Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Operasi Penyelamatan Cinta: Mode Darurat
Jalan Tol Sedyatmo arah Bandara Soekarno-Hatta sore itu tampak seperti tempat parkir raksasa. Lampu rem merah menyala sejauh mata memandang, membentuk ular naga yang tak bergerak.
Di dalam kokpit Porsche hitamnya, Adrian memukul setir dengan frustrasi.
"Sial! Kenapa harus ada perbaikan jalan di jam segini?!" umpat Adrian.
Jam di dashboard menunjukkan pukul 17.45 WIB. Rania mungkin sudah sampai di hotel dekat bandara. Kalau dia masuk kamar, mematikan HP, dan tidur sampai pagi, Adrian kehilangan kesempatan. Besok pagi jam 6 pesawatnya terbang. Adrian tidak bisa masuk ke area boarding tanpa tiket.
Ponsel Adrian berbunyi lewat speaker mobil.
"Halo, Komandan! Lapor posisi!" suara Kevin terdengar heboh di ujung telepon, dengan latar suara Suster Yanti yang berteriak memberi instruksi.
"Saya terjebak di KM 25. Stuck. Nggak gerak sama sekali," lapor Adrian, keringat dingin mulai membasahi kemejanya. "Kalian dapet info hotelnya?"
"Dapet, Dok!" sahut Yanti mengambil alih telepon. "Saya barusan telepon semua hotel bintang 4 di sekitar bandara, pura-pura jadi kurir paket yang nyasar. Dokter Rania check-in di Hotel 'Transit Bandara', Kamar 312. Dia baru aja masuk lobi 10 menit lalu!"
"Bagus, Yanti. Ingatkan saya untuk menaikkan gaji kamu 200 persen," kata Adrian.
"Siap, Bos! Tapi Dok, dari posisi Dokter ke hotel itu masih 10 kilometer. Kalau macet gini, butuh 2 jam! Keburu Dokter Rania bobo cantik!"
Adrian menatap nanar ke depan. Mobil-mobil berhenti total. Bahkan bahu jalan pun dipakai orang-orang yang tidak sabaran. Mobil sport ceper miliknya tidak bisa bermanuver di bahu jalan yang bergelombang.
Adrian melihat ke samping. Di celah sempit antara mobil dan pembatas jalan, sebuah motor bebek tua meliuk-liuk lincah, menyalip kemacetan dengan santai.
Ide gila muncul di kepala Adrian. Ide yang sangat Rania.
"Yanti, Kevin. Stand by. Saya akan ganti moda transportasi," kata Adrian, lalu memutus sambungan.
Adrian membuka laci dashboard, mengambil dompet tebalnya dan cincin itu. Dia keluar dari mobil mewahnya di tengah jalan tol, mengabaikan klakson mobil belakang yang kaget.
Dia melambaikan tangan pada pengendara motor bebek yang sedang melintas pelan di sela-sela macet.
"Pak! Berhenti, Pak!"
Pengendara motor itu—bapak-bapak paruh baya yang membawa keranjang ayam di jok belakang—berhenti kaget. "Ada apa, Mas? Mobilnya mogok?"
"Pak, saya harus ke Bandara sekarang. Istri saya mau lahiran... eh, maksud saya, istri saya mau kabur ke Jerman!" Adrian bicara cepat, panik.
Bapak itu melongo. "Waduh? Kabur ke Jerman? Jauh amat, Mas?"
"Pak, saya sewa motor Bapak. Sekarang. Saya yang nyetir. Bapak duduk di belakang. Saya bayar..." Adrian membuka dompetnya, menarik semua lembaran merah yang ada. "...dua juta rupiah. Cash."
Mata bapak itu membulat melihat uang merah berlembar-lembar. "Dua juta? Buat ngojek doang?"
"Tiga juta! Tapi pinjam helmnya satu!"
"Naik, Mas! Sikat! Anggap aja motor sendiri!" Bapak itu langsung turun, menyerahkan stang motor Supra X getar itu pada Adrian.
