NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal yang Tidak Pernah Dilakukan Adrian

Malam setelah pertemuan di depan kantor itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Di apartemennya yang luas di pusat kota, Adrian berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke deretan lampu gedung-gedung tinggi.

Biasanya pemandangan itu membuat pikirannya tenang.

Namun malam ini berbeda.

Kalimat terakhir Rania terus terngiang di kepalanya.

“Diam itu yang paling menghancurkanku.”

Adrian menghela napas panjang.

Ia tidak menyangkalnya.

Karena itu benar.

Tiga tahun lalu, ia memang diam.

Dan diam itu sekarang kembali menghantuinya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Pesan dari direktur keuangan perusahaan.

“Investor meminta kepastian jadwal proyek energi.”

Adrian membaca pesan itu beberapa detik sebelum membalas singkat.

“Besok kita bahas.”

Ia meletakkan ponselnya kembali di meja.

Namun pikirannya tetap tidak tenang.

Akhirnya ia melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan.

Ia mengambil kunci mobil.

Sementara itu di rumah Rania, rumah besar yang ia beli dua tahun lalu berdiri tenang di kawasan elit kota.

Rumah itu tidak terlalu mewah dibanding rumah keluarga bisnis lain.

Namun desainnya elegan dan tenang.

Rania duduk di ruang kerja kecil di lantai dua.

Di depannya ada beberapa dokumen proyek.

Namun sebenarnya ia tidak membaca apa pun.

Pikirannya juga masih berada di trotoar depan kantor tadi sore.

Ketika Adrian akhirnya mencoba menjelaskan semuanya.

Namun anehnya—

penjelasan itu tidak membuatnya merasa lebih baik.

Justru terasa lebih kosong.

Suara mobil yang berhenti di depan rumah membuatnya sedikit mengerutkan kening.

Ia menoleh ke arah jendela.

Lampu mobil menyala di halaman.

Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar.

Pesan dari Arsen.

“Adrian ada di depan rumahmu.”

Rania menatap pesan itu beberapa detik.

Ia sudah menduga Arsen akan mengetahui lebih dulu.

Rania berdiri dari kursinya dan berjalan menuju balkon kecil di lantai dua.

Dari sana ia bisa melihat halaman depan.

Adrian benar-benar berdiri di dekat mobilnya.

Sendirian.

Tanpa pengawal.

Tanpa asistennya.

Ia hanya berdiri di sana dengan tangan di saku jas.

Rania menatapnya beberapa detik.

Lalu ia turun ke lantai bawah.

Beberapa menit kemudian pintu rumah terbuka.

Adrian mengangkat kepalanya ketika melihat Rania keluar.

Lampu halaman menyinari wajah mereka dengan jelas.

Rania berdiri beberapa langkah dari pintu.

“Apa lagi?”

Nada suaranya tidak marah.

Namun jelas tidak ramah.

Adrian menjawab dengan jujur,

“Aku tidak tahu.”

Rania sedikit mengangkat alis.

“Jadi kau datang tanpa alasan?”

Adrian menatapnya beberapa detik sebelum berkata,

“Mungkin.”

Rania menyilangkan tangan.

“Kalau begitu kau bisa pulang.”

Adrian tidak bergerak.

Ia tetap berdiri di tempatnya.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia berkata pelan,

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

Rania terlihat sedikit tidak sabar.

“Apa?”

Adrian menatapnya dengan serius.

“Apakah masih ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya.”

Suasana halaman rumah itu menjadi sangat sunyi.

Rania menatap Adrian cukup lama.

Lalu ia tertawa kecil.

Namun tawanya tidak hangat.

“Memperbaiki?”

Ia menggeleng pelan.

“Kau terlalu terlambat untuk kata itu.”

Adrian tidak membantah.

Ia hanya berkata,

“Aku tahu.”

Rania menatapnya dengan mata yang tenang.

“Lalu kenapa masih mencoba?”

Adrian berpikir beberapa detik sebelum menjawab.

“Karena aku baru menyadari sesuatu.”

Rania menunggu.

Adrian berkata pelan,

“Selama tiga tahun aku pikir kehilanganmu adalah harga yang harus kubayar untuk menyelamatkan perusahaan.”

Ia berhenti sebentar.

“Ternyata aku salah.”

Rania tidak berkata apa-apa.

Adrian melanjutkan,

“Aku tidak menyelamatkan apa pun.”

Ia menatap Rania dengan jujur.

“Aku hanya kehilanganmu.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Namun ekspresi Rania tidak berubah.

Ia berkata dengan tenang,

“Kau tidak pernah benar-benar memiliki aku.”

Adrian menunduk sebentar.

Mungkin itu juga benar.

Rania melanjutkan,

“Tiga tahun lalu ketika aku berdiri di depan gerbang rumahmu…”

Ia menatap Adrian lurus.

“…yang aku butuhkan hanya satu hal.”

Adrian bertanya pelan,

“Apa?”

Rania menjawab tanpa ragu,

“Kau berdiri di sampingku.”

Beberapa detik terasa sangat lama.

Adrian tidak bisa menjawab.

Karena ia tahu, ia tidak melakukannya.

Rania akhirnya berkata dengan dingin,

“Sekarang sudah terlambat.”

Ia berbalik menuju pintu rumah. Namun sebelum masuk, Adrian berkata pelan,

“Kalau begitu biarkan aku menyesal.”

Rania berhenti.

Ia tidak menoleh.

Adrian melanjutkan,

“Aku tidak meminta kau memaafkanku.”

Ia berkata dengan suara rendah.

“Aku hanya tidak ingin lari dari kesalahan itu lagi.”

Beberapa detik berlalu.

Rania akhirnya menoleh sedikit.

Tatapannya tetap tenang.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang lebih dingin.

“Kau ingin menyesal?”

Adrian mengangguk pelan.

“Baik.”

Rania membuka pintu rumahnya.

Ia berkata pelan sebelum masuk.

“Kalau begitu tetaplah di dekatku.”

Ia menatap Adrian sebentar.

“Karena semakin dekat kau berdiri…”

Ia berhenti sejenak.

“…semakin kau akan mengerti apa yang telah kau hancurkan.”

Pintu rumah tertutup.

Adrian tetap berdiri di halaman itu.

Lampu rumah menyala hangat di balik jendela.

Namun jarak antara mereka terasa lebih jauh dari sebelumnya.

Dan Adrian sadar satu hal.

Penyesalan bukan hanya tentang masa lalu.

Penyesalan adalah tentang melihat seseorang yang dulu mencintaimu berdiri tepat di depanmu.

Namun sudah tidak lagi merasa apa pun.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!