"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Saat Dokter Kaku Mulai Darah Tinggi
Seluruh rencana perdamaiannya terasa hancur saat Adrian melihat melalui cermin pantul bahwa Lala sedang memegang sebuah lencana pengenal dokter yang sepertinya jatuh saat pergulatan razia tadi. Gadis itu tidak lagi menangis, melainkan tersenyum penuh kemenangan sambil mengangkat lencana perak tersebut tinggi tinggi ke udara. Adrian segera menginjak rem mobilnya dengan mendadak hingga suara decitan ban terdengar memilukan di telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Kembalikan benda itu sekarang juga, Lala, atau saya tidak akan pernah mengembalikan telepon genggam kamu!" teriak Adrian sambil menurunkan kaca mobilnya.
"Satu sama, Dokter Sayang! Kalau Dokter mau lencana ini kembali, Dokter harus mengantarku pulang ke rumah!" jawab Lala dengan nada yang sangat menantang.
Adrian merasa seolah ada aliran lava panas yang mendadak mengalir dari perut hingga ke ubun ubun kepalanya. Ia keluar dari mobil dengan wajah yang sangat merah padam dan napas yang memburu tidak beraturan karena menahan amarah yang meledak ledak. Bagaimana mungkin seorang ahli bedah yang dihormati di seluruh rumah sakit ini bisa kalah telak oleh taktik licik seorang siswi sekolah menengah atas.
"Jangan bermain main dengan lencana itu, benda itu sangat penting untuk akses masuk ke ruangan operasi!" bentak Adrian sambil melangkah mendekat.
"Aku juga tidak bermain main dengan perasaanku, jadi anggap saja ini adalah ongkos jemputan paling mahal di dunia!" balas Lala sambil memasukkan lencana itu ke dalam saku seragamnya yang paling dalam.
Adrian terpaksa membukakan pintu mobilnya dengan gerakan yang sangat kasar sebagai tanda menyerah pada keinginan egois sang gadis kompor. Lala masuk dengan perasaan yang sangat riang gembira dan langsung mengatur posisi duduknya senyaman mungkin di atas kursi kulit yang mewah. Ia bahkan mulai menyentuh tombol tombol di dasbor mobil Adrian yang membuat sang dokter merasa tensi darahnya naik berkali kali lipat secara drastis.
"Jangan menyentuh apa pun di dalam mobil ini, duduk yang tenang atau saya turunkan kamu di tengah jalan raya!" ancam Adrian sambil mulai menjalankan kendaraannya.
"Dokter galak sekali, apa Dokter tidak takut kalau darah tinggi Dokter kambuh dan malah aku yang harus melakukan operasi bedah?" tanya Lala sambil tertawa mengejek.
Suasana di dalam mobil menjadi sangat mencekam karena Adrian memilih untuk bungkam seribu bahasa demi menjaga sisa sisa kewarasannya yang hampir hilang. Namun Lala tidak membiarkan kesunyian itu bertahan lama karena ia mulai bersenandung lagu lagu cinta yang sangat berisik dan menyakitkan telinga. Sesekali ia melirik ke arah Adrian yang sedang mencengkeram kemudi mobil dengan sangat kuat hingga buku jarinya terlihat sangat putih.
"Kenapa Dokter sangat kaku seperti manekin di toko baju? Apa Dokter tidak pernah merasa jatuh cinta secara ugal ugalan sebelumnya?" tanya Lala tiba-tiba dengan nada yang sedikit serius.
"Cinta bagi saya adalah sebuah reaksi kimia yang membosankan dan tidak memiliki logika medis yang masuk akal," jawab Adrian dengan suara yang sangat dingin.
"Reaksi kimia itu sedang terjadi di wajah Dokter sekarang, lihatlah betapa merahnya telinga Dokter saat ini!" seru Lala sambil menunjuk ke arah samping kepala Adrian.
Adrian segera membuang muka dan mencoba fokus pada jalanan yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang yang baru pulang kerja. Ia merasa bahwa setiap detik yang dihabiskan bersama Lala adalah sebuah ujian kesabaran yang jauh lebih berat daripada ujian profesi spesialis yang pernah ia lalui. Gadis di sampingnya ini memiliki kemampuan ajaib untuk mengobrak abrik pertahanan emosinya hanya dengan beberapa patah kata yang tidak berbobot.
"Dokter, apa Dokter pernah mendengar bahwa jika seorang pria mudah marah kepada seorang gadis, itu tandanya dia sedang menyimpan rasa?" goda Lala lagi.
"Itu adalah mitos bodoh yang diciptakan oleh orang-orang yang kekurangan kegiatan bermanfaat dalam hidupnya," sahut Adrian dengan ketus.
Tanpa diduga, Lala tiba-tiba mendekatkan kepalanya ke arah bahu Adrian dan menghirup aroma parfum maskulin yang sangat harum dari jas putih sang dokter. Kejadian itu membuat Adrian terkejut bukan main hingga kendali kemudinya sedikit goyah dan hampir menabrak pembatas jalan yang ada di depan. Jantungnya berdegup sangat kencang karena tindakan nekat Lala yang benar-benar tidak mengenal batas ruang pribadi seorang pria dewasa.
"Wanginya enak sekali, seperti wangi masa depan yang sangat cerah dan penuh dengan kebahagiaan!" bisik Lala tepat di dekat telinga Adrian.
"Jauhkan kepalamu dari bahu saya atau saya akan benar-benar menelepon ayahmu sekarang juga!" teriak Adrian dengan suara yang hampir pecah karena panik.
Adrian segera menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi untuk menenangkan denyut nadinya yang sudah tidak beraturan lagi. Ia menyandarkan punggungnya dan memijat pelipisnya yang terasa sangat berdenyut-denyut karena tekanan darah yang sepertinya sudah melampaui batas normal. Lala hanya memperhatikan Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan, antara merasa bersalah namun juga merasa sangat puas telah mengacaukan ketenangan sang dokter kulkas.
"Maafkan aku, aku hanya ingin tahu apakah Dokter benar-benar manusia atau hanya robot yang dipakaikan jas putih," ucap Lala dengan nada yang tulus namun tetap menyebalkan.
"Turun sekarang, rumah kamu sudah ada di depan gang itu, saya tidak mau mengantar sampai depan pintu!" perintah Adrian dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Lala menghela napas panjang lalu mengeluarkan lencana perak milik Adrian dari sakunya dan meletakkannya di atas dasbor mobil dengan sangat pelan. Ia membuka pintu mobil namun sebelum benar-benar keluar, ia menarik sebuah pulpen dari saku jas Adrian dan menuliskan sesuatu di telapak tangan sang dokter yang sedang memegang persneling. Setelah itu, ia berlari kencang menuju gang rumahnya sambil melambaikan tangan dengan penuh keceriaan yang sangat menyebalkan.
Adrian menatap telapak tangannya dan menemukan sebuah tulisan yang dibuat dengan tinta hitam permanen yang sangat sulit untuk dihapus.
Tulisan di telapak tangan Adrian itu berisi sebuah janji manis yang akan membuat sang dokter tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam karena terus memikirkan langkah selanjutnya dari sang gadis kompor.