Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Silakan datang lagi kemari ya, Bu, kalau Bu Arcila sudah punya jawaban atas pertanyaan saya."
Itu bukan pengusiran, melainkan syarat krusial karena Arcila enggan membeberkan posisinya di Hotel Astoria. Dafsa butuh kejujuran agar semuanya berjalan lancar. Dalam hati ia bertanya, "emangnya sulit, ya, ngomong jujur soal jenjang karir sendiri?"
Perempuan aneh. Mau cowok kaya dengan karir bagus, tapi sok misterius. Dafsa masih bergumam setengah julid dalam hati, sambil pura-pura melihat data diri klien selanjutnya.
"Saya diusir, Mas?" Satu pertanyaan tidak bisa ditahan mulut Arcila. Dia tersinggung dengan perkataan Dafsa barusan. Hati mungilnya tersakiti.
"Tidak sama sekali, Bu. Konsultasi bisa dilanjutkan kalau Bu Arcila bisa menjawab pertanyaan saya."
"Oh, ya udah." Arcila pasrah, berdiri dan mengangguk pelan sebelum pada akhirnya keluar dari ruangan.
Kan, memang benar aneh! Dafsa sampai ternganga. Sebenarnya Arcila mau atau nggak jadi kliennya? Kok kelihatannya setengah-setengah begitu?
Dafsa masih bertanya-tanya. Baru kali ini ia menghadapi klien seabsurd Arcila. Dari awal memang sudah aneh, sih, harusnya Dafsa bisa menebak.
"Diva, panggil klien selanjutnya," titah Dafsa dengan suara agak keras.
Dua menit berselang, Diva tidak kunjung mengiyakan, biasanya adiknya itu gercep soal manggil memanggil klien di Kios Makcomblang Dafsa. Tapi sekarang, ke mana perempuan itu, ya?
Dafsa terpaksa beranjak dari kursi kramatnya. Ia tidak memanggil klien, tapi membuka pintu yang lain. Di ruangan yang lebih sempit, Diva terlihat sangat serius menggulir layar ponsel.
"Div!" panggil Dafsa lebih keras.
"Ya Allah!" Diva terperanjat, ponsel yang dibeli dua tahun lalu lepas dari genggaman tangan, tapi untungnya nggak terjun langsung ke lantai. Diva sigap meraihnya lagi. "Kenapa, Mas? Udah selesai?" tanyanya langsung berdiri.
"Klien yang barusan nggak beres. Nanti kalau datang lagi taro aja di antrian terakhir."
"Lho, Mas, jadi dia udah pulang?" Diva bertanya lagi. Nadanya melengking, mengalahkan lengkingan khas putu ayu langganan mereka.
"Udah. Dia nggak jujur," jawab Dafsa terang-terangan.
"Ya ampun, Mas!" pekik Diva heboh, macam orang yang habis dengar berita buruk.
"Nggak usah lebay begitu, ayo kerja lagi." Dafsa hendak keluar, tapi Diva menahannya. Satu hal yang nggak Dafsa pahami, adalah ekspresi kesal dari adiknya.
"Mas baru aja ngelepasin berlian super duper mahal!"
Nah, lebay lagi. Dafsa sampai geleng-geleng. Kenapa sih adiknya ini berlebihan banget, padahal bukan kali ini aja mereka kehilangan klien yang nggak jelas?
"Dia itu bukan orang sembarangan, Mas! Dia Arcila Astoria!"
"Ya Mas juga tau itu, Div. Kamu ini kenapa, sih?"
"Ish, Mas Dafsa!" teriak Diva jengkel. Kalau dalam serial animasi, mungkin sekarang ada kepulan asap di atas kepala Diva. Iya, saking besar emosinya pada Dafsa yang nggak peka.
"Dia pewaris tunggal Hotel Astoria tau! Dia orang kaya! Super duper kaya, Mas Dafsaaaaaa! Pengeluaran si Mbak Kaya Raya itu bisa jadi pengeluaran kita enam bulan, atau bahkan setahun!"
"Hah?" Dafsa melongo.
"Ah, gak tau lah!" Diva kecewa berat, menutup laman Instagram setelah menelusuri soal Arcila.
Karena bukan hanya Dafsa yang merasa aneh soal gelagat Arcila yang kaku macam robot canggih, Diva akhirnya mengorek-ngorek Instagram. Ah, awalnya bukan Instagram, deng, tapi pencarian di web, karena sebetulnya Diva seperti pernah mendengar nama Astoria, tapi lupa di mana.
