NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pangeran tampanku

Permadi ,artis yang selalu kemana -kemana sama bibi nya, bahkan saat ke kampus pun dibawakan bekal makanan

" desty kamu mau cucurr gak buatan bibi, ini kabar dari bibi ada cucur, klepon, sama putu "

kata Permadi

desty :" iya bang"

Permadi :" panggil saya pangeran "

Desty :" apaaan pangeran dari mana? "

Permadi :" cantik kamu dari mana? ya dari sana nya lah pengeran pake tanya segala dari mana?"

Desty :" jaman dulu kamu gonta ganti mobil terus "

Shella :" ya namanya juga orang kaya gak abis2, kuliah aja gonta ganti udah berapa gelar? "

Dedew :" ih Permadi kamu kan tau si desty pengen nebeng ke Pasteur "

shella:" cuma gelar doang kok, nnti kuliah kerjanya sendiri -sendiri " wkkwk

barusan bibi bilang kalo mau belajar nonton sama dedew, shella, yah si lithu diajak juga biar belajar

Jam kosong mereka menonton, lalu si lithu bilang :" pangeran kodok, lu mah ngajarin gabener, kan "

Permadi :" lah kan kata bibi harus jadi dewasa, nntik ke kos ya cwek2 main PlayStation "

Shella, dedew, lithu, suneo, dan nobita ke sana dan segera memberitahu tanggal pernikahannya,

Permadi :" loh kok, si nobita gak ikut? "

Nobita:" saya makan dulu bro "

Suneo :" baiklah "

Dedew :" turunan Arab, trus bilang gw juga mau nikah krena bisnis keluarga gaboleh jatuh ke tangan orang lain , harus orang dalam"

Permadi :" iya sayang 💕🥰 "

"Pokonya mah diantara cwek-cewek yang paling cantik lithu "

wkwkkwwkk nikah nya sama teller bank ya lebih cantik kan, apa udah ganti?

Pangeran mah setia atuh da, okeh " : Kata suneo

shella,:" kapan kita ke lembang bareng aja sama semua yang disebutin ke lembang"

Nonton bosya ya petualangan sherina yang di dalem bosya apa bioskop liat bintang - bintang sama bulan 🌙

"ya itulah pokonya ya

kata permadi juga :

jangan lupa makan daging kelinci "

" emang enak? " tanya lithu

"Lah jangan salah enak bener, " udah lah main PlayStation aja klo gak ada uang

Trus setelah main PlayStation kami pulang, dan si dedew bilang untuk datang ke pernikahannya yang 1 bulan lagi dilaksanakan di jakarta timur

dedew :" lithu kamu kalo mau beli baju di tamini square aja, banyak pilihan "

Lithu :" iyah dew"kamu sehat-sehat ya sama suami "

Dedew :" iya "

SESAL

________

Beberapa hari setelah menikah, bersama suami aku meninggalkan kampung halaman menuju Jakarta. Meskipun ini bukan untuk yang pertama kalinya aku pergi jauh dari keluarga, tapi rasanya ini berbeda. Jika sebelumnya aku pergi, ada hari di mana aku pasti akan kembali lagi ke satu-satunya rumah tempatku pulang. Tapi kali ini, itu bukan lagi rumah utamaku. Itu bukan lagi tempat aku pulang. Jika besok atau lusa aku datang ke rumah itu, Tujuannya bukan lagi untuk tinggal, tapi sekedar silaturrahmi. Aku kini punya rumah sendiri, bersama keluarga yang baru, Sagara. Semoga rumah yang ku tuju, rumah harapan sampai hari tua, bisa sedamai dan senyaman rumahku yang dulu.

Suasana hening membersamai kami selama kurang lebih empat jam perjalanan. Entah kenapa kami begitu betah dalam diam. Aku bukan orang yang pandai berbasa-basi. Aku tidak pandai bersikap ramah pada orang baru. Mungkin juga sagara seperti itu. Mungkin dia menunggu aku yang membuka percakapan, tapi aku tidak tahu harus memulai dengan topik apa. Karena bosan, aku pun memilih tidur.

Aku turun dari mobil dalam kondisi masih linglung, selain karena baru bangun tidur, juga karena tak mengenali tempat aku berdiri sekarang. Sementara Sagara sudah berjalan di depan, dan tidak sekalipun menoleh. Ia sibuk dengan ponselnya.

Aku menatap koper di depanku.

_Serius dia menyuruhku membawanya sendiri ?!._

Ini bukan masalah beratnya, tapi seharusnya sebagai laki-laki sejati, dialah yang berinisiatif untuk membawanya. Dialah yang harusnya mencoba memulai pendekatan di antara kami. Harusnya ia berusaha mengambil hatiku dengan memberi bantuan. Harusnya... Harusnya... Harusnya !!

Sudahlah !. Aku menarik koperku, mengikuti arah langkahnya, dengan mata berkaca-kaca.

_Ah !. Cengeng sekali sih !._

Roda koperku macet. Aku mengeceknya. Satu rodanya terjebak dalam lubang kecil. Aku menariknya kasar. Patah !. Ah sial sekali !. Seketika hatiku sesak. Tanpa sadar air mataku jatuh. Aku berusaha menyeret koper yang terasa sangat berat karena rodanya tidak lagi berfungsi.

