Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.
cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.
Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.
Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.
Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
HAL-HAL YANG TIDAK TERUCAP, TAPI MENENTUKAN
Pagi itu, Aira tidak langsung berangkat ke kampus.
Ia berdiri di depan cermin kamar lebih lama dari biasanya. Rambutnya diikat rapi, kemeja putih disetrika halus. Ada tekad di wajahnya, bukan yang keras, tapi yang lelah namun tidak mau kalah.
Di dapur, ibunya sedang menyiangi sayur.
“Bu,” panggil Aira pelan.
Ibunya menoleh. “Kamu nggak kuliah?”
“Ini mau berangkat. Tapi sore ini aku mau ke kantor ayah.”
Pisau di tangan ibunya berhenti.
“Kantor?” ulangnya pelan.
“Iya. Aku mau ketemu Tante Desi.”
Ibunya terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Pulangnya malam?”
“Mungkin.”
Ibunya tersenyum, sedikit cemas tapi tidak melarang.
“Hati-hati. Jangan dipaksa kalau capek.”
Aira mendekat, memeluk ibunya sebentar.
“Nanti kalau Aira capek, Aira istirahat.”
Gedung kantor ayahnya berdiri seperti kenangan yang dipaksa tetap hidup. Catnya masih sama. Plang nama perusahaan masih terpasang, meski hurufnya mulai pudar.
Aira melangkah masuk.
Resepsionis tersenyum sopan. “mbak Aira? mbak cari siapa”
“Tante Desi.”
“Oh, beliau lagi rapat. Di ruang utama.”
Aira mengangguk. Dadanya terasa sesak.
Ia berjalan pelan menuju ruang rapat dan berhenti.
Di balik kaca besar itu, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya membeku.
Kartik.
Duduk tegak di ujung meja panjang. Jas gelap. Wajah tenang. Di sekelilingnya beberapa orang tua dengan raut serius. Proyektor menyala. Grafik. Angka. Proposal.
Aira menelan ludah.
Apa yang Kartik lakukan di sini?
Ruang rapat terbuka. Tante Desi keluar dan terkejut melihat Aira.
“Aira?” matanya membesar, lalu tersenyum. “Kamu ke sini?”
Aira menunjuk ke dalam. “Kenapa… dia ada di situ?”
Tante Desi menoleh sebentar, lalu kembali ke Aira. “Masuk. Kita bicara di dalam.”
Aira melangkah masuk dengan kepala panas.
Kartik menoleh. Tatapannya terhenti sesaat di Aira. Tidak kaget. Tidak gugup. Hanya… diam.
“Rapat kita lanjutkan nanti,” kata Tante Desi tegas. “Semua bisa istirahat.”
Orang-orang keluar satu per satu.
Tinggal mereka bertiga.
Aira memecah hening lebih dulu.
“Sejak kapan kamu ada di sini?”
Kartik berdiri. “Sejak perusahaan ini butuh bantuan.”
“Oh?” Aira tertawa kecil, sinis. “Atau sejak keluargaku jatuh?”
Kartik menahan napas. “Aira”
“Kamu pikir aku bodoh?” potong Aira. “Datang ke hidupku, dekat dengan ibuku, sekarang duduk di ruang rapat perusahaan ayahku?”
“Aira,” Tante Desi mencoba menenangkan. “Dengar dulu”
“Enggak,” suara Aira bergetar. “Aku mau dengar dari dia.”
Kartik menatap Aira lurus.
“Tidak ada niat tersembunyi disini Aira”
“Kamu pikir aku percaya?” Aira melangkah maju. “Ayahku di penjara. Perusahaan di ambang bangkrut. Lalu kamu muncul. Terlalu rapi.”
Kartik mengangguk pelan.
“Kalau saya ingin mengambil alih, saya tidak akan melakukannya dengan cara ini.”
“Terus dengan cara apa?” tantang Aira.
“Dengan membiarkan perusahaan ini jatuh sejatuh-jatuhnya ,” jawab Kartik tenang. “Lalu membeli sisa-sisanya.”
Aira terdiam.
“Tapi saya tidak melakukannya.”
“Kenapa?” suara Aira melemah.
Kartik diam beberapa detik.
“Karena ini bukan tentang bisnis.”
Aira tertawa pahit. “Lalu tentang apa?”
“Janji.”
