Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ruangan itu terasa semakin sempit, ucapan Oliana masih menggantung di udara, membuat dada Olivia terasa sesak tanpa sebab yang jelas.
“Yang selama ini lu kira keluarga… belum tentu benar-benar keluarga.”
Olivia menatap kakaknya tanpa berkedip.
“Apa maksud lu, Kak…?” suaranya pelan, tapi jelas menuntut jawaban.
Oliana menarik napas panjang, tangannya mengepal pelan, seolah menguatkan diri untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan sendirian.
“Semua ini… bukan kebetulan, Liv.”
Hening.
“Pernikahan lu, hilangnya gue, bahkan… kenapa semua dipaksa secepat itu.”
Olivia menggeleng kecil. “Jangan muter-muter, Kak. Jelasin.”
Nada suaranya mulai naik, dan kali ini Oliana tidak menghindar, ia menatap langsung ke mata Olivia.
“Keluarga Juna… tau sesuatu.”
Olivia terdiam. “Apa?”
“Mereka tau…” suara Oliana melemah sesaat, lalu kembali tegas, “bahwa pewaris utama keluarga Nugraha itu bukan gue.”
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“Apa?” Olivia hampir tertawa, tapi tidak ada satu pun rasa lucu di sana. “Lu bercanda?”
Oliana menggeleng. “Pewaris itu… lu, Liv.”
Kalimat itu seperti menghantam langsung ke dada Olivia, ia terdiam, pikirannya kosong seolah semua suara di dunia mendadak hilang.
“Enggak mungkin…” bisiknya.
“Tapi itu kenyataannya.”
Oliana melanjutkan, lebih pelan sekarang.
“Awalnya gue juga nggak tau. Sampai suatu hari… gue denger sendiri pembicaraan mereka.”
“Siapa ‘mereka’?” tanya Olivia cepat.
“Orang-orang keluarga Juna.”
Nama itu membuat ruangan kembali tegang.
“Mereka sadar… kalau gue yang nikah sama Juna, posisi mereka nggak akan sekuat kalau… lu yang masuk ke keluarga mereka.”
Olivia mulai menggeleng lagi, tidak mau percaya atau tidak bisa percaya.
“Jadi…” suaranya bergetar, “semua ini… dirancang?”
Oliana menatapnya dalam. “Iya.”
Hening panjang.
“Mereka bikin gue ‘kabur’,” lanjut Oliana. “Dibuat seolah-olah gue belum siap nikah. Gue labil. Gue yang mundur.”
“Padahal?”
“Padahal gue dipaksa keluar dari situasi itu.”
Napas Olivia semakin berat, dadanya terasa sesak.
“Dan karena gue ‘hilang’…” Oliana melanjutkan, “otomatis… posisi itu jatuh ke lu.”
Olivia menekan dadanya, sakit. Bukan fisik tapi sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Enggak…” ia berbisik. “Enggak mungkin…”
Namun ingatan mulai bermunculan, tekanan Oma, pernikahan yang mendadak dan dipaksa. Semua yang terasa terlalu cepat dan sangat… teratur.
“Tunggu…” Olivia menatap Oliana lagi, matanya mulai berkaca. “Kalau lu tau… kenapa lu nggak balik aja?”
Pertanyaan itu tajam dan menyakitkan. Oliana terdiam, lalu menjawab pelan—
“Karena gue tau… mereka nggak bakal berhenti.”
Hening.
“Waktu gue coba balik…” lanjutnya, suaranya kini lebih berat, “mereka tau.”
“Dan mereka… berusaha melenyapkan gue.”
Olivia membeku. “Apa…?”
Namun sebelum Oliana sempat menjelaskan lebih jauh— pria di samping mereka akhirnya bergerak.
“Gue yang nemuin dia.”
Suara itu tenang, tapi penuh makna. Olivia langsung menoleh menatap pria itu untuk pertama kalinya… benar-benar menatap.
“Lu…?”