Dan ternyata ... kehidupan super mewah Arcila Astoria, lengkap dengan silsilah keluarganya terpampang nyata di mesin pencarian. Diva melongo hebat, buru-buru membuka Instagram. Pencarian dilakukan lagi. Diva tambah shock melihat postingan di akun official Hotel Astoria, yang sempat mengumumkan kalau si perempuan aneh itu adalah calon pewaris tunggal.
Ya ampun, Diva sampai nggak bisa percaya ada orang kaya datang ke lapak Dafsa. Kalau dia nggak waras, kemungkinan besarnya Diva udah kejang-kejang waktu tau Arcila udah pergi dari Kios Makcomblang Dafsa tanpa hasil yang jelas.
"Ayo balik kerja lagi!" ajak Diva dengan wajah sumuk.
"Tunggu dulu," cegah Dafsa mulai penasaran. "Yang kamu omongin barusan bener? Si cewek aneh itu calon pewaris di Hotel Astoria? Bukan pegawai biasa?"
"Mas." Lebih dulu Diva memanggil pelan. Tarik napas panjang, lalu keluarkan perlahan. "Apa aku pernah seheboh ini?"
"Kamu selalu heboh," jawab Dafsa jujur. Adiknya ini Gen Z, apa-apa serba heboh.
"Ya emang biasanya heboh, tapi kan aku nggak pernah seheboh ini, Mas."
"Iya, sih." Dafsa mengangguk-angguk. Tadi itu, ekspresi Diva emang agak berlebihan, tapi selebihnya natural. Maksudnya, keselnya itu natural.
"Tapi coba kamu pikir, kenapa Arcila Astoria datang ke lapak kita? Mau apa dia, Div? Apa yang dia cari di sini?"
"Jodoh, Mas! Dia butuh jodoh, makanya datang ke sini!" Diva emosi lagi. Padahal 'kan jawabannya udah jelas, tapi bisa-bisanya Dafsa masih nanya. Wajarlah kalau Diva tambah marah.
"Div, kios kita kecil banget, lho. Bagi Mas nggak masuk akal ada orang kaya datang ke sini, terus minta dicarikan jodoh. Yang kamu bilang tadi, Arcila itu kaya, harusnya gampang buat dia nyari jodoh yang setara. Relasinya 'kan banyak," papar Dafsa mengurai kebingungan. Rasanya masih tidak masuk akal.
"Mas." Diva mendekat, memegang bahu Dafsa sambil menahan ledakan emosinya. "Nggak ada yang nggak mungkin, Mas. Mas tau siapa yang menggerakkan Mbak Arcila datang ke sini?"
Dafsa menggeleng.
"Allah, Mas," kata Diva mengangkat kedua tangan, mendongak ke atas. "Yang menggerakkan kedua kaki Mbak Arcila, yang memantapkan hati beliau sampai datang ke sini adalah Tuhan Yang Maha Kuasa," tambahnya sedikit dramatis, tapi sangat serius.
Dafsa langsung diam, sedikit merinding. Kalau sudah begini, ia tidak bisa menyanggah lagi.
"Sekarang tugas Mas cuma satu, yaitu membujuk Mbak Arcila datang lagi ke sini. Karena apa? Karena dengan berhasilnya Mas mencarikan jodoh yang tepat buat Mbak Arcila, kios kita yang super mungil ini akan berubah jadi gedung lima tingkat." Diva menebar semangat penuh sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Dafsa diam lagi, tapi tidak dengan Diva. Ia menyalakan ponsel, menunjukkan akun Instagram milik Arcila yang super estetik. Dafsa bengong, menelan ludah, lalu mengangguk-angguk.
Oke, emang benar kalau Arcila itu kaya raya. Dafsa tersentil, agar menyesal nggak nyari tahu soal Arcila lebih dulu. Dafsa pun menobatkan bahwa kejadian hari ini adalah plot twist paling gong seumur hidupnya.
"Pastikan Mbak Arcila jadi klien kita lagi ya, Mas. Ingat, Mbak Arcila adalah awal dari kesuksesan Kios Makcomblang Dafsa." Diva menepuk pundak Dafsa dua kali, lantas pergi ke luar demi menyelesaikan tugasnya hari ini.
Dan, ya, setelahnya Dafsa tidak bisa fokus. Apa yang dikatakan Diva memang benar. Kios mereka sudah terkenal di mana-mana, tapi tetap saja mereka butuh pihak berpengaruh, atau bolehlah disebut brand ambassador demi mendapatkan pangsa pasar yang jauh lebih besar lagi.
Bahkan sampai keesokan harinya, Dafsa selalu bengong. Di perjalanan menuju tempat kerjanya di Kantor Kecamatan, Dafsa memikirkan seribu rencana.
"Daf, gaji kamu sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial aja kalau dikumpulin selama setahun, masih nggak cukup buat bayarin biaya bulanan seorang Arcila Astoria." Dafsa bergumam sendiri. Bukan maksud merendahkan, tapi ia berusaha berpikir rasional.
