Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Maling Teriak Maling
Ratih sudah berada di depan pintu kamar bibi Asih. Tangannya terangkat, dia hendak mengetuk pintu pengasuh bayinya itu.
Namun dari belakang, bibi Erma dengan cepat bersuara.
"Nyonya, masih mau di ketuk pintunya?" tanya bibi Erma.
Ratih menoleh,
"Iya dong bi. Siapa tahu bibi Asih lagi ganti pakaian atau apa, kan?"
"Nyonya, kita mau menggeledah seseorang yang mencuri perhiasan nyonya. Kenapa harus diketuk pintunya, buka saja langsung!" kata bibi Erma yang langsung mendorong pintu kamar bibi Asih.
Ratih hanya melihat itu, dia sedang mempelajari, bagaimana seharusnya kalau ingin menggeledah seseorang yang dicurigai mencuri. Karena dia juga akan melakukan hal yang sama nanti di kamar Sarah.
"Nyonya..."
Bibi Asih yang sedang merapikan pakaiannya di dalam lemari terkejut melihat dua orang yang masuk kamarnya tiba-tiba itu.
Namun Ratih segera memberikan sinyal, dengan kedipan matanya pada bibi Asih. Dia mengisyaratkan agar pengasuh Rafa itu tenang. Tidak akan ada yang terjadi, semua baik-baik saja untuknya. Ratih hanya sedang menemani wanita tua jahat bernama Erma itu untuk bermain.
"Bibi Asih, perhiasan nyonya hilang. Hal seperti ini, tidak pernah terjadi sebelumnya di rumah ini. Sudah belasan tahun aku bekerja di rumah ini, belum pernah ada ceritanya rumah ini, atau nyonya kehilangan barang!"
"Tapi saya tidak..."
"Mana ada maling ngaku!" sela bibi Erma.
"Tapi nyonya..."
"Bibi Asih duduk saja dulu. Bibi Erma hanya ingin menggeledah kamar ini. Kalau barang itu tidak ada di sini, tentu saja tidak masalah!" kata Ratih.
Bibi Asih segera menganggukkan kepalanya patuh. Lagipula sebelumnya nyonya-nya itu sudah menyampaikan padanya. Kalau dia harus tenang, ketika bibi Erma membuat keributan. Dia tidak tahu kenapa? tapi, karena saat ini ia bekerja pada Ratih. Maka, ia hanya memiliki tugas mengikuti apapun yang diperintahkan oleh Ratih.
"Saya akan cari, nyonya!" kata bibi Erma sangat bersemangat.
Ratih melihat ponselnya, ia mengetik sebuah pesan di ponselnya. Dan dia mengirimkannya pada bibi Asih. Saat bibi Erma terus menggeledah, Ratih menyenggol lengan bibi Asih, dan minta bibi Asih membuka ponselnya.
Bibi Asih meraih ponselnya dan membaca pesan dari Ratih.
'Dia tidak akan menemukan apapun disini. Setelah itu, kamu tidak boleh diam saja. Berakting-lah menyedihkan, bibi Asih. Kamu sudah di curigai, sementara bukan cuma kamu yang baru masuk rumah ini. Minta keadilan padaku untuk menggeledah kamar Sarah juga. Paham?'
Seperti itulah pesan dari Ratih untuk bibi Asih. Dan setelah membaca pesan itu. Bibi Asih segera menganggukkan kepalanya.
Ratih kembali fokus melihat bibi Erma mencari. Dia tahu kalau wanita tua itu hanya berbasa-basi saja sebenarnya mencari di lemari. Kan dia meletakkan perhiasan itu di laci, tadinya. Sebelum di pindahkan oleh Ratih.
"Bagaimana, Bi?" tanya Ratih.
"Tidak ada di lemari, nyonya. Pasti ada di sini...!"
Krekk
Bibi Erma membuka laci. Dan mataya langsung melebar. Dia terkejut sekali, kotak perhiasan itu tidak ada di dalam laci. Padahal tadinya dia jelas-jelas meletakkannya di dalam laci.
"Ada tidak?" desak Ratih.
"Sebentar nyonya, saya masih mencari!" jawab bibi Erma yang sudah mulai panik.
Masalahnya ia yakin sekali telah meletakkan kotak perhiasan itu di dalam laci. Tapi sekarang tidak ada. Dia sudah mencari sampai ujung laci, pojok sampai di bawah lemari. Tapi kotak perhiasan yang sudah dia letakkan di laci ini tidak ada.
