NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Pertarungan di puncak perak (fix)

Udara di puncak gunung itu seolah membeku sebelum akhirnya meledak dalam turbulensi energi yang menghancurkan.

Gui Shan meraung, melepaskan seluruh Qi hitamnya yang pekat, membentuk siluet taring raksasa di belakang punggungnya.

Namun, di hadapannya, Jian Yi dan Lu Feng bergerak tanpa suara, seolah-olah komunikasi mereka telah menyatu dalam insting yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu.

​Pertempuran pecah dengan ledakan yang mengguncang fondasi gunung. Lu Feng melesat sebagai ujung tombak, tubuhnya diselimuti aura merah membara yang membelah tanah di bawah kakinya.

​BOOM!

​Tinju Lu Feng beradu langsung dengan gada raksasa milik Gui Shan. Gelombang kejut dari benturan itu menciptakan kawah sedalam dua meter seketika.

Debu dan kerikil terbang ke udara, hancur menjadi abu sebelum sempat menyentuh tanah. Di tengah ledakan itu, Jian Yi muncul seperti hantu dari balik bayangan Lu Feng.

​Pedang Jian Yi bersinar dengan aura emas yang tipis namun sangat tajam. Ia melancarkan Tusukan Seribu Bintang.

Setiap tikaman meninggalkan lubang kecil di udara yang mendesis panas. Gui Shan terpaksa menarik senjatanya dan berputar, menciptakan perisai Qi hitam yang tebal.

​TRANG! TRANG! TRANG!

​Denting logam yang beradu terdengar seperti ribuan lonceng kematian yang dipukul bersamaan.

Jian Yi bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata pendekar biasa; ia seolah berada di tiga tempat sekaligus—menyerang leher, jantung, dan tumit Gui Shan dalam satu detik yang sama.

​Gui Shan meraung murka, menghentakkan kakinya ke bumi. "Mati kalian, tikus-tikus!" Tanah di sekeliling mereka meledak, duri-duri batu berwarna hitam mencuat dari dalam tanah.

​Lu Feng melompat tinggi, menggunakan duri batu itu sebagai pijakan untuk meluncur kembali ke bawah seperti meteor. "Yi, sekarang!" teriaknya singkat dalam batin.

​Jian Yi menancapkan pedangnya ke tanah, menyalurkan Qi Naga Emas ke dalam bumi.

​KRAKKKK!

​Tanah di bawah kaki Gui Shan mendadak melunak, menarik kakinya masuk ke dalam jebakan energi emas.

Di saat yang sama, Lu Feng menghantam dari atas dengan Pukulan Penghancur Gunung.

​BLAAARRRR!

​Ledakan itu jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Seluruh paviliun depan Sekte Daun Perak hancur berkeping-keping.

Kayu, genteng, dan pilar-pilar besar terlempar seperti daun kering tertiup badai. Asap hitam dan debu merah bercampur di udara, menutupi pandangan mata.

​Namun, dari balik asap, Gui Shan menerjang keluar dengan luka robek di bahunya. Ia mengayunkan gadanya dengan putaran 360 derajat, melepaskan bilah-bilah energi hitam yang menyayat apa pun yang dilewatinya.

​Jian Yi melenting di udara, memutar tubuhnya dengan sangat anggun.

Ia menggunakan bilah pedangnya untuk menangkis serangan itu, mengarahkan energi lawan kembali ke arah pemiliknya.

Lu Feng memanfaatkan celah itu, ia merangkak rendah di tanah secepat macan tutul, lalu meledakkan tendangan beruntun ke arah rusuk Gui Shan.

​DUK! BUK! DRAK!

​Suara tulang rusuk yang retak terdengar jelas di tengah kebisingan perang. Gui Shan terbatuk darah, namun kegilaannya justru meningkat.

Ia melepaskan teknik terlarangnya, membuat tubuhnya membengkak dua kali lipat, urat-urat hitam menonjol di sekujur kulitnya.

