Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Takut Tidur
Sudah tiga malam berturut-turut Aruna nggak tidur.
Atau... lebih tepatnya, takut tidur.
Setiap kali dia nutup mata, mimpi buruk itu datang lagi. Wajah-wajah yang nyakitin. Suara-suara yang menghakimi. Bayangan hitam yang narik dia ke kegelapan.
Jadi... Aruna milih untuk nggak tidur.
Dia duduk di kasur. Bersandar di dinding. Lampu kamar nyala redup. Buku terbuka di pangkuan tapi matanya... nggak baca.
Cuma... menatap kosong ke halaman yang sama. Udah setengah jam. Nggak pindah halaman.
Jam dinding di kamarnya bunyi pelan. Tik tok tik tok. Monoton. Kayak detakan jantung yang... lelah.
Jam dua pagi.
Aruna ngeliat jam itu. Matanya perih. Berat. Tapi dia maksa tetep melek.
*Jangan tidur. Jangan tidur. Kalau tidur... mimpi buruk bakal datang lagi.*
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu.
Aruna... nggak kaget. Dia udah tau siapa.
"Run, kamu belum tidur lagi?"
Suara Arya. Pelan tapi... khawatir.
Aruna nggak jawab. Cuma narik selimut sampai nutupin sebagian wajahnya.
Pintu terbuka pelan. Arya masuk dengan langkah hati-hati. Cowok itu pake kaus oblong lusuh sama celana training. Rambutnya acak-acakan. Mata sedikit sembab, kayak dia juga susah tidur.
"Run..." panggil Arya lagi, suaranya lembut.
Aruna... menggeleng pelan dari balik selimut. "Aku... aku takut mimpi buruk lagi, Kak..."
Arya... berhenti di tengah kamar. Ngeliat adiknya yang... yang keliatan sangat rapuh. Kantung mata menghitam. Wajah pucat. Kurus. Tubuh gemetar dikit meskipun nggak dingin.
Dadanya sakit ngeliat Aruna kayak gini.
Arya jalan pelan. Duduk di tepi tempat tidur. Tangan cowok itu mengusap kepala Aruna lembut.
"Kamu harus istirahat, Run. Besok ada sekolah."
Aruna... menatap kakaknya dengan mata yang... kosong. Mata yang kehilangan cahaya. Mata yang... lelah banget.
"Aku... aku nggak yakin aku bisa ke sekolah lagi, Kak." Suaranya pelan. Serak. Gemetar. "Aku... aku nggak kuat."
Arya... nggak langsung jawab. Dia cuma... menatap adiknya lama. Terus narik Aruna ke pelukannya. Erat.
"Kamu kuat, Run. Kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira. Kamu bisa lewatin ini."
Tapi Aruna... menggeleng di pelukan kakaknya. Pelan. Tapi pasti.
"Aku nggak kuat, Kak. Aku lemah. Aku... aku selalu lemah."
Suara Aruna... pecah. Air matanya jatuh. Basahi baju Arya.
"Kenapa... kenapa aku harus kayak gini? Kenapa aku nggak bisa jadi orang normal? Kenapa aku... kenapa aku selalu jadi target?"
Arya... nggak bisa jawab.
Nggak ada jawaban yang bisa meringankan rasa sakit Aruna.
Dia cuma bisa... memeluk adiknya lebih erat. Ngerasain tubuh kecil Aruna yang gemetar di pelukannya.
"Maafkan kakak, Run..." bisik Arya pelan. Suaranya juga mulai bergetar. "Maafkan kakak... karena... karena kakak nggak bisa lindungi kamu..."
Aruna menggeleng lagi. "Bukan salah Kakak... ini... ini salah aku... aku yang... aku yang jadi beban..."
"Jangan bilang gitu." Arya melepas pelukan. Menatap mata Aruna yang basah. "Kamu bukan beban. Kamu... kamu adik kakak. Kamu yang paling berharga buat kakak."
Tapi Aruna... nggak percaya.
Dia cuma... tersenyum pahit. Senyum yang... nggak sampe ke mata.
"Terima kasih, Kak... tapi... aku tau... aku cuma... jadi masalah..."
Arya... mau ngomong lagi tapi Aruna udah nunduk. Narik selimut lagi. Nutup diri.
Arya... menghela napas panjang. Berat.
Dia berdiri. "Istirahat ya, Run. Kakak di kamar sebelah. Kalau kamu mimpi buruk lagi... ketuk pintu kakak. Kakak bakal temani kamu."
Aruna... ngangguk kecil.
Arya keluar. Nutup pintu pelan.
Dan Aruna... sendirian lagi.
Di kamar gelap.
Dengan lampu redup yang nyaris mati.
Dengan pikiran yang... kacau.
Dengan hati yang... hancur.
---
Aruna ambil jurnalnya dari bawah bantal.
Jurnal cokelat yang udah penuh coretan. Penuh curahan hati. Penuh... rasa sakit.
Dia buka halaman kosong terakhir.
Pulpen di tangan yang... gemetar.
Mulai nulis.
Tulisannya... berantakan. Nggak rapi kayak biasa. Gemetar. Kayak ditulis sama orang yang... yang udah nggak sanggup lagi.
---
*Aku takut tidur karena mimpi buruk.*
*Aku takut bangun karena kenyataan lebih buruk.*
*Aku terjebak di antara dua neraka.*
*Dan aku... aku tidak tahu harus kemana lagi.*
*Kakak bilang aku kuat.*
*Tapi aku nggak ngerasa kuat.*
*Aku ngerasa rapuh.*
*Aku ngerasa... hancur.*
*Setiap hari rasanya makin berat.*
*Setiap hari... aku makin lelah.*
*Lelah untuk bangun.*
*Lelah untuk berpura-pura oke.*
*Lelah untuk... hidup.*
*Ya Allah...*
*Kumohon...*
*Beri aku jalan keluar...*
*Atau... beri aku kekuatan untuk pergi...*
*Karena aku... aku nggak kuat lagi.*
---
Aruna... berhenti nulis.
Pulpennya jatuh dari tangan.
Dia menutup jurnalnya pelan. Taruh di samping bantal.
Terus... rebahan.
Ngeliat langit-langit kamarnya yang... putih. Kosong.
Matanya terbuka lebar.
Nggak tidur.
Nggak berani tidur.
Karena tidur... berarti mimpi buruk.
Dan bangun... berarti kenyataan yang lebih buruk.
Jadi... Aruna cuma bisa rebahan di situ.
Terjaga.
Sendirian.
Dengan pikiran yang... gelap.
Dengan hati yang... mati rasa.
Dan perlahan... tanpa dia sadari...
Kesehatan mentalnya... mulai runtuh.
Perlahan.
Tapi pasti.
Dan tidak ada yang benar-benar menyadari... seberapa buruknya.
Karena Aruna... terlalu pandai berpura-pura.
Terlalu pandai... tersenyum meskipun hancur di dalam.
Terlalu pandai... bilang "aku baik-baik aja" meskipun dia... sekarat.
---
Kesehatan mental Aruna mulai runtuh perlahan.
Dan tidak ada yang benar-benar menyadari seberapa buruknya.
Karena kadang... orang yang paling hancur...
Adalah orang yang paling pandai tersenyum.
---