"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mohon dukungannya ya kakak.
__________
Alka yang masih mematung, entah apa yang di pikirkan pria yang sebentar lagi memasuki kepala tiga itu, padahal sudah jelas istrinya meminta dirinya untuk memeriksa apakah ada memar atau luka di bagian tubuhnya yang terjatuh.
"Pak, gimana mau nggak?" tanya Nabila pura-pura polos.
Alka terkesiap saat Nabila bertanya lagi apakah dirinya bersedia dan Alka tahu apa yang mintak sang istri dan masalahnya hanya Alka yang merasa berat.
"Bukannya saya tidak mau tapi kan saya bukan tukang pijet?" sahut Alka kesal. Lucu, benar lucu sekarang Alka bukan tukang pijet padahal semalam laki-laki itu pandai sekali sampai buat Nabila sembuh.
"Bapak ini gimana, semalam aja Bapak jago mijetnya kenapa sekarang bilang tidak bisa, aneh." gumam Nabila sambil mencebik, sesekali ia meringis agar Alka tahu kalau dirinya benar sedang menahan sakit.
"Itu beda situasinya dengan semalam."
"Beda apanya Pak, sekarang Aku juga sedang sakit. Tapi ya sudah kalau tidak mau aku tidak memaksa biar aku coba pijet sendiri semoga saja tidak parah nantinya."
Kemudian Nabila mencoba meraba bagian yang ia tuju dengan sedikit meringis menahan sakit agar Alka melihat dan yakin pria itu tidak akan tega.
"Ssshhhtt, aduh sakit banget," keluh Nabila tak lagi menatap Alka, ia fokus sama dirinya sendiri dan memberikan dirinya yang tidak memakai baju tanpa ada rasa malu dan risih padahal Nabila adalah orang yang paling malu walau sedang bercinta dengan Alka ia masih canggung dan berusaha menutupi dirinya tapi sekarang tidak dan itu buat Alka heran.
Dan saat Alka melihat istrinya sedang menahan sakit rasa tidak tega muncul dan ia pikir Nabila seperti itu karena ia benar lagi sakit.
"Hum, mananya yang sakit biar saya lihat dulu?" pinta Alka dengan nada yang sulit di jelaskan tapi dari raut wajahnya Nabila bisa menebak kalau Alka setengah kesal bukan karena marah tapi karena takut ia sendiri yang menanggung beban.
"Ya ampun, lucu sekali wajah suamiku kayak jungkok kalau lagi mode begini, ih gemes banget," batin Nabila senyum-senyum sendiri tapi ia berusaha menyembunyikan senyumnya takut ketahuan suami galaknya bisa gagal total rencananya nanti.
"Ini loh Pak." tunjuk Nabila sambil membenarkan posisinya dan alangkah terkejutnya Alka saat istrinya menarik handuk tersebut ke atas.
"Kamu yakin di situ yang mau saya pijet?" Alka menganga ia takut dirinya yang kalah karena lebih dulu tergoda oleh tubuh istrinya yang sangat seksi dan harum.
"Iyalah Pak, memang ini kok yang terasa sakit, ssst.....," Nabila kembali meringis, bukan itu tapi lebih ke mendesah.
Tangan Alka gugup mana mungkin ia menyentuh bagian yang paling anti Alka sentuh jika tidak dirinya akan terbawa dan tersiksa sendiri.
"Mana, nggak ada luka di situ?" ucap Alka saat melihat ia belum berani menyentuhnya.
"Tapi saat sekali Pak, coba di pegang dulu dan di pijet, aduh!" kata Nabila sambil meremas sendiri bagian pantatnya karena Alka lelet.
"Masak sih yang ini?" seru Alka merinding.
"Aduh Pak, iya itu, lelet banget." Nabila tak sabar ingin Alka menyentuhnya sehingga ia menarik tangan Alka dengen cepat.
"Nah itu, tolong di pijet yang benar." Alka makin menganga jantungnya sudah tak karuan.
"Kamu yakin saya suruh pijet bagian ini?" bukan begitu ini adalah bagian yang akan buat Alka seperti cacing kepanasan.
"Iya Pak, ayo cepat bukan itu saja yang sakit, dadaku juga sakit loh!"
Deg!.....
Alka terkesiap, apa mau istrinya katakan itu.
"Aaaa ah!" Kata Nabila menikmati pijetan suaminya dengan nada merintih tapi buat telinga Alka merinding.
Sebab suara Nabila sama seperti saat ia lagi di gagahi oleh Alka, merdu dan bikin candu.
"Aduh Pak, jangan di remas gitu dong di pijet." keluh Nabila saat tangan Alka hanya meremas-remas Karana sejatinya Alka kehilangan konsentrasi dan Nabila tahu itu.
"Hah!" Kata Alka, ia benar di buat gila oleh istrinya.
"Iya itu, tangan Bapak bukan memijet tapi meremas-remas loh!" Sindir Nabila.
"Saya kan bukan tukang urut, kamu sih ada-ada saja." Kesal Alka pada istrinya.
"Jadi Bapak mau aku di pijet tukang urut? Ya sudah nggak papa, Aku sih mau-mau saja tapi gimana kalau tukang urutnya laki-laki yang sakit bukanya hanya itu loh tapi dadaku juga sakit, ssstt!!!."
