Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Jangan mau ditindas!
Seruan dan hentakan Arkan menggema di seluruh ruangan. Orang yang berdiri di depannya adalah manajer produksi di tempat. Arkan hampir menampar pipi manajer itu dengan gelas kaca, kalau ia tak memiliki sedikit saja kesabaran, mungkin saja nyawa pria di depannya sudah hilang.
"Hendra! Pokoknya saya tak mau tahu, urus itu semua kembalikan seperti sedia kala! Paham! Urus juga karyawan yang berada di bawah bimbinganmu itu! Agar mereka becus, bila sampai terjadi masalah seperti ini lagi jangan harap dirimu melihat matahari terbit besok pagi."
Hendra, si manajer produksi yang umurnya hampir di pertengahan 30 tahun, langsung cepat angguk kepala. "Baik Pak... baik, akan segera saya laksanakan."
Arkan mengembuskan napas lelah, dia bersedekap dada menghadap ke tembok. "Tuntut Mahendra atas nama baik perusahaan ini, jangan biarkan dia lolos. Kau paham, Hendra?!"
"Tentu Pak CEO, akan segera saya laksanakan..."
...****************...
Sudah dua hari ini Mahendra terus berbicara di depan wartawan. Pria itu tertawa dengan hasil aktingnya yang sempurna. Setelah melakukan semuanya, ia bekerja sama dengan salah satu pria pemilik saham yang juga sama-sama membenci perusahaan Seo. Mereka berniat akan menurunkan harga diri Seo dalam beberapa jam.
"Terima kasih Pak, atas berkatmu rencana saya berhasil sukses nan jaya, kalau tidak pasti saya tak tahu harus minta tolong pada siapa..."
"Iya tentu saja Mahendra, nanti hasilnya bagi-bagi ya?"
"Oh tentu dong!" seru Mahendra. Dia tertawa gila dalam kantornya sendiri, menikmati seorang Arkana Seo Dirgantara sedang dalam masa apruk-aprukan para media yang terus menanyainya tanpa ada habisnya.
...****************...
Di dalam wawancara publik, Arkan mencoba menjelaskan. "Kami akan mengevaluasi ini lebih lanjut."
"Maksud Anda apakah solusi yang dimaksud itu bisa mengatasi?"
"Untuk sementara saya mengirim biaya bantuan medis kepada para korban. Saya turut sedih," ucap Arkan pelan, mata emasnya menatap kosong ke arah kamera yang diarahkan tepat di depan wajahnya.
Para wartawan saling berdesakan. Dion segera menutup pintu mobil cepat setelah Arkan masuk ke dalam. Pria itu menarik dasi formalnya, melepasnya begitu saja. Ia menatap orang-orang yang memukul jendela mobil mahal miliknya, untung saja tahan peluru jadi tak bisa orang tembus.
Di perjalanan, Dion terlihat gugup sendiri. Kakinya terus gemetar saat mengendarai mobil yang ia duduki. "Dion, huft— bagaimana dengan korban malang itu? Apa mereka benar-benar mengonsumsi produk kita?"
"Tuan, Anda tidak perlu terlalu memusingkan hal seperti itu. Saya tahu pasti ini berat bagi Anda yang tidak bisa membiarkan mereka sakit. Namun, saya merasa ini bukanlah kesalahan Anda—"
BRAK!
Pendapat Dion tak disetujui. Di belakang, tangan pria itu memukul kursi yang Dion duduki. Napas Arkan mendesis seperti napas naga. "Kau tak tahu apa-apa sebagai seorang pemimpin, Dion. Kau tak mengerti bagaimana rasanya orang-orang kecewa pada hasil kita, kau juga pasti tak akan sedih bukan kalau saham yang sudah saya investasikan malah anjlok?!"
"Tuan... bukan begitu maksud saya—"
"Lalu? Kau mau tertawa Dion, haha... dasar gila. Tertawa saja sana,"
"Tuan..." Dion mengepal tangan erat. Dia tak bisa membantah lagi karena serasa apa yang akan dia bicarakan ini sia-sia saja bagi bosnya itu.
...****************...
Beberapa hari berlalu sejak rumor buruk perusahaan Seo yang menyebar. Untungnya tidak jadi diboikot, hanya saja susah untuk kembali menaikkan peningkatan mereka seperti sebelumnya. Tak ada perubahan signifikan, namun terlihat Arkan bekerja keras mati-matian dengan semua karyawan sekaligus mandor yang dia pekerjakan untuk evaluasi lebih lanjut. Sampai-sampai Arkan sendiri lupa dengan rumahnya.
