NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tanggung Jawab

Setelah melewati perdebatan panjang dengan sang suami, akhirnya umi Fatimah terpaksa harus menurut padanya bahwa hari ini mereka harus bertemu dengan Intan. Mereka harus berbicara langsung pada Intan dan mencari jalan keluar atas masalah Intan dan Aldy.

Minggu siang Aldy akhirnya membawa Intan ke rumah untuk diperkenalkan dengan abi dan umi.

Intan duduk bersebelahan dengan Aldy di sofa ruang tamu. Sedangkan di depan mereka ada umi Fatimah dan abi Abdul yang sejak tadi menatap Intan dengan tatapan dingin.

"Jadi kamu yakin bahwa janin dalam perut kamu itu anaknya Aldy...?'' tanya umi Fatimah tidak ingin berbasa- basi.

"I...iya tante..." jawab Intan yang sejak tadi nampak gemetar karena rasa canggung dan grogi berhadapan dengan kedua orang tua Aldy.

"Dan kamu yakin ,kamu tidak berhubungan dengan laki- laki lain selain dengan putra saya...?'' tanya umi Fatimah dengan menampilkan wajah tidak suka pada Intan.

"Tidak tante sungguh... saya tidak melakukannya selain dengan mas Aldy..." jawab Intan sambil melihat ke arah umi Fatimah.

"Apa buktinya kalau kamu tidak berhubungan dengan laki- laki lain selain anak saya...?'' tanya umi Fatimah.

Intan terdiam, dia memang tidak punya bukti kalau dia tidak tidur dengan laki- laki lain selain Aldy.

"Kenapa kamu diam...? Kamu tidak punya bukti kan...? Lalu bagaimana saya bisa percaya sama kamu, kalau kamu tidak pernah tidur dengan laki- laki lain ..." ucap umi Fatimah.

"Saya memang tidak punya bukti apa- apa tante... tapi saya bicara jujur dan apa adanya. Apa tante bisa melihat ada kebohongan di mata saya...?'' sahut Intan.

Umi Fatimah mendengus kesal. Bagaimana tidak, umi Fatimah meminta Intan untuk menujukkan bukti, tapi Intan malah memintanya untuk mencari apakah ada kebohongan atau tidak di matanya.

"Kamu ini kan seorang p*lacur, yang namanya p*lacur itu kan kerjanya melayani laki- laki hidung belang. Tapi tadi kamu bilang kamu hanya berhubungan dengan Aldy saja. Bagaimana saya bisa percaya begitu saja sama kamu..." ucap umi Fatimah tanpa tedeng aling- aling lagi.

"Umi... Jaga bicaramu..." sahut abi Abdul karena menurutnya perkataan sang istri terlalu berlebihan.

Iya, tentu saja abi Abdul menjadi tidak enak pada Intan. Begitu juga dengan Aldy, namun dia hanya bisa diam. Karena kalau Aldy protes, uminya itu pasti akan marah padanya.

"Maaf tante... Tapi saya bukan p*lacur. Saya hanya seorang waiters..." jawab Intan.

Mendengar jawaban Intan, umi Fatimah tertawa.

"Eh Intan... Kalau kamu bukan p*lacur, lalu kenapa kamu mau ditiduri oleh anak saya...? Kalau kamu perempuan baik- baik, seharusnya kamu menolaknya dong. Bukannya kamu malah melayaninya. Itu artinya kamu sama saja seperti p*lacur..." sahut umi Fatimah merasa geram pada Intan.

"Umi... Tolong jangan bicara seperti itu..." ucap Aldy merasa tidak enak pada Intan.

"Diam kamu Aldy...!"Aldy malah kena semprot oleh umi Fatimah.

''Tante... Pasti mas Aldy sudah cerita sama tante dan om , kalau saat itu mas Aldy sedang dalam pengaruh obat p*rangs*ng kan tante...? Saya sudah berusaha menolaknya tapi....

"Tapi apa...? Tapi kamu keenakan...? Hah...?" sahut umi Fatimah.

"Umi... Tolong jangan bicara seperti itu..." ucap Aldy karena apa yang dikatakan oleh ya terlalu berlebihan.