Adrian menyerahkan kunci Porsche-nya pada bapak itu. "Pak, tolong pegang kunci mobil saya. Nanti saya kirim orang bengkel buat ambil mobil ini di sini. Jangan dibawa kabur ya, Pak. Ada GPS-nya."
"Siap, Mas! Mobil sekeren ini mana berani saya bawa kabur, takut lecet!"
Adrian memakai helm yang baunya agak apek, naik ke motor bebek itu, lalu menoleh ke bapak pemilik motor yang kini duduk di boncengan (di sela keranjang ayam).
"Pegangan, Pak. Kita masuk mode Code Blue."
Vroooom!
Adrian memacu motor bebek itu. Dia meliuk-liuk di antara spion mobil Alphard dan truk kontainer. Kemeja mahalnya berkibar-kibar ditiup angin knalpot. Ayam di keranjang belakang berkotek panik.
"Minggir! Minggir!" teriak Adrian setiap kali ada motor lain yang menghalangi.
Dia tidak peduli lagi citranya. Dia tidak peduli debu jalanan menempel di wajahnya yang glowing. Yang ada di pikirannya cuma satu: Kamar 312.
Hotel Transit Bandara.
Rania duduk di tepi tempat tidur kamar hotel yang dingin dan impersonal. Kopernya teronggok di sudut. Dia menatap layar HP-nya. Kosong. Tidak ada pesan dari Adrian.
"Beneran udah nggak peduli ya?" gumam Rania, air matanya menetes lagi. "Dasar cowok bedah plastik. Hatinya juga dari silikon."
Rania meletakkan HP-nya. Dia beranjak ke kamar mandi, berniat mencuci muka dan tidur. Dia ingin melupakan semuanya dan bangun besok sebagai Rania yang baru di Jerman.
Baru saja dia menyalakan keran, terdengar keributan di lorong hotel.
Suara langkah kaki berlari. Suara satpam berteriak, "Pak! Pak! Tunggu! Anda tidak boleh lari-lari di lorong!"
Dan suara yang sangat familiar.
"RANIA! RANIA WIJAYA!"
Rania mematikan keran. Halusinasi?
"KAMAR 312! RANIA!"
Bam! Bam! Bam!
Pintu kamarnya digedor keras.
Rania berjalan ragu ke pintu, mengintip lewat lubang intip.
Di luar sana, berdiri Adrian.
Tapi bukan Adrian yang rapi.
Rambutnya acak-acakan (efek helm), wajahnya cemong debu jalanan, kemejanya kusut dan ada satu bulu ayam menempel di bahunya. Napasnya memburu seperti habis lari maraton. Di belakangnya, dua satpam hotel sedang berusaha menahannya.
Rania membuka pintu dengan kaget.
"Adrian?"
Adrian melihat Rania. Matanya langsung terkunci. Dia mengabaikan satpam yang memegangi lengannya.
"Lepaskan saya, Pak. Saya kenal wanita ini. Saya... saya dokter pribadinya," bohong Adrian pada satpam.
Satpam itu menatap Rania. "Benar, Bu? Bapak ini tamu Ibu?"
Rania menatap Adrian yang berantakan, bau asap knalpot, dan... ayam?
"Iya, Pak," jawab Rania pelan. "Dia... dia pasien saya yang kabur dari RS Jiwa. Eh, maksud saya, dia teman saya."
Satpam melepaskan Adrian dengan wajah curiga. "Oke. Jangan ribut ya, Mas. Tamu lain mau istirahat."
Begitu satpam pergi, Adrian langsung masuk dan menutup pintu. Dia bersandar di pintu, merosot sedikit karena kakinya lemas.
"Lo... lo ngapain ke sini?" tanya Rania, mundur selangkah. "Dan kenapa ada bulu ayam di baju lo?"
Adrian mengatur napasnya. Dia berdiri tegak, berjalan mendekati Rania.
"Saya ke sini naik motor bebek Supra X. Boncengan sama tukang ayam. Lewat bahu jalan tol. Cuma buat ngejar kamu sebelum kamu check-in bagasi."