Di tempat lain saat Dion akan mengambil berkas di ruang kerja tuannya, ia dihampiri seorang satpam gendut yang selalu menjaga sisi halaman belakang gerbang dari pagi sampai malam. "Mas Dion!"
"Eh Pak Arip, ada apa Pak panggil-panggil?"
"Begini Mas, saya mau lapor nih."
Dion angguk kepala mempersilakan satpam itu untuk melaporkan apa yang ingin dia sampaikan padanya.
"Jadi begini Mas Dion, beberapa hari ini teh pas Nyonya Aluna jalan-jalan di taman dari luar ada yang ngelempar batu sembarangan. Pas mau saya hampiri eh malah ngilang gak tahu kemana..."
"Sudah cek CCTV Pak?"
"Sudah atuh, sudah saya cek CCTV tapi hasilnya nihil."
"Nihil bagaimana Pak?"
Pak satpam juga kebingungan mau menjelaskannya bagaimana. Pria buncit itu bicara pelan-pelan yang penting jelas.
"Kayak di-hack gitu Mas. Gak tahu emang komplotannya yang ngelempar batu ke arah dalam secara sengaja atau emang cuma orang-orang iseng..."
"Waduh. Ya sudah, terima kasih Pak atas informasinya, ini sangat berguna sekali..." kata Dion. Dia telah merekam semua pembicaraannya dengan Pak satpam agar bisa ia laporkan ke tuannya. Karena ini juga menyangkut keselamatan Aluna, yang jelas sangat penting untuk diperhatikan.
Di dalam ruang kerjanya, Arkan mengacak-acak semua lembaran print bertumpuk. Dia harus menangani satu per satu dan menjawab apa yang tertulis. Tak melihat sebelah mata, semuanya ia garap malam ini juga. Ketukan pintu terdengar, Arkan tak bicara sama sekali pun.
Dion melihat dari celah pintu, wajahnya muncul dari sana. "Kenapa?"
"Tuan Arkan..."
"Saya, mau melaporkan sesuatu... apa boleh?"
"Nanti saja Dion. Kau tak bisa lihat ini? Tangan saya ada dua, mata saya juga ada dua, kalau kau minta bantuan saya nanti saja."
"Ini... soal keselamatan Nyonya Aluna, Tuan Arkan. Untuk itu saya meminta saran Anda bagaimana baiknya..." lirih Dion pelan. Arkan mendongak, terlihat di bawah kedua matanya tercetak jelas mata panda yang sudah menghitam efek dari dia tak tidur selama berhari-hari.
Mengandalkan dengan secangkir kopi pahit setiap hari, Dion langsung menghentikan tuannya meminum terlalu banyak kafein karena efeknya bisa berdampak buruk.
"Soal wanita itu? Kenapa? Apa dia hampir ditabrak? Atau dia ketindihan barang berat dari lantai atas?"
"Tuan, Anda terlalu kejam..."
Arkan mengusap wajahnya yang nampak masam, ia menatap jengah pada sang asisten. "Saya hanya bercanda, kalau iya pasti kabar kematian wanita itu sudah sampai ke telinga saya. Katakan, kenapa kau ingin memberitahu saya tentang keselamatannya?"
"Jadi—" Dion mulai menjelaskan panjang lebar, Arkan yang setengah mengantuk tak terlalu mendengarkan celotehan asistennya.
Yang dia tangkap hanya tentang orang melempar batu, itu saja kan? Seusai Dion menceritakan semuanya, Arkan menaruh pipinya ke atas punggung tangan. "Hm, begitu? Lalu?"
"La—" Dion berhenti bicara, pita suaranya seolah mengambang di udara. Ia tahu bahwa itu jawaban tuannya, tapi entah kenapa Dion tetap merasa terpukul.
"Nggak buat dia mati kan? Cuih, tingkahnya memang seperti anak kecil sukanya bermain di taman terus-menerus. Coba dia jadi dewasa sedikit, penakut, dan pemalu seperti dulu..."
"Tu—tuan... " Dion sendiri tak bisa berkata-kata.
...****************...
Arkan tak bisa tidur, dia tergugah oleh suara yang masih terbayang dalam mimpinya. Ia memegang dadanya yang sesak sendiri. Pria itu pergi ke dapur tanpa orang lain ketahui. Setelah meneguk segelas air putih sampai habis, dalam tenggorokan ia masih merasakan haus teramat sangat. Pria itu menuangkan teko ke dalam gelas berkali-kali sampai tumpah semua. Perasaan rancau yang mengacaukan pikirannya seketika membuat Arkan gila sendiri. Dia memegang gagang meja makan, menjatuhkan interior di atas meja makan sampai berceceran ke mana-mana.
