NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan di Taman Senja yang Sunyi

Suara itu bergema di dalam kesadarannya, hangat namun penuh dengan lapisan-lapisan kelelahan dan penyesalan yang sedalam samudra. Xu Hao membeku, tangannya masih menggenggam gagang pedang hitam yang dingin. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena pengakuan yang tiba-tiba. Itu adalah suara Xu Tianmu, Pamannya.

Namun, setelah momen kejutan itu berlalu, naluri kultivasinya yang tinggi segera menganalisis. Suara ini tidak hidup. Tidak ada kesadaran, tidak ada kehadiran jiwa. Ini hanyalah rekaman suara yang disimpan, diaktifkan oleh sentuhan darahnya atau oleh kontak dengan pedang itu. Sebuah pesan yang ditinggalkan.

"Keponakanku... akhirnya kau datang."

Kalimat pembuka itu saja sudah membuat dada Xu Hao sesak oleh gelombang emosi yang kompleks. Rasa rindu, kerinduan akan keluarga, amarah terhadap takdir, dan sebuah pengharapan yang mendalam bercampur menjadi satu.

Suara pamannya itu melanjutkan, seolah-olah menjawab pertanyaan yang belum sempat terucap.

"Aku memberikan solusi pedang itu padamu, bukan karena pedang itu hebat. Aku tidak bisa memastikannya... karena pada saat itu, aku tidak bisa menariknya."

Ada jeda, seperti pamannya menarik napas dalam di dalam rekaman.

"Tapi satu hal yang kutahu. Pedang itu adalah milik seseorang bernama Han Che."

Nama itu diucapkan dengan penuh hormat dan misteri.

"Paman pun tidak tahu siapa itu. Bahkan orang-orang di Dataran Tengah tidak tahu siapa itu. Tidak ada catatan, tidak ada legenda. Seolah-olah namanya dihapus dari sejarah, atau... berasal dari zaman yang jauh sebelum sejarah semesta ini dimulai."

Suara itu terdengar lebih dekat, lebih lembut, seolah-olah pamannya sedang membisikkan rahasia besar.

"Tapi jika intuisi paman tidak salah, pedang itu... saat ini memang sampah kosong. Maksudnya, tidak memiliki keistimewaan apapun. Tidak ada aura, tidak ada energi, tidak ada hukum. Hanya sepotong besi tua dan kayu lapuk."

Kemudian, nadanya berubah, menjadi lebih gelap, penuh peringatan.

"Tapi saat paman menyentuhnya... paman melihat ilusi."

Xu Hao merasakan bulu kuduknya berdiri. Tangannya yang menggenggam gagang pedang terasa semakin dingin.

"Ilusi pedang hitam legam yang membantai banyak kultivator. Setiap kali membunuh, kekuatannya akan bertambah perlahan. Darah menjadi pupuknya. Jiwa menjadi bumbunya. Dan paman rasa... itu akan sangat kuat jika kau berhasil membunuh minimal... jutaan orang untuk membangkitkannya."

Jutaan orang. Kata itu menggantung di udara, Xu Hao berfikir itu seperti pedang eksekusi. Dia hampir bisa merasakan bau darah dan jeritan dari ilusi yang dilihat pamannya.

"Karena itu... sebenarnya paman tidak ingin memberitahumu tentang ini."

Suara Xu Tianmu sekarang terdengar patah, penuh dengan konflik batin.

"Karena paman tidak ingin... keponakan paman menjadi orang brutal yang tidak punya hati. Seorang pembantai yang haus darah, hanya untuk mengejar kekuatan. Itu bukan jalan yang ku inginkan untukmu. Bukan jalan yang akan membuat orang tuamu bangga di alam baka."

Ada keheningan panjang dalam rekaman itu, seolah-olah pamannya sedang berjuang dengan dirinya sendiri.

"Sekarang... kau yang memutuskan. Jika kau memutuskan untuk melakukannya pun, belum tentu berhasil mencabutnya. Tapi jika kau berhasil mencabutnya..."

Nada suaranya berubah lagi, menjadi praktis, seperti seorang strategi yang memberikan nasihat terakhir.

"Paman menyarankanmu gabung bersama Klan Iblis di selatan Dataran Tengah."

Klan Iblis. Nama itu membuat Xu Hao mengernyit. Dalam pengetahuan umum, klan-klan iblis adalah kultivator jalur iblis, seringkali menggunakan teknik darah, jiwa, atau emosi negatif untuk meningkatkan kekuatan. Mereka sering dianggap jahat dan kejam oleh klan-klan dan sekte-sekte kuno.

Merasakan keheranan yang pasti muncul, suara pamannya melanjutkan dengan cepat.

