Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Aura yang Layu
Colette berjalan menyusuri trotoar di bawah temaram lampu jalan yang mulai berkabut. Langkah kakinya terdengar monoton, tap... tap... tap... beradu dengan aspal basah sisa hujan sore tadi. Ia tidak menoleh ke kanan atau ke kiri. Baginya, dunia hanyalah sebuah lorong panjang yang harus ia lalui setiap hari tanpa ujung.
Namun, dunia seolah memiliki reaksi alergi terhadap kehadirannya.
Saat ia melewati sebuah halte bus, seorang pria dewasa yang sedang merokok mendadak mematikan rokoknya dan mundur beberapa langkah saat Colette melintas.
Pria itu tidak tahu kenapa, tapi ia tiba-tiba merasa bulu kuduknya meremang, seolah ada hembusan angin es yang lewat di sampingnya.
Beberapa meter di depan, seorang ibu sedang berjongkok untuk membenarkan tali sepatu anak laki-lakinya yang masih balita. Anak itu awalnya tertawa kecil sambil memegang mainan robot-robotan.
Namun, begitu Colette berada dalam jarak beberapa langkah, tawa itu mendadak terhenti.
Anak kecil itu menatap Colette dengan mata membelalak ketakutan. Wajah Colette yang datar dan matanya yang mati seolah memancarkan kegelapan yang terlalu berat untuk dipahami otak mungilnya.
Detik berikutnya, anak itu melempar mainannya dan menjerit sejadi-jadinya. Tangisnya pecah, suara melengking penuh horor, seolah ia baru saja melihat sosok malaikat maut yang berjalan di tengah kota.
"Sstt... sayang, ada apa?" tanya ibunya panik, sambil memeluk anaknya erat. Sang ibu menatap Colette dengan tatapan menuduh dan bingung, seolah-olah Colette baru saja melakukan kekerasan fisik pada anaknya.
Colette tidak berhenti. Ia bahkan tidak berkedip.
Ia sudah sangat terbiasa dengan reaksi itu. Ia tahu bahwa jiwanya yang hancur telah meninggalkan bau busuk yang tidak bisa dicium oleh hidung manusia, tapi bisa dirasakan oleh insting mereka. Ia adalah sebuah lubang hitam yang menyedot kebahagiaan di sekitarnya.
Dahulu, ia mungkin akan merasa sedih atau merasa dirinya monster. Namun sekarang, rasa sedih pun sudah tidak punya ruang di hatinya. Jika anak-anak menangis melihatnya, itu memang seharusnya—karena di dalam dada Colette, tidak ada lagi kehidupan yang tersisa untuk dibagikan.
Ia terus berjalan, menembus kerumunan orang yang secara tidak sadar selalu membuka jalan untuknya,
menghindarinya seolah ia adalah wabah yang bergerak.
Colette tidak mempercepat langkahnya, karena baginya kecepatan tidak lagi memiliki arti. Namun, di dalam kepalanya yang bising dengan kesunyian, ia hanya memiliki satu keinginan yang tersisa: sampai.
Ia ingin segera menanggalkan sepatu kerjanya yang menyiksa, menutup pintu kamar rapat-rapat, dan menenggelamkan dirinya di bawah selimut. Tidur adalah satu-satunya pelarian di mana ia tidak perlu menjadi robot, tidak perlu menjadi hantu yang ditakuti anak-anak, dan tidak perlu merasakan tatapan kasihan dari Jude Rhodes.
Baginya, tempat tidur bukan lagi tempat untuk beristirahat, melainkan sebuah liang lahat sementara yang ia masuki setiap malam untuk bersembunyi dari kenyataan.
Lampu jalanan 80-an yang berwarna kuning pucat mulai berganti dengan remang-remang gang menuju rumahnya. Colette melewati deretan rumah tetangga yang tertutup rapat, bayangannya memanjang di atas aspal seperti jari-jari hitam yang berusaha meraih sesuatu yang sudah lama hilang. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya,
seolah-olah udara di sekelilingnya berubah menjadi cairan yang pekat.
Akhirnya, pintu kayu rumahnya terlihat. Pintu yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, menyimpan aroma masakan ibu dan duka yang belum usai.
Colette tidak tahu bahwa di balik pintu itu, ibunya sedang duduk di meja makan dengan lampu temaram, menggenggam sebuah kertas kecil dengan tangan gemetar. Ibunya telah mencapai batas kesabaran dan kesedihan yang paling dalam. Ia tidak bisa lagi melihat putrinya hidup sebagai mayat berjalan.
Colette memutar kunci, masuk ke dalam tanpa mengucap salam, dan langsung berjalan lurus menuju kamarnya di lantai atas. Ia bahkan tidak menoleh ke arah ruang makan, tidak menyadari tatapan pedih ibunya yang mengikuti setiap langkah kakinya yang berat.
"Besok, Colette..." bisik ibunya sangat pelan, hampir tak terdengar, saat pintu kamar di atas tertutup pelan. "Besok, kau harus ikut Ibu. Kita akan menemui seseorang yang mungkin bisa mengambil beban ini dari pundakmu."
Di dalam kamarnya yang gelap, Colette menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tanpa mengganti pakaian. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menguasai dirinya sepenuhnya, tak menyadari bahwa besok, garis takdirnya akan bersinggungan dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
Suasana di ruang makan itu terasa begitu menyesakkan. Sinta hanya bisa terpaku, tangannya masih menggenggam gelas teh yang sudah mendingin.
Matanya yang sembap terus menatap ke arah tangga, tempat di mana Colette baru saja menghilang di balik pintu kamar. Setiap langkah Colette tadi terasa seperti dentuman godam yang menghantam ulu hati Sinta.
Sebagai seorang ibu, melihat anak sulungnya hidup tanpa nyawa adalah siksaan yang lebih pedih daripada kematian itu sendiri.
"Bu..."
Sebuah sentuhan lembut mendarat di bahu Sinta. Ia menoleh dan mendapati putra bungsunya, Aris, berdiri di sana. Anak laki-laki yang kini sudah beranjak remaja itu memiliki gurat kesedihan yang sama, namun ia berusaha tetap tegak .
Aris kursi di samping Sinta dan duduk pelan. "Kak Colette sudah , Pooh di rumah sekarang."
"Ibu tidak tahu lagi harus bagaimana, Ris," bisik Sinta dengan suara bergetar. "Dia seperti patung lilin. Ibu takut suatu hari nanti, sisa-sisa jiwa di dalam dirinya benar-benar padam. Ibu rindu suara tawanya, Ibu rindu Colette yang dulu..."
Aris menghela napas panjang, menatap pintu kamar kakaknya yang tertutup rapat.