NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Arunika mengabaikan panggilan dari Abimana. Tangannya gemetar saat menerima amplop yang disodorkan Claudia. Dengan gerakan tergesa, ia membukanya.

​Dalam hitungan detik, wajah Arunika berubah pucat.

​Beberapa foto terhampar di hadapannya. Abimana terlihat tertidur di atas ranjang, sementara Claudia berada di sisinya. Selimut menutupi tubuh mereka hingga dada. Jarak di antara keduanya hampir tidak ada. Wajah Abimana tampak tenang, seolah tempat itu bukan sesuatu yang asing baginya.

​Jari Arunika bergetar saat membalik foto berikutnya.

​“Bagaimana, Arunika?” suara Claudia terdengar pelan namun menusuk. “Masih percaya sama Abimana setelah melihat itu?”

​Napas Arunika tertahan. Dadanya terasa sesak, seakan udara di sekitarnya mendadak habis.

​“Asal kamu tahu,” lanjut Claudia dengan nada dingin, “kamu cuma pengganti. Jadi sebaiknya menyerah saja. Karena sejak awal, Abimana itu milikku.”

​Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras, namun cukup untuk menghantam tepat ke dalam dada Arunika.

​“Aku tidak pernah memaksanya untuk tetap bersamaku.” jawab Arunika. Suaranya terdengar dingin, berbeda dengan perasaannya. “Kalau kamu menginginkannya, ambil saja. Aku tidak butuh laki-laki yang tidak punya prinsip.”

​Arunika tidak tahu bahwa semua ini hanyalah rekayasa Claudia. Di balik wajah tenangnya, Claudia tersenyum tipis.

​“Maka sebaiknya kamu menjauh darinya.” ucap Claudia lagi, kali ini suaranya dibuat lebih lembut. “Jangan beri dia harapan. Lagipula… mungkin sebentar lagi aku akan hamil.”

​Tangannya menyentuh perutnya yang masih datar, seolah bangga dengan ucapannya sendiri.

​Rasa mual menjalar di dada Arunika. Bukan hanya karena kata-kata itu, tapi cara Claudia mengucapkannya—ringan, tanpa rasa bersalah.

​Tanpa berkata apa-apa lagi, Arunika bangkit dari duduknya. Ia memilih pergi. Di belakangnya, Claudia masih duduk santai, kaki bersilang, menikmati reaksi yang sempat ia lihat di wajah Arunika.

​"Keterlaluan… Baru kemarin dia memohon, meminta kesempatan. Tapi ternyata semua ini masih ia simpan." gumam Arunika. Ia melangkah keluar dari kafe.

​"Aku masih bisa memaafkanmu, Abimana, kalau semuanya masih dalam batas wajar." batinnya.

​Tapi kali ini tidak. Ini sudah melewati batas. Ini bertentangan dengan prinsip hidupku.

​Suaranya nyaris tak terdengar ketika ia bergumam pelan. Deru hujan di luar kafe menelan kata-katanya. Air mata tetap jatuh, satu per satu, tanpa bisa ia cegah.

​Di tempat lain, Abimana mulai gelisah. Ponselnya masih berada di tangannya, layar menyala tanpa jawaban.

​“Nika… kamu di mana?” gumamnya pelan.

​Ia mencoba menelepon lagi. Nada sambung terdengar panjang.

​“Ayo angkat, Arunika. Jangan buat aku khawatir seperti ini.” ucapnya lirih. Perasaan tidak enak semakin kuat.

​"Apa terjadi sesuatu? Lebih baik aku mencarinya."

​Abimana segera meninggalkan area kampus. Langkahnya cepat menuju mobil. Mesin dinyalakan, lalu kendaraan itu melaju membelah jalanan kota.

​Hujan turun semakin deras. Pandangan terbatas, jalanan mulai padat. Namun Abimana tidak memperlambat laju mobilnya. Di kepalanya hanya ada satu nama: Arunika.

​Sementara itu, Arunika berjalan tanpa tujuan di bawah hujan. Pakaiannya basah, rambutnya melekat di wajah. Langkahnya berat, namun ia terus berjalan. Ia mengusap wajahnya berulang kali, mencoba mengeringkan air yang terus mengalir, entah hujan atau air mata.

​Sejak awal, perjodohan ini memang terasa salah. Tapi ia memilih diam. Memilih bertahan. Kini, semua penyesalan itu datang bersamaan.

​Dan ia tidak tahu harus ke mana. Hingga sebuah mobil berhenti tepat di sisinya. Air hujan masih turun deras ketika pintu terbuka.