​Area pertarungan kini sudah tidak berbentuk lagi. Pohon-pohon besar di sekeliling gerbang sudah rata dengan tanah.

Tanah yang semula hijau kini hangus terbakar dan penuh dengan retakan dalam yang mengeluarkan uap panas.

​Jian Yi dan Lu Feng mendarat bersisian. Napas mereka mulai memburu, namun tatapan mereka tetap dingin dan fokus.

Pakaian mereka robek di beberapa tempat, memperlihatkan luka goresan yang mengeluarkan uap ungu—tanda bahwa tubuh mereka sedang menyembuhkan diri dengan kecepatan tinggi.

​Kombinasi mereka adalah bencana bagi siapa pun. Jika Lu Feng adalah palu yang menghancurkan pertahanan, maka Jian Yi adalah jarum beracun yang mengincar nyawa. Mereka tidak memberi Gui Shan ruang untuk bernapas bahkan untuk satu detik pun.

​Ledakan demi ledakan terus terjadi, menghiasi langit pagi dengan cahaya merah dan emas yang kontras dengan kegelapan Qi milik Gui Shan.

Para murid Sekte Daun Perak yang berlindung di kejauhan hanya bisa menutup telinga mereka; tekanan udara dari pertarungan itu membuat paru-paru mereka terasa sesak dan telinga mereka berdenging hebat.

​Ini bukan lagi sekadar pertarungan pendekar; ini adalah demonstrasi kekuatan dua monster yang sedang menuntut kembali tempat mereka di puncak dunia.

​Debu dan asap yang menyelimuti puncak gunung perlahan tersapu oleh embun pagi yang mendingin. Di tengah kawah besar yang tercipta akibat benturan energi, Gui Shan berdiri gemetar.

Tubuhnya yang membengkak kini dipenuhi luka sayatan dalam dan memar ungu kehitaman. Napasnya memburu, matanya membelalak ketakutan menatap dua pemuda di depannya.

​Jian Yi dan Lu Feng saling melirik tanpa bicara. Sebuah pemahaman tanpa kata terjadi di antara mereka.

Jian Yi menyarungkan pedangnya setengah, lalu menggenggam gagangnya dengan posisi terbalik.

Di sisi lain, Lu Feng mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol seperti akar pohon tua.

​WUSH!

​Keduanya melesat bersamaan dari dua arah yang berbeda, menciptakan dua garis cahaya—emas dan merah—yang menjepit Gui Shan di tengah.

​Jian Yi menggunakan teknik Langkah Pencabut Nyawa. Ia muncul di belakang Gui Shan, jari-jarinya yang dialiri Qi Naga menusuk lurus ke arah tulang belakang lawan.

Di saat yang sama, Lu Feng menghantamkan tinjunya tepat ke arah jantung dari depan.

​KRAKKK!

​Suara remukan tulang yang mengerikan bergema di seluruh lembah. Jian Yi menarik paksa sebagian sumsum tulang belakang Gui Shan dengan teknik manipulasi energi, sementara tinju Lu Feng menembus dada pria itu hingga jantungnya hancur berkeping-keping.

​Gui Shan bahkan tidak sempat berteriak. Matanya memutih, dan tubuhnya yang besar itu ambruk ke tanah seperti karung beras yang tumpah.

Ia tewas dengan cara yang paling kejam: hancur dari luar dan dalam secara bersamaan.

​Jian Yi menyeka tangannya yang berlumuran darah ke jubah salah satu mayat di dekatnya.

Ia berjalan santai ke arah sebuah bongkahan batu besar yang masih utuh, lalu duduk di sana dengan kaki menyilang—sangat keren, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas memotong rumput.

​Lu Feng menyusul, berdiri di sampingnya sambil memutar-mutar pipa rokoknya yang entah bagaimana masih utuh di saku jubahnya.

