Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEREKA BAIKAN
Setelah badai kata-kata yang menusuk seperti kerikil panas di tengah padang pasir kering, akhirnya datanglah embun pagi yang lembut menyentuh daun-daun yang layu. Murni berdiri di depan pintu kosnya, tangan kanannya masih menggenggam gagang besi yang dingin, sementara matanya mengikuti langkah Khem yang semakin mendekat—langkah yang dulu pernah ia kenal sebagai irama kebahagiaan, kini bergerak dengan beban rasa malu yang terlukis jelas di setiap lekukan wajahnya.
Udara sore masih membawa kesegaran sisa hujan pagi, bercampur dengan aroma daun pepaya yang tumbuh di sudut halaman kos, dan sedikit aroma kopi yang menguap dari kedai dekat gang belakang. Khem berhenti tepat satu langkah dari dia, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah, seolah telah berlari sejauh rindu yang selama ini menyiksa dirinya. Matanya yang biasanya ceria seperti langit pagi kini merah karena menahan air mata, dan bibirnya bergetar saat ia membuka mulut—kata-kata "maaf" keluar dengan suara yang lembut namun penuh bobot, seperti permata yang dikeluarkan dari dalam hati yang terluka.
"Murni... aku sungguh, sungguh menyesal," ujarnya, setiap suku kata seperti dipukul dengan hati nurani yang jernih. "Kata-kata itu bukanlah yang aku mau ucapkan—aku seperti orang gila yang kehilangan arah, terbawa emosi yang tidak ku mengerti asalnya. Kau adalah orang tersayang dalam hidupku, seperti matahari yang menyinari hari-hariku yang gelap, dan aku malah mencoba menyembunyikannya dengan awan kegelapan sendiri."
Murni merasakan sesuatu yang retak di dalam dinding hati yang ia bangun dengan susah payah setelah pertengkaran itu. Air mata yang selama ini ia tahan mulai mengucur lewat pipinya yang dingin, menyiram bekas luka rasa yang tersimpan dalam. Ia melihat wajah Khem yang dulu pernah menjadi tempat berlindungnya, wajah yang kini penuh dengan kesungguhan—seperti lautan yang dalam namun tenang, siap menerima segala ombak yang datang.
"Aku juga tidak benar, Khem," ucap Murni dengan suara yang lembut seperti angin malam yang menyapu dedaunan kering. "Aku menyimpan rasa cemas dalam hati, menyembunyikannya di balik tembok kecemburuan yang tidak perlu. Kau bukanlah orang yang ingin kubenci dalam sel rasa ragu—kau adalah rumah yang ingin kukunjungi setiap saat, bahkan ketika badai datang mengguncangnya."
Kemudian, seperti aliran sungai yang menemukan jalan kembali ke laut, tangan Khem perlahan-lahan merentang, menyentuh pipi Murni dengan lembut. Jari-jarinya yang kasar karena kerjaannya sebagai tukang kayu itu terasa hangat seperti sinar matahari sore, menghangatkan setiap bagian yang pernah terasa dingin. Ia mengusap air mata Murni dengan lembut, seperti membersihkan permata yang terjatuh ke tanah.
"Kita seperti dua buah pohon yang tumbuh berdampingan, Murni," katanya dengan nada yang penuh makna, seperti sajak yang terucap dari dalam jiwa. "Kadang akar kita bersaing mencari tempat di tanah yang sama, kadang cabang kita saling bersandar saat angin bertiup kencang. Tapi itu semua membuat kita semakin kuat, semakin erat hubungan kita dengan bumi yang memberi kita hidup."
Murni menutup matanya, merasakan getaran hangat dari sentuhan Khem, merasakan kembali getaran cinta yang pernah membuat hatinya berdebar seperti burung yang siap terbang. Ia meraih tangan Khem dengan lembut, menyatukan kedua telapak tangan mereka—seperti dua buah bintang yang akhirnya bertemu di langit malam yang luas.
"Aku mau kita mulai lagi, Khem," ucapnya dengan suara yang tegas namun lembut. "Tidak sebagai orang yang pernah bertengkar, tapi sebagai dua orang yang telah belajar dari setiap kesalahan, setiap kata yang terlontar tanpa pikiran. Kita akan membangun sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya, seperti rumah yang dibangun dengan batu yang lebih kokoh dan atap yang lebih kuat."
