Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Bersama
Putra pun mencoba untuk bangun lagi karena melihat Hybrida raksasa itu berjalan menuju teman-temannya, “Aku gak mau kehilangan orang berharga ku lagi” gumamnya lalu berlari dan menyerang Hybrida dengan kuat. Kali ini seranganya berhasil membuat makhluk itu terpental ke belakang. Setelah itu Putra langsung menghampiri teman-temannya.
“Jee bangun Jee”
“Fatin, Tian, Sri, Dila, Ruka” panggilnya namun teman-temanya itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Tak lama datanglah juga kepala desa bersama Pak Noman
“Ada apa ini?” tanya kepala desa
“Apa yang terjadi sama kalian?” sambung Pak Noman melihat banyak mahasiswa KKN yang terkapar ditanah.
“Semuanya adalah salah ku—pak desa, aku gagal melindungi teman-teman ku” ucap Putra menangis.
“Padahal aku sudah diberi kepercayaan tapi malah menghianatinya” gumamnya
“Jadi jimat pelindung yang ku berikan tak cukup kuat yah melindungi kalian” kata Kepala Desa lalu Putra yang menyadari itu langsung terdiam. Dia teringat dan menyesal karena keluar dari lingkaran pelindung. Saat itu dia memikirkan satu nama yang menyebabnya semua ini yaitu Anwar.
“Semua ini gara-gara dia” ucapnya
“Coba aja dia gak keluar dan bilang semuanya aman—maka hal seperti ini pasti gak akan terjadi” lanjutnya lalu berdiri untuk mencari keberadaan Anwar. Pemuda itu pun berjalan menghampiri kordesnya itu lalu memukulnya keras sampai Anwar terjatuh ditanah kembali.
“Woi Putra, apa yang kamu lakukan?” celetuk Ikon lalu langsung menahannya
“Lepaskan aku, gara-gara anak ini teman-teman ku jadi terluka” kata Putra marah
“Mas tenang dulu, jangan begitu” Ikon berusah keras untuk menahanya namun kekuatannya kalah
“Selama ini aku sudah lelah menahan diri, dari awal caramu menjadi kordes dan memimpin kami gak pernah benar. Kamu selalu merepotkan banyak orang dan sekarang membuat kami terluka”
“Seorang pemimpin itu harusnya bisa melindungi anggotanya dan menampung beban yang paling berat diantara yang lainnya tapi kamu malah sebaliknya” ungkap Putra
“Jangan diam saja, bantu aku memagangnya” ucap Ikon lalu aku pun membantunya untuk menahan Putra
“Kalau sampai terjadi sesuatu sama mereka, maka aku benaran akan menghabisimu” kata Putra mengancam, sementara itu Anwar tak berkata apapun. Dia diam tertunduk karena menyadari kesalahanya selama ini.
“Putra, berhenti” ujar Nadin
“Kamu ini gak malu yah marah-marah begini” katanya sambil menghampiri Ikon yang terjatuh karena terkena dorongan Putra.
“Kamu selalu saja menyalahkan Anwar sebagai kordes, terus bagaimana dengan mu yang sebagai wakordes”
“Apa tugasmu?Harusnya kalau kordes melakukan kesalahan maka kamu memberitahunya—bukan malah ikut menyalahkan dia” tutur Nadin
“Apa kamu mungkin gak tau tugas dari wakil kordes? Tanyakan pada Enal, bagaimana itu seorang wakil yang sebenarnya”
“Apa hubunganya” balas Putra
“Enal itu seorang wakil ketua dikampus, dia lah yang paling tau bagaimana itu wakil ketua” kata Nadin lagi dengan lantang sehingga membuat Putra terdiam. Dia sempat menatap kearah ku juga tapi tak lama.
“Putra” panggil Ruka lalu saat itu Putra pun menoleh dan terkejut melihat temannya itu sudah sadar
“Ru-ka...teman-teman” gagapnya terperangah melihat teman-temannya sudan bangun dan diobati oleh ibu desa.
“Tenang saja, luka kalian gak terlalu parah” kata ibu desa
“Syukur lah ada ibu disini” kata pak Noman
“Iyah, pak desa memberitahu ku tadi lalu aku segera datang dengan cepat” bicara ibu desa sambil mengobati Fatin lalu Sulis. Tak lama setelah itu satu persatu teman-teman ku pun mulai sadarkan diri, bahkan keadaan mereka sangat segar seperti tidak terjadi apa-apa. Semuanya hanya diam saja, melihat kekuatan penyembuhan dari ibu desa yang luar biasa. Saat itu aku tidak memikirkannya banyak hal, aku hanya tersenyum. Sebuah perasaan senang aneh yang menghampiriku ketika melihat semua orang. Aku juga tidak mengerti pada perasaan ini kenapa bisa muncul.
“Disini ada lagi” bicara Rio sambil membawa tubuh Dani yang setengah tubuhnya masih menjadi Hybrida. Kepala Dusun lima yang melihat itu pun segera mengobatinya. Dia menyentuh tubuh Dani sambil membacakan sebuah mantra lalu tubuh Dani pun akhirnya kembali seperti semula.
“Sudah jangan kalian ribut-ribut lagi” bicara Pak Noman
“Semuanya sudah baik-baik saja” lanjutnya lalu mengajak kami untuk pergi ke suatu tempat. Kami tanpa berpikir panjang langsung bersedia dan mengikut saja mereka.
