NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: SATU PUKULAN YANG MENGGUNCANG ARENA

Malam semakin merangkak jauh ke dalam gelapnya langit Kota Provinsi, namun di bawah tanah kawasan pasar ikan, kehidupan justru baru saja dimulai. Udara di dalam Underground Arena terasa makin berat dan panas, sesak oleh bau keringat, asap cerutu, dan adrenalin dari ribuan manusia yang haus akan kekerasan. Suasana semakin pecah saat layar raksasa yang tergantung di tengah ruangan mulai berkedip-kedip, menampilkan jadwal lima pertandingan maut yang akan tersaji malam itu.

Musik beraliran heavy metal dengan dentuman bass yang menggetarkan dada mulai diputar, membakar semangat para penonton. Di tengah kerumunan itu, Rimba duduk dengan ketenangan yang tidak wajar. Ia menyandarkan punggungnya di kursi plastik, matanya menatap datar ke arah arena yang disorot lampu-lampu tajam. Di sampingnya, Firman tampak seperti orang yang sedang menunggu vonis mati. Wajahnya pucat, kakinya gemetar tak henti, dan matanya terus berpindah-pindah antara menatap Rimba yang santai dan layar raksasa yang menampilkan profil lawan Rimba.

Tak lama kemudian, seorang pria dengan setelan jas mengkilap dan mikrofon di tangan naik ke atas panggung arena. Suaranya yang melengking segera membungkam bisingnya penonton.

"Selamat datang, para petarung dan para penjudi bernyali! Malam ini, Underground Arena kembali menyajikan tontonan yang akan membuat jantung kalian berhenti berdetak!" teriak si MC, disambut sorakan gila dari tribun. "Pertarungan pertama kita malam ini adalah duel yang sangat unik! Seorang penantang baru yang menyebut dirinya Wawan, akan mencoba peruntungannya melawan salah satu monster kebanggaan kita... D’GORILA!"

MC mengingatkan para penonton untuk segera memasang taruhan terakhir. Nama "Wawan" vs "D'Gorila" terpampang dengan rasio taruhan 1:100. Hampir semua orang di ruangan itu menjagokan sang Gorila; bagi mereka, Wawan hanyalah seonggok daging yang akan segera hancur.

"Silakan naik ke arena... WAWAN!"

Lampu sorot putih besar langsung membidik sosok Rimba. Rimba berdiri, menyerahkan ranselnya kepada Firman, dan melangkah dengan santai menuju arena. Ia tidak melakukan gerakan pemanasan, tidak ada teriakan intimidasi. Ia hanya berjalan seolah sedang menuju kelas kuliahnya. Sorakan ejekan dan tawa meremehkan menggema saat Rimba berdiri di tengah arena.

"Dan lawannya... Sang Penghancur Tulang... D’GORILA!"

Lampu merah berkedip-kedip saat seorang pria raksasa masuk dari lorong khusus. Penonton histeris. Pria itu memiliki tinggi yang hampir menyamai Rimba, namun lebarnya hampir tiga kali lipat. Otot-ototnya menyembul seperti bongkahan batu, paha dan lengannya begitu tebal hingga tampak tidak proporsional. Ia berjalan dengan langkah berat yang seolah membuat lantai beton bergetar. Seperti namanya, ia benar-benar terlihat seperti gorila jantan yang siap mengamuk.

Di atas arena, D’Gorila tidak bisa diam. Ia memukul-mukul dadanya sendiri hingga terdengar suara dentuman yang keras, lalu menunjuk ke arah Rimba dengan tatapan haus darah. Ia melihat Rimba yang kurus (dalam pandangannya) dan merasa bahwa ini adalah kemenangan termudah dalam kariernya.

Seorang wasit berbadan tegap masuk ke tengah. Ia menjelaskan aturan sederhana: "Pertarungan bebas. Menang jika lawan menyerah, KO, atau jatuh keluar dari arena. Tidak ada tali ring, lantai ini adalah batas kalian. Mengerti?!"

D’Gorila mengangguk sambil menggeram. Rimba hanya mengangguk pelan sekali.

"Mundur! Bersiap!" wasit mengangkat tangannya. Penonton menahan napas. Firman di kursi penonton menutup mata separuh, tak sanggup melihat jika Rimba hancur dalam satu dekapan.

"YAK… MULAI!"

Begitu aba-aba diteriakkan, D’Gorila langsung menerjang. Ia berlari dengan kecepatan yang cukup mengesankan untuk ukurannya, kepalan tangan kanannya yang sebesar kepala bayi sudah mengayun dalam sebuah pukulan swing yang mematikan ke arah pelipis Rimba. Pukulan itu cukup kuat untuk meremukkan tengkorak manusia biasa.

Rimba menatap gerakan itu. Dalam pandangannya yang sudah dipercepat oleh kekuatan tingkat limanya, gerakan D’Gorila terasa sangat lambat, seperti seekor siput yang mencoba menyerang. Bukannya menghindar ke belakang, Rimba justru melangkah maju menyongsong serangan itu.

Dalam satu gerakan yang sangat cepat hingga tak tertangkap mata penonton, Rimba menyelinap di bawah lengan D’Gorila yang mengayun. Sebelum sang Gorila sempat bereaksi, Rimba mendaratkan satu pukulan tepat di ulu hati pria raksasa itu. Rimba tidak menggunakan Qi sama sekali; ia hanya menggunakan tenaga fisik murninya yang sudah ia kurangi drastis hingga hingga sangat kecil.

Bugh!

Suara hantaman itu terdengar sangat padat. D’Gorila seketika terdiam di tempat. Matanya melotot, mulutnya menganga lebar namun tak ada suara yang keluar kecuali sebuah lenguhan sesak. Tubuh raksasanya sempat mematung selama sepersekian detik, seolah hukum fisika sedang memproses apa yang baru saja terjadi.

