NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 - All I Want

Suara alarm membangunkanku dari tidur yang begitu dalam.

Perlahan kubuka mata, masih setengah sadar, dan menemukan Henry tepat di sampingku. Ia meraih jam di nakas, mematikan alarm, lalu menoleh padaku dengan senyum kecil.

“Pagi…” ucapnya lembut sambil mengusap pipiku.

“Pagi…” balasku pelan.

Begitu kesadaranku pulih sepenuhnya, kenangan tentang apa yang kami lakukan semalam langsung menyeruak. Dadaku menghangat sekaligus terasa sesak.

“Kak… kita udah melewati batas yang nggak seharusnya kita lewati.” ucapku lirih.

Henry menatapku beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Aku tahu.”

“Kalau orang tua kita tahu, pasti aku yang bakal disalahin.” lanjutku, suaraku merendah.

Henry menghela napas, jemarinya membelai rambutku dengan gerakan menenangkan.

“Kalau sampai ada yang nyalahin kamu, itu urusan aku. Aku yang bakal pasang badan.”

Aku mendesah kecil. “Nanti malah aku tambah disalahin lagi karena dikira aku yang mempengaruhi kamu.”

“Udah, jangan dipikirin dulu.” Henry menatapku dalam.

“Yang penting sekarang kita udah sama-sama tahu perasaan kita. Dan ini bukan cuma main-main buat aku.”

Aku menatapnya, napasku sedikit tertahan.

“Apa yang terjadi semalam… itu bukan sesuatu yang bakal aku anggap enteng.” lanjutnya pelan.

“Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian atau bikin kamu ngerasa hubungan ini nggak punya arah.”

Dadaku menghangat, tapi rasa takut itu masih ada.

Aku menatapnya ragu.

“Emang… ada masa depan buat kita, Kak? Bentar lagi Kakak sama Kak Ana mau tunangan…”

Henry tersenyum tipis. “Baru tunangan, Lili. Belum nikah. Dan aku bakal cari cara supaya aku sama Ana nggak jadi nikah.”

“Gimana caranya?” tanyaku.

“Belum kepikiran sih…” Henry terkekeh kecil. “Tapi aku nggak akan diem aja.”

Ia lalu berdiri. “Sekarang, kita mandi dulu. Kita harus berangkat kerja.”

Aku refleks menjawab, “Kita mandi bareng?”

Henry langsung mengangkat alis. “Oh? Kamu maunya mandi bareng?”

“Eh? Nggak!” seruku cepat.

“Tadi kamu bilang gitu.” godanya.

“Karena Kakak bilang ‘kita mandi dulu’… kupikir ngajak mandi bareng!” protesku.

“Aku maksudnya mandi sendiri-sendiri. Tapi kalau kamu mau mandi bareng, aku nggak keberatan.” ujarnya pura-pura polos.

“야! (Hei!)” seruku kesal.

Henry tertawa. “Kenapa?”

“Ya mandi sendiri-sendiri lah. Kalau mandi bareng nanti kita nggak berangkat-berangkat.”

“Nggak berangkat karena?” tanyanya penuh godaan.

“Karena… bakal lama di kamar mandi!” jawabku ketus.

Henry mengangkat bahu, pura-pura polos. “Kan cuma mandi.”

“Kak, udah pura-puranya.” ucapku manyun.

“Iya, iya… maaf.” Henry tersenyum hangat. “Gemes deh kamu kalau cemberut.”

“Ih apaan sih? Udah sana mandi dulu.” Dorongku pelan.

“Oke.” Ia bangkit, mengambil bajunya yang semalam berantakan. “Bawel banget deh kamu, udah kayak istri aja.”

Aku bangun perlahan, duduk. Selimut yang tadi menutupi tubuhku melorot ke bawah, memperlihatkan tubuh bagian atasku yang telanjang. Aku tidak menariknya kembali. Tatapanku justru tertuju pada punggung Henry.

Kata-katanya barusan masih menggantung di kepalaku.

Udah kayak istri aja.

Dadaku terasa ditarik sesuatu—hangat, tapi juga nyeri—karena seberapa pun aku menginginkannya, aku tahu posisiku bukan seseorang yang bisa dengan mudah menjadi istrinya.

“Kak…” suaraku melembut. “Apa aku bisa jadi istri kamu beneran?”

Henry berhenti. Pelan-pelan ia berbalik, lalu mendekat dan duduk tepat di depanku. Tangannya mengusap pipiku sebelum ia berbicara.

“Pasti bisa. Aku mau kamu jadi istriku. Istri satu-satunya.”

Air mataku jatuh sebelum sempat kutahan.

