Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Tatapan yang Mengunci Takdir
Pintu kayu tua itu berderit terbuka dengan suara berat, seolah-olah sudah berabad-abad tidak tersentuh tangan manusia. Dari dalam kegelapan yang pekat, sesosok pria melangkah keluar tepat saat sinar fajar menyamping, menyinari separuh wajahnya yang tegas dan misterius.
Sepasang mata itu bertemu kembali.
Colette terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena serangan panik yang biasa ia alami. Ada rasa terkejut yang menghantamnya: ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria misterius yang ia temui di tengah hutan jati semalam-pria yang dengan dingin meramalkan kehancuran Linda dan rekan-rekannya-adalah "dukun sakti" yang selama ini dibicarakan orang-orang dengan penuh rasa takut dan hormat.
Pria itu berdiri di sana, masih dengan aura dominan yang sama. Ia menatap Colette dengan intensitas yang seolah bisa menembus helai-helai rambut yang menutupi wajah gadis itu. Sebuah smirk tipis hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya, seolah ia sudah tahu bahwa Colette akan kembali padanya pagi ini.
"Colette? Nak, kenapa diam saja?" Sinta berbisik cemas, menyentuh lengan putrinya.
"Ayo, Kak. Masuklah. Tuan sudah menunggu," Aris ikut membujuk, suaranya sedikit gemetar karena ia sendiri pun merasa terintimidasi oleh kehadiran pria di depan mereka.
Sinta kembali menarik pelan ujung baju Colette. "Permisi, Tuan... ini anak saya. Mari, Colette, masuklah pelan-pelan."
Colette masih belum bergeming. Ia terjebak dalam dilema yang menyesakkan. Jika ia melangkah masuk, ia seolah mengakui bahwa ia adalah "milik" pria itu. Namun jika ia lari, ia akan mengecewakan ibunya yang sudah menaruh harapan besar pada pertemuan ini.
Sepasang mata itu bertemu kembali.
Colette tersentak, seluruh tubuhnya mendadak kaku seolah aliran darahnya berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tidak menyangka-sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pria misterius yang ia temui di tengah hutan semalam, pria yang menyelamatkannya dari perundungan rekan kerjanya, adalah sosok "dukun sakti" yang dicari-cari ibunya.
Dia... orang yang sama, batin Colette berteriak.
Namun, di balik keterkejutannya, ada satu hal besar yang tidak diketahui Colette. Ia tidak tahu bahwa pertemuan semalam bukanlah kebetulan. Ia tidak tahu bahwa garis hidupnya telah ditenun sedemikian rupa untuk bersilangan dengan pria ini. Colette sama sekali tidak menyadari bahwa di mata pria itu, ia bukan sekadar pasien atau gadis malang-ia adalah takdir yang sudah tertulis sebagai jodohnya.
Sinta dan Aris, yang berdiri di samping Colette, tampak sangat kebingungan. Mereka melihat Colette hanya mematung seperti patung lilin di depan tangga gubuk.
Aris ikut mengernyitkan dahi. Ia melihat kakaknya tampak sangat pucat, bahkan lebih pucat dari biasanya. "Kak? Kamu kenapa? Kalau takut, Aris ada di sini. Ayo masuk, kita sudah sampai sejauh ini."
Sinta kembali menarik pelan ujung baju Colette, mencoba menuntunnya maju. Namun Colette tetap tidak bergeming. Ia masih terkunci dalam tatapan pria di ambang pintu itu-pria yang kini memberikan sebuah smirk tipis, seolah sedang menertawakan ketidaktahuan Colette akan ikatan gaib yang sudah menyatukan mereka.
Pria itu melangkah turun satu anak tangga, mendekati keluarga kecil tersebut.
"Biarkan dia," suara bariton pria itu memecah keheningan, terdengar sangat berwibawa. "Jiwa yang terkejut membutuhkan waktu untuk kembali ke raga. Bukankah begitu, Colette?"
Sinta dan Aris terperangah. Bagaimana dukun itu bisa langsung menyebut nama Colette dengan begitu akrab, padahal mereka belum sempat memperkenalkannya?
Pria itu melangkah turun dari tangga kayu terakhir, membiarkan jubah hitamnya menyapu lantai bambu dengan suara desis halus. Senyumnya tidak lagi misterius, melainkan berubah menjadi senyum yang sangat tenang-tipe senyum yang dimiliki oleh seseorang yang memegang kendali penuh atas takdir orang lain.
Ia berhenti tepat di hadapan mereka, auranya yang dominan seketika membuat Aris dan Sinta menunduk tanpa sadar.
"Jangan terlalu kaku," ucapnya dengan suara bariton yang jernih namun berwibawa. "Namaku Caspian Hawthorne Sinclair. Di kota, mungkin orang mengenalku dengan setelan jas dan firma hukum, tapi di sini... aku adalah jawaban bagi mereka yang tersesat di tengah hutan jati."
Sinta dan Aris terperangah. Nama itu terdengar terlalu agung untuk seorang dukun yang tinggal di gubuk pinggiran hutan. Namun, kejutan yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
Caspian memutar tubuhnya perlahan, matanya yang tajam mengunci pandangan Colette yang masih bersembunyi di balik helaian rambut hitamnya.
"Dan untukmu, Colette..." Caspian menjeda kalimatnya, membuat suasana mendadak senyap. "Kita tidak perlu berbasa-basi lagi. Bukankah semalam kau sudah cukup melihat bagaimana caraku bekerja?
Sontak saja, Sinta dan Aris saling pandang dengan mata membelalak.
"Tuan... Tuan Caspian? Apa maksud Anda?" Sinta bertanya dengan suara gemetar, napasnya seolah tertahan di kerongkongan.
"Kalian... sudah pernah bertemu? Colette, sejak kapan?"
Aris menatap kakaknya dengan penuh tanda tanya. Ia ingat betul semalam Colette pulang dengan wajah pucat dan pakaian yang sedikit berantakan, tapi kakaknya itu tidak mengatakan sepatah kata pun. "Kak? Benarkah itu? Jadi semalam Kakak ke sini sendirian?"
Colette meremas jemarinya kuat-kuat. Ia tidak tahu harus men jawab apa. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuannya dengan Caspian semalam adalah awal dari pengikatan janji gaib yang bahkan belum ia pahami. Ia tidak tahu bahwa dalam kitab garis tangan Caspian, namanya sudah tertulis sebagai belahan jiwa yang ditakdirkan untuk mendampingi sang penguasa hutan.
Caspian hanya terkekeh kecil melihat kebingungan keluarga itu. Ia mendekat ke arah Colette, lalu berbisik cukup keras agar Sinta dan Aris mendengarnya.
"Dia tidak datang sendirian, Aris. Dia dibawa oleh 'teman-temannya'. Tapi hanya dia yang kuizinkan pulang dengan jiwa yang utuh."