'Dimana kotak itu, aku meletakkannya di sini! jangan-jangan di sembunyikan oleh pengasuh itu!' batinnya.
Bibi Erma berpikir, mungkin saja bibi Asih sudah menemukan kotak itu, saat dia masuk ke kamarnya dan mencari sesuatu. Lalu melihat perhiasan mahal itu, bibi Asih benar-benar menyembunyikannya.
Bibi Erma segera berdiri dan menunjuk ke arah bibi Asih.
"Kamu katakan sekarang ya! dimana kamu sembunyikan kotak perhiasan nyonya? kalau kamu tidak mengaku. Kami akan telepon polisi ya!"
Bibi Erma mencoba untuk menggertak bibi Asih.
"Aku tidak tahu apapun, aku bahkan tidak tahu perhiasan apa yang bibi Erma maksud?" tanya bibi Asih.
Dia memang tidak tahu, perhiasan Apa yang dimaksud oleh bibi Erma.
"Pencuri mana ada mau ngaku..."
Ratih menurunkan tangan bibi Erma yang menunjuk-nunjuk ke bibi Asih.
"Sudah di cari kan? dan tidak ada. Artinya bukan bibi Asih yang ambil perhiasan itu. Kan di rumah ini bukan cuma bibi Asih yang baru mulai kerja!" kata Ratih.
Mata bibi Erma melebar. Dia jelas-jelas mengatakan kotak perhiasan itu di dalam laci bibi Asih. Sekarang malah Ratih curiga pada Sarah. Dia tentu saja tidak bisa membiarkan hal itu.
"Tidak mungkin nyonya! pasti bibi Asih yang ambil!"
Bibi Erma malah langsung berkacak pinggang di depan bibi Asih.
"Kamu ngaku saja, kamu sembunyikan dimana perhiasan nyonya!"
Ratih menghela nafas berat. Lagaknya sudah seperti yang punya rumah. Sungguh seperti majikan tingkah bibi Erma. Ratih masih ada di tempat itu. Tapi, dia sudah berani menuduh dengan suara yang meninggi.
"Cari sekali lagi!" kata Ratih berusaha meyakinkan perannya sebagai nyonya yang tidak tahu apapun dan tidak memihak siapapun.
Bibi Erma sampai mengeluarkan laci dari tempatnya. Dia melihat ke kolong tempat tidur. Bahkan memeriksa di bawah kasur. Di dalam bantal dan mengacak-acak semua pakaian yang ada di lemari bibi Asih.
"Kamu sembunyikan dimana?" tanya bibi Erma mulai emosi.
"Aku sudah katakan, aku tidak tahu perhiasan apa, nyonya... nyonya saya tidak tahu apa yang dimaksud bibi Erma. Semuanya sudah diacak-acak. Kenapa saya dituduh tanpa bukti. Saya dari yayasan, nyonya. Saya taat pada aturan. Mencuri adalah hal yang paling tidak dibenarkan di yayasan. Saya sudah bertahun-tahun jadi pengasuh yang jujur..."
Ratih cukup tercengang dengan akting bibi Asih. Sepertinya bibi Asih juga punya bakat yang luar biasa untuk jadi protagonis pintar yang tidak mudah tertindas.
"Kan bukan cuma saya yang baru masuk kerja di sini, nyonya. Kalau memang disini tidak ada, kenapa tidak coba periksa di kamar pelayan laundry itu?"
"Hehhh!" bibi Erma langsung menyela.
Ratih tentu saja langsung menatapnya. Dan itu membuat bibi Erma menjadi sangat canggung.
"Ma... Maksud saya bukan gitu nyonya. Tapi, dia malah maling teriak maling!" kata bibi Erma beralasan.
"Yang maling teriak maling, sekarang belum bisa di tentukan, Bi!" sela Ratih, "bibi Erma benar, kejadian ini baru pertama kalinya terjadi. Tapi bibi Asih juga benar, karena bukan hanya dia pelayan baru di rumah ini. Kita akan periksa kamar Sarah!"
"Nyonya, dia bahkan tidak boleh masuk rumah utama kan?" bibi Erma berusaha untuk mencegah Ratih.
"Aku memang mengatakan itu, tapi bukan berarti dia tidak akan masuk, kan? ayo bi, kita periksa dia. Bibi Asih juga ikut!"
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..