Malam mulai menjelma perlahan, menyelimuti kota dengan kain sutra gelap yang dihiasi bintang-bintang kecil. Cahaya lampu jalan mulai menyala satu per satu, seperti titik-titik harapan yang menyala di tengah kegelapan. Khem menarik Murni ke dalam pelukan yang hangat, pelukan yang penuh dengan janji-janji yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata—janji untuk selalu jujur, selalu menghargai, selalu melihat ke dalam hati satu sama lain sebelum berkata apa pun.
Di sudut halaman kos, bunga melati yang tumbuh di pot kecil mulai mekar perlahan, mengeluarkan aroma harum yang meresap ke udara malam. Aroma itu seperti simbol dari hubungan mereka yang baru saja kembali menyatu—harum, lembut, namun tahan lama. Kedua orang itu berdiri di sana, saling memeluk, merasakan detak jantung satu sama lain yang kini berirama sama, seperti irama musik yang indah yang baru saja menemukan iramanya kembali.
Kemudian Khem mengangkat dagu Murni dengan lembut, melihat ke dalam mata wanita yang dicintainya itu—mata yang kini penuh dengan cahaya harapan dan cinta yang tak pernah padam. Bibirnya saling mendekat, seperti dua buah bunga yang akan bersentuhan dalam angin yang lembut, dan ketika mereka bersentuhan, rasanya seperti seluruh alam semesta berhenti sejenak—hanya ada mereka berdua, di tengah malam yang damai, di tengah kota yang terus hidup, di tengah cinta yang telah menemukan jalan kembali ke tempatnya.
"Aku cinta kamu, Murni," bisik Khem dengan suara yang penuh dengan kebenaran. "Sekarang dan selamanya, seperti laut yang mencintai pantai, seperti awan yang mencintai langit."
Murni tersenyum lembut, matanya tetap menatap mata Khem. "Aku cinta kamu juga, Khem," jawabnya dengan nada yang sama penuh kebenaran. "Selalu dan selamanya, seperti tanah yang mencintai akar pohon, seperti hari yang mencintai malam."
Mereka tetap berdiri di sana untuk waktu yang lama, menikmati kedekatan yang telah lama hilang, menikmati kedamaian yang datang setelah badai berlalu. Di sekitar mereka, kehidupan kota terus berjalan—suara motor yang lewat, suara anak-anak yang masih bermain di gang belakang, suara penjual bakso yang sedang menjajakan dagangannya. Tapi bagi mereka berdua, semuanya terdengar seperti musik latar yang indah, musik yang menyertai awal dari babak baru dalam hidup mereka.
Kemudian Khem menarik tangan Murni, mengajaknya berjalan ke arah kedai kopi dekat gang belakang. "Mari kita minum kopi hangat, ya?" katanya dengan senyuman yang kembali ceria seperti dulu. "Kita bisa berbicara tentang banyak hal—tentang rencana kita, tentang rumah yang ingin kita bangun, tentang masa depan yang akan kita lalui bersama."
Murni menyangguk dengan senyuman yang hangat, mengikuti langkah Khem dengan langkah yang ringan dan bahagia. Cahaya lampu jalan menerangi jalan mereka, membuat bayangan mereka bergeser-geser di tanah yang masih sedikit basah dari hujan pagi. Di langit, bulan mulai muncul dari balik awan, menyinari jalan mereka dengan cahaya yang lembut dan damai.
Perjalanan mereka masih panjang, penuh dengan lika-liku yang mungkin akan datang. Tapi mereka tahu, sekarang mereka tidak akan lagi menghadapinya sendirian. Mereka akan berjalan berdampingan, tangan dipegang erat, hati yang saling menyatu—seperti dua buah kapal yang telah menemukan kompas yang benar, siap menjelajahi lautan kehidupan yang luas dan tak terbatas.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Di sudut jauh halaman kos, di balik rerumputan tinggi yang bergoyang lembut seperti lautan hijau dalam hembusan angin, Aksa berdiri diam—badan tertutup bayangan pohon jambu air yang rindangnya membentang seperti kain tirai gelap. Matanya yang biasanya tenang seperti kolam yang tidak bergelombang kini terbakar dengan nyala yang panas, menyaksikan setiap gerakan, setiap sentuhan yang mengalir antara Murni dan Khem.
