NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sementara itu di rumah sakit, Sheila merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman. Dadanya terasa sesak secara tiba-tiba, seolah ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam jiwanya. Ia menatap ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam, sementara tangannya meremas sprei tempat tidur dengan gemetar.

​"Mommy harap kamu baik-baik saja, Nak," lirih Sheila sambil menyeka air mata yang jatuh di pipinya.

​Meskipun ia belum sempat melihat wajah bayinya secara langsung, apalagi mendekap tubuh mungil itu, ada sebuah keyakinan yang mengakar di lubuk hatinya. Instingnya sebagai seorang ibu menolak untuk menyerah pada ketakutan.

​"Meskipun Mommy belum pernah mendekap kamu, Mommy yakin kamu masih ada di suatu tempat. Kamu harus tetap kuat, karena Mommy juga akan berjuang untuk pulih demi kamu," bisiknya lagi, berusaha menguatkan dirinya sendiri di tengah kesunyian ruang perawatan.

Sementara itu, Tuan Narendra segera memerintahkan tim medis kepercayaan keluarga untuk membawa bayi tersebut ke London lebih dulu menggunakan pesawat pribadi. Di lorong dermaga yang gelap, ia menyerahkan bayi itu kepada seorang dokter spesialis dan perawat senior yang sudah lama mengabdi pada keluarga Narendra.

​"Sebaiknya kalian bawa bayi ini dan jaga dia baik-baik," perintah Tuan Narendra dengan nada suara yang rendah namun penuh ancaman. "Jika terjadi sesuatu padanya, saya tidak akan mengampuni kalian. Pastikan dia sampai di London dengan selamat tanpa meninggalkan jejak sedikit pun."

​"Baik, Tuan. Perintah akan kami laksanakan segera," jawab dokter itu sambil menunduk hormat, menyadari beratnya tanggung jawab yang ia pikul.

​Tuan Narendra menatap kepergian mobil tim medis itu dengan sorot mata puas. "Bagus. Cepat pergi! Jangan sampai putraku tahu bahwa anaknya sebenarnya masih hidup," gumamnya sinis.

​Bagi Tuan Narendra, memisahkan bayi itu dari Sheila dan Devano adalah satu-satunya cara untuk memastikan keturunan Narendra tetap berjalan sesuai keinginannya—tanpa ada pengaruh dari wanita yang ia anggap sebagai pengganggu.

Hujan gerimis mulai membasahi bumi seolah ikut berduka saat sebuah jasad kecil berwarna putih diturunkan ke liang lahat. Pemakaman itu dilakukan dengan sangat tertutup di sebuah area pemakaman pribadi milik keluarga Narendra. Tidak ada nisan bertuliskan nama, hanya gundukan tanah basah yang kini menutupi apa yang diyakini Devano sebagai jasad putranya.

​Devano berdiri mematung di pinggir liang lahat. Wajahnya pucat, matanya kosong menatap tanah merah yang kini merenggut harapannya. Di sampingnya, Tuan Narendra berdiri dengan payung hitam, menunjukkan ekspresi duka yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.

​"Semua sudah selesai, Devano," ucap Tuan Narendra pelan, suaranya berat dan berwibawa. "Bayi itu sudah tenang. Sekarang, tidak ada lagi yang mengikatmu dengan masa lalu yang kelam di kota ini."

​Devano tidak bergeming. Isak tangisnya sudah habis, menyisakan kehampaan yang luar biasa. "Aku bahkan belum sempat memberinya nama, Pa... Aku belum pernah menyentuh tangannya."

​Tuan Narendra menepuk bahu Devano dengan kuat, seolah memberikan dukungan. "Itulah sebabnya kamu harus pergi. Berada di sini hanya akan membunuhmu secara perlahan. Pesawat pribadi kita sudah siap di bandara. Kita berangkat ke London malam ini juga."

​Devano mendongak, menatap Papanya dengan tatapan rapuh. "Bagaimana dengan Sheila? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti ini."

​"Sheila sudah memiliki keluarganya dan Dokter Arkan yang begitu setia menjaganya," jawab Tuan Narendra dengan nada dingin yang manipulatif. "Jika kamu muncul di hadapannya sekarang, kamu hanya akan menambah traumanya. Biarkan dia melupakanmu, dan kamu harus belajar melupakannya. Ini demi kebaikan kalian berdua."