​“Nika, apa yang kamu lakukan?” suara Abimana terdengar panik. “Kamu bisa sakit kalau begini.”

​Arunika menoleh perlahan. Wajahnya basah, entah karena hujan atau air mata.

​“Tidak usah mengkhawatirkanku, Abimana Permana.”

​Deg.

​Kalimat itu menghantam dada Abimana. Napasnya sempat tertahan.

​“Apa maksudmu, Nika?” tanyanya pelan. “Masuklah ke mobil. Kita bicarakan ini nanti, setelah sampai di apartemen.”

​“Tidak.” Arunika menggeleng keras. “Jangan pernah memaksaku. Lebih baik urus pacarmu itu dan jangan pernah mengusikku lagi.”

​Abimana terpaku sesaat. Namun sebelum Arunika sempat menjauh, ia sudah meraih tubuhnya. Dalam satu gerakan cepat, Abimana menggendong Arunika dan mengabaikan teriakannya yang tertelan suara hujan.

​“Lepaskan aku, Abimana!” Arunika memberontak, memukul dada pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Aku tidak mau ikut bersamamu lagi!”

​Langkah Abimana terhenti sejenak, rahangnya mengeras.

​“Sudah cukup.” lanjut Arunika dengan suara bergetar namun tegas. “Aku sudah bertahan. Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi kali ini tidak ada lagi. Aku tidak mau.”

​Hujan terus mengguyur mereka, sementara jarak di antara keduanya terasa semakin jauh—bukan oleh langkah, melainkan oleh kepercayaan yang telah runtuh.

​Abimana seolah menutup telinganya dari semua teriakan Arunika. Ia membawanya masuk ke dalam mobil dan segera menutup pintu. Kunci pengaman diklik cepat, membatasi ruang gerak Arunika.

​“Diam.” ucap Abimana dengan suara rendah namun tegas. “Atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan, Nika.”

​Kalimat itu membuat Arunika terdiam. Bukan karena patuh, melainkan karena terkejut melihat sisi Abimana yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

​Hujan masih memukul kaca mobil, sementara ketegangan di dalamnya terasa jauh lebih menyesakkan.

​Arunika berhenti memberontak. Tubuhnya terasa terlalu lelah untuk menghadapi semua drama ini. Ia memilih diam, memalingkan wajah ke arah jendela, menatap jalanan yang buram oleh hujan, seolah Abimana tidak lagi ada di sampingnya.

​Di kursi pengemudi, Abimana menarik napas panjang. Tangannya meraih jas yang tergeletak di kursi belakang. Tanpa banyak bicara, ia menyampirkannya ke tubuh Arunika, berusaha menutupinya agar tidak kedinginan.

​Arunika tidak menolak. Ia juga tidak mengucapkan terima kasih. Tatapannya tetap tertuju ke luar jendela, dingin dan jauh. Dan untuk pertama kalinya, Abimana merasakan jarak itu benar-benar ada—bukan karena hujan, melainkan karena Arunika sudah memilih untuk menutup dirinya.

​“Nika.” panggil Abimana pelan.

​Arunika tetap diam. Tubuhnya tak bergerak, pandangannya masih terpaku ke luar jendela. Ia mengabaikan panggilan itu seolah tidak pernah terdengar.

​“Nika, coba tatap aku.” lanjut Abimana, suaranya kini terdengar lebih rendah. “Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong jelaskan padaku. Aku ingin tahu di mana letak kesalahanku.”

​Tidak ada jawaban.

​Hanya suara hujan yang memukul kaca mobil dan deru mesin yang berjalan pelan. Keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan. Dan Abimana sadar, untuk pertama kalinya, Arunika tidak sedang marah—ia sedang lelah.

​Abimana menghela napas panjang, lalu perlahan menjalankan mobil menuju apartemen mereka. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Ia tidak ingin Arunika semakin kedinginan. Apalagi sampai jatuh sakit.

​Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hanya suara hujan dan wiper yang bergerak berulang kali, mengisi jarak yang kini terasa kaku di antara mereka.

​Sesekali, Abimana melirik Arunika dari sudut matanya. Wajah perempuan itu tampak pucat, matanya kosong, masih tertuju ke luar jendela. Ia ingin bicara. Ingin mengatakan banyak hal. Namun setiap kali bibirnya hampir terbuka, Abimana kembali menutupnya. Tak satu pun kata terasa cukup tepat untuk memecah keheningan di antara mereka.

​Mobil terus melaju, membawa dua orang yang duduk berdekatan, tetapi terasa semakin jauh.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!