Ia datang dengan niat yang awalnya murni—ingin melihat bagaimana keadaan Murni setelah pertengkaran yang menggoyahkan, ingin memastikan dia baik-baik saja. Tapi apa yang ia saksikan kini seperti duri tajam yang menusuk dalam, menusuk bagian hati yang telah lama menyimpan rasa yang tak pernah ia ungkapkan dengan jelas. Kesenangan yang terpancar dari wajah Murni seperti matahari tengah hari yang menyilaukan, sementara Khem yang berdiri di sisinya tampak seperti pelindung yang lengkap—dan itu membuat dada Aksa terasa sesak, dipenuhi rasa cemburu yang menggelembung seperti lava dalam gunung yang akan meletus.
"Bagaimana bisa dia begitu mudah menemukan kebahagiaan kembali?" bisik hati Aksa, suaranya hanya terdengar dalam gema jiwanya sendiri. Udara malam yang seharusnya menyegarkan kini terasa panas dan berat di paru-parunya, seperti menghirup asap dari bara api yang tak pernah padam. Ia melihat bagaimana tangan mereka saling terjalin, bagaimana senyuman Murni menyinari wajahnya seperti bintang yang muncul setelah badai—senyuman yang dulu pernah ia lihat ketika mereka bersama-sama belajar di halaman sekolah, ketika ia membantu dia mengangkat tas yang berat, ketika mereka berbagi kelapa muda di tepi pantai .
Rasa cemburu merambat seperti akar yang tumbuh cepat di dalam dirinya, menjalar ke setiap bagian tubuhnya, membuat setiap uratnya terasa panas dan kaku. Ia menggerakkan tangannya perlahan, menyentuh ranting pohon yang berada di dekatnya—ranting itu patah dengan mudah di tangannya, seperti harapan yang hancur tanpa suara. Daun-daunnya yang hijau segar jatuh ke tanah basah, seperti air mata yang tak pernah ia biarkan mengalir.
"Aksa?"
Suara lembut itu membuatnya terkejut, membuat tubuhnya sedikit bergetar. Ia menoleh ke belakang dan melihat Tante Tutut—pemilik kos yang selalu ramah, wajahnya kini penuh dengan rasa prihatin yang terlukis jelas di antara kerutan wajahnya yang terbentuk oleh usia. Wanita itu berdiri dengan tangan yang menyangga pinggang, mengenakan baju batik warna biru tua yang bergoyang lembut seperti ombak laut, sementara matanya yang meruncing melihat ke arah Aksa, kemudian ke arah Murni dan Khem yang kini sedang berjalan menjauh ke arah kedai kopi.
"Tante melihatmu dari dalam rumah," ujar Tante Tutut dengan nada yang lembut namun penuh makna, seperti angin yang menyapa dedaunan yang gelisah. "Hati yang penuh dengan rasa tak tersampaikan seperti wadah air yang penuh terlalu banyak—akhirnya akan tumpah dan membahayakan apa yang ada di sekelilingnya."
Aksa menurunkan pandangannya, melihat ranting yang patah di tangannya. Daun-daunnya sudah mulai layu di udara malam, kehijauannya memudar sedikit demi sedikit. Ia merasakan sesuatu yang sesak di tenggorokannya, seperti ada batu yang terjepit di sana. "Tante... mengapa cinta bisa begitu menyakitkan?" tanyanya dengan suara yang lembut, seperti bisikan angin yang tersesat di antara pepohonan.
Tante Tutut mendekat dan menepuk bahu Aksa dengan lembut, tangan nya yang kasar karena bekerja keras sehari-hari terasa hangat seperti cokelat yang meleleh. "Cinta itu seperti bunga yang indah, nak," jawabnya dengan nada yang seperti dongeng kuno yang penuh hikmah. "Jika kamu memaksanya tumbuh di tempat yang tidak sesuai, ia akan layu dan mati. Tapi jika kamu memberi dia ruang untuk tumbuh di tanah yang tepat—bahkan jika itu bukan di sisi kamu—ia akan mekar dengan cantik dan mengharumkan dunia dengan keindahannya."