Aira menoleh ke Tante Desi. “Janji apa?”
Kartik menarik napas panjang.
“Ayahmu datang ke saya bertahun-tahun lalu. Dia minta satu hal, kalau suatu hari perusahaan ini goyah, jangan biarkan jatuh ke tangan orang yang salah.”
Aira membeku.
“Dan Kartik,” lanjut Tante Desi, “adalah orang yang ayahmu percaya.”
Aira menoleh lagi ke Kartik.
“Sejak kapan?”
“Sejak saya masih menjadi mahasiswa,” jawab Kartik pelan. “Saya magang di sini. Ayahmu yang menerima.”
Aira menatap kartik. “Kamu tidak bohong kan.”
“Tidak,” jawab Kartik. “Saya hanya tidak menjelaskan semuanya.”
Hening menekan.
Aira akhirnya duduk. Tubuhnya lelah.
“Maaf,” katanya lirih. “Aku… takut.”
Kartik mengangguk. “Saya bisa memahami nya.”
Rapat dilanjutkan singkat. Strategi. Restrukturisasi. Penyelamatan perlahan.
Saat keluar, hari sudah sore.
“Aku bisa pulang sendiri,” kata Aira cepat.
“Saya antar.” dengan tatapan yang masih fokus ke depan
“Tidak.”
"Tidak ada penolakan, hari sudah mulai gelap Aira,"
"Aku bukan anak kecil, aku bisa jaga diri baik-baik
"saya tau itu"jawab Kartik "Tapi akan lebih aman kamu saya antar"
"Aku enggak suka di paksa"
"Hanya ada dua pilihan, ikut pulang dengan saya atau saya gendong kamu masuk mobil" Ancam Kartik "atau enggak kalau kamu enggak mau pacar kamu itu, berpikir yang aneh-aneh" katanya tanpa memaksa. “ kamu duduk di belakang.”
Aira mendengus. “Itu bukan kompromi.”
“Itu keamanan,” jawab Kartik datar.
Mereka akhirnya naik mobil. Aira di kursi belakang.
“Kamu nyebelin,” kata Aira tiba-tiba.
Kartik melirik lewat spion. “Saya tahu.”
“Terlalu tenang.” kata Aira sambil memicingkan matanya
“Saya harus berekspresi seperti apa Aira" jawan Kartik sambil tersenyum
Aira terdiam.
Mobil melaju.
“Aira,” kata Kartik pelan. “Saya tidak datang untuk mengambil apa pun dari kamu.”
“Aku tahu,” jawab Aira akhirnya. “Aku cuma… belum terbiasa ada orang yang tinggal tanpa minta balasan.”
Kartik tidak menjawab.
Karena memang,
ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan
untuk menentukan segalanya.
Hari pertama Aira bekerja datang tanpa seremoni.
Tidak ada pakaian baru. Tidak ada ucapan selamat. Hanya kemeja lama yang disetrika rapi dan sepatu yang sedikit longgar di tumit.
Ia berdiri di depan gedung perusahaan ayahnya dengan napas tertahan. Bukan karena takut. Tapi karena gedung ini menyimpan terlalu banyak kenangan.
Ayahnya yang dulu berdiri di pintu sambil menelpon. Ibunya yang sesekali datang membawakan makan siang. Dan Aira kecil yang menunggu di sofa, menggambar rumah yang selalu ia anggap utuh.
Sekarang, rumah itu bukan hanya sunyi tapi juga retak. Dan Aira kembali, bukan sebagai anak pemilik. Tapi sebagai karyawan magang.
“Nama?”
“Aira.”
HRD tersenyum ramah. “Divisi administrasi. Meja kamu dekat jendela.”
Aira mengangguk.
Ia duduk. Membuka komputer. Menarik napas.
Aku di sini bukan untuk nostalgia, batinnya.
Aku di sini untuk bertahan.
Di lantai atas, Kartik berdiri di depan kaca besar ruangannya.
Ia melihat Aira dari jauh. Cara Aira duduk terlalu tegak. Cara tangannya gemetar saat mengetik.
Ia tahu ekspresi itu. Ekspresi orang yang sedang memaksa dirinya kuat.
“Kamu yakin mau libatkan dia sejauh ini? Aira adalah anak pemilik perusahaan, dan tempat itu tidak sesuai dengan nya, ya walaupun perusahaan ini di ambang ke bangkrutan” Jelas Tante Desi dari belakang.