Benar kata Diva, kalau ia sudah melepas berlian super duper mahal. Telah Dafsa putuskan, pulang bekerja nanti, ia akan mendatangi Arcila.
***
Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Sejak tadi Dafsa gelisah, mengundang keanehan rekan kerjanya. Ada beberapa pertanyaan, yang dijawab Dafsa dengan kebohongan.
"Oh, saya nggak kenapa-kenapa. Tapi setelah kerja saya harus langsung pulang, mau mengantar Ibu ke rumah sakit."
Jawaban tersebut diberikan pada semua orang. Dafsa tahu betul menggunakan ibunya yang rutin cuci darah tiap satu minggu sekali karena penyakit gagal ginjal, adalah sesuatu yang nggak baik. Tapi mau gimana lagi, Dafsa emang harus angkat kaki setelah jam kerjanya habis, nggak bisa ikut nongkrong-nongkrong.
Saat jarum jam berada tepat di angka lima sore, Dafsa langsung tancap gas. Motor matic yang dibeli lima tahun lalu membelah jalanan ibu kota, melaju pasti menuju Hotel Astoria yang megah. Dafsa sampai harus mendongakkan kepala setibanya di sana, saking tingginya gedung Hotel Astoria.
"Dia kaya, Daf," gumamnya ingin memperjelas.
Langkahnya terayun menuju lobby usai memarkirkan motornya di basement. Ia menghampiri resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Staf resepsionis bertanya ramah.
"Begini, Mbak, saya mau bertemu Bu Arcila Astoria."
Staff di depan Dafsa terdiam, melirik ke rekannya yang ada di sebelah kanan. "Siapa, Mas?"
"Bu Arcila Astoria," ulang Dafsa.
"Sudah membuat janji?"
Dafsa menggeleng. "Belum, Mbak. Apa bisa dipanggilkan? Atau kalau tidak bisa, sebut saja nama saya, Dafsa Ramadan."
"Mohon maaf sekali, Mas, kalau tidak membuat janji dengan Bu Arcila, Mas tidak bisa bertemu dengan beliau."
Dafsa diam, makin sadar perempuan yang dicarinya adalah orang penting. Dafsa pun mengangguk, nggak bisa maksa. Sepertinya, ia harus mencari jalan lain agar bisa bertemu lagi dengan Arcila.
"Mas Dafsa!" teriak seseorang ketika Dafsa baru berbalik.
"Mas!"
Panggilan itu membuat Dafsa mengedarkan pandangan. Seorang perempuan muda dengan seragam hotel berlari kecil. "Mas nggak inget saya, ya? Aduh, padahal saya klien di Kios Makcomblang Dafsa tiga bulan lalu."
Dafsa langsung tersenyum lebar. Kesempatan di tengah kesempitan emang selalu menghampiri anak baik.
"Saya inget, Mbak," ucap Dafsa berdusta.
Dia nggak maksud jadi orang yang sering bohong, tapi Dafsa emang nggak inget sama sekali sama perempuan di depannya. Kliennya 'kan banyak. Tiap hari yang datang ke Kios Makcomblang Dafsa selalu ada belasan, sampai bisa puluhan di penghujung minggu. Mustahil Dafsa ngapalin muka sama nama mereka satu-satu.
"Mas ada perlu apa ke sini? Mau nginep, atau mau nyari kandidat buat klien?"
Kali ini Dafsa tidak menjawab, alasannya satu, karena jauh di belakang si perempuan, ada Arcila baru saja keluar dari lift. Arcila tampak menawan dengan pakaian formal membalut tubuh. Dafsa tambah semangat.
"Bu Arcila!" panggil Dafsa. Saking semangatnya, ia tidak bisa mengontrol suara.
Di depan sana, Arcila jelas kaget ada Dafsa di lobby hotelnya. Matanya sampai melebar. "Ngapain dia di sini?!" tanyanya panik.
Sebelum Dafsa sampai di depannya, buru-buru Arcila masuk lagi ke lift, menakan tombol paling atas. Untung saja pintu lift tertutup saat jarak Dafsa tinggal tiga meter lagi. Arcila langsung memegang dada, kemudian merosot di sudut lift.
"Dia ngomong apa aja sama staff tadi? Apa dia bilang kemarin sore aku datang ke Kios Makcomblang Dafsa? Aduh, bahaya kalau iya!"
Arcila tidak bisa tenang. Reputasinya sebagai pewaris tunggal Hotel Astoria akan terjun bebas, kalau kedapatan datang ke Kios Makcomblang Dafsa untuk mencari jodoh! Bagaimana ini?