Saat kami jadi terbagi-bagi menjadi tiga kelompok. Pertama itu kelompok Putra, Zee, Sri, Dila, Fatin, Ruka, Tian, dan Sulis. Kelompok kedua itu Anwar, Ikon, dan Nadin lalu kelompok selanjutnya itu aku, Eni, Wati dan Dani. Suasana jadi lebih dingin dan canggung hingga tak lama sampailah kami disebuah rumah milik kepala dusun 5. Disana lumayan banyak orang yang sedang menyiapkan sesuatu. Aku berpikir sepertinya ada sebuah acara dan benar saja. Hari itu adalah memperingati Hari Ikatan. Tidak ada informasi lebih jelas mengenainya tapi semua orang bersuka ria saat itu sehingga suasana jadi lebih hangat dan harmonis antar sesama warga. Namun bagi kami mahasiswa itu belum bisa seperti mereka, kami masih teringat pada kejadian sebelumnya. Masih banyak pertanyaan dan luka hati serta perasaan buruk menyelimuti diri kami.
“Ini ada apa” bicara seorang perempuan
“Pak, ayo ajak semuanya makan” lanjutnya menyuruh kepala dusun 5 untuk mengajak makan bersama karena masakannya sudah matang
“I-iyah bu” balas kepala dusun 5 lalu mengajak semua orang untuk makan. Begitu juga dengan kami mahasiswa ikut makan bersama warga yang ada.
“Yang laki-laki duduk disana, pisah sama perempuanya” ucap kepala dusun 5 lalu Putra pun berdiri dan menghampiri kami. Aku duduk diantara Anwar dan Putra sehingga suasanya itu agak canggung. Aku bingung harus mengajak bicara yang mana.
“Ayo ambil makan, jangan malu-malu” bicara kepala desa lalu kami pun berdiri untuk mengambil makanan sendiri yang sudah disediakan diatas meja.
Mulai dari sini suasananya pun perlahan berubah, teman-teman ku tersenyum dan tertawa bahagia sambil makan lalu bertukar cerita sesama mereka. Kami laki-lakinya juga begitu, bersama Kepala Desa , pak Noman dan Kepala Dusun 5 bercanda
“Nanti amplopnya jangan lupa yah” kata Pak Noman lalu kepala dusun 5 datang membawa kardus sambil menodongkannya kepada semua orang. Kepala Desa pun menanggapinya dengan menaruk sebuah kertas didalamnya sehingga membuat kami tertawa. Rasanya jadi seperti disebuah pesta pernikahan saja.
“Begini lah nanti suasananya kalau kalian menikah nanti” kata Kepala Desa
“Tapi harus banyak uang baru bisa buat pesta” celetuk Kepala Dusun 5
“Apalagi kita laki-laki, harus ada uang panai juga—makanya kerja keras supaya bisa menikahi perempuan yang kamu cintai” ucapnya sambil melihat kearah istrinya
“Ciahh ciee...” ejek kami melihat kedua pasangan itu saling bertatapan
“Emangnya berapa dulu panainya pak dusun?” tanya Pak Noman
“Hmm ada lah pokoknya, tanya aja sama ibu” jawab kepala dusun 5
“Aku? Kamu lah harusnya” balas istrinya
“Aduh...bagaimana ini pak dusun”
“Jangan-jangan dulu kurang ini uang panainya” Pak Noman menggodanya
“Yah enggah lah, kalau kurang mana mungkin dia mau sama aku” balas Kepala Dusun 5 dengan pede lalu semua orang pun tertawa.
“Kalau pak desa sama bu desa dulu bagaimana” tanya Rio
“Nah ini seru nih, kami juga mau tau dulu bagaimana cerita masa lalu pak desa dan bu desa menikah” kata Kepala Dusun 5
“Jangan bahas begituan lah, masa lalu” balas Kepala Desa malu-malu
“Kenapa harus malu” celetuk Ibu Desa
“Nah hayo pak desa, kenapa malu” bicara Rio lagi sehingga membuat ekspresi kepala desa lucu lalu kami pun tertawa lagi.
“Ayo cerita lah, biar adik-adik mahasiswa KKN juga tau dan bisa jadi pelajaran untuk mereka”
“Kan mereka itu sudah masuk usia dewasa untuk menikah kan” kata Kepala Dusun 5
“Iyah pak desa, berilah saran untuk anak-anak muda ini” ucap Rio
“Kamu juga kali Rio” celetuk Ibu Desa
“Sama bu guru Windi juga ini” lanjutnya sehingga membuat seorang perempuan disampingnya tersedak
“Aku juga kena mah” ucap perempuan tersebut yang bernama Windi
“Iyah lah, kan kalian berdua belum menikah” kata Ibu Desa
“Eeheh” Windi hanya cengir
“Kak Rio aja yang duluan” ujarnya melihat kearah Rio
“Lah aku?” balas Rio. Mereka berdua saling menunjuk sehingga membuat kami tertawa kembali.
“Kalian berdua mi lah” kata Kepala Desa
“Hhm” aku tersenyum sambil melanjutkan makan ku. Entah kenapa perasaan ku jadi membaik, mungkin karena suasana hangat yang sedang terjadi saat itu. Dimana awalnya kami sangat dingin dan canggung tapi semuanya jadi berubah sehingga itulah yang membuat ku senang. Bukan hanya aku tapi teman-teman ku juga pasti merasakannya. Aku mengangkat wajah ku dan melihat semua orang tapi tak sengaja berpas-pasan dengan Zee dan Ruka sehingga membuatku segera menunduk. Mungkin aku malu saat ketahuan oleh mereka.