“Hei, kenapa kamu nangis?” Henry panik memiringkan wajahku.

“Soalnya… kayaknya sulit diwujudin, Kak. Orang tua kita maunya Kakak sama Kak Ana…”

Henry menggeleng tegas.

“Tapi aku nggak suka Ana, dan Ana juga nggak suka aku. Kamu jangan mikirin itu dulu. Aku yang bakal cari jalan keluarnya.”

Aku menubruknya dalam pelukan. “Aku nggak mau pisah dari Kakak.”

Henry memelukku erat. “Aku juga. Aku mau kita selalu bersama.”

Kami terdiam lama, hanya saling memeluk. Hangat. Tenang. Seolah dunia di luar tidak ada.

“Lili,” bisiknya pelan, “kalau kita terus begini, kita beneran telat ke kantor.”

Aku menghela napas dan melepaskan pelukan perlahan. “Ya udah… ayo mandi.”

“Bareng?” pancingnya lagi.

Aku mengangguk. “Biar cepat. Tapi mandi aja. Jangan yang lain.”

Henry tertawa pelan. “Oke.”

Kami pun berjalan menuju kamar mandi.

Di kamar mandi, kami benar-benar hanya mandi. Tidak ada yang lain. Setelah selesai dan memakai baju, aku berdandan sementara Henry membuat sarapan.

Cukup lama aku berdandan karena aku harus menutupi jejak yang Henry tinggalkan di leherku tadi malam dengan foundation.

Bisa gawat kalau ada yang melihat.

Setelah memastikan semuanya rapi, aku keluar kamar dan sarapan bersama Henry.

Setelah itu kami berangkat kerja.

Aku memilih naik ojek online. Sebenarnya Henry menawariku pergi bersama, tapi aku menolak. Aku tidak mau ada yang curiga.

Aku tiba di kantor lebih dulu dan masuk lewat lobby.

Lift terbuka—di dalam sudah ada Caca dan Arvin. Aku dan beberapa karyawan lain ikut masuk.

“Kenapa kamu dari lobby? Nggak naik motor?” tanya Caca.

“Lagi pengen nggak bawa motor.” jawabku.

“Tumben banget, Mbak.” ucap Arvin.

“Nggak apa-apa.” jawabku singkat.

Aku jelas tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

Begitu sampai di lantai divisi, aku langsung masuk ruangan.

“Pagi.” sapaku.

“Pagi…” jawab Fera, Riki, dan Dina.

Merry, Beni, dan Pak Arman belum datang.

Aku duduk dan langsung membuka komputer, mengecek laporan survey produk kemarin.

Tak lama kemudian, Merry, Beni, dan Pak Arman masuk.

“Lia, Fera, Riki… selesaikan laporan survey produk kemarin.” ucap Pak Arman.

“Baik, Pak.” jawab kami bersamaan.

Kami menyelesaikan laporan dan sekitar jam 10 pagi menuju ruang rapat.

Kami akan mendiskusikan hasilnya bersama tim R&D dan Henry.

Henry duduk di ujung kanan, sementara Pak Arman duduk di hadapannya.

Tanpa banyak pikir, aku duduk di sebelah Henry—entah kenapa rasanya aku ingin lebih dekat dengannya pagi ini.

Di sisiku ada Fera dan Riki.

Di depan kami, Caca dan Arvin.

Pak Arman menepuk meja pelan.

“Baik, kita mulai evaluasinya. Lia, kamu dulu. Apa temuan utama dari sisi display?”

Aku mengangguk.

“Untuk kategori tteokbokki instan, merek Hanmi dan Bogeum yang paling menonjol. Keduanya dapat posisi eye level dan display mereka rapi, jadi langsung menarik perhatian.”

Henry sedikit mencondongkan badan.

“Yang bikin mereka unggul apa?”

“Warna kemasan, Pak. Merah-hitam yang kontras. Terus, harga mereka kompetitif.”

Pak Arman beralih ke Fera.

“Fera, dari sisi harga?”

Fera membuka catatannya.

“Harga tteokbokki instan rata-rata 8.000–11.000. Jajangmyeon instan 6.000–9.500. Kita harus ada di tengah supaya nggak dianggap kualitasnya rendah.”

Henry mengangguk.

“Masuk akal.”

Pak Arman melihat Riki.

“Display pesaing?”

“Yang eye level selalu merek besar,” jelas Riki. “Produk baru biasanya di bawah. Jadi kalau kita masuk supermarket besar, posisi rak harus dinego. Minimal middle shelf.”

Henry mengalihkan pandangan ke tim R&D.

“Caca?”

Caca meletakkan dua bungkus tteokbokki di meja.

