"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Vila kaca di pinggiran Bogor itu terkepung kabut tebal, menyembunyikan eksistensinya dari hiruk-pikuk Jakarta yang baru saja membara. Di sini, kesunyian bukan lagi kemewahan, melainkan pelindung. Setelah drama berdarah di Grand Hyatt, Arka memilih tempat ini sebagai benteng terakhir. Tidak ada lampu kristal yang menyilaukan, hanya pendar lampu temaram yang memantul di dinding kaca, memperlihatkan wajah mereka yang kelelahan.
Kirana duduk di tepi ranjang besar berseprai abu-abu. Gaun merah couture-nya kini tampak mengenaskan, kelimannya sobek, dan ada noda debu hitam di sutranya yang mahal. Ia menatap kosong ke arah kegelapan hutan di balik kaca, sementara tangannya masih sedikit gemetar.
Pintu kamar terbuka pelan. Arka masuk, sudah menanggalkan tuksedo hancurnya dan berganti kaus hitam santai. Ia membawa kotak P3K. Langkahnya tidak lagi angkuh, ada beban berat yang tampak jelas di bahunya.
"Kemari, Ra," ujar Arka lembut. Suaranya rendah, tanpa sisa-sisa otoritas yang biasa ia tunjukkan di depan dewan direksi.
Arka berlutut di antara kaki Kirana. Dengan gerakan telaten yang tak terduga, ia mulai membersihkan lecet di pergelangan kaki Kirana akibat tumit sepatu yang ia gunakan untuk menghajar penculiknya tadi. Dinginnya cairan antiseptik membuat Kirana tersentak, mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata.
"Arka, berhenti," bisik Kirana, menahan tangan pria itu. "Jangan lakukan ini hanya karena kau merasa bersalah atas kekacauan di pesta itu."
Arka mendongak. Di bawah cahaya redup, matanya tidak lagi menampilkan topeng predator. Ada kejujuran yang rapuh di sana, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik tumpukan saham dan taruhan gila.
"Baskara Mahendra... bagaimana mungkin dia masih hidup?" tanya Kirana lagi, suaranya parau.
"Uang bisa membeli sertifikat kematian, Ra. Tapi dendam adalah bahan bakar yang tidak pernah habis," Arka menghela napas, meletakkan kapas ke dalam kotak. "Dia menginginkan tahta Mahendra yang sekarang aku duduki. Baginya, aku hanyalah anak kecil yang mencuri kursinya. Dan dia tahu, menghancurkanku tidak cukup dengan peluru, dia harus merusak satu-satunya hal yang membuatku masih merasa menjadi manusia. Yaitu kau."
Arka tiba-tiba menarik Kirana ke dalam pelukannya. Posisi Arka yang masih berlutut membuat wajahnya terbenam di ceruk leher Kirana. Ia menghirup aroma parfum mawar yang kini bercampur dengan bau asap dan keringat.
"Aku hampir gila saat lampu padam dan kau menghilang," gumam Arka, suaranya bergetar di kulit Kirana. "Jangan pernah setuju menjadi umpan lagi. Persetujuanmu saat itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah aku izinkan."
Kirana merasakan kehangatan tubuh Arka meresap ke dalam gaunnya yang dingin. Ia membalas pelukan itu, jemarinya merayap masuk ke rambut hitam Arka, mencengkeramnya pelan. "Aku tidak akan ke mana-mana, Arka. Kita sudah terlalu dalam masuk ke lubang ini."
Arka melepaskan pelukan, menatap wajah Kirana dengan intensitas yang berbeda. Ia mencium keningnya lama, seolah sedang menyembuhkan luka yang tak terlihat. Ciuman itu turun ke bibir, lembut, penuh proteksi, dan tanpa paksaan. Di tengah keheningan vila yang terisolasi, mereka seolah mencoba menghapus bayangan manekin berdarah dan suara ledakan pipa uap dari ingatan.
Namun, saat Arka bergerak untuk mengambil air minum, sebuah amplop biru tua terjatuh dari saku jas yang ia lemparkan ke lantai tadi. Warnanya kontras dengan marmer putih.
"Apa itu?" Kirana bertanya, matanya menyipit.
"Ra, jangan. Bukan sekarang," cegah Arka, namun gerakannya terlambat.
Kirana sudah meraihnya. Ia mengharapkan dokumen bisnis atau ancaman baru, namun yang ia temukan adalah sesuatu yang jauh lebih pribadi. Hasil tes DNA laboratorium luar negeri dan sebuah salinan surat wasiat lama yang belum pernah didaftarkan ke notaris mana pun.
Kirana membacanya dengan cepat. Matanya membelalak, dan tawa hambar yang menyakitkan keluar dari bibirnya.
"Arka... katakan padaku ini hanya strategi bisnismu yang lain," suara Kirana meninggi, kertas di tangannya bergetar.