Tiba-tiba, seperti ada sebuah ledakan tak terlihat yang menghantam dadanya, tubuh seberat 150 kg lebih itu terlempar ke belakang. D’Gorila melayang melewati batas arena, terbang sejauh beberapa meter sebelum akhirnya terhempas menghancurkan barisan kursi kosong di deretan depan penonton.

Sunyi. Seluruh Underground Arena mendadak sesenyap kuburan. Ribuan orang terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Seorang pemuda asing baru saja meng-KO petarung peringkat 10 mereka hanya dengan satu pukulan pendek.

"Sst… sstt… hey… Wasit?" panggil Rimba, memecah keheningan. Wasit yang masih ternganga tak percaya itu tersentak. "Bukankah artinya aku menang?" tanya Rimba dengan nada seolah bertanya tentang harga gorengan.

Wasit itu tergagap, lalu segera menghampiri Rimba dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Pemenangnya... WAWAN!"

Gedung itu seketika meledak oleh gemuruh sorakan yang jauh lebih kencang dari sebelumnya. Banyak yang merugi karena taruhan, namun kekaguman mereka terhadap kekuatan "Wawan" jauh lebih besar. Rimba menuruni panggung dengan santai, sementara petugas medis mulai mengevakuasi D’Gorila yang masih pingsan dengan ulu hati yang kemungkinan besar mengalami memar parah.

Rimba melangkah menuju loket taruhan. Victor, sang manajer, buru-buru berlari menghampirinya dengan wajah yang berkeringat dingin. Victor tidak bodoh; ia baru saja melihat asetnya dihancurkan, dan yang lebih buruk, ia menyadari bahwa ia harus membayar 15 triliun rupiah kepada pemuda ini.

"Dek Wawan! Tunggu dulu, tunggu!" panggil Victor dengan nada yang berusaha terdengar ramah namun penuh kelicikan.

"Ya? Aku mau mengambil uang kemenanganku," kata Rimba datar.

"Tentu, tentu! Tapi... apakah Dek Wawan tidak tertarik untuk satu pertandingan lagi? Penonton sangat mencintai aksimu. Jika kau berani melawan petarung arena kami sekali lagi, kami akan memberikan tantangan yang jauh lebih besar," ujar Victor. Ia harus menahan Rimba; ia tidak boleh membiarkan 15 triliun itu pergi begitu saja.

Rimba menatap Victor, ia tahu persis apa yang ada di pikiran licik pria ini. "Berapa nilai taruhannya?"

"Sama dengan tadi. 1 banding 100!" jawab Victor cepat. "Dan kami akan memberikan lawan yang jauh lebih tangguh dari D’Gorila."

Rimba tersenyum tipis. "Bagaimana kalau aku memasang kembali seluruh uang kemenanganku tadi untuk pertandingan kedua ini? Apakah kau keberatan?"

Victor hampir saja bersorak kegirangan. Dasar bocah sombong! Kau terjebak! pikirnya. "Tentu tidak! Kami sangat senang menerima tantangan itu!"

"Baik. Jadi kalau aku menang lagi, aku akan membawa pulang sekitar 1.500 triliun lebih?" tanya Rimba sambil pura-pura berpikir keras.

"Tepat sekali! 1.500 triliun 20 miliar rupiah!" jawab Victor dengan mata berbinar serakah. Baginya, mustahil Rimba bisa menang melawan petarung nomor satu mereka yang akan ia keluarkan nanti.

"Oke. Aku akan bertarung lagi setelah semua jadwal pertandingan selesai. Aku mau istirahat dulu," pungkas Rimba.

Rimba kembali ke kursinya. Firman menyambutnya dengan wajah yang sudah berubah sumringah, meskipun matanya masih membelalak heran. "Gila kau, Rim! Kau benar-benar monster! Bagaimana bisa kau melempar orang sebesar itu hanya dengan satu pukulan?"

"Hanya dipukul ulu hatinya saja, Fir. Kebetulan tenagaku sedang besar saja hari ini," jawab Rimba sekenanya, yang tentu saja membuat Firman hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena jawaban yang sama sekali tidak masuk akal itu.

Mereka pun duduk menonton empat pertandingan berikutnya. Empat penantang lain semuanya gagal; mereka dihajar habis-habisan oleh petarung resmi milik arena. Hal itu semakin membuat penonton yakin bahwa kemenangan Wawan tadi mungkin hanya keberuntungan. Namun, Rimba hanya duduk diam memperhatikan gerakan para petarung tersebut dengan mata tajamnya.

Sambil mengelus kepala Cesar yang duduk tenang di bawah kursinya, Rimba bersiap. Ia tahu, Victor akan mengeluarkan petarung terbaiknya—mungkin seorang pembunuh bayaran atau praktisi beladiri tingkat tinggi—demi menyelamatkan harta keluarga Marla. Rimba hanya menunggu saat itu tiba, saat di mana ia akan menghisap kering pundi-pundi keuangan musuhnya dalam satu malam.

1
D'ken Nicko
mantap poll
D'ken Nicko
apa cerita kurang mantap kalau mc tdk dari keluarga yg WAH,,? knp cerita super tdk dari org awam .ZERO TO HERO
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
semangat
D'ken Nicko
kren poll
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
uang receh ,5T...wkwkwk
D'ken Nicko
bacaan favorit nmr satu ,tapi setiap up buat kecewa karna serasa sangat pendek
D'ken Nicko
super mantaaap
D'ken Nicko
KAGOLLL
D'ken Nicko
waduh nanggung amat thor ,up lagi..
D'ken Nicko
kurang panjang thor, up doble
maldi Suryana
bagus
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!