Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif
“Alana, ini makanan terenak yang pernah aku makan,” ujar Luciano serius, tanpa nada berlebihan. Mangkok di tangannya bahkan sudah kosong bersih, tidak tersisa setetes kuah pun.
Alana tersenyum kecil, senyum yang hangat dan jujur. Ada rasa puas yang mengalir pelan di dadanya. Sejak pagi ia cemas, takut rasanya terlalu hambar, takut Luciano tidak menyukainya. Tapi melihat mangkok kosong itu, semua lelahnya terasa terbayar.
“Syukurlah kalau kamu suka,” jawab Alana lembut. “Aku jadi makin semangat buat masakin kamu.”
Luciano langsung berhenti bergerak. Ia menatap Alana seolah gadis itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat berbahaya.
“Apa?” alisnya terangkat. “Masak? Oh tidak. Alana, aku sudah melarang kamu terjun kembali ke dapur. Apa pun alasannya.”
Alana mendengus pelan. “Luciano, kamu berlebihan.”
Luciano mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, nada suaranya tetap tenang, tapi tegas, nada yang sulit dibantah. “Kamu bahkan sudah menyetujuinya tadi.”
Alana membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingat. Ia memang mengangguk saat itu, terlalu lelah untuk berdebat.
“Ini tidak adil,” gumamnya kesal sambil memalingkan wajah.
Luciano menghela napas pelan. Ia berdiri, mendekat, lalu berlutut di hadapan Alana sehingga posisi mereka sejajar. Tangannya meraih tangan Alana, menggenggamnya lembut tapi penuh kepemilikan.
“Aku tidak melarang karena aku tidak menghargai masakanmu,” katanya rendah. “Justru sebaliknya.”
Alana menatapnya ragu.
“Aku takut,” lanjut Luciano jujur. “Takut pisau melukaimu. Takut api menyentuh kulitmu. Takut sesuatu yang bodoh dan kecil bisa melukaimu… dan aku tidak ada di sana.”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi sarat kecemasan yang nyata.
“Kau terlalu berlebihan melindungiku,” ucap Alana lirih, tapi kali ini suaranya tidak lagi keras.
“Mungkin,” Luciano mengangguk tanpa menyangkal. “Dan aku tidak berniat berubah cepat-cepat.”
Ia mengangkat tangan Alana, menempelkan punggung tangan itu ke bibirnya, mengecupnya pelan, bukan ciuman penuh gairah, tapi penuh janji.
“Kau ingin membuatku bahagia?” tanyanya.
Alana mengangguk kecil.
“Kalau begitu, biarkan aku memastikan kau aman,” lanjutnya. “Berikan resep itu pada koki. Aku tetap makan masakanmu, hanya saja bukan tanganmu yang berada di dekat api dan pisau.”
Alana terdiam cukup lama. Ada rasa kesal, tapi juga ada kehangatan aneh yang sulit ditolak. Luciano tidak memerintah dengan kasar. Ia mengikat dengan rasa peduli yang terlalu dalam, hampir menyesakkan, tapi tulus.
“Aku tidak suka dikekang,” ucap Alana akhirnya.
Luciano menatapnya lekat. “Dan aku tidak suka kehilangan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Alana menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Untuk saat ini.”
Luciano langsung tersenyum tipis, senyum lega yang jarang ia tunjukkan. Ia berdiri dan mengusap kepala Alana lembut.
“Terima kasih,” katanya. “Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Mulai sekarang, kau tidak perlu membuktikan apa pun padaku,” ucapnya mantap. “Keberadaanmu saja sudah cukup.”
Alana menunduk, pipinya menghangat.
Dan meski ia tahu Luciano terlalu posesif, terlalu protektif, ia juga tahu satu hal yang tidak bisa ia bantah.
Luciano mencintainya… dengan caranya yang berbahaya, tapi juga sepenuh jiwa.