Rania ternganga. "Lo ninggalin Porsche lo? Lo naik motor butut?"
"Demi kamu, Rania. Demi kamu," Adrian menatap Rania tajam. "Dengerin saya dulu. Jangan potong."
Adrian maju selangkah lagi.
"Saya salah. Saya bego. Saya pengecut."
"Saya marah sama kamu soal kasus Luna bukan karena kamu salah. Tapi karena saya iri. Saya iri kamu punya keberanian buat ambil keputusan sulit demi nyawa pasien, sementara saya sibuk mikirin hal-hal yang 'cantik'."
Rania terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Luna datang ke RS tadi. Dia bilang makasih ke saya. Dia bilang kamu nyelamatin nyawa dia. Dan dia bilang... kaki itu cuma alat, tapi menari itu pakai hati."
Adrian meraih tangan Rania. Tangannya masih gemetar sisa adrenalin berkendara.
"Dan Papa..." Adrian tertawa kecil. "Papa bilang saya bodoh kalau ngebiarin 'benang' saya pergi. Kamu benang saya, Rania. Tanpa kamu, saya layang-layang putus yang nggak tau arah."
"Ad..." Rania terisak pelan.
"Jangan ke Jerman," pinta Adrian. Suaranya serak, memohon. "Atau... kalau kamu mau ke Jerman, bawa saya. Saya rela jadi asisten rumah tangga kamu di sana. Saya rela nyuci piring, nyetrika baju kamu. Asal saya bisa liat kamu tiap hari."
Adrian berlutut.
Di lantai kamar hotel yang berkarpet kusam itu, Pangeran Bedah Plastik berlutut di hadapan Rania.
Dia mengeluarkan cincin dari saku celananya.
"Rania Wijaya, Tukang Jagal kesayangan saya, Konsultan Utama hidup saya... Will you marry me? Will you fix me everyday?"
Rania menangis. Kali ini tangis bahagia yang meledak-ledak. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Lo curang..." isak Rania di balik tangannya. "Lo dateng ke sini bau asep, bau ayam, berantakan... tapi kenapa lo tetep ganteng banget sih?"
Adrian tersenyum, masih berlutut. "Itu genetic, Sayang. Jadi gimana? Yes or No? Lutut saya mulai sakit nih, karpetnya tipis."
Rania menurunkan tangannya. Dia menatap Adrian, lalu mengangguk cepat.
"Yes! Yes, you idiot! I will marry you!"
Adrian langsung berdiri, memasangkan cincin itu di jari manis Rania (yang kali ini pas, karena dia sudah mengukurnya diam-diam waktu manikur malam itu).
Lalu dia menarik Rania ke dalam pelukan, mengangkat tubuh mungil itu dan memutarnya.
"Saya dapet! Saya dapet!" teriak Adrian girang.
"Turunin, Ad! Pusing!" tawa Rania.
Adrian menurunkan Rania, tapi tidak melepaskan pelukannya. Dia menempelkan keningnya ke kening Rania.
"Jadi... Jerman batal?" tanya Adrian penuh harap.
Rania tersenyum jahil. "Hmm... sayang lho beasiswanya."
Wajah Adrian memucat lagi.
"Tapi..." lanjut Rania. "Gue bisa minta penundaan setahun. Buat ngurus nikahan. Dan mungkin... gue bisa bujuk Prof. Hans di sana buat terima suami gue yang manja ini jadi fellowship juga di sana. Siapa tau mereka butuh tukang jahit plastik."
Mata Adrian berbinar. "Kamu serius? Kita bisa pergi bareng?"
"Iya. Kita pergi bareng. Belajar bareng. Pulang bareng. Bangun RS ini bareng."
Adrian mencium Rania. Ciuman yang rasanya seperti kemenangan, debu jalanan, dan masa depan yang cerah.
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok dari parkiran (sepertinya ayam Bapak Ojek tadi lepas). Tapi mereka tidak peduli.
Operasi Penyelamatan Cinta: Sukses Besar.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget