Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 ANAKKU, PRIORITASKU
Sofia merasa sedikit lebih lega dengan kata-kata Rohaya. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi Jabez Ezaz. Rohaya akan melakukan yang terbaik untuk melindunginya dan bayi yang dikandungnya.
Tiba-tiba, terdengar suara tembakan di luar. Rohaya langsung menarik Sofia ke dalam pelukan dan mereka berdua berlari ke arah ruangan yang lebih aman.
"Kita harus pergi dari sini!" teriak Rohaya.
Sofia dan Rohaya berlari melalui koridor yang gelap dan berliku-liku, berusaha untuk menghindari peluru yang terbang di sekitar mereka. Mereka akhirnya mencapai sebuah pintu yang tersembunyi, dan Rohaya mendorong Sofia untuk masuk ke dalamnya.
"Kita harus bersembunyi di sini!" kata Rohaya.
Sofia dan Rohaya bersembunyi di dalam ruangan yang gelap dan sunyi. Mereka mendengarkan suara tembakan dan suara langkah kaki yang semakin dekat.
Sofia merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah mereka akan berhasil melarikan diri dari Jabez Ezaz? Atau apakah mereka akan tertangkap dan dibawa kembali ke tangan Jabez Ezaz?
Tiba-tiba, Rohaya mengeluarkan sebuah ponsel dan menekan beberapa tombol. Setelah beberapa saat, sebuah suara menjawab di telepon.
"Siapa ini?" tanya suara di telepon.
"Ini Rohaya," jawab Rohaya. "Aku membutuhkan bantuanmu. Kami dikejar oleh Jabez Ezaz dan kami membutuhkan tempat persembunyian yang aman."
Sofia mendengarkan dengan seksama, berharap bahwa Rohaya bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia tahu bahwa ia harus tetap kuat untuk dirinya sendiri dan bayi yang dikandungnya.
Suara di telepon terdengar familiar bagi Rohaya, dan ia tahu bahwa ia bisa mempercayai orang di ujung telepon itu. "Aku membutuhkan bantuanmu, Alex," kata Rohaya dengan suara yang tenang meskipun situasi darurat.
"Aku siap membantu," jawab Alex. "Di mana kamu sekarang?"
Rohaya melihat sekeliling, mencoba untuk mengetahui lokasi mereka. "Aku tidak yakin," kata Rohaya. "Kami berlari dari gedung utama dan sekarang kami bersembunyi di sebuah ruangan yang tersembunyi."
"Aku bisa melacak lokasi ponselmu," kata Alex. "Tahan sebentar, aku akan mencari tahu di mana kamu."
Sofia mendengarkan percakapan itu, berharap bahwa Alex bisa membantu mereka. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Jabez Ezaz menemukan mereka.
Setelah beberapa menit, Alex kembali berbicara. "Aku tahu di mana kamu," kata Alex. "Aku akan mengirimkan seseorang untuk menjemput kamu. Berapa orang yang ada denganmu?"
Rohaya melihat Sofia dan tersenyum. "Ada dua orang," jawab Rohaya. "Aku dan Sofia."
"Aku akan mengirimkan seseorang untuk menjemput kamu berdua," kata Alex. "Tetap aman dan jangan keluar dari ruangan itu sampai bantuan tiba."
Sofia dan Rohaya menunggu dengan sabar di dalam ruangan yang tersembunyi, mendengarkan suara tembakan dan suara langkah kaki yang semakin dekat. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap diam dan tidak membuat suara apapun.
Setelah beberapa menit, mereka mendengar suara ketukan di pintu. Rohaya melihat Sofia dan memberikan isyarat untuk diam. Rohaya kemudian membuka pintu sedikit dan melihat ke luar.
"Siapa?" bisik Rohaya.
"Aku yang dikirim oleh Alex," jawab suara di luar pintu. "Aku di sini untuk menjemput kamu berdua."
Rohaya membuka pintu lebih lebar dan melihat seorang pria yang tidak dikenal. Ia mengenakan pakaian yang sederhana dan memiliki wajah yang tampan.
"Siapa kamu?" tanya Rohaya dengan waspada.
"Aku bernama Arman," jawab pria itu. "Aku bekerja sama dengan Alex untuk membantu kamu berdua."
Sofia dan Rohaya saling menatap, lalu mereka memutuskan untuk mempercayai Arman. Mereka keluar dari ruangan dan mengikuti Arman ke tempat yang aman.
Arman membawa mereka ke sebuah mobil yang terparkir di tempat yang tersembunyi. Mereka masuk ke dalam mobil dan Arman segera menghidupkan mesin.
"Kita harus pergi dari sini," kata Arman. "Jabez Ezaz memiliki banyak orang yang bekerja untuknya."