Aksa menoleh kembali ke arah jalan yang telah ditempuh Murni dan Khem. Cahaya lampu jalan menerangi jalan mereka, membuat bayangan mereka tampak seperti dua sosok yang satu kesatuan, tak terpisahkan lagi. Ia merasakan rasa sakit yang perlahan mulai mereda, digantikan oleh sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang seperti pengertian yang lambat laun menyebar seperti air yang meresap ke dalam tanah kering.
Ia melepaskan ranting yang patah dari tangannya, membiarkannya jatuh ke tanah yang penuh dengan dedaunan kering dan daun-daun baru yang tumbuh. Ia tahu bahwa perasaan yang ada di dalam hatinya tidak akan hilang dalam sekejap, seperti hutan yang terbakar tidak akan kembali hijau dalam semalam. Tapi ia juga tahu bahwa cinta sejati bukanlah tentang memaksa atau menyimpan rasa benci—melainkan tentang melihat orang yang dicintai bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu tidak datang dari dirinya sendiri.
"Terima kasih, Tante," ucap Aksa dengan suara yang sudah lebih tenang, seperti kolam yang kembali tenang setelah ombak berlalu. Ia melihat ke arah rumah kos yang teduh, kemudian ke langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar seperti permata di kain gelap malam. "Mungkin aku perlu waktu untuk memahaminya sepenuhnya, tapi aku akan mencoba."
Tante Tutut tersenyum lembut, menyisir rambut Aksa yang berantakan karena angin dengan jemari yang lembut. "Waktu adalah obat terbaik untuk setiap luka hati, nak," katanya. "Dan ketika waktunya tiba, kamu akan menemukan bunga cinta yang sesungguhnya untukmu—bunga yang akan tumbuh kuat dan mekar dengan indah di sisi kamu."
Aksa mengangguk, merasakan udara malam yang kini kembali segar di paru-parunya. Ia melihat ke arah langit yang luas, melihat bagaimana bulan sedang bersinar terang di antara awan yang tipis seperti kain sutra. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan rasa damai menyelimuti dirinya—damai yang datang setelah badai emosi yang melanda, damai yang datang ketika hati akhirnya bersedia menerima apa yang tidak bisa diubah.
Ketika ia membuka mata kembali, wajahnya sudah lebih tenang. Ia berbalik dan mengikuti Tante Tutut yang mulai berjalan kembali ke dalam rumah kos, langkahnya kini lebih ringan dari sebelumnya. Di kejauhan, suara tawa Murni terdengar jelas di udara malam yang tenang—suara yang ceria seperti burung berkicau di pagi hari, suara yang akan selalu menjadi bagian dari kenangan indah dalam hidupnya.
Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuhnya masih panjang, penuh dengan lika-liku dan kemungkinan yang tak terduga. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak akan lagi menyembunyikan diri di balik rerumputan tinggi atau menyimpan rasa cemburu dalam hati yang dalam. Ia akan menghadapi setiap hari dengan hati yang terbuka, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, cinta akan datang kepadanya dengan sendirinya—seperti embun yang turun secara perlahan di atas bunga yang sedang menunggu untuk mekar.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Di dalam kamar kos yang sederhana namun rapi, Aksa duduk di depan meja kecil yang ditutupi kain batik warna coklat tua. Layar ponselnya bersinar lembut seperti matahari yang muncul dari balik awan, menampilkan kolom pesan yang sudah ia ketik dan hapus berkali-kali. Akhirnya, setelah menatap layar selama beberapa menit sambil menggerakkan jempolnya seperti seorang seniman yang sedang menyusun kata-kata emas, ia menekan tombol kirim dengan hati yang berat namun tangan yang mantap.
"Kalian baikan ya, semoga bahagia selalu. Salam hangat, Aksa."
Pesan singkat itu terbang melalui gelombang udara seperti burung kecil yang membawa pesan tak terucapkan. Di layar, ikon centang biru muncul satu demi satu—menandakan pesan telah sampai, telah dibaca. Dalam hati Aksa, suara kecil yang rela terus berbisik, tapi suara yang lebih kuat—suara yang bersumpah untuk melupakan—menutupinya seperti ombak yang menutupi jejak kaki di pasir pantai.
