💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Tanda kepemilikan.
Viona berdiri tegak di depan cermin di kamarnya, menatap bayangannya yang terpantul jelas dengan dress pendek merah yang membuat penampilannya terlihat anggun. Dia sengaja memilih pakaian ini agar Arsen hanya memperhatikannya selama makan malam nanti.
Matanya menatap bibirnya yang sudah diolesi lipstik warna merah, kemudian bergerak ke arah rambutnya yang dia ikat dengan gaya sederhana, dengan beberapa helai rambut yang sengaja dibiarkan jatuh di sekitar lehernya.
"Aku akan membuat Paman hanya menatap padaku," bisiknya pelan, suaranya terdengar lembut di kamar yang sunyi. Dia mengangkat dagunya sedikit, menatap bayangannya dengan tatapan yang bercampur antara keraguan kepercayaan diri. Dress pemberian dari Arsen itu memang sangat cocok untuknya, tapi malam ini dia merasa seperti sedang bersaing dengan wanita lain yang akan dekat dengan Arsen.
Viona menghela napas panjang setelah merasa penampilannya sudah cukup pantas, dia berjalan ke arah pintu kamar, menghentikan langkahnya sebentar dan membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Setelah pintu terbuka dan dia memastikan Farel tidak ada disana, Viona melangkah dengan hati-hati menuju arah kamar Arsen yang berada di ujung koridor.
Begitu sampai di depan kamar Arsen, dia langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Viona melangkah semakin dalam, dan dia tidak mendapati Arsen ada di kamar.
"Sepertinya dia sedang mandi," gumamnya sambil melangkahkan kakinya mendekat ke sisi ranjang.
Matanya menatap sebuah foto terbingkai diatas nakas, foto seorang wanita yang dia ketahui sebagai istri dari kakek Danu. Tangannya terulur hendak menyentuh foto itu, namun tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.
"Sekarang sudah berani masuk ke kamarku diam-diam ya,"
Viona terkejut, tangannya yang mau menyentuh foto langsung ditarik kembali. Perlahan dia berbalik dan melihat Arsen yang berdiri tepat di belakangnya dengan mengenakan bathrobe hitam.
"P-Paman..." ucap Viona dengan suara gemetar, pandangannya langsung tertuju pada dada Arsen yang sedikit terbuka karena bathrobe-nya belum diikat rapat, menampakkan bagian dada atas yang berotot dan sedikit mengkilap.
Wajahnya langsung memerah, dia mengalihkan pandangannya namun matanya seolah tidak bisa berpindah jauh dari dada Arsen yang terlihat menggoda. Tangan kanannya secara tidak sadar menggenggam rok dress merah yang dikenakannya.
Arsen menyadari hal itu, dia tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya lebih dekat. Udara di antara mereka menjadi semakin hangat, setiap langkahnya membuat jarak di antara mereka semakin menyempit. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh dagu Viona, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.
"Apa kamu sudah sangat merindukanku sampai diam-diam datang ke kamarku?" tanyanya dengan suara yang lebih dalam dan sedikit menggema, membuat kulit Viona meremang. "Dress ini memang sangat cocok untukmu, kamu sengaja berdandan untukku kan?"
Viona merasa detak jantungnya semakin cepat, napasnya menjadi pendek dan hangat. Matanya terpaku pada bibir Arsen yang sedikit terbuka, lalu naik kembali ke mata pria itu yang sedang menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh dengan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Aku datang kesini untuk melihat apakah Paman sudah siap atau belum," ucap Viona, matanya masih terpaku pada tatapan Arsen yang dalam. "Selain itu aku juga ingin mengingatkan Paman agar tidak tergoda dengan wanita bernama Clara itu."
"Rupanya kamu sangat khawatir aku akan tergoda padanya," ucapnya sambil perlahan menarik Viona lebih dekat, hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan mudah tergoda," lanjutnya dengan suara yang lebih rendah lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga Viona. "Bukankah dengan jelas aku sudah mengatakan jika aku hanya mencintaimu."
Kata-kata Arsen menggema ditelinganya, membuat kulitnya meremang. Viona mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh dada Arsen, mendorong pelan tubuh pria itu hingga mereka kembali berjarak.
"Sebaiknya Paman bersiap sekarang karena sebentar lagi Clara akan segera datang. Aku akan turun dan menunggu di bawah." ucap Viona.