"Tenang saja. Meskipun mereka iblis... tapi paman pastikan, mereka lebih baik dari Sekte Immortal dan Klan Xu saat ini. Setidaknya, mereka tidak mengenakan topeng kemunafikan. Mereka jujur tentang nafsu dan ambisi mereka. Dan di sana, di perbatasan selatan yang selalu berperang, kau akan menemukan banyak musuh untuk dijadikan 'pupuk' bagi pedang itu, jika itu jalan yang kau pilih. Mereka sering bertempur dengan banyak klan dan sekte besar yang menyerang wilayah mereka."

Xu Hao menarik napas dalam. Pamannya benar-benar telah mempertimbangkan segala kemungkinan, bahkan yang paling gelap sekalipun.

"Waktu paman tidak banyak," suara itu sekarang terdengar terburu-buru, semakin lemah. "Rekaman suara ini sengaja paman tinggalkan menggunakan formasi yang terkait dengan pedang. Dan... kau tidak perlu mencari paman. Tidak perlu. Ingat itu."

Perintah itu diucapkan dengan tegas, penuh keputusan akhir.

"Di atas awan ada bangunan megah bagaikan istana. Tapi pengembara yang menyesal berada di bawahnya."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada puitis dan penuh teka-teki, seperti sebuah kiasan atau sandi. Kemudian, suara itu memudar, menghilang begitu saja dari kesadaran Xu Hao, meninggalkan keheningan yang tiba-tiba dan sangat berat.

Xu Hao berdiri diam untuk waktu yang lama, tangannya masih menggenggam gagang pedang. Pikirannya berputar cepat, mencerna setiap kata, setiap nuansa emosi dalam pesan itu.

"Paman... kau meninggalkan semua ini untukku. Sebuah pilihan. Sebuah jalan yang penuh darah, atau mungkin... jalan lain?" gumamnya pelan. "Tapi kau juga bilang tidak perlu mencarimu. Mengapa? Apakah kau sudah... atau apakah kau dalam situasi yang begitu berbahaya sehingga mencarimu hanya akan membawa petaka?"

Dia menatap pedang hitam di tangannya. Sampah kosong. Pembantai yang haus darah. Jutaan nyawa. Klan Iblis.

"Pasti tidak sesederhana itu," katanya pada diri sendiri, suaranya tegas. "Tidak mungkin paman hanya memberiku satu pilihan ekstrem seperti itu. Pasti ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang dia tidak bisa katakan, atau sesuatu yang harus aku temukan sendiri."

Dengan tekad yang mengeras, Xu Hao memutuskan untuk mengambil langkah pertama. Dia akan mencabut pedang itu. Apapun konsekuensinya, dia harus tahu.

Dia mengerahkan kekuatan di tangannya, lalu menarik pedang itu perlahan-lahan dari sarungnya yang tertancap di batu.

Saat bilah hitam mulai terlihat, dunia di sekelilingnya bereaksi.

Tanah bergetar. Rumput-rumput keperakan bergoyang-goyang hebat. Kabut cahaya di kejauhan berpusar kacau. Udara bergetar dengan frekuensi rendah yang membuat tulangnya bergema. Taman yang damai tiba-tiba berubah menjadi tempat yang penuh dengan kekacauan energi.

Xu Hao terus menarik. Pedang itu keluar sepenuhnya. Bilahnya lurus, sederhana, berwarna hitam pekat tanpa hiasan apapun. Benar-benar terlihat biasa, bahkan lebih biasa dari pedang besi biasa yang dijual di pasar.

Dan kemudian, tidak ada apa-apa.

Guncangan berhenti. Energi kacau mereda. Taman kembali sunyi. Pedang di tangannya tetap diam, tanpa reaksi, tanpa cahaya, tanpa perubahan apapun. Hanya sebuah pedang hitam yang tampak tidak berguna.

Tapi sebelum Xu Hao bisa menghela napas lega atau kecewa, sebuah penglihatan singkat menyergap pikirannya.

Dia melihat sebuah tangan. Tangan itu menggenggam pedang yang sama, tapi sekarang pedang itu bukan hitam pekat, tapi hitam legam yang menyerap semua cahaya di sekitarnya, dengan kilatan-kilatan merah tua seperti darah beku di permukaannya. Tangan itu bukan tangannya. Itu lebih besar, lebih berotot, dengan bekas luka-luka tua.

Lalu, pandangan itu membesar. Dia melihat pemandangan perang yang sangat besar. Ribuan, puluhan ribu kultivator bertempur di sebuah lembah yang luas. Dan tangan itu, dengan pedang hitam legam, bergerak. Setiap ayunan, setiap tusukan, menghabiskan puluhan nyawa. Darah memercik, teriakan kematian bergema, dan pedang itu... seolah-olah menyerap sesuatu dari setiap kematian. Kilatan merahnya semakin terang, aura keganasannya semakin kuat.

Pemandangan itu berlangsung hanya sepersekian detik, lalu menghilang.

Xu Hao terhuyung selangkah, napasnya tersengal. Meski hanya ilusi singkat, intensitas pembantaian dan aura pedang itu terasa sangat nyata, meninggalkan rasa logam di mulutnya dan kedinginan di tulang belakangnya.

