NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Kakak Jadi Suami

"Sebelumnya saya minta maaf bila nantinya mas Pandji mengganggap saya lancang." Arya menatap lekat Pandji setelah melihat Elok dan Melitha memghilang di tikungan lorong toilet mall menuju restoran, dan memastikan di sekitar mereka tidak ada siapapun yang menguping.

"Saya berbicara ini sebagai seorang dokter, tidak ada kepentingan lain," lanjut Arya lagi, merasa yakin pria yang menjadi tetangga dari kekasihnya itu tidak mengetahui apa yang tengah dialami oleh adik perempuannya.

"Ini... tentang adik perempuan Anda yang masih SMU, Mas...." pelan Arya penuh kehati-hatian.

"Cepat katakan!" ucap Pandji, berusaha menekan nada bicaranya tapi tak berhasil. Fikirannya masih melayang pada Melitha yang pergi bersama Elok. Dirinya sudah tidak punya kepercayaan secuilpun lagi pada mantannya itu.

Walau merasa yakin tetap saja ada keraguan di mata Arya. Bagaimanapun juga, tidak semua orang bisa menerima apa yang akan ia sampaikan ini, terlalu sensitif, batinnya.

"Saat saya memijat pergelangan tangan adiknya Mas, tujuannya untuk meredakan mual agar dia tidak muntah-muntah. Saya fikir adiknya Mas sakit asam lambungnya kambuh. Ternyata... saya menemukan denyut nadi nyawa lain dalam tubuh adiknya Mas," pelan Arya, memperhatikan raut dingin Pandji yang berubah sendu.

Tidak ada kemarahan meledak-ledak seperti yang sempat ia cemaskan, ini membuatnya merasa heran.

"Tolong jangan hakimi adiknya ya, Mas.... kasihan.... " Arya tetap cemas. Fikirnya, bagaimanapun juga keluarganya pasti sangat terpukul karena anak gadis mereka yang masih mengenakan seragam SMU malah sudah berbadan dua.

"Adiknya Mas pasti cukup menderita mengalami hal itu di usianya yang masih sangat muda....." lanjutnya dengan perasaan prihatin.

Hening begitu terasa.

Arya tak nyaman pergi begitu saja setelah mengungkapkan apa yang ia tahu, akhirnya ia memilih ikut menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya seperti yang Pandji lakukan.

"Mas..." tanpa menoleh, Arya kembali bersuara, kepalanya mendongak ke atas, memandang langit-langit lorong yang berwarna putih tulang. Walau tidak ada jawaban ia tetap melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

"Tadi saya liat adiknya mas muntahnya banyak sekali, sepertinya dia tadi makannya banyak," Arya menoleh, melirik Pandji yang bergeming, menatap langit- langit lorong, tapi ia tahu laki-laki di sebelahnya itu tetap mendengar setiap kata yang ia ucapkan.

"Lambung wanita hamil memang jangan dibiarkan kosong. Walau porsinya kecil, tetap harus diisi, tapi sering," lanjutnya memberi petuah ilmunya sebagai seorang dokter. "Misalnya biskuit kering, crackers, atau roti panggang di tempat tidur saat bangun pagi."

"Cairan tubuh harus cukup supaya tidak dehidrasi. Bila tidak suka air putih bisa diganti dengan teh jahe seperti tadi, Mas.... air lemon hangat juga baik, atau jus buah... itu bisa mengurangi rasa saat kehamilan." Arya menoleh lagi, dan Pandji masih dalam posisi sama, bergeming di tempatnya.

"Kurangi makanan berlemak, pedas, berminyak, dan bersantan pemicu mual. Makanan dingin sering kali lebih mudah diterima daripada makanan panas yang aromanya kuat," lanjutnya.

Arya tertawa sendiri menyadari dirinya terus saja memberi konsultasi gratis, maklumlah jiwa dokternya lebih mendominasi walau Pandji disebelahnya seakan tidak merespon setiap petuahnya.

"Terima kasih untuk semua wejangan Anda, dokter Arya."

Arya cepat menoleh mendengar pria itu akhirnya bersuara, menemukan Pandji sudah tidak bersandar di dinding seperti dirinya.

Sebagai seorang dokter dirinya merasa sudah lebih tinggi dari orang normal pada umumnya, bahkan di rumah sakit, ia tergolong dokter yang berpostur paling tinggi, termasuk dari Prasetyo sepupunya yang paling populer itu. Tapi dengan Pandji, dirinya masih harus mendongakan kepala ke atas bila berhadapan dengan pria itu.

"Semua yang dipetuahkan Dokter tadi akan saya lakukan pada adik saya, tapi tidak sebagai kakak, melainkan suami.

Arya memandangi Pandji, otaknya masih dalam mode loading. "Saya tidak mengerti maksud, Mas...."

"Dalam waktu dekat, saya akan menikahi Melitha, adik saya."

