NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

KEBENARAN YANG TIDAK BERTERIAK

Penjara selalu punya bau yang sama.

Besi tua, lantai lembap, dan kesabaran yang dipaksa panjang.

Kartik berdiri di depan ruang kunjungan dengan map cokelat di tangannya. Map itu tidak tebal, tapi isinya berat. Lebih berat dari baja pintu-pintu sel yang berjajar di belakangnya.

Petugas memanggil nama.

“Salman Maheswari.”

Ayah Aira melangkah keluar. Wajahnya lebih kurus dari terakhir Kartik melihatnya.

Rambutnya mulai memutih di pelipis, bukan karena usia, melainkan karena waktu yang terlalu cepat menggerogoti.

Mata mereka bertemu.

“Kamu datang,” ucap ayah Aira lirih, seolah takut harapannya terlalu besar.

Kartik berdiri, menunduk sopan.

“Saya janji akan datang, Om.”

Mereka duduk berhadapan. Kaca tebal memisahkan, telepon hitam menggantung di sisi masing-masing. Ayah Aira mengangkatnya lebih dulu, tangannya sedikit bergetar.

“Kartik… gimana?”

Suaranya nyaris pecah.

Kartik mengangkat telepon, menatap lurus.

“Om, saya sudah pegang bukti yang kuat.”

Mata itu membesar.

“Bukti… apa maksud kamu?”

Kartik membuka map, menempelkan beberapa lembar kertas ke kaca. Salinan laporan keuangan, transfer bank, kontrak proyek Sungai Selatan, hingga bukti penarikan dana pribadi.

“Ini semua dokumen yang menunjukkan bahwa Om bukan pelaku utama. Om korban.”

Ayah Aira menatap lembar-lembar itu seperti melihat masa lalunya sendiri dipreteli satu per satu.

“Awalnya,” Kartik melanjutkan, suaranya tenang tapi tegas,“Om tidak tahu kalau uang kompensasi untuk warga belum diberikan secara merata. Om percaya laporan tim lapangan.”

Ayah Aira menutup mata.

“Saya bahkan sempat membuat pernyataan di media… mengatakan semuanya sudah selesai.”

“Iya,” kata Kartik.“Dan karena itulah Om menandatangani peresmian proyek. Karena Om percaya.”

Ia menarik satu lembar lain.

“Ini artikel yang Om tulis. Artikel yang kemudian viral.”

Ayah Aira membuka mata.

“Artikel itu… justru yang menjatuhkan saya.”

“Tidak, Om,” Kartik menggeleng. “Itu yang membuka kebenaran.”

Kartik mencondongkan badan.

“Setelah artikel itu viral, barulah Om tahu ada warga yang belum menerima kompensasi. Dan Om tidak lari.”

Ayah Aira menunduk.

“Saya pakai uang pribadi,” ucapnya lirih.

“Semua tabungan. Bahkan uang pendidikan yang saya siapkan untuk Aira…”

Kartik menatapnya dalam-dalam.

“Itu yang membuat Om berbeda.”

Ia mengetuk kaca pelan. “Ini bukti transfer Om ke warga. Ini saksi-saksi. Ini rekaman rapat internal yang menunjukkan manipulasi dari pihak lain.”

Ayah Aira terisak. Bahunya bergetar.

“Kartik… apa saya masih bisa keluar dari sini?”

Kartik tidak langsung menjawab. Ia memilih jujur.

“Di persidangan terakhir, saya akan berdiri dan mengatakan satu hal dengan jelas,” katanya. “Om akan bebas.”

Ayah Aira mengangkat kepala cepat.

“Tapi…” Kartik melanjutkan, “membersihkan nama baik Om tidak bisa instan. Ini bukan jaminan. Ini kebenaran. Dan kebenaran butuh waktu.”

Air mata jatuh membasahi pipi pria yang dulu berdiri paling depan di podium-podium megah.

“Saya capek, terus di tuduh ini sudah bertahun-tahun dan lebih parahnya lagi Aira belum mempercayai saya, saya takut Aira mengambil langkah yang salah” ucapnya.

“Saya cuma mau pulang. Saya mau lihat anak dan istri saya.”

Kartik menahan napas.

“Om akan pulang. Tidak hari ini. Tapi Om akan pulang dengan kepala tegak.”

Ayah Aira menggenggam gagang telepon lebih erat.

“Terima kasih… Nak.”

Kartik menunduk.

“Jangan terima kasih ke saya. Terima kasihlah ke Om sendiri… karena Om memilih jujur, meski terlambat, tapi tidak bersembunyi.”

Saat waktu kunjungan habis, Kartik berdiri.

