Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Bayangan yang Berjalan
Sasha masih gemetar menatap sisir perak di tangan Della. Sisir itu memiliki ukiran yang sangat detail motif naga yang melilit cermin kecil di bagian gagangnya.
Di bawah sinar matahari sore Sukabumi, sisir itu tidak memantulkan cahaya, melainkan seolah-olah menyerapnya.
"Del, ini maksudnya apa? Siapa yang ngirim?" suara Sasha nyaris hilang.
"Jangan di sini, Sha. Masuk dulu," Della menarik Sasha masuk ke rumah, sementara Geri berjaga di teras, matanya waspada menatap ke jalanan.
Di dalam ruang tamu, Della meletakkan sisir itu di atas meja kaca. Begitu benda itu menyentuh permukaan meja, retakan kedelapan di spion motor Della yang terparkir di luar seolah beresonansi. Terdengar suara denting halus dari arah garasi, padahal jaraknya cukup jauh.
"Sha, lo ngerasa nggak kalau akhir-akhir ini ada yang ngikutin loe?" tanya Della serius.
Sasha terdiam sejenak, jarinya memainkan ujung kaosnya. "Gue... gue pikir cuma perasaan gue aja setelah kejadian di kafe itu, Del. Tapi tadi pagi, pas gue lagi dandan, gue ngerasa bayangan gue di cermin gerakannya lebih lambat dua detik dari gerakan asli gue. Pas gue udah berhenti nyisir, bayangan gue di cermin masih ngangkat tangan."
Geri masuk ke dalam dengan wajah tegang. "Bukan cuma Sasha, Del. Tadi pas kita di jalan lingkar, gue liat bayangan loe lari di trotoar. Bayangan kita udah nggak sinkron sama badan kita."
Della melihat ke bawah, ke arah kakinya. Bayangannya di lantai ruang tamu tampak condong ke arah sisir perak itu, seolah-olah siluet hitam itu ingin sekali menggenggam benda tersebut.
"Sisir ini... ini punya wanita yang ada di dalam spion gue," bisik Della. "Kakek Tan bukan satu-satunya yang terjebak di sana. Ada wanita ini, dan dia mulai haus akan eksistensi."
Della mengambil kembali sisir itu. Garis merah marun di pergelangan tangannya berdenyut, warna merahnya kini hampir menyerupai warna darah segar. Secara implisit, Della berjalan menuju cermin besar di lorong rumah Sasha.
"Del, lo mau ngapain?" Geri mencoba menghalangi.
"Gue harus tahu siapa dia, Ger. Kalau gue nggak kasih apa yang dia mau, dia bakal terus ganggu Sasha dan mungkin mengambil bayangan loe juga."
Della berdiri di depan cermin, Ia mengangkat sisir perak itu. Di dalam pantulan, wajah Della tampak tenang, namun di belakangnya, di dalam dunia kaca, sosok wanita berbaju putih itu muncul dengan sangat jelas. Kabut hitam yang selama ini menutupi wajahnya perlahan luruh, menyingkap wajah seorang wanita Tionghoa yang cantik namun sangat pucat, dengan mata yang terus mengucurkan cairan bening mirip oli perak dari mesin motor Della.
Della mengarahkan sisir itu ke arah rambutnya sendiri, tapi matanya tetap menatap pantulan si wanita.
Saat sisir itu menyentuh rambut Della, di dalam cermin, tangan wanita itu yang bergerak menyisir rambut Della.
"Dingin..." gumam Della. Seluruh tubuhnya mendadak kaku.
Sasha menjerit kecil saat melihat rambut Della terangkat sendiri dan tersisir dengan rapi oleh tangan tak terlihat. Cairan perak mulai menetes dari sela-sela gigi sisir, membasahi bahu jaket Della.
"Terima kasih, Cucu..." suara wanita itu terdengar sangat lembut, kontras dengan kengerian yang terjadi. "Sekarang, biarkan aku meminjam 'jalan' untuk melihat dunia yang kau bangun."
Tiba-tiba, lampu rumah Sasha meledak satu per satu.
Pyar! Pyar!
Dalam kegelapan, Della merasakan tarikan kuat pada bayangannya.
Di bawah kaki Della, bayangan hitamnya kini benar-benar terpisah dari sepatunya. Siluet itu berdiri tegak di dinding, lalu berjalan menjauh menuju arah motor Scoopy yang terparkir di luar.
"Ger! Bayangan gue kabur!" teriak Della.
Mereka berlari ke luar.
Di bawah lampu jalan yang remang, mereka melihat pemandangan yang mustahil. Bayangan Della sedang duduk di atas Scoopy, memegang stang dengan posisi siap memacu motor. Meskipun motor itu dalam keadaan mati dan terkunci stang, mesinnya tiba-tiba menderu keras.
VROOOOOM!
Asap knalpotnya berwarna biru elektrik, aromanya bukan lagi bau bensin, melainkan bau mawar kering yang sangat busuk.
"Dia mau bawa motornya, Del!" Geri melompat ke motor trail-nya, mencoba mengejar.
Namun, bayangan itu tidak membawa motor itu ke jalan raya. Scoopy itu melaju kencang menembus pagar rumah Sasha yang masih tertutup seolah-olah pagar itu terbuat dari asap dan menghilang ke arah Kuburan Cina di wilayah Gunung Parang.
Della terengah-engah, tangannya yang memegang sisir perak kini mati rasa. "Dia nggak cuma minjem mata, Ger. Dia meminjam kendaraan gue buat nyari sisa-sisa dirinya yang lain."