“Bagaimana kalau nanti kita belanja? Kau pasti akan suka,” kata Luciano, suaranya dibuat seringan mungkin. Ia tahu Alana masih kesal—terlihat dari caranya memeluk diri sendiri dan menatap lurus ke depan tanpa minat.
“Aku nggak suka belanja,” jawab Alana singkat, bahkan tidak menoleh ke arahnya.
Luciano tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat, menurunkan nada suaranya. “Kalau begitu, kita jalan-jalan ke tempat apa pun yang kau suka. Terserah kamu.”
Alana terdiam. Perlahan wajahnya terangkat. Untuk pertama kalinya sejak tadi, matanya menatap langsung kedua manik mata Luciano, seolah menimbang, apakah tawaran itu sungguhan, atau sekadar bujuk rayu sesaat.
“Ke pantai,” jawab Alana akhirnya.
“Oke,” sahut Luciano tanpa ragu. “Sekarang kamu siap-siap. Setelah itu kita pergi.”
Alana langsung berdiri, tapi baru dua langkah, ia berhenti. Ia berbalik, menatap Luciano dari ujung kepala sampai kaki, kemeja yang belum sepenuhnya rapi, perban di lengan yang masih terlihat lembap.
“Luciano,” katanya serius, “kamu lupa satu hal. Kamu lagi kurang sehat. Lihat luka kamu, masih basah. Gimana mau jalan ke pantai?”
Luciano mendekat. Tanpa banyak kata, ia meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat, seolah ingin memastikan gadis itu tidak pergi ke mana pun.
“Lukaku tidak seberapa pentingnya, Alana,” ucapnya mantap. “Dibandingkan dengan senyuman dan kebahagiaan kamu.”
Alana menggeleng, jelas tidak setuju. “Ini bukan soal penting atau tidak. Kamu bisa makin parah. Infeksinya belum sepenuhnya sembuh.”
Luciano menatap Alana lama. Ada keras kepala di sana, tapi juga ada kelelahan yang ia sembunyikan dengan baik.
“Aku baik-baik saja,” katanya.
“Kamu bohong,” balas Alana cepat. “Kamu pucat. Dan aku tidak mau bahagia kalau harus lihat kamu jatuh sakit lagi.”
Luciano terdiam. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada peluru atau pisau mana pun.
Alana menarik tangannya dari genggaman Luciano, lalu mendekat. Dengan hati-hati, ia menyentuh perban di lengan Luciano—gerakannya lembut, penuh perhatian.
“Dengarkan aku kali ini,” ucap Alana pelan. “Pantai itu tidak ke mana-mana. Tapi kamu… aku nggak mau kehilangan kamu hanya karena kamu terlalu keras kepala.”
Luciano menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia merasa posisinya terbalik—yang biasanya mengontrol, kini dikendalikan oleh kepedulian Alana.
“Kau mengkhawatirkanku?” tanyanya lirih.
Alana tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.
Luciano menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih jujur, lebih manusiawi.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita tunda.”
Alana mengangkat alis. “Benar?”
“Tapi dengan satu syarat,” lanjut Luciano cepat.
“Apa lagi?” Alana mendesah.
“Kau tetap menemaniku hari ini,” ucap Luciano sambil meraih tangan Alana lagi, kali ini lebih lembut. “Kita duduk di teras, atau di taman belakang. Kau di sisiku. Itu sudah cukup.”
Alana menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Itu lebih masuk akal.”
Luciano tersenyum lega. Ia menarik Alana ke dalam pelukan singkat, hangat, protektif, tapi tidak menekan.
“Pantai nanti,” bisiknya di rambut Alana. “Saat aku benar-benar sehat. Dan saat itu, aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk diriku sendiri merusak hari kita.”
Alana tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya bersandar di dada Luciano, dan untuk sesaat, rasa kesalnya benar-benar menghilang.
