"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam di Kota Medan telah mencapai puncaknya. Di balik jendela kaca setinggi langit-langit ruang VVIP yang mewah, lampu-lampu jalanan mulai meredup, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar suara ritmis dari monitor jantung dan hembusan halus pendingin ruangan yang beradu dengan aroma antiseptik yang tajam.
Alsava Emily Claretta terbaring diam di salah satu ranjang. Wajahnya yang biasanya memancarkan ketegasan sebagai COO Skyline Group, kini tampak pucat dan polos dalam tidurnya. Rambut brunette curly-nya tersebar di atas bantal putih, membingkai paras cantiknya yang legendaris. Selang infus menancap di punggung tangannya yang halus, mengalirkan nutrisi ke dalam tubuhnya yang sempat tumbang.
Winata dan Roy telah pulang beberapa jam yang lalu atas desakan para bodyguard, menyisakan barisan pria berjas hitam yang berdiri tegap seperti patung di depan pintu kayu jati ruangan tersebut.
Di tengah kesunyian yang hampir absolut itu, sebuah gerakan kecil terjadi di ranjang sebelah.
Kelopak mata yang tertutup selama berhari-hari itu bergetar hebat. Garvi Darwin, sang penguasa Skyline, mulai menarik kesadarannya dari kegelapan yang panjang. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menghunjam kepalanya, disusul oleh bau obat-obatan yang menyesakkan.
Pandangannya masih buram, menatap langit-langit putih yang berpendar redup. Garvi mencoba menggerakkan jemarinya, merasakan selang infus dan kabel-kabel yang membelit tubuh atletisnya. Ingatannya berputar liar—deru mesin mobil, benturan keras, dan teriakan tertahan.
Ia ingat kecelakaan itu. Namun, kebingungannya hanya bertahan sekejap.
Garvi menggerakkan kepalanya ke samping, dan saat itulah dunianya seolah berhenti berputar.
Di sana, hanya berjarak dua meter darinya, ia melihat istrinya. Ave-nya.
Garvi terbelalak. Amarah posesif mendadak membakar dadanya, memberikan dorongan adrenalin yang mengalahkan rasa sakit fisiknya. Mengapa Ave terbaring di sana? Mengapa tangan istrinya harus tertusuk jarum infus yang terkutuk itu? Siapa yang berani membiarkan Nyonya Darwin jatuh sakit?
Tanpa mempedulikan rasa pening yang menyerang, Garvi meraih tombol darurat di sisi ranjangnya dan menekannya dengan kasar.
Tak sampai satu menit, pintu ruangan terbuka dengan tergesa-gesa. Dokter Aris dan dua perawat masuk dengan wajah panik, yang seketika berubah menjadi keterkejutan luar biasa melihat pasien utama mereka sudah duduk bersandar di bantal dengan mata yang berkilat tajam.
"Tuan Garvi... Anda sudah sadar?" Dokter Aris mendekat dengan cepat, hendak memeriksa tanda-tanda vital pria itu.
Garvi menepis tangan perawat yang mencoba membetulkan kabel di dadanya. Suaranya yang berat dan serak karena lama tidak digunakan terdengar mengintimidasi.
"Apa yang terjadi dengan istriku?"
Dokter Aris tertegun sejenak, lalu melirik ke arah ranjang Sava. "Nyonya Sava... Beliau hanya kelelahan, Tuan. Siang tadi beliau pingsan karena beban kerja dan pikiran yang terlalu berat. Daya tahan tubuhnya sedang menurun drastis, jadi saya memutuskan untuk memberikan perawatan intensif semalam."
Rahang Garvi mengeras. Posesifitasnya mencuat. Ia membenci kenyataan bahwa saat ia tidak berdaya, istrinya harus memikul beban hingga tumbang seperti ini.
"Hanya kelelahan?"
"Benar, Tuan. Besok pagi Nyonya sudah bisa pulang jika kondisinya stabil. Jadi, Tuan Garvi bisa tenang dan fokus pada pemulihan Anda sendiri," Dokter Aris mencoba menenangkan, meski ia merasa tertekan oleh tatapan manipulatif Garvi yang bahkan dalam kondisi lemah masih terasa mendominasi.