“Nama gue Leon,” katanya singkat.
Leon. Nama itu akhirnya punya bentuk.
“Waktu itu dia udah setengah mati,” lanjut Leon. “Kalau telat sedikit aja… mungkin sekarang lu nggak bakal ketemu dia lagi.”
Olivia terdiam. Matanya berpindah antara Oliana dan Leon. Pikirannya berusaha menyusun semuanya, namun terlalu banyak yang harus diproses dan... terlalu berat.
“Jadi…” ia berbisik, “lu yang selamatin kakak gue…”
Leon tidak menjawab, hanya menatapnya datar. Namun diamnya itu… sudah cukup sebagai jawaban.
Olivia menunduk, tangannya kembali menekan dadanya. Sesak itu datang lagi, lebih kuat.
“Kenapa…” suaranya melemah. “Kenapa lu bantu dia…?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, murni dan jujur. Kali ini— Leon terdiam sedikit lebih lama. Seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang mudah dijawab. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun— Oliana lebih dulu bicara.
“Liv…”
Olivia mengangkat wajah, yang ia lihat bukan hanya kesedihan tapi juga… ketakutan.
“Ada satu hal lagi…”
Nada suara Oliana berubah, lebih pelan dan berat.
“Yang bahkan gue sendiri… belum yakin.”
Jantung Olivia berdegup kencang. “Apa lagi…?”
Oliana menelan ludah, matanya sekilas melirik ke arah Leon lalu kembali ke Olivia.
“Gue nggak tau…”
Ia berhenti sejenak, seakan kalimat itu terlalu sulit untuk diucapkan.
“…apakah Juna… terlibat atau tidak.”
Sunyi. Kalimat itu jatuh seperti bom, Olivia langsung membeku. Matanya membesar, napasnya tercekat.
“Jangan…” bisiknya. “Jangan bilang gitu…”
Namun Oliana tidak menarik kembali kata-katanya.
“Gue nggak pernah lihat dia langsung terlibat,” lanjutnya. “Tapi dia… bagian dari keluarga itu dan gue nggak tau… dia ada di pihak mana.”
Olivia menggeleng cepat.
“Enggak. Enggak mungkin…”
Suaranya lemah, hampir seperti meyakinkan dirinya sendiri.
“Dia…” Olivia menatap kosong. “Dia pacar lu, dia baik…”
Namun ingatan kembali muncul, tatapan Juna, sikap tenangnya, semua yang terasa… begitu sempurna. Terlalu terkendali dan sulit dibaca.
Ponsel di saku Leon tiba-tiba bergetar. Getaran itu pelan, tapi cukup untuk memecah keheningan yang sejak tadi menggantung berat di antara mereka. Leon sedikit mengernyit, tangannya refleks masuk ke dalam saku celananya. Layar ponsel menyala—sebuah notifikasi dari nomor yang tidak disimpan dengan nama, hanya deretan angka yang asing.
Namun sorot mata Leon berubah, ia mengenali nomor itu. Tanpa berkata apa pun, ia membuka pesan tersebut. Bukan teks… melainkan voice note.
Leon menekan tombol putar. Suara yang keluar terdengar pelan, seperti berbisik, dengan napas yang tertahan-tahan.
“Hi… ini gue, Jesica…”
Olivia yang sejak tadi memperhatikan, langsung menegang begitu mendengar nama sahabatnya. Suara di rekaman itu terdengar tergesa, seolah takut ketahuan.
“Gue nggak bisa sering pakai ponsel ini… susah banget aksesnya. Tapi gue harus kasih tau…”
Terdengar suara samar di belakang, seperti pintu besi yang bergeser. Jesica menurunkan suaranya lebih pelan lagi.
“Sekarang gue di basement. Mereka makin ketat… dan—”
Rekaman sempat terputus sepersekian detik, lalu lanjut kembali.
“Oma… dia mulai curiga. Pencarian Olivia diperluas. Bukan cuma orang luar… orang dalam juga mulai diperiksa satu-satu.”
