Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anton Ditangkap Polisi
Di dalam kamarnya Nayla meluapkan emosinya kepada sang bunda.
"Apa salah Nayla bun sampai harus menanggung semua ini ?"
"Apa Nayla gak berhak bahagia bun ?"
"Kenapa hidup Nayla selalu malang ?"
"Nayla gak bisa menikah dengan kak Dimas"
"Nayla di jodohkan dengan orang yang gak pernah Nayla sayang"
"Nayla di khianati dan di siksa suami sendiri"
"Kenapa harus Nayla yang menanggung semua ini bun? kenapa bun ?" gerutu Nayla bertubi-tubi kepada bundanya.
Bu Jun memeluk erat tubuh putrinya. Ia sangat memahami apa yang di alami Nayla.
"Bunda tau nak, kamu pasti berat melewati semua ini namun satu hal yang pasti, bunda akan selalu ada buat mu sayang" suara bundanya dengan mata yang berkaca.
"Terkait apa yang Anton lakukan kepada mu, bunda gak akan tinggal Diam"
"Apa kamu mau memperkarakan kasus KDRT ini ke ranah hukum ?" tanya bu Jun.
Nayla menganggukan kepalanya.
"Besok Nayla bakal melaporkan kasus ini ke kepolisian setelah itu Nayla bakal mengajukan gugatan cerai ke pengadilan" respon dengan amarah di hati yang masih menyala.
"Nayla gak terima lahir batin di perlakukan seperti ini sama mas Anton".
"Bunda akan selalu ada di samping mu nak, bunda akan temani kamu, hati bunda terlalu sakit melihat kamu seperti ini" ucap Bu Jun.
"Ya sudah Ney, ini udah larut malam, kamu istirahat dulu yah !" pinta bu Jun.
"Makacih banyak ya bun, Nayla sayang banget sama bunda" ujar Nayla sembari memeluk bundanya.
Keluar dari kamar Nayla, bu Jun langsung menemui suaminya.
"Semua ini gara-gara kamu mas, kalau saja kamu gak menjodohkan Nayla dengan Anton tentu semua ini gak akan pernah terjadi" ujar bu Jun kepada pak Jun.
"Belum tentu juga ini benar, kita harus ketemu Anton untuk memastikan" respon pak Jun.
"Terlepas benar tidaknya Anton menghamili wanita itu, saya gak peduli mas, tapi Anton menganiaya Nayla itu buktinya sudah jelas, muka Nayla babak belur di hajar Anton"
"Aku gak terima mas" ucap bun lebih lanjut.
"Terus, apa yang bakal kamu lakukan ?" tanya pak Jun kepada istrinya.
"Yah seperti yang Nayla mau, kita bakal memperkarakan kasus ini ke ranah hukum dan Nayla bakal menggugat cerai Anton" sahut bu Jun.
Pak Junaedi memilih diam seakan dia menyalakan dirinya sendiri karna telah salah menjodohkan putri semata wayangnya dengan Anton. Seumur hidupnya, ia tidak pernah sekali pun menampar wajah anaknya apalagi sampai memukulnya. Ia sangat menyayangkan apa yang sudah Anton lakukan. Tak tinggal diam terlalu lama, pak Junaedi menelpon menantunya tersebut.
"Selamat malam, ton" ucap pak Jun.
"Selamat malam ayah" respon Anton.
"Anton, apa yang kamu lakukan sama Nayla sampai mukanya lebam begitu ?"
"Maaf yah, aku khilaf karna aku di tuduh Nayla telah menghamili wanita lain" kilah Anton.
"Tapi gak seharusnya kamu begitu ton, gak semuanya bisa diselesaikan dengan kekerasan, ayah sangat kecewa sama kamu ton"
"Seumur hidup, ayah gak pernah melakukan tindakan seperti itu kepada Nayla, kamu sudah melampaui batas ton, ayah menaruh harapan besar kepada kamu buat bahagiakan putri ayah tapi justru kamu malah membuatnya menderita" terang pak Jun lewat sambungan telepon.
"Mengenai kamu telah menghamili wanita lain, apakah itu benar ton ?" tanya pak Jun dengan serius.
"Itu fitnah yah, tidak benar, Nayla nya saja yang percaya sama omongan orang" suara bantahan Anton kepada bapak mertuanya.