“Rasa Hanmi paling stabil. Tekstur toppokki-nya kenyal. Mereka pakai tepung beras premium.”

Arvin menambahkan,

“Ukuran standar 250–300 gram. Kita bisa pilih 280 gram. Secara visual, harus lebih berani. Hari ini kami mulai eksperimen rasa pakai sampel yang kami beli.”

Henry bersandar.

“Kesimpulan awal?”

Pak Arman menutup laptop.

“Tteokbokki punya peluang terbesar jadi produk unggulan pertama Natura Foods. Jajangmyeon menyusul setelah konsep matang.”

Henry mengangguk mantap.

“Oke. Marketing susun strategi awal. R&D mulai eksperimen. Dua hari lagi kita rapat lagi.”

Semua mengangguk.

“Baik, rapat selesai.” ucap Pak Arman sambil berdiri.

Fera dan Riki keluar duluan, disusul aku dan Caca.

Baru beberapa langkah keluar ruang rapat, Arvin memanggilku.

“누나… (Kak…)”

Aku berhenti dan menoleh.

“왜? (Kenapa?)” tanyaku datar.

“Ayo nonton sepulang kerja.” ucap Arvin tiba-tiba.

Aku memicingkan mata.

Kenapa tiba-tiba?

“싫어. (Nggak mau)” jawabku dingin. Aku tidak mau Henry salah paham lagi.

“Kenapa sih?” tanya Arvin.

“Lah kamu kenapa ngajakin nonton? Kita kan nggak ada hubungan apa-apa.”

“Emang harus punya hubungan buat ngajak nonton?”

“Nggak sih… tapi aku tetap nggak mau.”

Arvin menghela napas kesal.

“Kamu kan nggak punya pacar.”

“Tapi aku suka seseorang.” jawabku.

“Siapa?”

Aku dan Caca saling pandang.

“Jangan bilang Kim Joon lagi. Cewek pecinta Korea kayak kamu biasanya cuma suka aktor Korea.”

“Iya. Makanya jangan suka sama aku. Aku nggak mungkin suka sama kamu. 차차야 가자. (Caca, ayo.)”

Kami hendak pergi, tapi tiba-tiba Arvin menarik tanganku.

“누나 잠깐만… (Kak, tunggu…)”

Aku menoleh, menatap tanganku yang ia genggam.

“놔. (lepasin.)”

“싫어. (nggak mau.)”

“놔라고! (aku bilang lepasin!)”

“한 번만 영화 보자… (sekali aja nonton sama aku…)

“안 간다니까! (Aku bilang nggak mau!)”

Caca ikut menengahi.

“Udah, Vin… jangan maksa Lia.”

Tiba-tiba Henry muncul dan langsung menarik tanganku dari genggaman Arvin.

Kami semua terkejut.

Aku paling terpaku.

Kenapa Henry melakukan itu di depan orang?

“Arvin,” suara Henry tajam. “Lili sudah bilang nggak mau. Kenapa kamu maksa?”

Arvin menegang.

“Pak, kenapa Bapak ikut campur? ini urusan saya dan Mbak Lia.”

“Lili itu karyawan saya. Saya wajib melindungi karyawan saya.”

Arvin mendelik.

“Atau… Bapak suka sama Mbak Lia?”

Deg.

“Arvin!!” seruku panik.

Henry menjawab tenang dan dingin.

“Sebagai atasan, saya menghargai kerja Lili. Itu saja.”

Aku terdiam. Lega… tapi juga was-was.

Arvin masih ngeyel.

“Maksud saya sebagai wanita, Pak.”

Henry menatap Arvin tajam.

“Tidak.”

Aku menunduk, menarik napas pelan.

Henry melanjutkan, nadanya lebih keras.

“Dan satu lagi. Jangan paksa siapa pun di perusahaan ini. Kalau kamu ulangi ini, kamu saya keluarkan. Saya tidak butuh orang yang memaksakan kehendak.”

Arvin pucat.

“B-baik, Pak…”

“Bagus. Sekarang kembali ke ruangan masing-masing.”

Henry berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Aku, Caca, dan Arvin diam beberapa detik.

Udara seolah menegang.

Caca menepuk lenganku pelan.

“Ayo, Lia.”

Aku mengangguk dan melangkah pergi bersama Caca, meninggalkan Arvin sendirian.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, jantungku baru terasa berdetak lagi.

Apa Henry benar-benar bersikap sebagai atasan tadi…

atau dia melindungiku karena alasan lain?

Aku menggigit bibirku, menahan senyum yang tiba-tiba muncul.

Meski aku tahu… hari ini baru akan dimulai, dan masalah kami jelas belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!