Di dalam surat itu terungkap fakta yang mengubur seluruh sejarah kebencian mereka. Ibu Kirana dan ayah Arka ternyata pernah menikah secara siri. Pernikahan itu terjadi di luar negeri, jauh sebelum Kirana atau Arka lahir ke dunia ini. Namun, kejutan yang lebih menghancurkan ada di baris berikutnya, Nirmala Capital tidak pernah benar-benar bangkrut.
Sepuluh tahun lalu, ayah Kirana mencium gelagat busuk dari Surya Mahendra II (Baskara Mahendra). Untuk melindungi harta keluarganya, ia memindahkan seluruh aset utama Nirmala ke dalam sebuah yayasan atas nama 'Calon Istri Surya Mahendra' yang tak lain adalah ibu Arka.
"Jadi..." Kirana menatap Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah yang campur aduk. "Selama ini aku berjuang, berdarah-darah, bahkan nyaris menjual harga diriku untuk menyelamatkan perusahaan yang secara hukum... sebenarnya adalah milik ibumu? Dan kau tahu ini?"
Arka terdiam. Rahangnya mengeras hingga tulang pipinya menonjol. "Aku baru mendapatkan dokumen itu minggu lalu, Ra. Aku berniat memberitahumu setelah pesta selesai, setelah posisi Roy aman di penjara. Aku tidak ingin kau merasa bahwa perjuanganmu selama tujuh tahun ini adalah kesia-siaan."
Kirana berdiri, menjauh dari ranjang. "Sia-sia? Arka, ini lebih dari itu! Ini artinya kita bukan musuh bisnis. Kita adalah dua orang bodoh yang saling gigit karena skenario orang tua kita sendiri! Pamanmu menghancurkan ayahku bukan karena bisnis, tapi karena cemburu pada pernikahan siri itu!"
Twist ini mengubah peta peperangan. Kebencian yang mereka pupuk selama ini ternyata dibangun di atas fondasi kebohongan finansial yang dirancang untuk melindungi mereka, namun justru malah mengadu domba mereka.
"Masih ada satu hal lagi," Arka berdiri, mendekati Kirana. Ia tidak menyentuhnya, memberi ruang bagi wanita itu untuk bernapas. "Paman Baskara mengejarmu bukan hanya soal saham. Dia memiliki obsesi gila bahwa kau adalah anaknya, hasil dari hubungan gelapnya dengan ibumu sebelum pernikahan siri itu terjadi. Itulah sebabnya dia menyebutmu 'mahakarya'."
Kirana membeku, merasa mual. "Aku... anaknya?"
"Itulah fungsi tes DNA itu, Ra," Arka menunjuk kertas di lantai. "Hasilnya negatif. Kau murni putri ayahmu. Tapi Baskara tidak tahu itu. Dia hidup dalam delusi bahwa dia sedang menjemput putrinya yang hilang, sementara secara bersamaan ia ingin menghancurkan Mahendra melalui tanganmu."
Kirana menarik napas panjang, mencoba memasok oksigen ke otaknya yang terasa meledak. Drama ini jauh lebih kotor dari sekadar taruhan judi atau persaingan CEO. Ini adalah tragedi keluarga yang berkarat.
"Dunia kita benar-benar kacau, Arka," bisik Kirana, akhirnya menyerah dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka.
"Memang," Arka melingkarkan lengannya di bahu Kirana, mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan. "Tapi setidaknya sekarang kita tahu posisi kita. Kita berada di sisi yang sama bukan karena aku membeli sahammu, tapi karena kita berdua adalah korban dari orang-orang gila yang sama."
Arka mengangkat dagu Kirana, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini penuh dengan tekat. "Malam ini, lupakan Baskara. Lupakan Nirmala. Lupakan semua kertas itu. Besok pagi, kita akan mulai memburu mereka. Aku akan memastikan paman tersayangku itu benar-benar masuk ke dalam liang lahat kali ini."
Arka kemudian mengangkat tubuh Kirana dengan lembut ke dalam gendongannya, membawanya ke tengah ranjang. Di balik kabut Bogor yang semakin pekat, di dalam vila yang sunyi itu, mereka memutuskan untuk membuang semua topeng yang tersisa.
Tidak ada lagi CEO Nirmala dan Pewaris Mahendra. Hanya ada dua jiwa yang terluka, mencari kehangatan di tengah badai konspirasi yang baru saja dimulai. Di atas ranjang itu, di bawah cahaya bulan yang menembus sela-sela kabut, mereka merayakan sebuah aliansi baru, sebuah janji yang tidak lagi diikat oleh saham, melainkan oleh darah dan dendam yang sama.
Namun, di sudut meja rias, ponsel Arka yang tertinggal di jas kembali menyala pelan. Sebuah pesan singkat muncul, tanpa suara.
"Satu peluru sudah cukup untuk kalian berdua. Nikmati malam terakhir kalian."
Arka melihat pendar cahaya itu dari kejauhan, tapi ia memilih untuk memeluk Kirana lebih erat. Ia tahu, perang esok hari akan sangat panjang, dan ia membutuhkan seluruh kekuatan yang bisa ia dapatkan malam ini.
...----------------...
Next Episode.....