Dokter Aris memeriksa detak jantung dan respons pupil Garvi. Semuanya menunjukkan keajaiban medis.
"Kondisi Anda stabil, Tuan. Saya sarankan Anda kembali beristirahat. Kami akan memantau Anda setiap satu jam."
Garvi hanya mengangguk singkat, tanda bahwa ia ingin mereka segera pergi. Setelah Dokter Aris dan para perawat berpamitan dengan sopan, ruangan itu kembali ke dalam kekuasaan sunyi.
**
Garvi menatap punggung tangan Sava yang diinfus. Hatinya mencelos. Selama empat tahun ini, ia terbiasa mengendalikan segala hal, memata-matai setiap langkah Sava, dan memastikan wanita itu berada di bawah jangkauannya. Namun melihat Sava seperti ini—lemah dan pucat—membuat benteng manipulasinya sedikit retak.
Dengan susah payah, Garvi menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Ia menatap wajah tidur Sava yang tenang.
"Ave..." bisiknya lirih. Nama itu terdengar seperti doa di tengah malam yang gelap.
"Maafkan aku," lanjutnya dengan suara parau. "Mungkin karena keegoisanku... karena aku yang terlalu menekannya, kamu jadi seperti ini."
Garvi menjangkau tangan Sava yang bebas, menggenggamnya erat seolah takut jika ia melepasnya, wanita itu akan terbang pergi meninggalkan sangkarnya. Ia ingat betapa kerasnya Sava bekerja di kantor sebagai Miss Sava yang tanpa cela, sementara di rumah, ia adalah Ave yang selalu mencoba menjaga jarak meski Garvi terus menerus menginvasi ruang pribadinya.
Garvi mengelus pipi Sava dengan ibu jarinya. "Kamu harus bangun besok, Ave. Karena jika tidak... aku akan menghancurkan siapapun yang membuatmu seperti ini, termasuk diriku sendiri."
Garvi terus menatap wajah istrinya, hingga matanya yang masih lemah mulai merasa berat dan membuatnya terlelap kembali.
**
Cahaya matahari pagi Kota Medan yang hangat mulai menyusup melalui celah gorden sutra di ruang VVIP. Semburat emas itu menyapu lantai marmer dan jatuh tepat di atas dua ranjang besar yang berdampingan. Namun, salah satu ranjang itu kini kosong.
Garvi Darwin sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Meskipun tubuhnya masih terasa kaku dan nyeri di beberapa bagian bekas benturan hebat itu masih berdenyut, kekuatan fisiknya yang menyerupai dewa Yunani seolah mengalahkan segalanya. Dengan penuh perjuangan dan keras kepala, ia mencopot paksa beberapa sensor di dadanya, lalu menyeret tiang infusnya perlahan untuk berpindah ke ranjang di sebelahnya. Ranjang di mana Alsava Emily Claretta masih terlelap.
Kini, Garvi sudah berbaring menyamping, menyusupkan lengannya yang kekar di bawah pinggang ramping Sava, menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapan posesifnya. Ia menatap wajah Sava dengan intensitas yang menakutkan sekaligus memuja. Matanya menyisir setiap inci wajah itu—alis yang tertata rapi, hidung mancung yang mungil, hingga bibir merah muda yang sedikit terbuka.
Garvi mengulurkan tangan bebasnya, menyentuh lembut helai rambut brunette curly yang menutupi dahi Sava.
"Ave..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar.
Sentuhan lembut itu membuat Sava merasa terusik. Dalam tidurnya, ia merasakan kehangatan yang asing namun sangat ia kenali. Perlahan, bulu mata lentik itu bergetar. Sava mencoba membuka matanya, menajamkan pandangan yang masih buram karena sisa obat tidur dan kelelahan.
Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata elang berwarna gelap yang menatapnya dengan sangat tajam.
Sava terbelalak. Jantungnya berdegup kencang, seolah mau melompat keluar dari rongga dadanya. Ia segera menjauhkan kepalanya, berkedip berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
"Mas... Mas Garvi?" suaranya parau, penuh dengan keterkejutan.