"A-apa?" Arya ternganga, sangat syok mendengarnya. "Anda pasti bercanda, Mas...."

Pandji tersenyum, tidak berniat memberi penjelasan lebih lanjut, malah melangkah pergi, meninggalkan banyak pertanyaan yang tersisa dalam benak Arya. Pandji bukanlah pria sembrono, dirinya punya alasan mengatakan itu pada Arya.

"Ini salahku... Maksud baikku mengatakan apa yang terjadi pada adiknya telah mengguncangkan jiwa pria itu... Sampai mau menikahi adik sendiri..." Arya merasa sangat bersalah, tidak melepaskan pandangannya dari langkah Pandji yang semakin menjauh meninggalkannya.

...***...

"Mereka ikut kamu? Memang kemana Ibunya mereka?" tanya Elok heran, begitu melihat Adri dan Naomi ada di sana juga.

"Mamah betah di lumah Takek, Tan... Lupa talau matih punya tami!" celetuk Naomi tanpa diminta.

"Oooo..." bibir Elok tak sanggup mengatup mendengar jawaban gadis batita itu, walau terdengar cadel tapi ia masih bisa mengerti ucapannya.

"Kasian sekali kalian, Nak...." Iba Elok, tangannya terangkat mengusap kepala Naomi sebagai rasa simpati. Ketika masih sering ke rumah Pandji, ia juga tahu bagaimana tabiat isteri Harry yang tidak terlalu peduli pada keluarganya.

"Tidak pel-lu katihan, Tan... Nanti Mamah duga akan netal tinggalin tami!"

"Naomi, Sayang...." tegur Melitha lembut dengan kepalanya yang ikut menggeleng, sebagai isyarat keponakannya tidak perlu mengatakan apapun pada orang luar yang bukan keluarga.

Naomi beralih pada Melitha, mulut mungilnya belum puas sebelum isi hatinya tersampaikan.

"Benalkan, Bibi... Talau Mamah kena talmanya balu tadal. Olang yang tega tinggalin kelualganya bakal ditinggalin juga nantinya. Iya kan, Bibi?"

Elok terdiam, walau tidak ditujukan padanya, ia merasa tersindir mendengar perkataan Naomi.

"Kalian sudah selesai?" Pandji datang mendekat.

"Sudah, Paman. Jadi kita ke time zone?" tagih Adri.

"Jadi dong, tapi Bibi kalian gimana?" Pandji menatap Melitha yang masih berwajah pucat.

"Aku udah lebih baik kok, Mas," Melitha cepat menjawab, tak ingin dua keponakannya kecewa karena sudah dijanjikan di mobil tadi.

"Baiklah, let's go!" Pandji mengembangkan tangannya pada dua keponakannya itu.

Adri dan Naomi yang menanti-nanti waktu itu serta merta melompat dari kursi mereka masing-masing dan bergelantungan pada lengan kekar sang paman.

"Let's go!" Adri berseru senang.

"Let.... gooooo!" Naomi tak mau kalah.

Tak berat bagi Pandji menahan beban tubuh kedua bocil itu yang tidak ada apa-apanya dengan Dumbbell yang sering ia gunakan untuk memperbesar otot lengannya.

Sekali tarikan ke atas, tubuh Adri dan Naomi melayang dan berpindah tepat di pundak kiri dan kanan Pandji, tentu saja dua bocah itu semakin memekik seru, mengundang perhatian beberapa pengunjung restoran.

Pandji tidak merasa risih, ia melangkah keluar restoran membawa dua keponakannya tanpa menghiraukan Elok yang sedari tadi memperhatikan interkasi yang dilakukan olehnya bersama dua keponakannya.

"Dok, saya pamit..." Melitha tersenyum sebelum pergi.

Elok mengangguk, balas tersenyum. Pandangannya tak lepas dari keakraban yang dipertontonkan oleh mantan tunangannya itu.

"Kenapa aku merasa mereka seperti keluarga kecil yang bahagia?"

"Tidak mungkin...." sangkal Elok. "Mereka sepupu...."

Bersambung✍️

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk acara transtv dl. dibawain ama si panda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sapose neh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
laki2 tuh klo curhat begini y? harus ada perantara nya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sambil nyanyi aq bacanya
〈⎳ FT. Zira
kann kann kann.. bener kannn🤧
〈⎳ FT. Zira
pandji yg seorang perwira aja gini, apalagi Arya nanti yak🤭
〈⎳ FT. Zira
kakak adek nasib nnya gini amat... athor nya hahat...😭😭😭 harus ada ganti pokoknya
〈⎳ FT. Zira
main serong biar dapet doku gak sih ini🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
wweehhh😳😳😳
〈⎳ FT. Zira
mau sekeras apa juga pada akhirnya runtuh juga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kan Si jalan raya dengan tak Elok itu satu jenis bun🤔 sama2 murahan eh🤸🤸🤸
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!