"Kenapa ?."

Aku tersentak, tiba-tiba Sagara sudah berdiri di sampingku. Aku melepas kasar gagang koperku. Lalu membuang muka ke arah lain. Tidak ingin dia melihat air mataku.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Tapi kulihat dari ekor mataku, dia menunduk mengecek koper, lalu menarik gagangnya

"Ayo !," ajaknya. Aku bergeming

"Kenapa ?. Ada yang sakit ?"

"Tidak !. Aku tidak apa-apa." Aku menggeleng cepat, dan melangkah di sampingnya.

Kami masuk lift dan berhenti di lantai dua puluh lima. Dia melangkah lebih dulu keluar, dan aku berusaha menyejajari langkah panjangnya.

Sagara berhenti di depan pintu dengan nomor satu enam kosong tiga satu satu. Aku harus hafal nomor ini, biar besok-besok kalau aku turun sendiri, aku tidak tersesat saat kembali.

Pintu terbuka. Aku mengedarkan pandanganku, dan mengagumi kemewahan tempat tinggalnya. Pantas saja dia betah di sini. Sepertinya aku juga akan lebih suka di sini. Aku melihat ada tiga ruangan yang tertutup.

Sagara masuk ke dalam satu ruangan, masih dengan menenteng koperku. Aku pun mengikutinya. Ternyata itu adalah kamar. Kamarnya sangat luas. Mungkin tiga kali dari luas kamarku. Tempat tidurnya juga cukup besar, dan menghadap ke arah dinding kaca. Saya yakin pemandangan malam hari di sini sangat indah.

" melewatkan malam sebagai pasangan pengantin baru, mungkin itu yang membuat hubungan kami masih kurang intim. Kami seperti masih malu-malu dan saling menjaga jarak.

Aku memilih satu baju berbahan sutra, berwarna hitam dengan renda yang menghiasi bagian bawahnya. Tidak terlalun terbuka, tapi terlihat dewasa. Aku lalu membawa baju itu masuk kamar mandi.

Sekitar sepuluh menit kemudian aku keluar dengan mengenakan baju itu. Aku berdiri depan cermin yang tingginya melebihi tinggi badanku. Menatap bayang diriku yang tampak berbeda dengan pakain ini. Menurutku, aku terlihat sangat cantik memakainya. Semoga suamiku sependapat denganku, dan memberiku sedikit pujian dengan langkah berani yang ku ambil ini.

Meskipun aku terlihat cantik dan matang dengan pakaian yang sedang ku kenakan, tapi percayalah, aku sekarang di landa nervous, kedua telapak tanganku dingin dan berkeringat, memikirakan bagaimana respon Sagara yang melihatku dengan sengaja menggodanya.

Apakah dia akan senang ?

Aku mencoba tersenyum, tapi tatapan tajamnya mengisyaratkan kalau ia tak suka dengan caraku. Aku langsung menunduk dan kehilangan nyali.

Kulihat dari bayangannya ia melangkah cepat menuju tempat tidur, menarik selimut dan langsung melemparkannya ke wajahku, "Tutupi tubuhmu yang tidak menarik itu !. Jangan bersikap murahan !" Suaranya terdengar penuh penekanan

Setelah itu ia langsung masuk ke kamar mandi, dan membanting pintu dengan keras. Aku terlonjak. Aku sangat malu, sampai tidak bisa menahan air mataku.

Aku terbangun pukul empat, lalu mengambil wudhu untuk sholat malam. Di sujud terakhirku aku meminta kepada Yang Maha Membolak-balikkan hati supaya hati suamiku dilembutkan. Supaya hati suamiku menjadi lebih ikhlas, dan lebih bertanggung jawab sebagai imamku.

Waktu subuh masuk, aku menghampirinya. Duduk di sampingnya dan membangunkannya dengan suara pelan, "Mas, bangun !. Sudah masuk waktu subuh."

Tidurnya terlalu nyenyak. "Mas, sudah subuh !."

Apa suamiku selingkuh ?. Apa ada orang ketiga dalam penikahan kami ?.

Ya Allah, apa ini jawaban dari do'aku tadi ?. Apa aku tidak punya harapan untuk rumah tanggaku ini ?. Aku harus bagaimana ?

Selepas dzikir, aku sama sekali tidak beranjak dari sajadahku. Aku terus memohon petunjuk, bagaimana langkah yang harus aku ambil. Sampai akhirnya matahari sudah naik sehasta, aku baru melipat mukena dan sajadah, lalu keluar kamar menuju dapur. Aku akan menyiapkan sarapan.

Sagara keluar dari kamar dengan pakaian santai. Tanpa bertanya terlebih dahulu aku langsung menyeduhkan secangkir kopi untuknya

"Mas, pulang jam berapa semalam ?"

"Gak tahu, aku tidak mengecek jam."

Aku menghela napas pelan sebelum melanjutkan pertanyaan "Siapa wanita yang menelpon Mas semalam ?"

Sagara menyesap pelan kopi hangatnya, mencoba tidak terusik dengan pertanyaanku.

Dia meletakkan cangkir kopinya, lalu mengambil selembar roti tawar, mengolesinya dengan selai kacang, "Duduklah dan sarapan !. Jangan banyak tanya, jangan banyak mau tahu !."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!