​Devano menarik napas panjang yang terasa sesak. Ia melihat ke arah makam itu untuk terakhir kalinya. Kebohongan Papanya telah berhasil meracuni pikirannya; ia merasa dirinya adalah pembawa sial bagi Sheila.

​"Baiklah, Pa. Mari kita pergi," ucap Devano lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

​Tuan Narendra tersenyum tipis di balik kegelapan malam. Ia menuntun putranya menuju mobil limosin yang sudah menunggu. Saat mobil itu bergerak meninggalkan area pemakaman, Devano tidak menoleh lagi. Ia tidak tahu bahwa di balik gundukan tanah itu tidak ada apa-apa, dan bayi yang ia tangisi kini tengah terbang melintasi samudera menuju tempat yang sama dengannya.

Di balik bayangan gelap tidak jauh dari area pemakaman, Bayu masih setia mengamati setiap detail skenario yang dijalankan Tuan Narendra. Melihat mobil mewah itu perlahan meninggalkan pemakaman menuju bandara, sebuah tawa kecil yang penuh kemenangan lolos dari bibirnya.

​"Hahaha! Bagus, Om. Ternyata Om jauh lebih licik dari yang aku bayangkan," gumam Bayu sambil menyeringai puas.

​Ia menunduk, menatap map berisi berkas identitas palsu yang diberikan Tuan Narendra tadi. Dengan gerakan meremehkan, ia melempar map itu ke kursi samping mobilnya.

​"Apa gunanya identitas palsu ini jika Devano sendiri yang pergi meninggalkan kota ini? Aku tidak membutuhkan pelarian ini, Om," ucapnya bicara pada diri sendiri.

​Bayu menyalakan mesin mobilnya, matanya berkilat penuh ambisi. Rencana baru mulai tersusun rapi di kepalanya. Baginya, kepergian Devano adalah tiket emas yang sudah lama ia nantikan.

​"Sekarang jalanan sudah bersih. Aku hanya perlu kembali ke rumah sakit, menemui Sheila, dan berpura-pura menjadi pahlawan yang paling peduli padanya. Saat dia hancur dan tidak punya siapa-siapa, aku akan ada di sana untuk merangkulnya. Sheila akan menjadi milikku, dan kali ini... tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangi."

​Ia menginjak pedal gas, memutar arah mobilnya kembali menuju rumah sakit, siap menjalankan peran barunya sebagai sosok pelindung bagi wanita yang telah ia hancurkan hidupnya secara diam-diam.

Suasana sunyi di kamar perawatan Sheila tiba-tiba pecah saat pintu terbuka dengan kasar. Seorang perawat masuk dengan wajah pucat dan napas yang terengah-engah, tampak seperti seseorang yang baru saja menyaksikan tragedi besar. Di tangannya, ia mendorong sebuah inkubator kecil yang tertutup kain putih.

​Bunda Rini dan Risma langsung berdiri dengan jantung yang berdegup kencang. Harapan dan ketakutan bercampur aduk di dalam dada mereka.

perawat itu dengan suara bergetar, menjalankan skenario yang telah disusun rapi oleh Tuan Narendra. "Permisi! ibu tadi terjadi kekacauan di ruang NICU, tiba-tiba bayi milik ibu Sheila ini ditemukan kembali di dalam inkubatornya. Seseorang meninggalkannya begitu saja di sana." Bohong perawat tersebut.

"Cucu saya?! Di mana cucu saya?!" Bunda Rini berlari menghampiri inkubator itu, sementara Sheila mencoba bangkit dari tempat tidurnya dengan sisa tenaga yang ada.

​Namun, perawat itu menahan tangan Bunda Rini dengan wajah penuh duka yang dibuat-buat. "Maafkan kami, Ibu... Saat ditemukan, detak jantung bayi ini sudah tidak ada. Tim medis sudah berusaha melakukan resusitasi, tapi bayi ini tetap tidak tertolong. Dia... sudah tidak bernyawa."

1
Anang Bws2
waw
DANA SUPRIYA
ini jawaban laki-laki yang PHP Atau harapan pasti
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!