Garvi tidak menjawab. Sebaliknya, pria itu justru memberikan senyum miring yang manipulatif—senyum yang selalu berhasil meluluhkan sekaligus mengintimidasi siapa pun. Tanpa memberikan ruang untuk Sava bernapas, Garvi memajukan wajahnya dan mengecup bibir Sava dengan cepat dan tegas.
Cup!
Sava membeku. Ciuman singkat itu benar-benar mengembalikan kesadarannya seratus persen. Rasa manis dan dominan dari bibir Garvi masih tertinggal di sana.
"Kapan... kapan Mas sadar?" tanya Sava, suaranya masih bergetar. Ia mencoba menjaga jarak, namun tangan Garvi di pinggangnya justru semakin mengunci posisinya.
"Semalam. Saat kamu masih bermimpi indah, Ave," jawab Garvi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Suaranya berat, serak, dan terdengar sangat seksi.
Sava menghembuskan napas lega yang panjang. Setidaknya, beban berat di pundaknya sedikit terangkat mengetahui pria ini sudah kembali dari ambang kematian. Namun, sedetik kemudian ia sadar di mana mereka berada.
"Kenapa Mas Garvi tidur di sini? Ini ranjangku. Ranjang Mas di sebelah sana!" Sava menunjuk ranjang kosong yang berantakan.
Garvi justru semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Sava, menghirup aroma parfum vanila bercampur antiseptik yang masih menempel di kulit istrinya.
"Di sana dingin. Sepi. Aku tidak suka sendirian setelah tidur selama satu minggu lebih di ruang gelap itu. Aku mau di sini, bersamamu."
Sava mencoba mendorong bahu tegap suaminya. "Mas butuh istirahat total, ranjang ini terlalu sempit untuk kita berdua. Infusmu bisa terlepas, Mas."
Garvi menggelengkan kepalanya di dada Sava. Ia sengaja memasang mode manja yang sangat jarang ia tunjukkan—sebuah senjata rahasia yang ia tahu bisa melemahkan pertahanan Sava. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada istrinya, mendengarkan detak jantung Sava yang tidak beraturan.
"Aku merindukanmu, Ave. Rasanya seperti satu tahun aku tidak menyentuhmu. Aku hampir gila karena kegelapan itu hanya berisi bayanganmu yang terus berjalan menjauh," gumam Garvi parau.
Sava tertegun. Kata-kata itu terasa begitu tulus, namun ia tahu siapa Garvi—seorang cassanova yang pandai merangkai kata.
"Mas tidur satu minggu lebih, hampir sepuluh hari."
Garvi berdecak kesal. "Sial. Waktuku terbuang banyak sekali hanya untuk memejamkan mata."
Ia kemudian mendongak, menatap mata Sava dengan tatapan menyelidik yang posesif. "Sekarang jelaskan padaku... kenapa istriku yang cantik ini juga ikut masuk rumah sakit? Kenapa tangan ini diinfus? Siapa yang memberikan izin padamu untuk jatuh sakit, hm?"
Sava terdiam sejenak, menatap wajah rupawan di depannya. Sikap manja Garvi yang tiba-tiba ini terasa sangat kontras dengan sosok CEO Skyline Group yang dingin dan kejam. Ia merasa seperti sedang menghadapi singa yang terluka namun tetap ingin menunjukkan taringnya.
"Aku hanya kelelahan, Mas. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan karena Mr. CEO-nya sedang mogok kerja," jawab Sava berusaha bercanda meski hatinya terasa sesak mengingat trauma yang sempat kambuh kemarin.
Garvi tidak tertawa. Ia justru menatap bibir Sava yang pucat dengan tatapan haus. Ia mendekatkan wajahnya, napas hangatnya mulai menyentuh kulit Sava. Keintiman yang tercipta di pagi hari itu terasa begitu menyesakkan dan panas.
"Jangan pernah sakit lagi tanpa izinku, Ave. Kamu adalah milikku, setiap inci dari tubuhmu adalah tanggung jawabku," desis Garvi posesif.
Ia memiringkan kepalanya, perlahan mulai mengikis jarak untuk mencium bibir istrinya dengan lebih dalam. Sava seolah terhipnotis, matanya perlahan terpejam, pasrah pada dominasi pria yang selalu tahu cara mengendalikan perasaannya.
Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan...
BRAK!
***