Ia meletakkan ponsel di atas meja dengan lembut, seolah itu adalah barang rapuh yang bisa pecah kapan saja. Matanya melirik ke arah cermin yang berada di sudut kamar—di sana, ia melihat wajahnya sendiri yang masih muda namun sudah penuh dengan beban rasa yang tak bisa diutarakan. Bibirnya yang biasanya sedikit mengerut karena pikiran kini tertutup rapat seperti bunga yang menutup kelopaknya saat malam tiba.
"Hati ini memang tidak rela," bisiknya pelan, suara terdengar seperti bisikan angin yang menyapu daun kering di lantai kamar. "Namun seperti lautan yang harus menerima bahwa kapal telah berlayar menjauh, aku harus belajar untuk merelakanmu pergi, Murni."
Ia berdiri dan berjalan ke jendela kamar yang menghadap ke halaman kos. Cahaya bulan yang lembut menyelinap masuk seperti kain sutra yang lembut, menerangi sudut-sudut kamar yang gelap. Di luar, pepohonan yang bergoyang perlahan seolah sedang menari dengan irama malam, sementara bintang-bintang di langit tampak seperti mata yang sedang menyaksikan setiap langkah yang ia ambil.
Aksa menarik nafas dalam-dalam, merasakan aroma daun kemangi yang tumbuh di pot di luar jendela menyegarkan paru-parunya. Ia mengangkat tangan ke arah langit, seperti ingin menyentuh bintang yang paling terang—seperti ingin menangkap harapan yang masih bersinar di tengah kegelapan rasa yang melanda dirinya. "Aku harus mencari sesuatu yang baru," ujarnya pada dirinya sendiri, dengan nada yang penuh tekad. "Seperti petualang yang harus meninggalkan desa lamanya untuk menemukan dunia yang lebih luas, aku harus mencari target baru untuk melupakanmu."
Hari berikutnya pagi, matahari terbit dengan keindahan yang memukau—langit berubah warna dari merah muda seperti kelopak mawar menjadi jingga seperti buah nangka yang matang, kemudian menjadi biru muda seperti permukaan laut yang tenang. Aksa berdiri di depan cermin, mengenakan baju koko warna biru muda yang selalu membuatnya tampak lebih muda dan ceria. Ia menyisir rambutnya dengan hati-hati, seperti seorang seniman yang sedang menyusun karya terbaiknya, kemudian memandang diri sendiri di cermin dengan pandangan yang tegas.
"Hari ini adalah awal dari babak baru," katanya, sambil memberikan senyuman pada bayangannya di cermin—senyuman yang mungkin belum sepenuhnya tulus, tapi sudah cukup untuk menyembunyikan rasa sakit yang ada di dalam hati.
Ia keluar dari kamar dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya, menyapa setiap penghuni kos yang ia temui dengan senyuman yang hangat. Di halaman kos, ia melihat sekelompok anak muda sedang duduk berkerumun di bawah pohon jambu air yang rindang, salah satunya adalah Amara—wanita cantik dengan rambut panjang yang gelap seperti malam, mata yang tajam seperti bintang kembar, dan senyuman yang hangat seperti cokelat panas di hari hujan.
Amara adalah mahasiswi sastra dari universitas ternama, yang baru saja pindah ke kos itu tiga bulan yang lalu. Ia selalu suka berbicara tentang puisi dan novel, tentang dunia yang ada di balik kata-kata yang diatur dengan indah. Kadang-kadang, Aksa melihatnya duduk di bawah pohon itu, menulis sesuatu di buku catatannya sambil sesekali mengangkat pandangan ke langit seolah sedang mencari inspirasi dari awan yang melayang.
Pada hari itu, sinar matahari menerangi wajah Amara dengan cantik, membuat rambutnya bersinar seperti tali emas yang kusut namun indah. Ia sedang membaca puisi dengan suara yang lembut namun jelas, suara yang seperti musik yang mengalir lembut di udara pagi. Aksa berhenti sejenak di dekat kelompok itu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya—kata-kata yang penuh dengan makna dan keindahan, seperti permata yang dikeluarkan dari dalam hati.
"...seperti awan yang mencari langit baru, seperti sungai yang mencari laut yang belum pernah ditemui, cinta datang dengan sendirinya ketika kita sudah siap untuk menerimanya..."
Suara Amara berhenti sejenak ketika ia melihat Aksa yang sedang berdiri di dekatnya. Ia memberikan senyuman yang hangat, membuat wajahnya tampak lebih ceria seperti bunga matahari yang menghadap matahari. "Hai Aksa, mau duduk bersama kita?" tanyanya dengan suara yang ramah.
