NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu, Jema mondar-mandir di kamarnya.

Ia berhenti di depan cermin, menatap bayangannya sendiri.

“Baik, Jema,” gumamnya.

“Kita akan mengajak pria paling dingin di planet ini ke pesta pernikahan.”

Ia menarik napas dalam.

“Tanpa mati.”

Dengan langkah mantap, Jema keluar kamar dan mengetuk pintu di seberangnya.

Tok.

Tak ada jawaban.

Tok. Tok.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Lucane berdiri dengan kemeja rumah rapi, lengan digulung, ekspresinya… tentu saja datar.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Jema tersenyum lebar senyum yang biasanya ia pakai sebelum mengajukan permintaan aneh.

“Besok aku mau ke pesta pernikahan temanku.”

Lucane menatapnya.

“Lalu?”

“Aku diundang datang dengan pasangan,” lanjut Jema enteng.

“Dan secara teknis… kamu pasangan itu.”

Hening.

Lucane menyilangkan tangan.

“Itu bukan kewajiban dalam kontrak.”

Jema mengangguk cepat.

“Benar. Makanya aku mengajak, bukan memaksa.”

Ia bersandar santai ke kusen pintu.

“Lagipula, kamu tidak rugi. Datang, duduk manis, makan gratis, pulang.”

Lucane menatapnya tajam.

“Aku tidak menghadiri acara pribadi tanpa kepentingan.”

“Hmm,” Jema berpikir sejenak.

“Baiklah. Kepentingannya reputasi.”

Lucane mengangkat alis tipis.

“Kau sudah menikah. Jika aku tidak hadir, gosip akan muncul.”

Lucane terdiam.

Jema mendekat satu langkah.

“Aku tidak minta kamu senyum. tidak minta kamu ngobrol. Cukup berdiri di sampingku. Diam pun aura kamu mahal.”

Lucane menatapnya lama.

“Kau berisik.”

Jema tersenyum puas.

“Itu pujian.”

Hening kembali.

Lucane akhirnya berkata, “Jam berapa?”

Jema terdiam… lalu matanya membesar.

“Hah?”

“Jam berapa acaranya,” ulang Lucane datar.

Jema langsung terkekeh kecil.

“Siang. Aku siapin jasnya?”

“Aku punya,” jawab Lucane singkat.

“Oh. Tentu saja,” Jema mendecak.

“Pertanyaan bodoh.”

Lucane hendak menutup pintu.

“Oh iya!” Jema cepat menahan.

“Terima kasih.”

Lucane berhenti sejenak.

“Jangan terlambat,” katanya singkat.

Pintu tertutup.

Jema berdiri beberapa detik… lalu melonjak kecil.

“YES!”

Ia menutup mulutnya cepat-cepat.

“Tenang, Jema. Tenang. Jangan terlalu kelihatan kampungan.”

Di balik pintu, Lucane berdiri diam.

Entah sejak kapan, undangan pernikahan yang tidak ada di jadwalnya menjadi sesuatu yang ia setujui tanpa debat panjang.

* * * *

Setelah memastikan Jema masuk ke kamarnya Lucane pun bergegas pergi meninggalkan Mansion nya.

Sebuah ruang pertemuan bawah tanah di hotel mewah yang dia miliki.

Ada tiga bos mafia besar dari negara berbeda.

Mereka datang untuk negosiasi wilayah pelabuhan hal yang biasanya berakhir dengan perang.

Bos pertama emosi.

Bos kedua menggebrak meja.

Bos ketiga bawa bodyguard bersenjata.

Pintu terbuka.

Dia masuk, hanya memakai setelan gelap dan gelang jam.

Langkahnya pelan.

Tidak ada suara selain sepatu yang menapak marmer.

Semua orang berhenti bicara.

Ia duduk.

Menyilangkan kaki.

Tidak takut sedikit pun.

Lucane berkata pelan:

“Aku undang kalian ke tempatku bukan untuk adu ego.”

“Kota ini tidak akan jadi lahan perang.”

Bos pertama mendengus.

“Ini bukan urusanmu.”

Dia tersenyum tipis senyum berbahaya.

“Sebenarnya ini sangat urusanku.

Pelabuhan itu berada dalam wilayah bisnis ekspor-impor milikku.”

Ia menatap salah satu bodyguard bersenjata.

“Dan aku tidak mengizinkan senjata tidak legal melintasi lahan milik perusahaanku.”

Para mafia mulai gelisah.

Dia meletakkan sebuah amplop hitam di meja.

“Di dalam ini ada bukti bahwa dua dari kalian sudah membocorkan informasi internal ke faksi Rusia.”

“Jika amplop ini keluar dari ruangan ini, perang kalian tidak lagi dengan rival, tapi dengan pemerintah.”

Sunyi.

Mereka tahu dia tidak main-main.

Lucane menutup pembicaraan

“Aku berikan kalian kesepakatan baru.

Kalian patuhi garis wilayah yang kutetapkan.

Tidak ada transaksi tanpa persetujuan.

Tidak ada chaos di kotaku.”

Ia berdiri perlahan.

“Jika kalian setuju, kita minum.

Jika tidak… kalian boleh mencoba keberuntungan menghadapi tiga negara dan satu konglomerat besar.”

Tatapan mafia saling bertemu… lalu mereka mengangguk.

Pertemuan selesai.

Tanpa kekerasan.

Tanpa senjata.

Hanya dengan keberadaannya.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!