NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Selingkuh / Harem
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Novel Keempat belas🌶
(area 🌶 no bocil-bocil please)

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Meskipun demikian pergaulan Bian dan teman-temannya tergolong cukup 'bebas'.

Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Saling Menutupi

"Yang," panggil Bian sambil memegang lengan Theo. Sontak Theo tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa sih? Belakangan ini kamu ngelamun terus." Bian khawatir.

Bian menggunakan gaun tanpa lengan dengan belahan hingga ke paha. Rambutnya ditata bergelombang, membuat rambut hitam panjangnya bergelombang. Gaun dan make upnya itu membuat Bian nampak lebih dewasa. Ia memang sedang berada di tempat pemotretan. Hari itu ia diantar oleh Theo setelah pulang sekolah. Setelah menggunakan make up dan berhanti kostum, Bian makan siang di ruang tunggu sambil menunggu giliran. Ia menyantap nasi bento yang dibeli Theo saat perjalanan menuju ke mari tadi.

"Gak apa-apa, Yang." Theo memasang senyum paksa pada wajahnya. Ia mengusap rambut Bian yang duduk di sampingnya. "Maaf ya, akhir-akhir ini aku lagi banyak pikiran."

"Kamu lagi ada masalah apa? Cerita dong sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu cari solusinya. Atau minimal kamu bisa lebih lega kalau udah cerita. Daripada dipendem sendiri."

Theo kembali memaksakan senyumnya. "Gak apa-apa, Yang. Gak ada masalah yang serius, kok. Cuma lagi kepikiran aja, bentar lagi kita ujian kenaikan kelas."

"Ada tugas yang belum selesai emangnya? Mau aku bantuin gak?" Bian menawarkan.

"Gak sih. Udah semua, cuma kepikiran aja. Oh iya, gimana orang tua kamu? Udah pada pulang honeymoon 'kan kemarin?" Theo mengalihkan topik pembicaraan.

"Udah, oh iya, daddy bilang makasih karena kamu udah anterin aku pemotretan. Kemarin daddy sama ibu udah pulang, tapi mereka masih kelihatan cape jadi kasihan kalau daddy anter aku sekarang. Makasih ya, Sayang."

"Sama-sama, Sayangku." Theo mengecup puncak kepala Bian, mengundang senyum sipu mengembang di wajah sang pacar.

"Seneng banget aku ketemu sama Daddy lagi. Daddy kelihatan bahagia banget sama ibu," ujar Bian sambil menyantap makan siangnya.

"Kamu udah nerima pernikahan mereka sekarang?" tanya Theo cukup heran karena Bian sudah bisa memanggil ibu sambungnya dengan sebutan 'ibu' dengan sesantai itu.

"Ya harus dibiasain sih, Yang. Karena gimana pun pernikahan mereka udah terjadi. Kalau aku gak berusaha adaptasi, malah aku yang gak nyaman. Aku gak mau kayak gitu. Lagian ibu juga baik banget. Malah aku ngerasa daddy emang serasi banget sama ibu. Begitu juga mommy sama ayah, serasi banget. Mereka saling cinta, saling memahami, saling menghargai. Dan mereka bisa bersatu setelah puluhan tahun berpisah, masa iya aku masih kontra sama keputusan mereka?"

"Aku bangga sama kamu. Kamu udah berpikir dewasa," puji Theo. "Tapi boleh nanya gak, kamu...sama ayah sama kakak tiri kamu, hubungannya gimana?"

Sontak Bian tersedak oleh makanan yang sedang dimakannya. "Pelan-pelan, Yang." Theo memberikan sebotol air minum untuk Bian.

"Ke-kenapa kamu nanyain soal itu?" Bian panik, kenapa Theo bertanya seperti itu? Pikirnya.

Theo sendiri bertanya hal itu lebih kepada membandingkan bagaimana interaksi Bian dengan Saga, dan Theo dengan dengan Julia. Theo ingin tahu, sejauh apa dirinya sudah keluar jalur normal bersama Julia. Apa ada orang lain yang mengalami apa yang ia alami?

Meskipun Theo denial, sepertinya hal aneh tak akan terjadi pada hidup orang lain seperti yang terjadi padanya. Apalagi pada hidup kekasihnya itu, gadis yang nampak dewasa namun polos, manja, dan baik hati di dalam yang sudah ia buat menjadi 'tak sepolos itu'. Kehidupan Bian tak mungkin seliar kehidupannya sekarang, yang sukses dibuat jungkir balik oleh sang ibu sambung.

"Aku sama Kak Saga ya biasa aja sih, gak ada yang spesial. Kami juga gak terlalu deket yang sampai ngobrol banyak gitu," dusta Bian tanpa menatap Theo. Hatinya dirundung rasa bersalah karena harus menutupi seperti apa hubungannya dengan Saga.

"Kalau sama ayah kamu?" tanya Theo, entahlah, ia lebih penasaran tentang hubungan Bian dengan Kaisar, bukan dengan sang kakak tiri, Saga. Semuanya dipengaruhi oleh hubungan rumitnya dengan Julia.

Bian mengerutkan keningnya merasa heran dengan pertanyaan tak biasa dari Theo. "Aku sama ayah? Baik kok. Emang belum begitu deket. Cuma ayah itu orangnya cepet deket sama orang. Dan gak tahu kenapa aku kayak tahu aja gitu kenapa mommy jatuh cinta sama ayah. Dan cocok aja ternyata mereka itu, setelah ngelihat mereka bareng-bareng."

"Jadi kamu udah gak mempermasalahkan pernikahan aneh orang tua kamu lagi?" Theo menyimpulkan.