Aksa merasa hati nya berdebar sedikit—bukan seperti ketika ia melihat Murni, tapi seperti ketika ia menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Ia mengangguk dengan senyuman, kemudian duduk di kursi kosong yang ada di dekat Amara. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma parfum Amara yang lembut seperti bunga melati, membuatnya merasa lebih rileks dari biasanya.
Selama beberapa saat, mereka berbincang tentang berbagai hal—tentang buku yang baru saja mereka baca, tentang cuaca yang cerah , tentang acara yang akan diadakan di universitas minggu depan. Aksa merasa terpesona dengan cara Amara berbicara—setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti puisi yang hidup, seperti melodi yang menyentuh hati. Ia melihat bagaimana mata Amara bersinar ketika berbicara tentang hal-hal yang ia cintai, seperti bintang yang bersinar terang di langit malam yang gelap.
Di dalam hati Aksa, rasa sakit yang dulu selalu muncul ketika ia melihat Murni mulai perlahan-lahan tersembunyi, digantikan oleh rasa penasaran yang baru—rasa penasaran tentang wanita yang sedang duduk di sebelahnya, tentang dunia yang ada di balik senyuman dan kata-katanya yang indah. Ia tahu bahwa perasaan baru ini belum bisa menggantikan cinta yang ia miliki untuk Murni—seperti matahari pagi belum bisa menggantikan keindahan bulan malam. Tapi ia juga tahu bahwa ini adalah langkah pertama yang benar untuk melupakan masa lalu, untuk membuka hati pada kemungkinan baru yang ada di depannya.
Ketika pagi mulai bergeser ke siang, Aksa berdiri dengan senyuman yang lebih tulus dari sebelumnya. Ia melihat ke arah Amara dengan pandangan yang penuh penghargaan. "Terima kasih sudah mengajakku duduk bersama," katanya dengan suara yang lembut. "Kita bisa berbincang lagi nanti ya? Mungkin kamu bisa membacakan puisi lain untukku."
Amara mengangguk dengan senyuman yang ceria. "Tentu saja, Aksa," jawabnya. "Kita bisa bertemu di sini lagi besok pagi. Aku punya banyak puisi yang belum kubaca untuk orang lain."
Aksa mengangguk, kemudian berjalan menjauh dengan langkah yang lebih ringan dan bahagia. Di jalan pulang ke tempat kerjanya , ia melihat dunia dengan mata yang sedikit berbeda—langit tampak lebih biru, pepohonan tampak lebih hijau, dan setiap orang yang ia temui tampak lebih ramah. Ia tahu bahwa perjalanan untuk melupakan Murni masih panjang, seperti jalan yang melengkung ke dalam hutan yang dalam. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak lagi sendirian di jalan itu—ada kemungkinan baru yang menanti, ada orang-orang baru yang akan datang ke dalam hidupnya, dan mungkin, suatu hari nanti, ia akan menemukan cinta yang sesungguhnya untuk dirinya sendiri.
Di kantong celananya, ponselnya berbunyi lembut—ada pesan dari Murni. Ia menariknya dengan hati-hati, melihat layar yang menampilkan kata-kata yang hangat: "Terima kasih Aksa, semoga kamu juga menemukan kebahagiaan yang sebenarnya."
Aksa tersenyum lembut, kemudian mengetik balasan singkat: "Amin, semoga kita semua bahagia dalam caranya masing-masing."
Ia menekan tombol kirim, kemudian memasukkan ponsel kembali ke kantongnya. Ia melihat ke arah langit yang cerah, melihat bagaimana awan melayang dengan bebas seperti kapal yang sedang berlayar ke arah tujuan yang belum diketahui. Di dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terus berjalan maju, bahwa ia akan terus mencari kebahagiaan—bahkan jika itu berarti harus meninggalkan masa lalu yang indah namun sudah tidak bisa diulang lagi.
Seperti pelaut yang harus meninggalkan pelabuhan yang aman untuk menjelajahi lautan yang luas, Aksa kini siap untuk menghadapi dunia dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih. Ia tahu bahwa ada banyak hal yang akan datang—kadang indah, kadang menyakitkan, tapi semua itu akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang unik dan berharga.
...