Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Valerie berdiri di depan lobi penthouse mewah itu, tampak segar meski hatinya masih diliputi kekesalan. Ia mengenakan seragam universitasnya: kemeja putih bersih dengan dasi pita kecil, dipadukan dengan rok selutut berwarna navy yang senada dengan blazer-nya.
Rambut panjangnya dikuncir kuda satu, memperlihatkan leher jenjang dan wajahnya yang dipoles riasan tipis alami. Ia nampak cantik dan sangat kontras dengan kemewahan dingin gedung di belakangnya.
Tak berapa lama, sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depannya. Valerie baru saja hendak meraih gagang pintu penumpang belakang untuk membukanya sendiri, namun sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu untuknya.
"Silakan, Nona," ucap sopir itu dengan sopan.
Valerie masuk ke dalam mobil, namun ia langsung mematung di tempat. Matanya membelalak saat menyadari bahwa kursi belakang tidak kosong. Di sana, Damian sudah duduk dengan santai sambil menatap layar tablet di tangannya.
"Oh... selamat pagi," sapa Valerie canggung. Ia segera menggeser duduknya agar memberi jarak sejauh mungkin. "Aku pikir kau sudah berangkat lebih dulu tadi."
Damian tidak langsung menjawab. Ia mematikan tabletnya, lalu perlahan menoleh ke arah Valerie.
Matanya menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan datar dan dingin yang sulit dibaca.
"Kebetulan arah kantorku searah dengan kampusmu. Jadi, sekalian saja," jawab Damian pendek.
Valerie hanya mengangguk pelan, mencoba menatap ke luar jendela agar tidak perlu beradu pandang dengan pria itu. Namun, keheningan di dalam mobil itu tidak bertahan lama.
"Pasti di kampus banyak pria yang mengejarmu, bukan?" tanya Damian tiba-tiba.
Valerie mengernyit heran. Ia menoleh ke arah Damian dengan ekspresi bingung. Apa maksudnya? Mengapa dia menanyakan hal seremeh itu?
"Bahkan hanya untuk ke kampus saja kau sudah berdandan seperti ini," lanjut Damian, nadanya terdengar sedikit menyindir. "Apa kau sengaja melakukannya agar menjadi pusat perhatian, Penipu Kecil?"
What the heck?! Valerie mencibir dalam hati. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja ke kampus harus dandan dan rapi, masa iya harus tampil dekil dan berantakan? Apalagi dia mahasiswi baru.
Valerie menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya. Alih-alih mendebat yang hanya akan merusak suasana hatinya di pagi hari, ia memutuskan untuk pura-pura tersenyum manis—senyum palsu yang paling manis yang bisa ia berikan.
Ia kemudian kembali menatap ke jendela, mengabaikan kehadiran Damian yang terus mengawasinya dengan tatapan tajam.
Perjalanan singkat yang terasa seperti berjam-jam bagi Valerie itu akhirnya berakhir saat sedan mewah milik Damian berhenti tepat di depan gerbang Universitas Arthemis yang megah.
Valerie segera membenahi tasnya, sudah bersiap-siap untuk segera keluar dari atmosfer menyesakkan di dalam mobil itu.
Namun, baru saja jemarinya menyentuh tuas pintu, sebuah tangan besar yang hangat menahan pergelangan tangannya. Valerie tersentak dan menoleh.
"Kau tentu masih ingat nanti harus pulang ke mana, bukan?" tanya Damian, suaranya rendah namun penuh penekanan yang tidak bisa dibantah.
Valerie hanya mengangguk pelan. Ia tidak ingin membuang energi untuk berdebat pagi ini. "Iya, aku ingat," jawabnya singkat.
Damian kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Valerie terbelalak kecil; itu adalah ponsel miliknya yang disita semalam. Damian menyodorkannya dengan gerakan tenang.
"Ini ponselmu. Aku sudah menambahkan kontakku di sana," ucap Damian datar.
Tatapannya mengunci manik mata Valerie. "Jika kau butuh sesuatu—kau bisa langsung menghubungiku."
Valerie mendesah pelan, merasa sedikit lega karena alat komunikasinya telah kembali, Ia mengambil ponsel itu dan menyelipkannya ke dalam tas.
"Terima kasih," ucap Valerie dengan senyum palsu andalannya yang paling manis, lalu segera turun dari sedan mewah itu sebelum Damian sempat mengatakan hal lain.
Begitu kakinya menginjak aspal kampus, Valerie menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa aroma maskulin Damian yang seolah masih menempel di kulitnya.
Ia berjalan cepat menuju gedung fakultas, tanpa menoleh ke belakang, sementara Damian terus mengawasi punggungnya hingga ia menghilang di balik kerumunan mahasiswa.
Valerie baru saja melangkah beberapa meter dari gerbang saat sebuah suara yang sangat ia kenal memanggil namanya dengan lantang.
Jantungnya seakan melompat ke tenggorokan. Ia menoleh perlahan, berdoa dalam hati semoga Aiden tidak sempat melihat mobil sedan mewah Damian yang baru saja melesat pergi.
"Oh, hai Aiden! Kamu mengagetkan saja," ujar Valerie, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar seceria mungkin meski tangannya sedikit dingin karena gugup.
Aiden tidak langsung membalas senyumnya. Pria itu berdiri di depannya dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Kamu dari mana saja, Val? Aku menghubungimu sejak semalam, tapi ponselmu tidak aktif sama sekali. Aku khawatir," ucap Aiden dengan nada menuntut penjelasan.
Valerie menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal. "Aku... aku di rumah kok. Ponselku mati karena aku ketiduran dan lupa mengisi dayanya. Maaf ya, aku benar-benar kelelahan semalam," bohong Valerie, mencoba memasang wajah menyesal yang meyakinkan.
Namun, Aiden tampak belum sepenuhnya percaya. Alisnya bertaut. "Tapi tadi pagi aku menjemputmu di apartemen, Val. Aku mengetuk pintumu berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Petugas lobi juga bilang tidak melihatmu keluar sejak subuh."
Darah Valerie terasa berdesir dingin. Sial, ia lupa kalau Aiden punya kebiasaan menjemputnya. "Ah, masa sih? Aku ada kok! Mungkin aku sedang di kamar mandi atau apa. Aku memang berangkat lebih pagi karena harus mampir ke suatu tempat dulu sebelum ke kampus," kilahnya cepat, mencoba menutupi lubang dalam kebohongannya.
Sebelum Aiden sempat melontarkan interogasi lebih lanjut yang bisa menyudutkannya, Valerie segera mengambil inisiatif. Ia melangkah maju dan memegang tangan Aiden dengan lembut, meremasnya pelan untuk mengalihkan perhatian pria itu.
"Sudahlah, Aiden. Yang penting sekarang aku sudah di sini, kan? Ayo masuk, kelas kita sebentar lagi dimulai. Aku tidak mau terlambat di jam pertama," ucap Valerie sambil menarik lembut lengan Aiden menuju gedung fakultas.
Aiden akhirnya luluh, meski ganjalan di hatinya belum sepenuhnya hilang. Ia pun membiarkan Valerie menuntunnya.