"Anton, kami sekeluarga sangat kecewa, kamu harus siap dengan segala resikonya"
"Dan kalau ternyata berita tentang kamu menghamili wanita lain itu benar, ayah gak akan pernah memaafkan kamu ton, camkan itu" ucap pak Jun sembari menutup teleponnya.
Esok pagi menyapa, Nayla dengan di dampingi kedua orang tuanya mendatangi Polres terdekat untuk melaporkan kasus KDRT yang di lakukan suaminya.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu ?" ujar salah seorang polisi.
"Pagi, pak , maaf mau tanya, kalau mau lapor kasus KDRT di sebelah mana yah ?" tanya Nayla.
"Oh silakan, ibu bisa menuju unit PPA, Pelayanan Perempuan dan Anak sebelah sana bu, mari saya antar bu" ujar pak polisi sembari melangkah menuju ke tempat itu.
"Silakan bu, ini unit PPA" ucap petugas polisi itu dengan senyuman ramah.
"Baik, terimakasih pak"
"Sama-sama bu.
Memasuki kantor unit PPA, Nayla melaporkan kasus tersebut kepada petugas.
"Permisi pak, saya mau lapor kasus KDRT yang di lakukan oleh suami saya" ujar Nayla.
"Apa ibu ada buktinya bu ?" tanya salah seorang petugas.
"Buktinya ya wajah saya yang lebam ini pak" respon Nayla.
"Mohon maaf bu, apakah boleh saya foto, sebagai bukti ?" ijin bapak petugas.
"Silakan pak !"
"Untuk bukti lain yang lebih kuat adalah CCTV yang ada di rumah suami saya pak" terang Nayla.
"Baik bu, laporan ibu akan segera kami proses"
"Untuk info lebih lanjut kami akan menghubungi ibu kembali, bisa tuliskan nomor telepon atau nomor handphone ibu ini kertas ini bu" ujar petugas tersebut.
Beberapa saat usai Anton pulang dari tempat kerjanya, beberapa orang mengetuk pintu rumahnya.
"Tok ..tok ..tok" suara ketukan pintu di rumah Anton.
"Selamat malam, dengan pak Anton ?" tanya petugas kepolisian.
"Iya benar pak, ada apa ya pak ?" tanya balik Anton.
"Boleh minta waktunya sebentar pak ?"
"Silakan masuk dulu pak !" seru Anton.
"Ada apa ya pak ?"
"Kami mendapati laporan bahwa pak Anton telah melakukan KDRT terhadap istri anda yang bernama Nayla Fitria Junaedi" ujar petugas kepolisian.
"Apa buktinya kalau saya melakukan KDRT terhadap istri saya pak ?" sanggah Anton.
"Istri anda telah melaporkan kepada kami bersama dengan bukti fisik yang ada"
"Tapi itu tidak cukup valid pak" kilah Anton.
"Kalau begitu, kami akan mengecek rekaman CCTV kemarin lusa di rumah ini"
"Dimana ruang monitornya pak ?" tanya petugas.
Anton terdiam sejenak seolah mati kutu atas permintaan petugas kepolisian. Ia tak mempunyai pilihan lain selain menunjukan lokasi monitor CCTV rumahnya.
"Untuk monitor CCTV, ada di kamar sebelah sana pak" jawab Anton di selimuti rasa takut di hatinya.
Anton tak bisa menolak permintaan dari petugas polisi, Ia pasrah. Saat itu juga polisi mengecek dan menganalisis rekaman CCTV kemarin lusa usai maghrib.
"Pak Anton, berdasarkan rekaman CCTV terlihat jelas bahwa pak Anton telah melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang wanita, jadi anda sudah tidak bisa mengelak lagi"
"Untuk itu, kami akan membawa pak Anton ke kantor polisi untuk di mintai keterangan" ujarnya lebih lanjut.
Anton merasa tak berkutik dan tak bisa mengelak lagi. Ia mencoba melarikan diri namun polisi dengan sigap langsung menangkapnya. Polisi kemudian memborgol kedua tangan Anton. Di saat seperti ini, Anton hanya bisa berharap belas kasihan dari sang istri untuk mencabut laporannya.