Dia memandang pedang biasa di tangannya. Sekarang dia mengerti. Ini bukan senjata untuk pertahanan atau keadilan. Ini adalah alat pembunuh massal. Sebuah artefak iblis yang membutuhkan nyawa untuk membangkitkan kekuatannya yang sebenarnya.

"Han Che..." gumam Xu Hao, mengucapkan nama yang disebutkan pamannya. "Siapa pun kau... kau adalah monster bajingan."

Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dia menyimpan pedang itu ke dalam cincin penyimpanannya, di tempat terpisah dari barang-barang lain, dikelilingi oleh segel isolasi sederhana. Dia tidak akan menggunakannya. Belum. Mungkin tidak pernah. Tergantung situasi.

Tapi... paman menyarankan Klan Iblis. Dan dia butuh kekuatan. Kekuatan untuk menghadapi Xu Tengshi yang sudah Raja Abadi, Klan Xu yang seperti laba-laba raksasa, dan mungkin Sekte Immortal di belakang layar.

Dilema yang sangat berat.

Dia memutuskan untuk tidak memutuskan sekarang. Dia masih di dunia bawah laut yang misterius ini. Dia masih harus mencari tahu lebih banyak. Mungkin ada petunjuk lain tentang pamannya, atau tentang dunia ini sendiri.

Dan dia memiliki Kristal Inti Monster Void Fusion akhir yang baru saja dia dapatkan. Itu adalah sumber daya berharga yang bisa membantunya meningkatkan kekuatan tanpa harus membantai jutaan orang.

Dia melihat sekeliling. Taman ini tenang, indah, dan penuh energi spiritual murni. Tempat yang sempurna untuk bermeditasi dan mencerna semuanya.

"Baik," katanya pada dirinya sendiri. "Aku akan beristirahat di sini sejenak. Memperkuat diri. Kemudian, aku akan menjelajahi dunia ini lebih jauh. Mungkin ada jawaban lain."

Kemudian Xu Hao teringat sesuatu, ia berniat mengeluarkan tungku hitam dari cincin penyimpanan nya, agar Naga biru, Doushi dan Douli bisa meningkatkan kekuatan di tempat ajaib ini. Tapi... Xu Hao merasakan ini tidak tepat, karena banyak monster kuat yang bersiap menyerang kapan saja. Dan dirinya tidak bisa meletakkan Ketiga makhluk itu dalam bahaya sampai ia benar-benar yakin itu aman.

"Tidak sekarang, aku akan membantu kalian meningkatkan kekuatan nanti, jadi bersabarlah sedikit lebih lama." Kata Xu Hao, yang disambut dengan getaran tungku hitam di dalam cincin penyimpanannya.

Dia lalu duduk di atas rumput keperakan yang halus, di tempat yang memandang ke arah pemandangan dunia pelangi yang mempesona. Dia mengambil posisi meditasi, menutup matanya.

Pertama, dia memfokuskan diri pada Kristal Inti Monster itu. Dia mengeluarkan salah satu, memegangnya di antara kedua telapak tangannya. Energi murni dan Hukum Air yang terkandung di dalamnya mengalir masuk ke tubuhnya, dimurnikan oleh Hukum Asal-nya, lalu diserap untuk memperkuat fondasi Dao Awakening menengahnya.

Prosesnya lambat, hati-hati. Dia tidak terburu-buru. Di dunia yang asing ini, dia harus tetap waspada. Sebagian kesadarannya tetap terbuka, memantau sekeliling.

Sementara itu, pikirannya bekerja.

"Di atas awan ada bangunan megah bagaikan istana. Tapi pengembara yang menyesal berada di bawahnya."

Kalimat terakhir pamannya. Apa artinya? Metafora? Petunjuk lokasi? Atau peringatan?

"Bangunan megah di atas awan... bisa jadi markas Klan Xu atau Sekte Immortal. Atau... sesuatu yang lain. Pengembara yang menyesal... apakah itu paman sendiri? Atau seseorang yang lain?"

Tidak ada jawaban. Hanya pertanyaan yang berlipat ganda.

Xu Hao menghela napas dalam meditasinya, memusatkan pikiran. Satu hal yang jelas: dia butuh kekuatan lebih. Dan dia akan mendapatkannya dengan caranya sendiri, bukan dengan mengikuti jalan pedang hitam yang haus darah itu.

Untuk sekarang, dia akan fokus pada meditasi, menyerap energi dunia ajaib ini, dan mempersiapkan diri untuk babak berikutnya dari pencariannya yang panjang.

Di kejauhan, di suatu tempat di dunia pelangi ini, makhluk-makhluk kuno lainnya merasakan kehadirannya, dan beberapa mulai bergerak penasaran, sekedar mengintip, tidak berani eksekusi seorang Dao Awakening.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!