Napas Jesica terdengar semakin tidak stabil.
“Lu harus hati-hati. Mereka nggak main-main.”
Hening sejenak dalam rekaman itu, sebelum suara Jesica kembali, kali ini lebih lembut.
“…dan tolong, kalau Olivia sama lu… bilangin gue… dia gimana sekarang?”
Klik. Rekaman berakhir. Ruangan kembali sunyi, tapi kali ini bukan sekadar sunyi—melainkan penuh tekanan yang jauh lebih nyata. Olivia sudah berdiri tanpa sadar.
“Jesica…?”
Suaranya bergetar. Matanya langsung menatap Leon, penuh harap sekaligus cemas.
“Itu Jesica, kan? Dia… dimana sekarang?!”
Ia melangkah mendekat, tangannya hampir meraih ponsel di tangan Leon.
“Kasih gue, Leon.”
Namun Leon bergerak sedikit lebih cepat. Ia menarik tangannya, menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Olivia.
“Jangan.” Nada suaranya tetap tenang, tapi tegas.
Olivia tertegun. “Gue cuma mau dengar lagi—”
“Enggak.” Leon memotong, kali ini lebih dingin. “Lu nggak perlu dengar sekarang.”
“Gue perlu!” suara Olivia naik, emosinya mulai meluap. “Dia sahabat gue, Leon! Dia mungkin lagi dalam bahaya dan gue—”
“Dan lu juga dalam bahaya.”
Kalimat itu jatuh tegas, Olivia langsung terdiam. Leon menatapnya lurus, tidak goyah sedikit pun.
“Kondisi lu belum stabil. Fisik, apalagi mental,” lanjutnya lebih rendah. “Informasi kayak gini cuma bakal bikin lu makin kacau.”
“Gue nggak peduli!” Olivia menatapnya tajam, matanya mulai berkaca. “Itu Jesica… dia sendirian di sana!”
“Dan lu pikir lu bisa bantu dia sekarang?” balas Leon tanpa menaikkan suara, tapi setiap katanya terasa menghantam. “Dengan keadaan lu yang bahkan masih gemetar berdiri?”
Olivia membeku, tangannya mengepal, napasnya tidak teratur. Ia ingin membantah… tapi tubuhnya sendiri seolah mengkhianatinya. Lemah.
Diam-diam, Oliana memperhatikan dari samping. Wajahnya penuh kekhawatiran, tapi ia tidak menyela. Ia tahu… ini bukan sekadar soal Jesica.
Ini tentang Olivia yang sedang dipaksa menerima kenyataan demi kenyataan dalam waktu yang terlalu singkat.
Leon menghela napas pelan, nada suaranya sedikit melunak.
“Fokus ke diri lu dulu.”
Olivia menunduk, rahangnya mengeras.
“Keadaan Jesica… gue akan tangani.”
Olivia langsung mengangkat wajahnya lagi. “Lu janji?”
Pertanyaan itu keluar cepat, hampir seperti anak kecil yang mencari pegangan. Leon terdiam sepersekian detik.
“…Gue nggak bikin janji kosong.”
Bukan jawaban yang manis, tapi entah kenapa… terdengar cukup. Olivia menelan ludah. Perlahan, tubuhnya kembali terasa berat. Ia mundur satu langkah, lalu duduk kembali dengan lemah.
Namun pikirannya jauh dari tenang, dan yang paling mengganggu—Juna. Nama itu kembali muncul di kepalanya, seperti bayangan yang tidak mau pergi.
Jika semua ini benar… jika semua ini memang dirancang… Lalu—di mana posisi Juna sebenarnya?
Sementara itu, di sisi lain ruangan, Leon kembali melihat ponselnya. Pesan itu bukan sekadar kabar, itu peringatan dan juga… undangan untuk bergerak. Matanya menyipit tipis, permainan ini… sudah masuk tahap yang lebih berbahaya.