Arsen menjulurkan kaki kanannya saat Viona mulai melangkah, membuat kaki Viona tersandung dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dengan gerakan cepat tangan Arsen melingkari di sekitar perut Viona untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Namun karena dorongan yang terlalu kuat, keduanya jatuh terduduk di tepi ranjang dengan posisi Viona yang duduk di pangkuan Arsen.
Udara di sekitar mereka menjadi sangat hangat. Arsen menahan tangan Viona yang berpegangan pada dadanya, matanya terpaku pada wajah gadis itu yang masih duduk di pangkuannya.
"Datang diam-diam sekarang mau pergi begitu saja," ucapnya dengan suara yang dalam, tangannya masih menahan tangan Viona yang masih menempel di dadanya. Matanya terpaku pada bibir gadis itu yang sedikit terbuka, kemudian naik kembali ke mata Viona yang sedang menatapnya dengan campuran rasa takut dan harapan.
Arsen mengeratkan tangan kirinya melingkari pinggang Viona, menjaga agar gadis itu tidak bisa bergerak jauh darinya. Tatapannya kini mulai berubah serius. "Viona, aku ingin tahu apa yang dibicarakan oleh kakakku tadi pagi denganmu,"
Viona menurunkan sedikit pandangannya dari mata Arsen, wajahnya yang tadinya memerah kini tampak lebih pucat, dia sudah menduga jika Arsen pasti akan menanyakan tentang ini.
"Tidak ada apa-apa, Paman," jawabnya pelan, pandangannya tertuju pada bagian dada Arsen yang terbuka. "Paman Bima hanya memberi nasihat saja."
Arsen mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban itu. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh dagu Viona dengan lembut, membawa wajah gadis itu agar kembali menatapnya. "Jangan bohong padaku, Viona. Aku tahu kakakku pasti mengatakan sesuatu yang membuatmu khawatir."
Viona terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, "Sebenarnya paman Bima menyuruhku untuk ikut dengan Farel menginap di villa akhir pekan ini."
Kata-kata itu keluar dengan sangat lembut, namun seperti kilat yang menusuk kedalam dada Arsen. Wajah pria itu menjadi semakin serius, bahkan tampak sedikit kesal.
"Menginap di villa?" ulang Arsen dengan nada yang rendah namun penuh dengan ketegangan. "Harusnya kak Bima mempertimbangkannya dulu sebelum membuat keputusan seperti itu."
"Paman Bima bilang kalau itu adalah cara terbaik untuk aku bisa lebih dekat dengan Farel. Dan disana juga akan ada teman-teman Farel yang ikut, jadi kami tidak hanya pergi berdua," terang Viona, suaranya sedikit menggema di telinga Arsen. "Paman... apa Paman akan membiarkanku pergi?"
Arsen menarik napas panjang, matanya menatap jauh ke arah jendela kamar yang menampilkan malam yang semakin larut, sementara tangan kirinya masih melingkari pinggang Viona yang duduk di pangkuannya.
"Nanti aku akan coba bicarakan masalah ini dengan kakakku," ucapnya dengan suara yang dalam dan penuh dengan kekhawatiran. Bahkan jika ada teman-teman Farel yang ikut, itu tidak menjamin mereka tidak akan melakukan sesuatu yang membuat Viona tidak nyaman selama disana.
Arsen mengarahkan kembali pandangannya pada Viona, dia tersenyum hangat. "Sebelum keluar dari kamarku, apa kamu tidak ingin menghadiahi sesuatu dulu padaku?"
Viona mengernyitkan keningnya, "Sesuatu?"
Arsen mengangguk, "Malam ini aku akan bertemu dengan wanita cantik, dan mungkin..." Arsen menjeda kalimatnya, melihat wajah Viona yang mulai menunjukkan ekspresi cemburu. "Mungkin dia akan mencoba mendekat padaku seperti yang diharapkan keluarga dan..."
Sebelum dia bisa melanjutkan kalimatnya, Viona tiba-tiba mengarahkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya ke leher Arsen. Memberikan gigitan lembut di leher pria itu, kemudian menjilatinya perlahan sebelum akhirnya menekannya dengan kuat, meninggalkan sebuah bekas kemerahan disana.
Arsen sedikit terkejut dan mengeluarkan suara napas yang dalam, tangannya yang masih melingkari pinggang Viona semakin mengerat.
"Viona..." bisiknya dengan suara tertahan, matanya terpejam kuat saat merasakan sensasi yang diberikan oleh gadisnya.
-
-
-
Bersambung...