Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Waspada
Dalam keadaan mengantuk Daniel harus menerima panggilan dari tuan Marlon. Ia bangun perlahan agar tidak mengganggu tidurnya Alea. Setibanya di luar, Daniel mendengar ucapan sang bos.
"Daniel, apakah kamu sedang tidur?" tanya tuan Marlon.
"Yah, di sini masih larut malam. Kita sedang berada di perbedaan waktu", balas Daniel dengan menguap beberapa kali.
"Maaf...! aku hanya minta kamu pergi dari Indonesia karena ada beberapa pembunuh bayaran sedang memburumu. Lupakan dokumen pribadi itu karena nyawamu lebih penting untuk negara ini", ucap tuan Marlon.
"Bagaimana anda tahu kalau aku sedang diburu oleh pembunuh bayaran?" tanya Daniel.
"Itu tidak penting. Pergi dari negara itu atau kamu akan mati sia-sia. Aku tidak bisa menjelaskan hal ini padamu karena mungkin saja telepon kita sedang di sadap atau dilacak", ucap tuan Marlon lalu mematikan ponselnya.
"Hallo...Tuan...tunggu....ah sial...! kenapa dia hobi sekali memutuskan pembicaraan.
"Tidak. Aku tidak mau pergi dari sini. Aku ingin selalu berada bersama istriku. Nyawa istriku lebih penting sekarang", gumam Daniel lalu kembali ke kamarnya.
Ia menatap wajah Alea yang terlihat sangat tenang dan bahagia setelah seharian ini mereka bercinta. Daniel ingin memeriksa beberapa tempat di kamar itu yang mungkin saja tersimpan dokumen. Tapi Daniel begitu takut ketahuan Alea.
"Sebaiknya besok saja aku geledah kamar ini. Pasti dokumen rahasia itu ada di sini", Daniel melanjutkan tidurnya. Ia menarik tubuhnya Alea agar masuk ke dalam dekapan nya.
Daniel sudah terbiasa dengan dunia kekerasan. Selama ini ia belum sekalipun terkena tembakan. Tubuhnya tetap mulus. Walaupun beberapa luka sabetan senjata tajam tapi ia langsung menghilangkannya dengan operasi.
Pagi tiba. Alea sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Si kembar sudah siap dengan tas sekolah mereka. Daniel memperhatikan adik iparnya itu. Tanggungjawab nya bukan hanya Alea tapi si kembar juga.
"Hari ini aku yang antar kalian ke sekolah", ucap Daniel.
"Apakah istrimu tidak keberatan kakak ipar?" ledek Aska.
"Alea juga ikut bersama kita", ucap Daniel terlihat serius dan si kembar sadar akan sikap kakak ipar mereka.
"Apakah keluarga kita sedang terancam?" tanya Arka tanpa basa-basi. Alea yang sedang makan berhenti. Ia menatap wajah suaminya.
"Apa yang terjadi kak?" tanya Alea terlihat gugup.
"Tidak ada masalah. Tapi sebaiknya tetap waspada. Musuh bisa muncul kapan saja", ucap Daniel.
"Apakah ini ada kaitannya dengan kakak?" tanya Aska. Daniel menelan salivanya. Ia berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan Aska.
"Yah. Aku sudah menjadi bagian dari kalian. Jangan karena aku kalian menjadi korbannya. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada kalian bertiga", ucap Daniel.
"Bukankah lebih baik si kembar tidak terlihat bersama kita?" tanya Alea.
Daniel merenung sesaat. Rasanya serba salah saat ini. Ia akhirnya mengalah." Baiklah. Kalian akan di antar oleh sopir. Biar aku dan Alea ke perusahaan", ucap Daniel.
"Kak. Apakah kita akan mati terbunuh seperti papa dan mama?" bisik Arka.
"Hussst....! jangan berprasangka buruk. Allah akan melindungi kita. Ajal hanya milik Allah", ucap Alea menenangkan si kembar.
Beberapa menit kemudian, keempatnya sudah siap berangkat ke tujuan mereka masing-masing. Daniel mengamati beberapa orang yang melintas di hadapan mereka. Jika itu musuh, ia bisa mengetahuinya dengan cepat.
