NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28.Yang Menolong, Yang Mengubah

Perubahan pada Selvina tidak terjadi sekaligus.

Ia datang seperti retakan rambut pada kaca—nyaris tak terlihat, tapi menyebar pelan dan pasti.

Selvina masih datang ke kelas tepat waktu. Masih berdiri tegak di hadapan orang-orang yang berbisik. Masih berbicara dengan nada tenang. Namun ada sesuatu yang hilang dari caranya memandang dunia—keraguan kecil yang dulu membuatnya manusia.

Kini, setiap keputusan terasa terlalu tegas.

Setiap kata terlalu tepat.

Setiap emosi… tertata.

Ketika seorang anggota fraksi mempertanyakan langkahnya, Selvina menatapnya lama—terlalu lama—hingga orang itu terdiam.

“Kalau kau ragu,” katanya datar, “mundur saja.”

Tidak ada amarah. Tidak ada ancaman.

Hanya kepastian dingin.

Varrendra melihat itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus bagaimana.

Ia mencoba berbicara, beberapa kali. Mencari celah di antara jadwal, di taman, di lorong. Namun Selvina selalu selangkah lebih cepat—menutup pembicaraan sebelum emosi sempat tumbuh.

“Aku baik-baik saja,” kata Selvina. “Jangan khawatir berlebihan.”

Nada itu sopan. Terlalu sopan.

Varrendra pulang ke rumah dengan perasaan tidak enak yang tidak mau pergi. Ia duduk lama di kamarnya, menatap ponsel, menimbang apakah harus menelepon Rivena.

Lalu berita itu muncul.

Rivena Dirgantara Mengumumkan Kehamilan Keduanya kepada Publik.

Berita itu menyebar cepat—lebih cepat dari yang ia perkirakan. Ada ucapan selamat, ada spekulasi, ada analisis yang tak perlu. Namun yang paling kuat adalah satu hal: kejujuran yang akhirnya dipilih.

Rivena berdiri di hadapan kamera dengan senyum yang tidak sempurna—tapi nyata.

“Aku memilih hidup,” katanya singkat. “Dan aku memilih kejujuran.”

Di balik layar, tangannya gemetar.

               🐺🐺🐺

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Rivena tidur tanpa obat penenang.

Dan di sanalah mimpi itu datang.

Ia berdiri di ruang yang sama seperti sebelumnya—redup, tanpa dinding yang jelas. Namun kali ini, ia tidak takut.

“Kenapa sekarang?” tanyanya.

Entitas itu muncul sebagai siluet lembut—bukan ancaman, bukan bayangan tajam. Hanya kehadiran.

“Karena kau berhenti berlari,” jawabnya.

“Kau menyakitiku,” kata Rivena. “Kau menakutiku. Kau hampir—”

“Aku tahu,” potong entitas itu. “Dan aku menyesal pada caraku. Tapi tidak pada niatku.”

Rivena mengangkat dagu. “Katakan yang sebenarnya.”

Entitas itu mendekat, berhenti cukup jauh agar tidak mengancam.

“Aku tidak datang untuk mengambil,” katanya. “Aku datang untuk memutus.”

“Memutus apa?”

“Lingkaran,” jawabnya pelan. “Lingkungan yang menggerogotimu perlahan. Dunia yang mengajarimu bahwa nilai hidupmu hanya setara dengan kendali.”

Rivena terdiam. Dadanya sesak.

“Aku tidak bisa menyentuh mereka,” lanjut entitas itu. “Aku hanya bisa mendorong yang terkuat untuk berhenti sebelum terlambat.”

Air mata Rivena jatuh. “Tapi kau menyerang Selvina.”

“Karena dia berdiri terlalu dekat dengan api yang sama,” jawab entitas itu. “Dan karena kau peduli padanya.”

Rivena tersentak. “Jangan libatkan dia.”

“Kalau kau ingin dia aman,” kata entitas itu lembut, “kau harus benar-benar keluar. Tanpa setengah hati.”

Rivena mengangguk pelan. “Aku sudah keluar.”

“Belum sepenuhnya,” balasnya. “Keputusanmu menyelamatkan tubuhmu. Tapi jejakmu masih tertinggal.”

Rivena membuka mata.

Pagi datang dengan cahaya pucat.

Di sekolah, Selvina berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajahnya tenang—terlalu tenang. Di balik matanya, sesuatu bergerak pelan, seperti arus yang tidak ia kendalikan.