"Aduh Pak, ini aja dulu ya, Aku sudah tidak tahan nih."Nabila langsung membalikkan badannya dan membiarkan Alka menatap bagia gunung kembarnya yang lagi kencang-kencangnya.
"Astangfirullah, Nabila!" pekik Alka dalam hatinya.
"Pak, sakit, banget kayaknya aku mau ke tukang urut saja dech." uji Nabila ia menekan-nekan sendiri bagain dadanya dan membiarkan benda yang menjadi favorit suaminya itu terekspost sempurna.
Tenggorakan Alka sudah jelas bergerak naik turun.
Nabila tak tahan menahan tawanya dalam hati, yakin sekali kalau suami mesumnya itu sudah tidak tahan.
"Jangan!" tolak Alka, seketika otaknya masih on walau hanya setengah. Ia khawatir kalau tukang urutnya nanti laki-laki ia tidak akan rela bagian sensitive sang istri di jamah lelah orang lain walau itu hanya seorang tukang urut..
"Ya sudah ceoetan Bapak pijet." balas Nabila akhirnya pura-pura kesal karena menganggap Alka tidak ada rasa khawatir.
"I-ya." akhirnya Alka mengangkat tangannya menyentuh dada Nabila yang putih, sedang Nabila makum mepepetkan tubuhnya ke dekat Alka, semenjak tubuh Alka yang meremang tegang.
Alka menekan bagian yang Nabila tunjuk, matanya entah kemana ia buang, walau berusaha tidak melihat tapi rasanya dapat Alka rasakan dan itu lebih horor.
"Aaahhh hhhh, terus Pak, lebih enakan," desah Nabila .
"Pak, kurang ke bawahan tekanannya kayaknya di bagian itu ku yang paling sakit," kata Nabila lagi.
"Apa?" spontan Alka memekik.
"Bapak kenapa sih, dari pada tidak fokus? Aku cuma bilang ini yang sakit." Nabila menarik jadi Alka ke benda yang yakin seratus persen tubuh Alka langsung menegang dan itu terbukti wajah Alka seperti maling yang sedang ketahuan mencuri.
"Maaf, saya reflek. Lagian kamu itu." Kesal Alka.
"Uuhh..... Ememm!" suara Nabila makin buat otak Alka trevalinv kemana-mana. Alka benar sudah tidak kuat, tubuhnya sudah merasakan panas dan sakit.
"Tidak! Nabila lagi datang bulan dan dia juga lagi sakit sekarang, tahan Alka, tahan nanti yang ada kamu di hina oleh istri bawel mu itu."
Dengan susah payah Alka memijet Nabila yang terus merintih tapi lebih ke mendesah, tangan Nabila di biarkan mencengkram bantal sambil menikmati sentuhan suaminya dan tak lupa ia memejamkan mata dengan sayu.
Ia yakin dengan begini Alka makin tersiksa karena sudah mengingatkan saat dirinya bercinta.
"Udah belum?" tanya Alka.
"Hum!" Nabila hanya menyaut matanya teteap terpejam.
"Udah belum?" tanya Alka lagi dengan nada lebih keras.
"Belum Pak, tekanan Bapak kurang kencang dikit, bagian ini juga Pak." Nabila menarik tangan Alka, di mana itu titik yang sangat berbahaya.
"Kamu serius?"
"Serius dong Pak."
"Kamu kenapa sih, kok kayak aneh hari ini?" ucap Alka kesal karena pagi ini istrinya selalu sengaja buat dirinya tergoda tak ada Nabila yang pemalu.
"Aneh gimana sih Pak, aku kan cuma minta tolong di pijetin sama suami masak aneh gitu aja."
"Bukan begitu, kamu kayak sengaja buat naga saya bangun."
"Hah! naga apa Pak?" tanya Nabila pura-pura.
"Kamu jangan pura-pura dech, udah dulu ya saya mau pipis dulu." ucap Alka benar tidak tahan.
"Ah Nabila!" pekik Alka di dalam kamar mandi sambil memegang senjatanya yang bergerak aktiv.
"Kenapa di saat seperti ini dia lagi tidak bisa di sentuh." Alka bisa saja melahap istrinya tadi tapi ia malu gimana kalau Nabila meledeknya karena mereka sama-sama tahu kalau saat ini Nabila lagi halangan jika Alka ketahuan bisa-bisa harga dirinya yang di pertaruhkan di depan Nabila.
Tak ada pilihan lain selain Alka mencari pelepasan dengan cara yang lain.
"Awas kamu Nabila kalau sudah saatnya nanti Saya habisin kamu." batin Alka.
Alka mengambil sesuatu yang ada di dalam kamar mandi, tubuhnya sudah tidak mampu walau sudah di siram oleh shower tapi siapa sangka seorang Nabila datang dengan santainya tapi salahnya Alka sendiri kenapa pintunya tidak di kunci.
"Auww!" teriak Nabila saat membuka pintu saat melihat kelakuakn suaminya yang pastinya sudah buat Alka malu tujuh tahun.
Begitupun dengan Alka tak kalah terkejutnya dan juga ikut teriak bahkan Alka sampai terjauh karena tiba-tiba mundur.
Bug!.
****
Alka lagi ngapain sih..........................
Wwkwkwkkwk