"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tugas Sekolah di Meja Komando
Tugas sekolah di meja komando tampak sangat tidak selaras dengan tumpukan dokumen rahasia negara yang memiliki stempel merah sangat tebal. Maya Anindya duduk dengan gelisah di kursi kayu milik suaminya sambil memegang sebuah penggaris plastik yang terasa sangat rapuh di antara peralatan militer yang serba logam. Dia merasa seolah-olah sedang mengotori kesucian ruang kerja seorang perwira dengan coretan rumus fisika yang sangat membingungkan otaknya.
"Apakah saya benar-benar harus mengerjakan semua soal sulit ini di ruangan yang sangat menyeramkan seperti ini?" tanya Maya Anindya dengan nada yang sedikit merajuk.
Arga Dirgantara tidak mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang sedang menampilkan barisan kode rahasia serta koordinat wilayah perbatasan. Dia hanya memberikan sebuah gerakan tangan yang sangat singkat agar istrinya tetap fokus pada buku pelajaran sekolah menengah atas tersebut. Baginya, pendidikan Maya adalah prioritas keamanan yang sama pentingnya dengan menjaga rahasia operasional markas komando dari mata-mata musuh.
"Selesaikan tugasmu sekarang juga karena sepuluh menit lagi para sersan akan masuk untuk melakukan rapat koordinasi mingguan," jawab Arga Dirgantara dengan nada suara yang sangat dingin.
Gadis itu mendengus kesal sambil mulai mencoret-coret kertas buramnya dengan penuh tenaga hingga ujung pensilnya patah secara mendadak. Dia menatap punggung tegap Arga yang terbungkus seragam hijau lumut dengan perasaan yang sangat jengkel sekaligus penasaran akan isi pikiran pria tersebut. Ruangan itu terasa sangat sunyi hingga hanya suara detak jarum jam dinding serta deru kipas angin yang terdengar saling bersahut-sahutan.
"Bagaimana saya bisa berpikir jernih jika Anda terus saja mengawasi saya laksana seorang tahanan perang yang sedang diinterogasi?" keluh Maya Anindya sambil melempar pensilnya ke atas meja.
Pria perwira itu akhirnya memutar kursi kerjanya hingga mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat serta sangat mengintimidasi. Dia menatap lurus ke dalam bola mata Maya yang mulai berkaca-kaca karena merasa sangat tertekan oleh situasi yang sangat tidak masuk akal ini. Sebuah senyum miring yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya seolah-olah dia sedang menertawakan kenaifan gadis di hadapannya tersebut.
"Belajarlah untuk tetap tenang di bawah tekanan yang sangat besar jika kamu ingin tetap bertahan hidup di samping saya," tegas Arga Dirgantara sambil memperbaiki posisi duduk istrinya.
Maya hanya bisa terdiam membisu saat merasakan sentuhan tangan suaminya yang sangat kasar namun terasa sangat hangat pada bahunya yang sedang gemetar. Dia menyadari bahwa dunia Arga memang tidak mengenal kata santai atau kompromi sedikit-pun terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Dengan hati yang masih dipenuhi oleh rasa dongkol, dia kembali meraih pensil baru untuk melanjutkan perhitungan angka-angka yang sangat memuakkan itu.
"Jika saya bisa menyelesaikan ini dalam waktu lima menit maka apakah Anda akan mengizinkan saya untuk keluar ruangan sebentar?" tanya Maya Anindya mencoba melakukan negosiasi.
Arga melirik jam tangannya dengan gerakan yang sangat tangkas serta sangat disiplin sebagaimana layaknya seorang prajurit sejati yang menghargai waktu. Dia tidak memberikan jawaban secara lisan melainkan hanya menunjuk ke arah pintu keluar dengan sebuah isyarat mata yang sangat penuh dengan rahasia. Maya segera mempercepat gerakannya hingga keringat dingin mulai membasahi dahi serta punggungnya yang terasa sangat kaku.
"Waktumu sudah habis karena mereka sudah berada tepat di depan pintu ruang kerja saya sekarang juga," ucap Arga Dirgantara secara tiba-tiba.
Belum sempat Maya membereskan buku-bukunya, pintu ruangan terbuka dengan sangat lebar hingga menciptakan suara dentuman yang sangat keras serta mengejutkan. Beberapa orang prajurit masuk dengan sikap sempurna namun langkah mereka mendadak terhenti saat melihat seorang siswi sedang duduk di meja komando. Suasana mendadak menjadi sangat kacau serta penuh dengan ketegangan saat terdengar sebuah interupsi sinyal pesawat radio.