Sofia dan Rohaya mengangguk, mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang.
Sofia dan Rohaya menunggu dengan sabar di dalam mobil, sementara Arman mengemudi dengan cepat dan hati-hati. Mereka tidak berbicara banyak, hanya sesekali bertukar pandang untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah beberapa jam berkendara, Arman akhirnya berhenti di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Rumah itu terlihat sederhana dan tidak mencolok, tapi Sofia bisa merasakan bahwa rumah itu aman.
"Kita sudah tiba," kata Arman, sambil mematikan mesin mobil. "Rumah ini aman, kalian bisa beristirahat di sini."
Sofia dan Rohaya mengangguk, mereka merasa lega dan lelah. Mereka keluar dari mobil dan mengikuti Arman ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Sofia melihat seorang wanita yang sudah tua sedang menunggu mereka. Wanita itu memiliki wajah yang hangat dan ramah.
"Selamat datang, Sofia," kata wanita itu. "Aku bernama Nenek Mira. Aku akan membantu kamu berdua selama kamu berada di sini."
Sofia tersenyum, merasa sedikit lebih lega. Ia tahu bahwa mereka masih memiliki banyak tantangan di depan, tapi dengan bantuan Nenek Mira dan Arman, ia merasa lebih percaya diri.
Nenek Mira menyambut Sofia dan Rohaya dengan hangat, dan mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu. Arman kemudian keluar untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan, sementara Nenek Mira menawarkan teh hangat kepada Sofia dan Rohaya.
Sofia merasa sedikit lebih rileks setelah minum teh hangat, dan mulai berbicara dengan Nenek Mira tentang situasi mereka. Nenek Mira mendengarkan dengan seksama, dan sesekali mengangguk atau memberikan komentar yang bijak.
"Kita harus membuat rencana untuk melindungi Sofia dan bayi yang dikandungnya," kata Rohaya. "Jabez Ezaz tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
Nenek Mira mengangguk. "Aku tahu, aku telah mendengar tentang Jabez Ezaz. Dia adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi kita tidak bisa melawannya sendirian. Kita perlu bantuan dari orang lain."
Sofia merasa sedikit takut, tapi ia tahu bahwa Nenek Mira benar. Mereka tidak bisa melawannya sendirian.
"Siapa yang bisa kita percayai?" tanya Sofia.
Nenek Mira tersenyum. "Aku memiliki beberapa kenalan yang bisa kita percayai. Kita akan menghubungi mereka dan membuat rencana untuk melindungi kamu dan bayi yang dikandungnya."
Sofia merasa sedikit lebih lega, ia tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi Jabez Ezaz. Dengan bantuan Nenek Mira dan kenalan-kenalan lainnya, ia merasa lebih percaya diri bahwa mereka bisa melindungi dirinya dan bayi yang dikandungnya.
Nenek Mira kemudian mengambil sebuah ponsel dan menekan beberapa tombol. Setelah beberapa saat, seorang pria menjawab telepon.
"Halo?" kata suara di telepon.
"Niko, aku butuh bantuanmu," kata Nenek Mira. "Aku memiliki seorang tamu yang membutuhkan perlindungan."
Sofia mendengarkan percakapan itu, dan ia bisa merasakan bahwa Nenek Mira sedang berbicara dengan seseorang yang dipercayainya.
"Siapa tamu itu?" tanya suara di telepon.
"Seorang wanita muda yang hamil," jawab Nenek Mira. "Dia dikejar oleh Jabez Ezaz. Aku butuh bantuanmu untuk melindunginya."
Sofia bisa merasakan bahwa pria di telepon itu terkejut. "Jabez Ezaz?" ulang pria itu. "Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membantu."
Nenek Mira tersenyum. "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Niko. Aku butuh kamu untuk mengirimkan seseorang untuk melindungi Sofia dan bayi yang dikandungnya."
Sofia mendengarkan percakapan itu, dan ia bisa merasakan bahwa Nenek Mira memiliki rencana untuk melindunginya. Ia merasa sedikit lebih lega, tapi juga sedikit takut tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Baiklah, aku akan mengirimkan seseorang," kata pria di telepon. "Tapi kamu harus berjanji untuk menjaga diri sendiri, Mira."
Nenek Mira tersenyum. "Aku akan menjaga diri sendiri, Niko. Terima kasih atas bantuanmu."
Sofia mendengarkan percakapan itu, dan ia bisa merasakan bahwa Nenek Mira memiliki hubungan yang erat dengan pria di telepon itu. Ia merasa sedikit lebih percaya diri bahwa mereka bisa melindungi dirinya dan bayi yang dikandungnya.