Umi Fatimah melirik ke arah Aldy lalu mendengus kesal. Sedangkan Intan terdiam menunduk sambil menggenggam tangannya sendiri. Iya, Intan benar- benar malu atas apa yang diucapkan oleh umi Fatimah padanya.

Padahal saat tadi Aldy datang ke rumah menjemputnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, Intan merasa senang. Intan mengira kedua orang tua Aldy menerimanya untuk menjadi menantunya. Tapi nyatanya dia malah dipermalukan oleh orang tua Aldy.

Namun walaupun begitu, intan tidak bisa berbuat apa- apa selain hanya diam menahan rasa sedih bercampur malu.

"Dengar ya Intan... Perempuan yang hamil di luar nikah itu tidak berhak menuntut pertanggung jawaban pada ayah biologisnya. Dan jika anak itu lahir, nasabnya ada sama kamu. Dan nanti anak itu juga tidak berhak mendapat warisan dari ayah biologisnya..." ucap umi Fatimah.

"Tapi tante...Mas Aldy sudah janji sama saya kalau dia akan tanggung jawab..." sahut Intan sambil menoleh sekilas pada Aldy.

"Begini Intan... Anak saya Aldy memang akan tanggung jawab. Tapi tidak dengan menikahimu..." jawab umi Fatimah dengan tegas.

"Ma...maksud tante...?'' tanya Intan.

Umi Fatimah lalu memberitahu Intan bahwa Aldy akan membiayai kebutuhan Intan selama hamil. Dari mulai makanan hingga biaya periksa ke dokter dan biaya persalinan.

"Mas... Tadi mas Aldy bilang mau menikahi Intan kan..." ucap Intan pada Aldy.

"Iya Intan ... Tapi tidak untuk saat ini..." sahut Aldy.

"Lalu kapan mas...?" tanya Intan.

"Ya ampun Intan... Memangnya kamu ini tidak tahu agama ya..? Perempuan yang dalam keadaan hamil itu tidak saha jika dinikahi. Tapi wajar sih, pelacur sepertimu mana ngerti soal aturan agama. Kalau soal zina, baru paham, karena itu pekerjaan kamu..." sahut Umi Fatimah langsung menyela.

"Umi... Tolong jaga bicaramu, tidak perlu menghina seperti itu...." sahut abi Abdul. Dan lagi- lagi umi Fatimah mendengus kesal karena kembali ditegur.

"Saya jelaskan sekali lagi ya Intan. Menurut agama islam ,perempuan yang sedang hamil itu tidak sah untuk dinikahi. Jadi kamu harus melahirkan dulu baru Aldy akan menikahimu. Dan itu pun kami akan melakukan tes DNA terlebih dulu, untuk memastikan apakah anak itu anak biologis Aldy atau bukan. Bisa saja kan itu bukan anak Aldy..." sambung umi Fatimah.

Mendengar perkataan umi Fatimah, Intan segera menghapus air matanya yang tiba- tiba menetes di kedua pipinya. Iya, Intan begitu sedih karena umi Fatimah masih tidak percaya kalau bayi dalam perutnya anak biologis Aldy.

"Mas... Lalu bagaimana dengan Intan... Pasti Intan akan jadi gunjingan tetangga karena hamil tanpa suami...?'' tanya Intan sambil menahan tangisnya.

"Intan..." ucap Aldy sambil menatap wajah Intan.

Lalu Aldy memberitahu bahwa dia akan menyediakan sebuah rumah untuk tempat tinggal Intan selama menjalani kehamilan. Aldy juga berjanji akan mengurus segala keperluan Intan termasuk biaya periksa ke dokter hingga persalinan.

"Tapi setelah aku lahiran mas Aldy mau menikahiku kan mas...?'' tanya Intan.

"Ya tergantung hasil tes DNA nanti dong. Kan tadi sudah saya jelaskan, kami masih ragu kalau bayi dalam perutmu itu beneran anaknya Aldy atau bukan..." lagi- lagi umi Fatimah menyelak.

"Lagian ya Intan... Seharusnya kamu tuh bersyukur Aldy mau tanggung jawab membiayai hidupmu dan calon bayimu. Jangan ngelunjak dong kamu ya..." sambung umi Fatimah.

"Umiii,...." ucap abi Abdul.