Ini lebih mudah, bisik sesuatu. Tidak sakit. Tidak ragu.

Selvina menghela napas. “Aku tidak meminta ini.”

Tapi kau menerimanya, jawab suara itu. Dan itu cukup.

Di lorong, Varrendra melihatnya berjalan melewati orang-orang yang menyingkir tanpa sadar. Ia memanggil namanya—sekali. Dua kali.

Selvina berhenti.

Menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sepersekian detik, Varrendra melihatnya—Selvina yang ia kenal—retak di balik ketenangan itu.

“Selvina,” katanya pelan. “Ada yang salah.”

Sunyi.

“Aku terlambat,” lanjutnya, suaranya serak. “Aku seharusnya memaksa. Aku seharusnya—”

“Tidak,” Selvina memotong, suaranya lembut. “Kau tidak terlambat. Kau hanya… datang ke versi diriku yang berbeda.”

Itu menyakitkan lebih dari penolakan.

Varrendra melangkah mendekat. “Aku tidak peduli versi mana. Aku di sini.”

Selvina menutup mata. Ketika membukanya lagi, ketenangan itu retak—sedikit.

“Kalau kau tetap di sini,” katanya lirih, “kau akan terluka.”

“Aku sudah,” jawab Varrendra jujur.

                🐺🐺🐺

Di rumah sakit, Rivena menatap layar ponselnya—berita, komentar, pesan. Lalu ia menutupnya.

Ia mengerti sekarang.

Entitas itu tidak ingin mengambil anaknya.

Tidak ingin menguasai dunia.

Ia hanya ingin menghentikan satu generasi dari mengulang luka yang sama.

Dan untuk itu, ia memilih cara yang salah—menyentuh yang paling berani.

Rivena bangkit dari ranjang.

“Gevano,” katanya. “Kita harus melindungi Selvina.”

                🐺🐺🐺

Di sekolah, Selvina berdiri sendirian di tangga belakang. Angin berembus. Dunia terasa jauh.

Ini akan berakhir, bisik entitas itu.

Selvina menggenggam pagar besi. “Dengan apa?”

Dengan jujur, suara itu menjawab:

Dengan pilihan.

Dan untuk pertama kalinya sejak perubahan itu dimulai,

Selvina merasakan takut.

-bersambung-

1
Ayara
dari segi alur ini mantep banget, ya walau enemynya masih kurang banyakk enemynya..
tapi udah mantapp.. trus konflik tokohnya fan nadira yg ada di hubungan selvina dan varrendra itu terasa nyata kayak konflik di dunia bgt..
pokonya top markotop lah ceritanya..
semangat trus ya thor..
Aretha putri: Aku ucapkan terimakasih banyak karena kak Ayara telah membaca ceritaku
total 1 replies
Ayara
hahahaha.. benerkan dugaan ku.. 🤭
Ayara
belum ada kata tamat berarti ada plot twist nya.. dan harusnya nadira di penjara...
Ayara
aku yakin nadira bakal di penjara..
Mercy ley
thanks authorrrr..semangatt ku tunggu karya mu yg selanjutnya
Aretha putri: Sama-sama dan terimakasih kembali karena telah membaca ceritaku
total 1 replies
Mercy ley
yeyyy 🤗🤗🤗
happy nyaaa
Mercy ley
panik panik🤗
Mercy ley
akhirnya 😌😌
Mercy ley
lah mimpi
Mercy ley
walau kaget..Sang ratu akan abadi di hating sang raja dan pangeran kecilnya🤍
Mercy ley
...🙂
Mercy ley
beuh🥲
Mercy ley
...ngerii banget
Nadira kamu parah si..
Mercy ley
astaga nad..
kalo kamu sudah ditolak kayak gitu..
mundur bukan sakit hati..karena dia memang udah menikah.. kecuali kalo dia emg ga punya hubungan apa apa..boleh kamu Pepet hatinya🥲
Mercy ley
lucunyaaa
Mercy ley
apa kira kira yg mau Nadira lakukan..
Ayara
lanjut thorr
Aretha putri: Siap kak!!!
total 1 replies
Mercy ley
emg bapaknya sel tuh agak agak
Mercy ley: heem..
total 2 replies
Mercy ley
jadi ke inget Selvina
Nyx
bab ini bab fav ku karena varrendra nya tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!