Si kembar yang jenius membuka aplikasi mereka untuk membaca musuh yang membawa senjata tajam. Daniel yang hendak membelokkan mobilnya ke gerbang masuk perusahaan tampak curiga dengan mobil yang terparkir di samping gerbang.
"Apakah mobil orang lain bisa parkir di depan sini Alea?" tanya Daniel sambil mengamati mobil di depan mereka.
"Sebenarnya tidak boleh ada parkir sembarangan di depan gerbang. Biar nanti aku yang akan tegur satpam", ucap Alea.
Daniel mengamati mobil di depannya. Begitu melihat wajah milik bule di depannya, ia langsung tahu kalau dirinya sedang diincar. Ia segera mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Alea memahami situasinya Daniel dan langsung meminta satpam yang menyambut mereka untuk mengusir mobil asing di samping pintu gerbang.
"Suruh mobil itu pergi...!" titah Alea.
"Baik nona...!" Daniel turun dari mobil dan menggandeng tangan Alea. Ia tidak peduli dengan beberapa karyawan yang memperhatikan mereka.
"Kenapa Alea dan tuan Daniel bisa datang bersama? pegangan tangan lagi", ucap Tika.
"Mungkin saja tuan Daniel sudah menembak Alea menjadi pacarnya", ucap Naila.
"Bukankah Alea selama ini anti dengan pacaran?" sela yang lainnya.
"Munafik juga sih itu orang", kesal Tika yang tidak bisa menaklukkan hati Daniel dengan kecantikannya.
"Sudahlah. Mereka sama-sama bujang dan gadis. Wajar kalau mereka saling suka. Kita tunggu saja undangannya", ucap Nayla.
"Ngomong-ngomong selama ini apakah diantara kita pernah melihat seperti apa wajahnya Alea?" tanya Sela.
"Belum. Bahkan ia selalu mengambil wudhu di kamar mandi tuan Tio dan tidak pernah sholat di mushola perusahaan", ucap Tika.
"Apakah dia cantik? apakah tuan Daniel sudah melihat wajahnya?" tanya yang lainnya.
"Nanti kalau sudah ada acara lamaran mungkin Alea baru memperlihatkan wajahnya pada Daniel", ucap Nayla.
Alea duduk di depan Daniel bahkan berada di atas pangkuan suaminya." Tolong jujur padaku...! apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Alea.
"Aku tidak bisa menjelaskan padamu sekarang Alea. Ada waktunya kamu akan tahu yang sebenarnya. Ini adalah bagian dari sumpah jabatanku sebagai agen rahasia FBI. Kamu paham sayang?" pinta Daniel.
"Kalau begitu aku tidak bisa membantumu. Jika kamu ingin kembali ke Amerika, silahkan Daniel...!" ucap Alea menatap tegas suaminya.
"Tidak. Tempatku di sini bersamamu. Jika aku kembali, aku akan menyerahkan surat pengunduran diri dan lencana ku saja", lanjut Daniel.
"Jika kamu punya niat lain padaku Daniel, aku tidak akan memaafkanmu", batin Alea.
Ketukan pintu ruang kerja Daniel membuat keduanya membenarkan posisi duduk mereka. Daniel membuka pintu itu dan melihat sekretarisnya ingin bicara padanya.
"Ada apa Ivan?" tanya Daniel.
"Ada seorang wanita muda mencari anda tuan", ucap Ivan.
"Siapa? apakah kamu menanyakan namanya? apakah kamu bilang aku bekerja di sini?" cecar Daniel.
"Bukan aku yang bilang tuan. Tapi bagian resepsionis yang bilang untuk mereka menunggu dan menghubungi saya untuk menanyakan anda.
"Tidak ada yang tahu saya bekerja di sini. Entah itu kolega atau kenalanku. Katakan tidak ada nama Daniel yang bekerja di sini", ucap Daniel.
Ivan menggaruk kepalanya terlihat gelisah. Ia mengangguk sambil berlalu dari Daniel yang tampak tidak suka. Daniel menghubungi satpam agar mengusir tamu asing itu.
"Alea, tolong hubungi polisi agar bisa mengatasi tamu asing", pinta Daniel sambil menghubungi tuan Marlon.
"Tamu asing? emang mereka siapa kak?"tanya Alea.
"Pembunuh bayaran yang akan menghabisi kita semua", ucap Daniel membuat Alea syok.
"Hah....?"