Kartik tidak menoleh.
“Dia minta.”
“Dan kamu setuju.”
“Iya.”
“Karena profesional? ” Tante Desi menyelidik.
Kartik diam. Lalu menjawab pelan, “Karena saya tahu dunia tidak akan menunggu dia pulih.”
Tante Desi menatap punggungnya lama. “Kamu Terlalu keras.”
Kartik mengangguk.
“Kalau saya lembut, dia akan patah lebih cepat.”
Hari-hari Aira di perusahaan berjalan cepat. Terlalu cepat untuk sempat merasa sedih.
Ia mencatat. Mengarsip. Mengantar dokumen. Belajar membaca laporan keuangan yang membuat kepalanya pening.
Ia pulang dengan kaki pegal. Tangan pegal. Tapi ada satu hal yang berbeda.
Ia tidur lebih nyenyak.
Karena untuk pertama kalinya sejak lama,
ia merasa berguna.
Langit tidak menyukai perubahan.
Ia berdiri di parkiran kampus, menunggu Aira. Biasanya Aira akan menghampiri. Biasanya Aira akan menjelaskan. Biasanya Aira akan meminta maaf meski tidak salah.
Hari itu tidak.
Aira berjalan bersama Raka dan Naya. Tertawa kecil. Langkahnya ringan.
Langit menyergap. “Aira.”
Aira berhenti. Menoleh. Wajahnya datar. “Kenapa?”
“Kita perlu bicara.”
“Aku capek.”
“Kamu selalu capek sekarang.”
Aira menghela napas. “Aku kerja.”
“Kerja di mana?”
“Perusahaan ayahku.”
Langit terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil, meremehkan. “Oh… sama dia?”
Aira mengernyit. “Maksud kamu?”
“Kartik,” ucap Langit tajam. “Kamu dekat sama dia sekarang?”
Nada itu. Nada yang membuat Aira ingin mundur.
“Kami kerja,” jawab Aira singkat. “Itu saja.”
Langit mendekat satu langkah. “Kamu bohong.”
Raka bergerak refleks. “Hei”
“Aku nggak minta pendapat kamu,” bentak Langit.
Aira mengangkat tangan. “Langit. Cukup.”
“Kamu berubah karena dia.”
Aira menatap Langit lama. Lama sekali. Lalu berkata pelan tapi jelas,
“Aku berubah karena aku hampir kehilangan diriku sendiri.”
Langit terdiam. Matanya memerah. “Kamu milih dia?”
“Aku memilih diriku,” jawab Aira.
Dan itu membuat Langit kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan namanya.
Siang itu, Kartik berdiri di parkiran perusahaan.
Ia melihat Aira turun dari angkot. Ia melihat Langit di seberang jalan.
Mereka bicara. Nada Langit meninggi. Aira tetap diam.
Sesuatu di dada Kartik bergetar.
Ia Ingin mendekat. Ingin mengatakan sesuatu.
Tapi ia tidak bergerak.
Ini bukan urusanku, katanya pada diri sendiri.
Langit pergi dengan langkah keras. Aira berdiri beberapa detik. Lalu berjalan masuk.
Saat Aira melewati Kartik, ia berhenti. “Kamu lihat?”
Kartik mengangguk. “Iya.”
“Kamu mau bilang apa sekarang? Mau ngatain aku bodoh”
Kartik menatap Aira. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Tidak semua pertarungan harus dimenangkan,” katanya.
Aira tersenyum tipis. “Kamu selalu begitu.”
“Kaku? Menahan diri.”
Kartik menoleh. Untuk pertama kalinya, suaranya sedikit pecah. “Kalau saya tidak menahan diri… saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan.”
Aira terdiam.
“Masuklah,” lanjut Kartik cepat, menutup celah emosinya. “Sebentar lagi jam istirahat selesai.”
Aira melangkah pergi.
Kartik mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
Untuk pertama kalinya, ketenangan Kartik retak. Bukan karena marah. Tapi karena takut.
Takut suatu hari, ia tidak bisa lagi berdiri diam
saat Aira disakiti.
Dan saat itu datang, ia tidak tahu
apakah ia masih bisa tetap menjadi orang baik.
Bersambung.