NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:948
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Malam yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Malam itu sunyi. Terlalu sunyi.

Lampu kamar redup, tirai bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di luar, hanya suara dedaunan dan langkah penjaga yang sesekali terdengar jauh. Namun di dalam kamar, ketenangan itu justru terasa seperti jebakan.

Yuki terbangun dengan napas terengah.

Dadanya naik turun tidak beraturan, seolah paru-parunya lupa cara bekerja dengan benar. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang asing baginya. Jantungnya berdetak terlalu cepat, menghantam tulang rusuknya dengan keras.

Gelap.

Bukan gelap karena lampu mati, melainkan gelap yang datang dari dalam kepalanya.

“Tidak… tidak…” bisiknya lirih tanpa sadar.

Tangannya meraba-raba kasur dengan panik. Jemarinya gemetar, mencari sesuatu. Saat ujung jarinya menyentuh kain lembut selimut kecil di sampingnya, napasnya sedikit tersendat.

Ai Chikara.

Yuki menoleh cepat.

Bayi itu tertidur di sampingnya, wajah mungilnya tenang, bibirnya sedikit terbuka, napasnya halus dan teratur. Satu tangan kecil menggenggam ujung baju Yuki seolah takut terlepas.

Melihat itu, Yuki hampir menangis.

Ia mengangkat tubuhnya perlahan, duduk bersandar pada kepala ranjang. Rambutnya basah oleh keringat dingin. Tenggorokannya terasa kering, seakan habis berteriak lama—padahal tidak ada suara yang keluar.

Namun di dalam kepalanya…

jeritan itu belum berhenti.

---

Bayangan yang Datang Tanpa Diundang

Suara pintu dibanting.

Teriakan kasar.

Langkah kaki berat mendekat.

Tubuh Yuki menegang seketika.

Matanya menatap pintu kamar dengan waspada, seolah berharap tidak ada apa-apa di balik sana, namun takut jika harapan itu salah. Nafasnya kembali memburu. Dadanya terasa sesak, seperti diikat tali yang ditarik semakin kencang.

“Itu sudah berlalu…” bisiknya pada diri sendiri. “Aku aman…”

Namun tubuhnya tidak percaya.

Trauma tidak mendengarkan logika.

Ia menurunkan kaki dari ranjang dengan gerakan sangat pelan, takut suara kecil sekalipun bisa mengundang bahaya. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya menggigil.

Yuki berdiri, menoleh ke segala arah.

Kamar itu luas, rapi, dan bersih. Tidak ada barang pecah, tidak ada bau alkohol, tidak ada suara napas kasar. Namun otaknya memutar ulang kenangan tanpa izin.

Tangan yang menarik rambutnya.

Kata-kata hinaan.

Tatapan penuh amarah.

Ancaman yang selalu sama: “Aku bisa menghabisi anak itu kapan saja.”

Yuki menutup telinganya.

“Berhenti…” gumamnya lirih.

Air mata mulai mengalir tanpa ia sadari.

---

Ketakutan yang Tidak Bisa Dijelaskan

Ia melangkah mendekati pintu kamar, menempelkan telinganya pada permukaan kayu. Tidak ada suara mencurigakan. Hanya kesunyian.

Namun justru itu yang membuatnya takut.

Kesunyian sering kali menjadi jeda sebelum badai.

Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu sedikit.

Lorong rumah terlihat lengang, lampu dinding menyala redup. Tidak ada siapa pun.

Namun tubuh Yuki mendadak lemas.

Ia bersandar di kusen pintu, menahan tangis yang mulai pecah.

“Kenapa aku masih takut…” bisiknya. “Padahal aku selamat…”

Jawabannya sederhana, namun menyakitkan:

karena luka itu tidak hilang hanya karena ia berpindah tempat.

---

Naluri Seorang Ibu

Tangisan kecil terdengar dari belakang.

Yuki berbalik cepat.

Ai Chikara menggeliat, alisnya berkerut, bibir mungilnya bergetar, tanda ia hampir terbangun.

Yuki segera kembali ke ranjang, menggendong bayinya dengan hati-hati. Ia mendekap tubuh kecil itu erat-erat, mengayun perlahan seperti kebiasaan yang selalu ia lakukan di masa sulit.

“Shh… ibu di sini…” bisiknya sambil menempelkan pipinya ke kepala bayi itu.

Tangisan Ai mereda, digantikan oleh napas kecil yang kembali teratur.

Yuki menutup mata, menghirup aroma bayi itu dalam-dalam.

Aroma susu.

Aroma kehidupan.

