NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Kata-kata Jihan menggantung, membuat udara sedikit... berat.

“Heh! Siapa yang menyebarkan rumor tak bertanggung jawab seperti itu?!”

Raras langsung memasang wajah kesal. Nada suaranya meninggi, meski rona merah jelas menjalar di pipinya... antara malu dan marah.

Jihan refleks mundur setengah langkah, sedikit ngeri melihat perubahan ekspresinya yang begitu cepat.

Beberapa detik berlalu sebelum Raras menarik napas dalam, memaksakan diri tenang.

“Sudahlah. Membicarakan itu hanya membuatku kesal,” katanya, lalu menatap Jihan dengan sorot lebih serius.

“Jihan, ikutlah denganku ke ibu kota. Aku akan mengatakan pada Ayahanda bahwa kau telah menyelamatkanku. Istana bisa memberimu tempat tinggal yang layak. Bahkan—”

Jihan terdiam.

Bayangan hidup yang lebih mudah sempat melintas. Namun wajah ibunya segera muncul di benaknya... pucat, terbaring lemah, menunggunya pulang. Hatinya mengeras.

“Maaf, Nona Raras,” ucapnya pelan namun tegas.

“Ada hal yang lebih penting menungguku. Ibuku sedang sakit. Aku tak bisa meninggalkannya.”

“Tapi kau bisa membawa ibumu,” sahut Raras cepat.

“Tabib istana—”

“Nona Raras.”

Suara Kakek Danu memotong dengan tenang, namun tak terbantahkan.

“Kita tidak bisa membawa orang luar ke ibu kota dengan mudah. Terlebih dalam kondisi kerajaan saat ini. Kebaikan bisa berubah menjadi sumber kecurigaan.”

Raras mengepalkan tangan, menahan perasaan.

“Dia menyelamatkanku,” bantahnya lirih.

“Apa itu belum cukup?”

Jihan melangkah maju dan menggenggam tangan Raras, menghentikan kata-kata lanjutan yang nyaris pecah bersama air mata.

“Apa yang dikatakan Kakek Danu benar,” ujarnya lembut.

“Aku hanya anak desa. Kehadiranku di istana justru akan menyulitkanmu.”

Raras menunduk. Air mata jatuh tanpa suara.

Melihatnya demikian, dada Jihan terasa sesak. Ketulusan gadis itu, kecemasannya saat ia terluka, kegigihannya menariknya dari bahaya... semuanya terasa nyata. Hangat. Dan berbahaya bagi hatinya.

“Aku tak bisa ikut sekarang,” lanjut Jihan pelan.

“Tapi jika takdir mempertemukan kita lagi… aku akan datang mencarimu ke ibu kota.”

Raras menatapnya, seolah mencari kepastian di wajah itu.

“Kau harus janji.”

Jihan mengangguk mantap.

“Aku janji.”

Badai yang bergolak di hati Raras perlahan mereda. Kata-kata Jihan yang tegas dan tulus menjadi jangkar penenang.

Suara berat Kakek Danu memecah keheningan tak lama setelahnya. Pria tua itu telah bersiap, dan itu adalah isyarat bahwa perjalanan mereka, segera dimulai.

“Nona, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera kembali. Jika tidak, Raden pasti akan cemas dan akan mengutus pendekar-pendekar kuat ke hutan Jura."

Jelas Danu, ia kemudian melanjutkan.

"Jika itu terjadi, hanya akan mendatangkan masalah besar bagi hutan Jura dan desa-desa didalamnya."

Danu kemudian teringat alasan mereka datang ke wilayah ini.

Tentang para pemberontak.

Jika sesuatu terjadi pada Raras, apalagi sampai ia menghilang, tudingan pasti langsung mengarah pada kelompok itu, hingga penguasa kota.

Dan itu... hanya akan memicu perang, menggagalkan seluruh upaya Pangeran Kedua dalam membangun diplomasi damai.

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Raras mengeras. Ada keraguan yang belum sepenuhnya reda.