"Hosh—hosh... masih belum... saya harus sempurna... saya harus sempurna... tidak boleh, tidak boleh ada yang mengalahkan saya... saya harus segera menyelesaikan ini sampai selesai, tak boleh ada kesalahan. Harga diri Seo ada di tanganmu Arkan, kau gila kalau dirimu menyerah begitu saja... akh—"
Arkan jatuh terpeleset kain meja. Dia mendongak melihat siapa yang memegang kedua bahunya—berusaha menahan kepalanya agar tak terbentur. "Ka—kamu? Kenapa di sini Aluna?! Kau tak tidur!"
"Mas Arkan... apa yang terjadi sama Mas sebenarnya... kenapa Mas akhir-akhir ini gak mau ketemu sama aku?" tanya wanita itu menaikkan sebelah alis penasaran. Arkan menepis tangan Aluna yang beraninya menahan dirinya, tapi di setiap langkah ia berdiri akan selalu runtuh seenaknya.
"Pergi... CEPAT PERGI! —"
"Mas! Aku memang suka belajar... tapi, aku dimarahi Bibi kalau sampai bergadang hanya karena hal tidak pasti. Kata Bibi nilai itu bisa dicari, belajar bisa setiap hari tapi kalau kita tidak menjaga kesehatan itu sama saja seperti membuang emas ke tong sampah."
"Kau menceramahi saya?"
Aluna diam membeku, tangannya bergerak mengelus kepala pria itu dengan tangan kecilnya. "Mas Arkan, gak perlu memaksakan diri kok. Bibi juga selalu bilang padaku kalau kita berusaha membahagiakan diri sendiri dengan cara yang salah pastinya akan tetap gagal. Coba Mas Arkan lakukan dengan serius dan pelan-pelan... pasti akan tercapai apa yang diinginkan..." ucapnya penuh nasihat. Aluna menawarkan uluran tangan padanya. Mata Arkan berubah menjadi tatapan lembut, pria itu memegang pelan tangan yang ada di depannya—sekilas ia seolah terbayang dengan ingatan yang sama saat Clarissa juga memberikan tangan hangatnya padanya, juga mengatakan hal serupa.
"Lakukan dengan serius dan pelan-pelan..."
Deg— jantung Arkan langsung berdebar kencang. Dalam kantuk mati-matian dia menatap wajah cantik Aluna.
Ia yang terus ditatap, gugup sendiri karena dalam hidupnya tak pernah dipandang sedalam ini. Ia ikut tergoda dengan cara seorang pria gagah yang melihatnya ugal-ugalan. Inikah yang namanya masa muda? Kadang pahit juga kadang manis. Aluna terkekeh sendiri, "Mas Arkan... aku masih muda lho, tapi kalau mau nunggu sepuluh tahun lagi aku pertimbangkan lagi deh... hehe..."
BRAK!
"Aduh..." pekik Aluna, dia mengusap pantatnya yang ngilu karena didorong kencang oleh Arkan. Arkan mengusap bibirnya cepat, dia segera berlari pergi meninggalkan wanita itu dalam kebingungan.
Di balik pintu Arkan mengumpat dirinya sendiri, apa yang dia lakukan tadi? Kasmaran? Jatuh cinta pada pandangan pertama? No way!
...****************...
"Bu Lastri!!"
"Nyo—Aluna... ada apa?" tanya Bu Lastri. Dia keceplosan lagi, untung cepat-cepat Bu Lastri segera tutup mulut. "Bu Lastri, temenin Aluna ke perpustakaan plis... soalnya pembantu lain di sini jutek-jutek semua, aku gak suka kalau digituin..." lirih Aluna, memandang ke samping.
"Oh tentu saja, akan saya temani... sebentar ya?"
Aluna angguk kepala, dia menunggu Bu Lastri mengembalikan baki jemuran. Sembari menunggu dia diam saja di tengah lorong. Saat ia melamun, dari belakang dirinya sengaja ditabrak oleh seorang pembantu yang membawa seember air.
Byur!
"Ah maaf ya..."
"Ya gak papa." jawab Aluna, dia menoleh merasakan punggungnya basah. Ia ingin pergi ke kamar mengganti pakaian, tapi pembantu yang tadi menabrakkan diri padanya sekarang menarik rambut Aluna dari belakang.