​Tetua Han dan murid-muridnya keluar dari persembunyian dengan lutut gemetar. Mereka melihat ladang pembantaian itu dengan wajah pucat pasi.

​"Tetua Han," suara Jian Yi memecah kesunyian. "Musuhmu sudah jadi pupuk gunung ini. Sekarang, kerahkan semua muridmu. Pergi ke markas Sekte Taring Hitam, ambil semua harta, kristal energi, dan obat-obatan mereka tanpa sisa. Anggap saja itu biaya perbaikan gerbang yang dirusak Lu Feng."

​"T-tapi ... Tuan Muda Yi Fan, bagaimana dengan kalian?" tanya Tetua Han dengan suara bergetar.

​Lu Feng menyeringai lebar, ekspresinya mendadak berubah dari monster menjadi pemuda konyol dalam sekejap. "Kami? Kami butuh istirahat. Siapkan pemandian air panas terbaikmu, arak yang paling mahal, dan jangan ada yang berani mengintip, atau aku akan mencungkil mata kalian!"

​Satu jam kemudian, di paviliun pemandian air panas rahasia milik Sekte Daun Perak yang dikelilingi taman bambu, suasana yang seharusnya tenang berubah menjadi ajang keributan.

​Uap panas membubung tinggi. Di dalam kolam batu alam yang luas, Jian Yi sedang mencoba bersandar dengan tenang, menikmati panas yang meresap ke pori-porinya.

Namun, ketenangannya terganggu oleh suara byurrrr yang sangat keras.

​"YUHUUU! AIR PANASSS!" Lu Feng melompat masuk ke kolam dengan gaya bom, membuat air panas muncrat ke seluruh wajah Jian Yi.

​"LU FENG! KAU MAU MATI?!" teriak Jian Yi sambil mengusap air dari matanya.

​"Hahaha! Jangan kaku begitu, Yi! Lihat, aku membawa bebek karet yang kupinjam dari bak mandi cucu Tetua Han!" Lu Feng tertawa gila sambil memainkan bebek plastik berwarna kuning di atas air panas yang mengepul.

​Jian Yi menepuk dahinya. "Kau benar-benar memalukan. Kita baru saja membantai ratusan orang, dan sekarang kau bermain bebek?"

​"Ini namanya keseimbangan hidup, Sobat!" Lu Feng kemudian bersandar di pinggir kolam, menuangkan arak ke mulutnya sambil kakinya menendang-nendang air. "Eh, Yi ... coba lihat otot perutku. Sepertinya setelah bertarung tadi, sixpack-ku jadi lebih menonjol. Pantas saja murid-murid wanita tadi sampai mimisan melihatku."

​Jian Yi melirik dengan sinis. "Itu bukan otot, itu lemak arak. Dan mereka mimisan karena ketakutan melihatmu makan daging rusa mentah tadi pagi, bodoh."

​"Bilang saja kau iri!" Lu Feng kemudian menyiramkan air panas lagi ke arah Jian Yi menggunakan gayung kayu.

​"Sialan kau!" Jian Yi tidak tinggal diam. Ia menggunakan sedikit Qi untuk membuat pusaran air di dalam kolam, membuat Lu Feng berputar-putar.

​"WAAAA! AMPUN YI! AKU MABUK LAUT! UGH!"

​Di luar pemandian, para murid wanita yang lewat hanya bisa saling pandang dengan wajah merona merah mendengar suara tawa dan keributan dari dalam.

Mereka tidak menyangka bahwa dua "Iblis Pembantai" yang menghancurkan Sekte Taring Hitam ternyata bisa sekonyol itu saat sedang mandi.

​Sementara itu, Tetua Han sedang sibuk mengomandoi ratusan muridnya untuk menjarah markas musuh, tidak tahu bahwa di puncak gunungnya, aset terbesarnya sedang sibuk bermain perang air dan bebek karet.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗕𝗖𝗥𝗜𝗕𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!