Geri tidak membuang waktu, Ia menarik Della untuk naik ke boncengan motor trail-nya. Sasha, yang masih syok, dipaksa ikut dan terjepit di antara mereka.
Motor Geri menderu, mengejar jejak asap biru elektrik yang ditinggalkan Scoopy Della di sepanjang aspal Jalan Bhayangkara.
"Gimana bisa motor itu jalan sendiri tanpa kunci, Ger?!" teriak Sasha di tengah angin kencang.
"Itu bukan mesin lagi, Sha! Itu udah jadi bagian dari 'mereka'!" balas Geri sambil meliuk-liuk di antara angkot yang mulai sepi.
Della terus menatap pergelangan tangannya. Garis merah marun itu kini tidak hanya berdenyut, tapi mulai mengeluarkan uap tipis. Setiap kali jarak mereka memendek dengan Scoopy-nya, uap itu makin tebal.
Di depan mereka, Scoopy krem itu melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Bayangan Della yang mengendarainya tampak membeku, tidak bergerak sedikitpun meski motor itu menghantam lubang jalanan. Yang paling mengerikan, motor itu tidak menyentuh tanah. Ada jarak sekitar dua sentimeter antara ban dan aspal, membuat pergerakannya sangat halus sekaligus mematikan.
"Dia belok ke arah Gunung Parang!" Della menunjuk ke arah pemakaman Tionghoa yang terletak di perbukitan tengah kota.
Gunung Parang di malam hari adalah labirin nisan raksasa. Bongpay-bongpay (batu nisan) besar berjajar di kanan-kiri jalan yang menanjak curam.
Begitu motor Geri memasuki gerbang pemakaman, suhu udara turun drastis. Kabut bukan lagi datang dari langit, melainkan merayap keluar dari celah-celah nisan marmer.
Sreeeeeet!
Scoopy Della berhenti mendadak di depan sebuah makam megah berkubah besar. Bayangan Della yang tadi duduk di atasnya perlahan luruh, mencair ke aspal, dan kembali menyatu ke bawah kaki Della begitu ia turun dari motor Geri.
"Gue... gue dapet bayangan gue lagi," bisik Della, ia merasakan kakinya kembali "berat" saat menginjak bumi.
Scoopy itu berdiri tegak tanpa standar samping. Mesinnya masih mendesis, mengeluarkan hawa panas yang berbau logam dan bunga layu.
Di depan mereka, sebuah nisan marmer hitam legam berdiri kokoh. Anehnya, nisan ini tidak memiliki ukiran nama sama sekali. Permukaannya begitu mengkilap hingga berfungsi seperti cermin raksasa.
Della berjalan mendekat.
Di dalam pantulan nisan itu, ia tidak melihat dirinya sendiri. Ia melihat wanita berbaju putih tadi sedang duduk di tepi ranjang kayu kuno, memegang sisir perak yang kini ada di saku jaket Della.
"Dia nunggu sisirnya, Del," Geri memperingatkan, tangannya memegang senter yang cahayanya mulai meredup, seolah energinya dihisap oleh tempat itu.
Della mengeluarkan sisir perak itu. Begitu benda itu terekspos udara pemakaman, sisir itu mulai bergetar hebat.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Della pada pantulan di nisan hitam.
Tiba-tiba, permukaan nisan itu mulai retak. Bukan retak fisik, tapi retakan yang muncul dari dalam pantulan, polanya persis dengan retakan kesembilan yang kini muncul di spion kiri Scoopy Della.
"Aku adalah bagian yang kau buang agar kau bisa tetap hidup, Della..." suara wanita itu terdengar bergema dari balik marmer. "Kakekmu menukarkan ku dengan keberuntungan keluarga kalian. Dia mengunci suaraku di mesin, mataku di spion, dan hatiku di bawah jok motor ini."
Della terbelalak. Ia teringat cerita Papanya tentang seorang bibi yang hilang secara misterius saat ia masih kecil Bibi Mei, adik termuda Kakek Tan yang katanya "pergi ke luar negeri" dan tidak pernah kembali.
"Bibi Mei?" suara Della tercekat.
Nisan hitam itu bergetar. Cairan perak mulai mengalir keluar dari pori-pori batu marmer, membasahi tanah pemakaman. Tiba-tiba, lampu depan Scoopy Della menyala terang benderang, menyorot langsung ke arah nisan, menciptakan siluet yang sangat panjang di belakang Della.
"Del, liat spion motor loe!" teriak Sasha sambil menunjuk ke arah motor.
Di dalam spion kiri, retakan kedelapan dan kesembilan menyatu membentuk simbol pintu. Pintu itu sekarang terbuka. Dari dalamnya, keluar sebuah tangan pucat yang perlahan meraba ke arah tangki bensin.
"Dia nggak mau sisirnya sekarang, Ger," ucap Della dengan napas tersengal. "Dia mau masuk kembali ke dunianya melalui motor gue. Dia mau 'hidup' lagi lewat mesin ini."
Tiba-tiba, mesin Scoopy itu menderu tanpa ada yang menarik gas.
VROOOOOM!
Getarannya begitu kuat hingga tanah di bawah kaki mereka ikut berguncang. Di dalam nisan marmer, sosok Bibi Mei mulai melangkah keluar, menembus batas antara dunia pantulan dan dunia nyata.
"Kita harus pergi, Del! Bawa motornya pergi dari sini!" Geri mencoba menarik stang Scoopy, tapi tangannya langsung terpental seolah terkena ledakan energi statis.
"Nggak bisa, Ger. Dia sudah punya kuncinya," Della menatap garis di tangannya yang kini mulai mengeluarkan darah. "Dia pemilik asli motor ini sebelum Kakek Tan memodifikasinya."