"Abis umi kesal bi...dia nggak ada terima kasihnya sama sekali, sudah untung kita masih punya hati mau menanggung hidupnya, eh dia malah menuntut minta dinikahi segala... Dasar perempuan tidak tahu diri. Kalau tidak siap hamil ya jangan berzina dong..." sahut Umi Fatimah sambil melirik ke arah Intan.

Intan terdiam. Iya, berada di tengah- tengah keluarga Aldy, Intan merasa sedang menjadi terdakwa yang sedang dihakimi. Rasanya sedih, malu, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Namun Intan tidak bisa berbuat apa- apa.

"Bagaimana Intan... Apa kamu setuju dengan apa yang kami tawarkan...?'' tanya abi Abdul.

Intan menoleh pada Abdul, dia nampak berpikir beberapa saat.

''Buruan jawab...! jangan lama- lama...! Mau tidak...? Kalau tidak mau ya sudah, kamu pergi dari kehidupan Aldy dan tidak usah meminta pertanggung jawaban..." umi Fatimah nampak tidak sabar karena Intan tidak langsung menjawab pertanyaan abi Abdul.

"Umi... Jangan begitu... Kan Intan juga harus berpikir dulu sebelum menentukan pilihan..." ucap Abi Abdul.

"Pake segala berpikir... Apa susahnya sih tinggal jawab aja..." gumam umi Fatimah dengan ketus.

"Ba...baiklah... Saya mau menerima tawaran itu..." akhirnya Intan memberikan jawaban.

Iya, setelah dipikir- pikir, Intan lebih memilih tinggal di rumah yang akan disediakan oleh Aldy selama menjalani kehamilan hingga persalinan nanti. Untuk ke depannya apakah Aldy akan menikahinya atau tidak, itu urusan nanti.

Karena bagi Intan dia harus keluar dari rumah sang ibu terlebih dulu untuk menghindari gunjingan dari para tetangga.

Namun dalam hati Intan begitu berharap Aldy akan menikahinya setelah anak itu lahir.

"Baiklah Intan... Minggu besok saya akan menjemputmu untuk pindah ke rumah yang saya siapkan untuk kamu tinggal..." ucap Aldy.

"Eh tapi ingat ya Intan... Kamu harus tutup mulut, jangan memberitahu siapapun kalau anak dalam perutmu itu anaknya Aldy. Karena itu belum tentu anaknya Aldy..." sahut umi Fatimah.

Intan terdiam dan hanya menoleh sekilas pada umi Fatimah lalu dia menundukkan kepalanya.

"Kamu dengar tidak apa yang saya katakan...!'' tanya umi Fatimah dengan ketus.

"I..iya dengar tante..." jawab Intan sambil mengangguk.

"Kalau dengar ya jawab dong jangan diam saja....!'' sahut umi Fatimah lagi- lagi dengan nada ketus.

"Iya tante... Saya tidak akan bicara apapun tentang bayi ini..." jawab Intan menahan tangisnya sambil mengusap perut.

"Umi... Tolong jangan bersikap seperti itu sama Intan..." ucap Aldy yang sejak tadi merasa tidak enak hati pada Intan atas sikap Umi.

"Jadi kamu lebih belain Intan...!'' kali ini umi Fatimah nampak kesal pada Aldy.

"Bukan begitu umi....

"Eh dengar ya Aldy... Umi sengaja bicara ketus sama Intan karena umi kesal sama dia...gara- gara perempuan itu, kamu jadi rusak. Kamu anak umi yang paling sholeh, tapi kamu melakukan dosa besar karena dia...!'' ucap umi Fatimah sambil menunjuk Intan.

"Umi benar- benar tidak bisa terima itu Aldy...! Kamu anak kesayangan umi, sekarang jadi rusak gara- gara p*lacur itu...! Hik...hik..." umi Fatimah menangis.

"Umi... Itu kesalahan Aldy umi... Aldy minta maaf..." Aldy menggenggam tangan umi.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Setelah berpamitan pada abi Abdul dan Umi Fatimah, Intan diantar pulang oleh Aldy menggunakan mobil. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Intan nampak diam dan terlihat murung. Iya, tentu saja Intan terus teringat dengan semua perkataan umi Fatimah yang membuatnya sakit hati.