Bian menggeleng. "Udah enggak. Walaupun belum tahu detail hubungan mereka itu kayak gimana, tapi sekarang aku bisa rasain kalau mereka emang ditakdirkan buat bersama. Cuma satu yang aku gak suka dengan pernikahan mereka adalah aku harus kenal sama cowok yang namanya Sagara itu." Ada nada geram di akhir ucapan Bian.

"Ada apa sama dia?" tanya Theo merasa aneh.

Bian gelagapan ditanya seperti itu oleh Theo. "Ya, gak ada apa-apa. Cuma dia itu orangnya nyebelin aja. Jadi aku gak suka," pungkasnya. "Eh terus gimana mama kamu? Kapan kamu mau ngenalin aku sama beliau?" Bian mengalihkan topik pembicaraan sambil memajukan sedikit bibirnya merasa kecewa.

"Kenapa kamu pengen kenalan sama Mama aku, Yang? Gak penting kenal sama mama," jawab Theo ketus. Moodnya berubah drastis.

Bian menangkap rasa jengkel Theo. "Maaf kalau pertanyaan aku bikin kamu bete. Tapi aku 'kan cuma nanya," klarifikasi Bian dengan kesal. "Kalau gak mau ngenalin juga gak apa-apa. Berarti kita emang gak sedeket itu sampai kamu gak mau ngenalin aku ke mama kamu."

Seketika Theo menyesal sudah membuat Bian menjadi sama jengkelnya dengan dirinya. "Bukan gitu, Yang. Cuma kamu tahu 'kan mama itu sibuk? Dan juga mama sebenernya gak terlalu suka aku punya pacar. Ditambah masalah kita bolos kemarin. Dia jadi semakin gak suka aku punya pacar." Theo berdalih.

Ia tidak sepenuhnya bohong. Memang seperti itulah keadaannya. Namun sudut pandangnya akan berbeda jika Bian tahu hubungan Theo dan Julia yang tak lazim. Dan Theo bersyukur Bian tidak perlu berpikir macam-macam karena penjelasan Theo sangat bisa diterima bahwa seorang ibu terdengar sangat normal jika tidak menginginkan anaknya untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis karena alasan klise seperti ingin anaknya fokus belajar daripada sibuk berpacaran. Setidaknya Theo lega karena itulah yang akan Bian pikirkan.

"Kayaknya mama kamu pengennya kamu fokus belajar ya?"

Tanggapan Bian itu membuat Theo lega sekaligus merasa bersalah. Lega karena hubungan rahasianya dengan Julia pasti tak akan terpikirkan sama sekali oleh Bian. Tapi di sisi lain Theo juga merasa bersalah. Kini ia harus selalu berbohong pada kekasihnya itu. Berbohong adalah satu hal yang tidak Theo sukai, tapi ia harus terus melakukannya sekarang.

"Iya, gitu deh..." cicit Theo berdusta.

"Ya udah deh. Aku paham. Kamu anak satu-satunya, jadi mama kamu pasti berharap banyak sama kamu," ujar Bian lemas. Tapi kemudian ia kembangkan senyum di wajahnya. "Makanya kamu jangan sampai kecewain mama kamu. Belajar yang rajin, dan buktiin kalau punya pacar gak bikin nilai kamu turun. Terus, janji kita gak boleh bolos lagi kayak kemarin."

Theo mengangguk setuju. "Iya, Yang," sahutnya singkat.

Kemudian seorang memanggil Bian. "Yang, aku masuk dulu ya. Eh, kamu kalau mau lihat pemotretan aku juga boleh kok."

"Boleh, Yang. Yuk, aku temenin."

Kemudian keduanya bergandengan tangan masuk ke ruang pemotretan. Di sana orang-orang sibuk dengan berbagai aktivitas. Ada yang memotret, yang mengatur pencahayaan, merias, memberikan arahan, dan lain sebagainya, khas sebuah studio pemotretan.

Bian pun mulai bergaya di depan kamera. Theo kembali terkagum-kagum pada kekasihnya itu. Saat sedang berada di depan kamera, ia tidak nampak seperti Bian yang ia kenal. Bian yang sibuk bergaya itu lebih nampak seperti supermodel ternama. Tubuh tinggi sempurna, wajah yang cantik dan berkharisma. Theo rasa Bian memang terlahir untuk menjadi seorang model. Dan ia bangga menyebut calon model profesional itu sebagai kekasihnya.

Kemudian pemotretan pun berakhir. Bian mulai mencari sosok Theo, namun tak ia temukan. Padahal sebelumnya kekasihnya itu ada di sana berdiri memperhatikan pemotretan yang sedang dilakukannya. Ia pun menghampiri asistennya dan bertanya mengenai Theo, namun ia mengatakan Theo sudah pergi.

Bian membuka ponselnya. Ada pesan dari Theo.

[Theo]: Maaf, Yang. Aku pergi gak bilang kamu. Aku harus pulang dulu, disuruh sama mama. Nanti kalau udah selesai kamu kabarin aku ya, nanti aku jemput.

1
D_wiwied
kayra gila ini sih 🤣🤣
lalalati: banget dia mah otaknya gak pernah disapuin
total 1 replies
D_wiwied
whattt ternyata ini yg ngajarin dan ngerusak saga to, yg membuat dia jd pemain.. ee dasar maniak brondong 😁🤭
D_wiwied
heh jule, cinta itu ga bs dipaksakan you know 😠
mending td ga usah ditolongin aja, biar kamu terbebas dr obsesi ibu yg ga ada akhlaknya itu
D_wiwied
ngeri kali si Juli ini, dah masuk kategori child grooming ga sih.. ky yg rame kmrn🤔🤭
D_wiwied: bisa dibikin lepas ga sih si Theonya, apa mmg sengaja dibikin gini alurnya? biar ketahuan Bian trs akhirnya jadi sm saga, dr terpaksa jd mau gitu
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!