Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang membosankan :Wabah
Akhir pekan.
Langit senja menggantung pucat di balik jendela kaca besar rumah Douma. Tidak ada jadwal rapat. Tidak ada pertemuan. Hanya meja rendah dengan secangkir teh yang mulai dingin dan tablet transparan yang belum disentuh.
Ia jarang benar-benar libur.
Tapi hari itu ia memutuskan untuk tidak membuka laporan apa pun.
Televisi menyala tanpa volume besar. Hanya latar suara.
Pukul 19.00 tepat, layar berkedip.
Acara dokumenter yang sedang berjalan terpotong.
Layar berubah hitam selama beberapa detik.
Tulisan muncul:
SIARAN RESMI PEMERINTAH — WAJIB DITONTON
Douma mengangkat pandangannya. Tidak terburu-buru. Hanya refleks.
Logo kementerian kesehatan muncul, diikuti seorang pejabat yang berdiri di depan papan digital hitam. Grafik kota terpampang samar di belakangnya.
“Saudara-saudara sekalian, pemerintah hari ini mengonfirmasi teridentifikasinya patogen baru dengan pola penyebaran cepat di wilayah metropolitan.”
Douma tidak mengubah ekspresinya.
Titik merah menyala di peta kota.
Tiga.
Delapan.
Dua belas.
“Berdasarkan analisis laboratorium awal, agen infeksius ini menunjukkan karakteristik genetik berbeda dan tingkat transmisibilitas tinggi.”
Status siaga diumumkan.
Pembatasan aktivitas diberlakukan mulai tengah malam.
Imbauan tetap tenang disampaikan dengan nada yang terlalu stabil.
Siaran berlangsung kurang dari sepuluh menit.
Namun dalam sepuluh menit itu, kota berubah.
Di luar rumah Douma, suara kendaraan mulai terdengar lebih sering. Pintu pagar tetangga terbuka-tutup. Notifikasi ponsel bergetar tanpa henti di atas meja.
Ia tidak segera meraih ponselnya.
Ia menatap ulang grafik yang sempat ditampilkan.
Angkanya kecil.
Terlalu kecil untuk pengumuman nasional.
Tangannya akhirnya bergerak, bukan untuk membaca berita, melainkan membuka akses sistem pribadinya. Layar tipis muncul di udara.
Data internal mulai tersinkronisasi.
Beberapa laporan medis yang belum dipublikasikan masuk satu per satu.
Jumlahnya tidak sama dengan yang ditampilkan di televisi.
Douma menutup layar itu perlahan.
Bukan karena terkejut.
Bukan karena marah.
Hanya karena ia sudah mengerti satu hal:
Pengumuman tidak pernah dibuat pada hari yang sama dengan kejadian.
Seseorang sudah mengetahui ini lebih dulu.
Dan seseorang memilih pukul 19.00 sebagai waktu terbaik untuk memberi tahu seluruh kota secara bersamaan.
Tehnya sudah benar-benar dingin.
Di layar televisi, pembawa berita mulai mengulang pernyataan pemerintah dengan nada lebih dramatis.
Douma berdiri, mematikan televisi, dan berjalan ke jendela.
Di kejauhan, sirene ambulans terdengar satu kali.
---
Douma mendengus pelan.
“Huft… apakah aku terlalu menikmati hidup yang damai… sampai tidak menyadari kekacauan di luar sana?”
Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit putih yang terasa terlalu tenang untuk hari seperti ini.
“Aku yakin Ayah pasti sudah tahu berita ini.”
Suara peralatan dapur terdengar dari arah belakang.
“Ibuu… apakah Ibu mendengar siaran barusan?”
“Iya, sayang,” jawab ibunya lembut. Suaranya hangat, bertolak belakang dengan udara yang tiba-tiba terasa dingin di ruang tamu. Langkahnya mendekat sambil mengeringkan tangan dengan lap dapur.
“Tidak menyangka akan ada wabah seperti ini lagi. Kalau sudah diumumkan di televisi nasional, berarti pasti sudah menyebar. Semoga pemerintah bisa menanganinya dengan baik,” harapnya tulus.
Douma bergidik tipis.
Menanganinya dengan baik?
Atau… menangani sesuatu yang memang mereka tabur sendiri?
Tatapannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya ia menghela napas.
“Ibu percaya begitu saja?” tanyanya pelan.
Ibunya tersenyum samar. “Tidak semua hal harus dicurigai, Douma.”
"Ah".
Kalimat yang sederhana.
Terlalu sederhana.
“Douma, apa maksudmu sayang?”
Ia menoleh sedikit, tapi tidak sepenuhnya menghadap ibunya.
“Bisa jadi ini hanya akal-akalan para petinggi. Lagi pula, sebentar lagi semuanya akan diperketat. Aktivitas dibatasi. Akses ditutup. Pengawasan diperluas.”
Nada suaranya datar, hampir seperti membaca laporan.
“Membosankan sekali…”
Ibunya menatapnya heran. “Membosankan?”
Douma terdiam.
Aku baru saja ingin menjalani hidup yang damai sebagai manusia biasa.
Tanpa jaringan.
Tanpa konflik.
Tanpa perhitungan politik.
Hanya akhir pekan biasa.
Kenapa masalah malah bertambah setiap hari?
Huft.
Ia memijat pelipisnya pelan.
Di meja, ponselnya akhirnya bergetar.
Bukan notifikasi berita.