Namun Jihan, dengan tatapan tenang dan sorot mata yang dalam, mengangguk pelan. Ia menatap lurus ke matanya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Raras menarik napas panjang. Kedua tangannya mencubit kedua bajunya dengan erat, hingga pada akhirnya ia mengangguk.

“Baiklah… tapi sebelum kita berpisah, aku punya sesuatu untukmu.”

Ia merogoh saku jubahnya. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang sudah lama ia simpan, sebuah kalung tua dengan liontin batu giok merah menyala.

Artefak itu tampak sederhana, namun entah mengapa Jihan merasa ada sesuatu yang menariknya, terasa kuno tapi penuh dendam.

“Terimalah ini. Aku merasa benda ini lebih cocok dipakai untukmu.”

“Ini…”

Tanpa memberi Jihan waktu untuk menolak, Raras menggenggam tangan pemuda itu dan memaksakan kalung itu ke dalam telapaknya.

Jihan menatapnya, tercengang, tak tahu harus berkata apa. Ada kehangatan yang samar menyelinap dari liontin giok itu.

Dari belakang, Kakek Danu memandang dengan mata melebar.

“Nona, Itu hadiah langsung dari Ayahanda. Benda itu tak ternilai…”

“Kakek,” Potong Raras

“Tidak perlu khawatir. Kalung ini... tidak pernah terlalu menarik perhatianku. Anggap saja ini sebagai... hadiah kecil.”

Sebelum Jihan sempat berkata apa-apa, Raras membalikkan badan. Ia tak ingin didesak, apalagi ditolak. Ia tahu, jika ia tetap memandang wajah Jihan lebih lama lagi, pertahanannya akan runtuh.

‘Gadis ini… bukan hanya ceroboh,’ pikir Jihan sambil menatap punggungnya yang menjauh.

‘Tapi juga benar-benar tak terduga.’

Raras melangkah menghampiri Kakek Danu yang sudah bersiap. Meski langkahnya terdengar mantap, Jihan masih bisa menangkap sisa keraguan di sana.

Kakek Danu menyambutnya dengan helaan napas panjang. Ia menggenggam tangan Raras, lalu dalam satu hentakan tunggal, keduanya melesat ke angkasa, meninggalkan jejak tipis di udara.

Tepat saat itu, sebuah suara berat bergema di telinga Jihan, membawa pesan perpisahan yang ganjil.

"Anak muda, orang tua ini berharap saat kita bertemu lagi nanti, kau masih menjadi dirimu yang sekarang."

Mata Jihan melebar. Ia terpaku, mencoba mencerna maksud tersembunyi di balik ucapan itu.

'Menjadi diriku yang sekarang? Apa maksudnya?'

1
Ancient
Ayoo jangan lupa tinggalkan likenya🙏 biar author Semangat 🫶
Zhareeva Mumtazah anjazani
Lah jika arya mati siapa yang akan jadi kepala desa selanjutnya?
DownBaby
BENERKAN UNTUK MENYDARKAN JIHAN PERLU PENGORBANAN YANG SETARA JUGA
DownBaby
hell nah novel ini kedepannya bkl penuh tragedi/Sob/
Ar`vinno
apa tuh
Erigo
mungkinkah...
Embun Pagi
Lanjut Thor
DownBaby
JIHAN
Erigo
SERU BANGET THOR LANJUT, KASIHAN AMA JIHAN ASLI DI FITNAH AMA PENDUDUK DESA, KEHILANGAN IBUNYA😭
Ancient: Itulah ujian untuk Jihan hehe
total 1 replies
Erigo
Yah jelas sekali dengan kondisinya sekarag, Jihan menjadi gila🤭
Erigo
Terdengar familiar

"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"
Erigo
bagus Jihan
Erigo
WOI LU KAN YANG NYAMPERIN
Erigo
Makin seru, tapi kasihan Jihan di fitnah mlu😭
Erigo
Thor
Erigo
begitulah manusia
Erigo
👍
Erigo
Apakah bakal jadi guru Jihan?
Djumadi Dudung
orang nglamun kog panjang bnr
Ancient: itu transisi flashback kak
total 1 replies
Erigo
tuh kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!