Tangisnya pecah tanpa suara.

“Ai… maafkan ibu…” bisiknya dengan suara bergetar. “Ibu seharusnya melindungimu lebih baik… seharusnya lebih cepat pergi…”

Air matanya jatuh ke rambut bayi itu, namun Yuki segera menyekanya, takut air matanya mengganggu tidur Ai.

---

Rasa Bersalah yang Membelit

Yuki duduk kembali di ranjang, menggendong Ai erat di dada.

Di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan muncul tanpa henti.

Bagaimana jika ia tertangkap malam itu?

Bagaimana jika mobil itu tidak berhenti?

Bagaimana jika Kai tidak lewat di jalan itu?

Pikirannya membuat dadanya semakin sesak.

“Aku tidak boleh lemah…” gumamnya. “Aku tidak boleh jatuh…”

Namun tubuhnya gemetar hebat.

Ia menunduk, menahan tangis di bahu bayi yang tertidur kembali.

Yuki merasa hancur.

Bukan hanya karena kekerasan.

Melainkan karena ia merasa gagal menjadi istri, gagal menjadi ibu, gagal menjaga keluarganya.

Padahal… yang salah bukan dirinya.

Namun trauma sering membuat korban menyalahkan diri sendiri.

---

Bayangan Pria Bertopeng

Dalam keheningan itu, bayangan lain muncul di benaknya.

Sosok pria bertubuh tinggi.

Tatapan dingin namun tenang.

Suara rendah yang berkata: “Tenang, aku akan membawamu ke tempat aman.”

Kai.

Yuki mengerjap, napasnya sedikit melambat.

Ia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya. Tidak tahu niatnya. Tidak tahu dunia seperti apa yang ia masuki.

Namun satu hal tidak bisa ia sangkal—malam itu, Kai menyelamatkan hidupnya.

“Apakah benar aku aman di sini…?” gumamnya lirih.

Matanya menatap pintu kamar lagi, kali ini bukan karena takut, melainkan karena ragu.

Ia merasa berada di antara dua dunia:

masa lalu yang kejam dan masa depan yang belum jelas.

---

Serangan Panik

Tiba-tiba dadanya kembali terasa sempit.

Napasnya tersendat.

Tangan Yuki mencengkeram baju sendiri tanpa sadar.

“Aku… aku tidak bisa bernapas…”

Pandangan matanya berkunang.

Tubuhnya terasa ringan, seolah akan jatuh meski sedang duduk.

Ia menunduk, memeluk Ai semakin erat, mencoba fokus pada napas bayi itu.

Satu… dua… tiga…

Namun pikirannya terus berteriak.

Dia akan datang.

Dia akan menemukanmu.

Kau tidak pernah benar-benar bebas.

“Tidak!” Yuki menggeleng cepat. “Tidak… tidak…”

Ia menutup mata, air mata mengalir deras.

Dalam hatinya, Yuki berdoa tanpa suara.

Tolong… biarkan aku kuat. Demi anakku.

---

Cahaya Kecil di Tengah Gelap

Beberapa menit berlalu—atau mungkin lebih lama—Yuki tidak tahu pasti. Waktu terasa kabur saat tubuhnya berjuang melawan ketakutan.

Perlahan, napasnya mulai stabil.

Ai Chikara tertidur dengan damai di pelukannya, seolah dunia ini tidak pernah kejam.

Yuki mengusap punggung bayi itu lembut.

“Selama kamu ada…” bisiknya pelan. “Ibu akan bertahan…”

Ia berbaring kembali, kali ini memposisikan Ai di dada, merasakan hangat tubuh kecil itu.

Matanya menatap langit-langit kamar.

Malam belum berakhir.

Trauma belum hilang.

Namun untuk pertama kalinya sejak lama, Yuki tidak sendirian.

Di rumah besar ini, di balik dinding-dinding tebal, ada orang-orang yang tidak mengenalnya namun memberinya perlindungan.

Dan di dalam pelukannya, ada alasan untuk hidup.

---

Janji dalam Keheningan

Sebelum akhirnya terlelap kembali, Yuki berbisik pelan—bukan pada siapa pun, melainkan pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan kembali ke sana…”

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu…”

“Aku akan sembuh… pelan-pelan…”

Air mata terakhir jatuh di pipinya.

Malam tetap gelap.

Namun di dada Yuki, sebuah janji kecil mulai tumbuh—rapuh, tapi nyata.

Dan jauh di sisi lain rumah itu, tanpa ia ketahui, ada seseorang yang terjaga… memastikan malam ini berlalu tanpa bahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!