Intan sadar kalau dia sudah melakukan dosa besar bersama Aldy. Tapi sekali lagi itu tidak pernah direncanakan oleh Intan. Semua itu terjadi begitu saja tanpa bisa Intan cegah.

Dan yang lebih sakit lagi adalah ketika umi Fatimah terus menghina Intan dengan sebutan p*lacur yang sering melayani laki- laki hidung belang. Bahkan umi bersikap bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Aldy malam itu adalah kesalahan Intan.

Umi Fatimah menganggap Intan lah yang telah merusak Aldy. Belum lagi tuduhan umi Fatimah yang mengatakan kalau Intan lah yang telah sengaja mencampurkan obat p*rangs*ang ke dalam minuman Aldy.

"Intan..." ucap Aldy.

Intan pun menoleh Aldy yang sedang mengemudi.

"Iya mas... " sahut Intan.

"Saya minta maaf atas sikap umi tadi..." ucap Aldy.

Intan terdiam beberapa saat.

"Mas... Tadi saat mas Aldy menjemput Intan, mas Aldy bilang mau menikahi Intan. Tapi kenapa umi nya mas Aldy malah bilang kalau mas Aldy tidak berkewajiban untuk menikahi Intan...?'' tanya Intan.

"Dan kenapa harus ada tes DNA segala. Apa mas Aldy juga masih belum yakin kalau anak ini anak mas Aldy...?'' sambung Intan sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Aldy terdiam bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang lontarkan oleh Intan.

"Atau jangan- jangan mas Aldy juga menganggap Intan sebagai p*lacur yang biasa dijamah oleh banyak laki- laki sehingga mas Aldy ragu dan tidak ingin menikahi Intan...?'' lanjut Intan.

"Intan... Bukan seperti itu. Kamu harusnya mengerti akan posisi saya. Saya juga tidak bisa menentang Umi. Semua harus persetujuan keluarga saya. Saya tidak bisa bertindak sesuai kemauan sendiri. Saya harap kamu mengerti Intan..." jawab Aldy.

"Kamu tadi sudah dengar sendiri kan, kalau saya akan bertanggung jawab atas anak itu. Tolong jangan membahas tentang nikah dulu. Yang terpenting bagaimana anak dalam perutmu bisa diurus dengan baik. Saya akan mengupayakan yang terbaik untuk kamu dan anakmu Intan..." sambung Aldy.

"Anak kita mas.... Ini anak kita... Yang ada di dalam perut ini, anak aku dan kamu mas...." Intan tidak terima kalau Aldy menyebut anak itu dengan sebutan 'anakmu' bukan 'anak kita'.

Dan Aldy hanya menghela nafas mendengar sahutan Intan. Iya awalnya Aldy percaya bahwa bayi dalam kandungan Intan adalah anaknya. Namun di sisi lain ada rasa ragu, mengingat pekerjaan Intan di tempat hiburan malam yang tentu saja banyak pria hidung belang yang menggodanya di sana.

Apa lagi wajah Intan yang begitu cantik pasti banyak pria di tempat hiburan malam yang tertarik padanya. Bisa saja kan, jika mereka memakai Intan untuk memuaskan hasratnya. Karena apapun bisa terjadi sana.

Ditambah lagi umi Fatimah yang terus menyakinkan Aldy kalau anak tersebut bukan anak Aldy. Bahkan umi mengatakan kalau anak dalam kandungan Intan adalah anak hasil rame- rame, jadi tidak jelas siapa ayah biologisnya. Dan sampai detik ini umi Fatimah masih menganggap Intan p*lacur.

Karena menurut umi Fatimah, jika Intan perempuan baik- baik, dia tidak akan bekerja di tempat maksiat. Dan menurutnya setiap orang yang bekerja di tempat tersebut bukan lah orang baik melainkan orang yang gemar bermaksiat.

Dan berkat ucapan umi Fatimah, hati Aldy menjadi goyah dan ragu pada Intan. Oleh karena itu Aldy setuju pada uminya bahwa setelah anak itu lahir, akan dilakukan tes DNA agar semuanya jelas siapa ayah biologisnya.

INTAN

ALDY

Bersambung....

1
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!