Dimas prakoso dan Putri Konglomerat Batubara.”
Azura tersenyum dingin. Foto pernikahan Dimas yang terlihat begitu mewah kini tak lebih dari sekadar sampah di matanya.
"Selamat atas pernikahanmu, Dimas," bisik Azura dalam hati. "Tapi bersiaplah... karena saat rumah di balik pagar pinangku berdiri, namamu akan mulai perlahan menghilang dari puncak kejayaan."
Mobil melaju membelah jalanan desa, membawa sejuta harapan bagi keluarga yang dulu dianggap sudah mati.