Bukan pesan grup keluarga.
Nomor terenkripsi.
Douma menatap layar itu cukup lama sebelum mengangkatnya.
Ia tidak menyapa lebih dulu.
Suara di seberang terdengar rendah dan singkat.
“Status siaga dinaikkan lebih cepat dari jadwal. Protokol cadangan akan diaktifkan malam ini.”
Douma menutup matanya sesaat.
Tentu saja.
“Ayahmu sudah di lokasi,” lanjut suara itu.
Klik.
Telepon terputus.
Ibunya memperhatikan perubahan ekspresi tipis di wajah putranya.
“Ada apa?”
Douma berdiri perlahan.
“Tidak ada, Bu.”
Senyum tipis terukir di bibirnya. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
“Hanya saja… akhir pekan sepertinya benar-benar sudah selesai.”
Di luar, langit senja berubah lebih gelap dari seharusnya.
---
Pusat titik merah.
Sebuah kompleks penelitian yang kini berubah fungsi menjadi zona observasi darurat. Lampu sorot menyala terang meski malam belum sepenuhnya turun. Drone pengawas berputar perlahan di udara. Gerbang utama dijaga berlapis.
Segalanya terlihat “tertib”.
Terlalu tertib untuk situasi wabah mendadak.
Ayah Douma berdiri di balik kaca ruang isolasi. Jas pelindung medis membungkus tubuhnya, namun posturnya tetap tegak dan tenang. Ia bukan sekadar ilmuwan.
Ia adalah salah satu yang terbaik.
Seorang peneliti jenius di bidang patogen sintetis dan imunologi adaptif.
Namun di luar laboratorium, ia juga dikenal sebagai relawan garis depan—orang yang tidak ragu turun langsung ke zona krisis. Bekalnya bukan hanya ilmu medis, tetapi juga kemampuan bertahan hidup yang ditempa dari pengalaman lapangan bertahun-tahun.
Ia baru saja melepas sarung tangan ketika menghampiri salah satu rekannya.
“Tolong hubungi rumah. Beri tahu bahwa aku di lokasi observasi. Jangan sampaikan detail. Hanya pastikan mereka tenang.”
Rekannya mengangguk.
Pesan itu terkirim.
Dan Douma sudah menerimanya.
---
Di rumah.
Douma berdiri di depan meja kerjanya. Komputer cahaya transparan terbentang di udara, membentuk beberapa lapisan holografik.
Ia tidak membuka pesan seperti orang biasa.
Ia melacaknya.
Sumber enkripsi.
Rute transmisi.
Pantulan sinyal satelit.
Titik koordinat muncul.
Zoom in.
Ia mengenali tempat itu.
“Pusat titik merah…” gumamnya pelan.
Ia memperluas jangkauan pemindaian. Sistem pribadinya menembus jaringan publik, lalu menyusup ke kanal semi-tertutup yang tidak semua orang tahu keberadaannya.
Daftar identitas muncul.
Nama-nama pejabat kesehatan.
Beberapa personel militer.
Tim biosekuriti tingkat tinggi.
Dan—
Douma memperkecil layar, fokus pada satu indikator lain.
Pembacaan fluktuasi bio-energi.
Bukan data resmi.
Data alternatif.
Beberapa titik di lokasi itu memancarkan anomali.
Energi berat.
Bukan sekadar pasien terinfeksi.
Bukan hanya tenaga medis.
Frekuensinya tidak stabil.
Hmm…
Sudah kuduga.
Ini bukan wabah biasa.
Ia memutar ulang rekaman siaran tadi. Grafik yang ditampilkan ke publik dibandingkan dengan pembacaan real-time yang baru saja ia akses.
Tidak sinkron.
Selisihnya terlalu besar untuk disebut “keterlambatan pembaruan”.
“Apakah mereka sedang menutupi sesuatu… atau justru memulai sesuatu?” gumamnya.
Di layar, ia menandai satu ruangan di kompleks itu. Sumber anomali paling pekat berada di bawah tanah.
Level -3.
Akses terbatas.
Douma menyilangkan tangan.
“Akal-akalan mereka…”
Namun kali ini nadanya bukan sekadar bosan.
Lebih waspada.
Jika ini benar rekayasa para petinggi, maka Ayahnya berada tepat di tengah panggung permainan itu.
Dan Ayahnya bukan orang yang mudah dimanfaatkan.
Tiba-tiba, salah satu indikator di layar berkedip merah.
Lonjakan.
Singkat, tapi tajam.
Dari Level -3.
Douma memperbesar data itu. Algoritma analisis cepat bekerja.
Itu bukan pola penyebaran alami.
Itu seperti…
Pemicu.
Matanya menyipit.
“Jadi begitu…”
Di lokasi pusat, Ayah Douma menoleh tiba-tiba ke arah lantai, seolah merasakan sesuatu yang tak kasat mata.
Sebuah alarm kecil terdengar di kejauhan.
Bukan alarm publik.
Alarm internal.
Douma melihat waktu di sudut layar.
19:42.
Terlalu cepat untuk eskalasi alami.
Ia menutup sebagian layar dan bersandar.
Jika mereka benar-benar memulai sesuatu malam ini…
Maka ini bukan sekadar pengendalian wabah.
Ini tahap pertama.
Dan Douma harus memutuskan:
Tetap menjadi manusia biasa yang ia inginkan…
Atau merepotkan sedikit dirinya untuk turun langsung ke lapangan.
---