"Aaa!" Aluna tertarik ke belakang, dia melotot melihat rambutnya ditarik-tarik seenaknya. "Apa yang kamu lakukan? Lepaskan?!"
"Setelah makan makanan basi di kamar terbengkalai sekarang kamu sok tak tahu diri ya? Pura-pura amnesia..."
"Maksud kamu?" tanya Aluna meminta kepastian. Dia memutar kepalanya dan menekan punggung tangan pembantu itu dengan kuku kecilnya. Si pembantu seketika langsung merintih kesakitan, "Si—al! Sakit!!"
"Jangan lakukan ini lagi padaku. Untung ini tidak di sekolah. Kalau tidak pasti kamu sudah kulaporkan ke ruang BK karena seenaknya sendiri! Mengerti?!"
Pembantu itu nampak tak terima. Dia geram langsung menarik kembali, tapi bukan rambutnya melainkan bahunya agar membuat Aluna terjatuh.
Gedubrak!
"Hah—jangan sok polos kau itu ya? Kau itu cuma gadis gelandangan yang dipungut Tuan kami. Kalau kau tidak ada di tengah jalan seperti kucing yang ingin diadopsi pasti dirimu tak sehoki sekarang. Bisa tinggal di rumah mewah, kamar luas, makan-makanan yang enak."
Aluna terbelalak mendengarnya. Dia tak terima dikatakan gelandangan. Bukan bermaksud pamer kalau dirinya adalah orang kaya, tapi hidupnya sebelumnya saat tinggal bersama Bibi dan sepupunya hanya hidup sederhana, namun juga tidak sampai jadi pengemis. Aluna mengepal tangan erat, suaranya mengecil seperti berbisik.
"Jangan mengejek. Bibiku selalu bekerja semalaman di tempat laundry... bahkan pernah tak pulang sama sekali demi uang yang bisa membeli beberapa makanan saja... kau mengatakan diriku gelandangan? Lalu, kenapa tidak menilai diri sendiri dulu! Untuk apa kamu bekerja di sini sebagai pembantu? Untuk mengejekku habis-habisan? Kalau kau iri aku bisa bilang sama Mas Arkan kalau kamu mau diperlakukan spesial di sini. Aku bisa melakukan itu untukmu, setelah terkabul hidup kita akan sama persis. Bagaimana?!"
Pembantu itu langsung terlonjak kaget. Dia mundur-mundur ke belakang sempat tak percaya bahwa wanita yang selalu dia hina di kamar yang jadi tempat paling buruk Aluna sebelum regresi ingatan, kini telah berubah 180 derajat. Seolah bukan Aluna yang dulu selalu diam saja, pasrah, seolah hatinya sudah mati semua kini telah berubah drastis.
Sedangkan ini? Seakan Aluna memiliki seribu buku rahasia dengan sepuluh ribu jawabannya.
"Ck... si—sialan! —"
"Apa yang kau lakukan?!" seru Bu Lastri, baru datang dari mengantar baki jemuran. Dia mendapatkan situasi tak menyenangkan, segera menegur anak buahnya itu.
"Eh Bu Lastri..."
"Apa yang kau lakukan di sini? Oh ya ampun nyo— Aluna kenapa punggungmu basah?!"
"Oh ini..." Aluna balik badan, dia memberikan alasan yang menipu agar pembantu di depannya tak disalahkan. "Ini gara-gara aku yang tak sengaja menabrak embernya Mbak ini. Dia kan membawa ember penuh air. Saat itu aku lari-lari kecil, terus aku gak lihat jalan Bu Lastri... maaf ya..." lirih Aluna pelan, matanya sudah tertutup rapat.
Bu Lastri hanya mendesah berat, "Pergi sana." usir wanita itu pada anak buahnya. Seketika wanita yang tadinya sangat sombong dan nakal itu ngacir entah kemana sambil membawa ember di tangannya.
"Nona, silakan Anda berganti pakaian dahulu... nanti akan saya tunggu di bawah tangga..."
Aluna yang dipanggil dengan sebutan Nona merasa tidak enak. Dia ingin panggilannya pakai namanya saja. Tapi entah mengapa ada sedikit keraguan dalam dadanya.
"Ya Bu, tunggu di sini ya..."
Bu Lastri angguk kepala, menunggu wanita itu turun dari kamarnya untuk mengganti bajunya yang basah.
Bersambung...