Suara ketukan pintu itu terdengar tegas dan tidak sabaran. Alana spontan menjauh dari pelukan Luciano, matanya menoleh ke arah pintu, lalu kembali pada wajah Luciano.
“Altair,” umpat Luciano pelan sambil mengusap wajahnya. “Dia selalu datang di waktu yang tidak tepat.”
Alana tersenyum tipis, mencoba meredam kekesalan Luciano. “Mungkin ada yang penting. Altair nggak mungkin datang kalau bukan urusan serius.”
Luciano menghela napas berat. “Baiklah. Aku temui dia.”
Ia bangkit, melangkah ke pintu, dan membukanya tanpa basa-basi. Benar saja—Altair berdiri di sana dengan kaus putih sederhana, ekspresinya tenang seperti biasa, seolah dunia tidak pernah benar-benar mengusiknya.
Altair mengangguk kecil. “Pagi.”
“Katakan,” perintah Luciano datar, jelas tidak dalam mood untuk basa-basi.
“Aku harus pergi,” ucap Altair pelan. “Ada urusan mendadak dengan Tuan Lorenzo.”
Alis Luciano terangkat tipis. Ia menyandarkan tubuh di daun pintu, menyilangkan tangan. “Dengan Tuan Lorenzo,” katanya, lalu menambahkan dengan nada sengaja dipertebal, “atau dengan putrinya?”
Altair mendengus kecil, hampir tak terlihat. Lalu menatap Luciano dengan sorot mata yang sudah sangat ia kenal. “Luciano,” katanya sabar, “kau tahu aku tidak bermain-main dengan hal seperti itu.”
Luciano menyeringai tipis. “Aku tahu. Tapi kau juga tahu bagaimana Ciara memandangmu.”
Altair menghela napas. “Dan itu justru alasan kenapa aku menjaga jarak.”
Ia menoleh sekilas ke arah Alana yang berdiri beberapa langkah di belakang Luciano. “Ciara masih sangat muda. Aku menghormati ayahnya, dan aku menghormati batasan.”
Luciano terdiam sejenak. Nada bercandanya mengendur. Ia mengangguk pelan. “Bagus. Jangan buat masalah di saat situasi sedang sensitif.”
“Aku tidak akan,” jawab Altair mantap. “Justru ini soal keamanan. Lorenzo menerima informasi pergerakan orang-orang Albert. Ada kemungkinan imbasnya akan sampai ke sini.”
Sorot mata Luciano berubah dingin dalam sekejap. “Seberapa dekat?”
“Lebih dekat dari yang kita harapkan,” jawab Altair jujur.
Luciano menoleh sekilas ke arah Alana. Ada refleks protektif yang langsung muncul di wajahnya. “Keamanan rumah?”
“Aman untuk sekarang. Tapi aku sarankan penjagaan ditambah dua lapis,” kata Altair. “Dan—” ia berhenti sejenak, “apartemen jangan dipakai dulu.”
Luciano mengangguk. “Lakukan.”
Altair bersiap pergi, tapi sebelum berbalik, ia menatap Luciano lebih lama. “Jaga dirimu. Dan jaga dia.”
Luciano tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk sekali—singkat, tegas.
Pintu tertutup kembali. Luciano bersandar di sana beberapa detik, lalu berbalik menghampiri Alana. Tanpa berkata apa pun, ia menarik Alana ke dalam pelukan, kali ini lebih erat dari sebelumnya.
“Ada masalah?” tanya Alana pelan.
“Ada ancaman,” jawab Luciano jujur. “Tapi aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu.”
Alana mendongak, menatap wajah Luciano. “Aku percaya.”
Luciano menurunkan keningnya, menempelkan dahi mereka. “Dan aku bersumpah,” katanya rendah, “kepercayaanmu itu tidak akan pernah aku sia-siakan.”
Pelukan itu menguat—bukan sekadar janji, tapi pernyataan diam-diam bahwa apa pun yang datang, Luciano akan berdiri di depan Alana terlebih dahulu.
***