Ayah Aira menatap punggungnya dengan mata merah.

“Jaga Aira,” katanya tiba-tiba.

Kartik berhenti.

Ia tidak menoleh.

“Tugas itu… sudah saya jalani sejak lama, Om.”

Hari itu, matahari terasa lebih ramah.

Ibu Aira duduk di tepi ranjang rumah sakit, mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya disisir rapi. Ada senyum kecil di wajahnya, senyum orang yang akhirnya diizinkan pulang setelah terlalu lama berteman dengan rasa sakit.

“Dua minggu lebih ya, Bu,” kata suster sambil merapikan barang-barang. “Ibu kuat sekali.”

Ibu Aira tersenyum.

“Bukan saya kuat Saya cuma… tidak ingin menyerah.”

Pintu terbuka.

Kartik berdiri di sana, membawa tas kecil berisi obat dan hasil kesehatan.

“Semua sudah siap, Tan,” katanya.

Ibu Aira menatapnya lama.

Entah sejak kapan, setiap melihat Kartik, dadanya terasa lebih lapang.

“Kamu nggak capek, Nak?” tanyanya pelan.

“Bolak-balik begini.”

Kartik menggeleng.

“Kalau capek, saya istirahat. Tapi belum sekarang.”

Mereka berjalan keluar. Saat kaki ibu Aira menyentuh halaman rumah sakit, ia menghirup udara dalam-dalam.

“Masya Allah,” gumamnya. “Rasanya… seperti diberi hidup lagi.”

Ia menoleh ke Kartik.

“Tante sering berdoa,” katanya lirih.

“Minta tanda dari Allah… kalau keluarga kami belum selesai.”

Kartik terdiam.

“Dan kamu datang,” lanjut ibu Aira, air matanya jatuh. “Tante yakin… kamu malaikat yang Allah kirim.”

Kartik menunduk dalam-dalam.

“Saya bukan malaikat, Tan.”

“Tidak semua malaikat punya sayap,” jawab ibu Aira lembut. “Sebagian… datang dalam bentuk manusia yang ikhlas.”

Di tempat lain, Aira berdiri di pinggir trotoar, menatap layar ponselnya. Pesan-pesan dari asisten ayahnya masih terbayang jelas.

Perusahaan bangkrut, Ra.

Hutang di mana-mana.

Harga saham jatuh setelah kasus Om Salman.

Tangannya gemetar.

Ia menelan ludah, lalu menghubungi satu nama. Langit.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil. Langit datang dengan wajah lelah, tapi rapi. Seperti biasa.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

“Ibuku pulang hari ini,” kata Aira pelan. “Setelah lebih dua minggu di rumah sakit.”

“Oh,” jawab Langit. “Syukurlah.”

Aira menggenggam tasnya.

“Langit… aku mau minta tolong.”

Langit mengangkat alis.

“Aku nggak bisa nyetir,” lanjut Aira cepat.

“Aku nggak mungkin bawa ibu naik motor. Taksi… mahal. Uangku tinggal sedikit.”

Ia menarik napas.

“Kamu punya mobil kan ”

Langit menyandarkan punggung.

“Jaraknya jauh.”

“Aku tahu,” suara Aira melemah. “Tapi cuma hari ini.”

Langit menghela napas. “Bensin juga nggak gratis, Ra.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

“Aku ganti,” kata Aira cepat. “Tapi setelah uang nya ada”

“Bukan soal itu,” potong Langit. “Ini bukan kewajiban aku.”

Aira membeku.

“Lagipula,” lanjut Langit datar, “kita belum menikah.”

Aira merasa Dunia seakan berhenti berputar.

“Kalau kamu istriku,” katanya lagi, “lain cerita.”

Aira menatapnya. Lama.

Ada sesuatu di dadanya yang runtuh tanpa suara.

“Oh,” katanya akhirnya.

Langit berdiri.

“Maaf ya. Aku harus pergi.”

Aira tidak menjawab.

Ia hanya duduk.

Diam.

Mematung.

Air mata jatuh satu-satu, tanpa isak.

Bukan karena ditolak.

Tapi karena akhirnya ia mengerti.

Cinta yang mensyaratkan

bukanlah cinta

melainkan transaksi.

Dan di hari ibunya pulang dari rumah sakit,

Aira pulang dengan satu pelajaran yang paling menyakitkan:

Kadang, yang paling tulus

tidak berkata “aku mencintaimu”.

Ia berkata,

“Tenang… aku ada.” Aira tidak mungkin mi tak tolong dengan Raka, ia sudah terlalu banyak merepotkan Raka.

Aira kembali ke rumah sakit dengan langkah tergesa. Nafasnya masih sedikit tersengal, bukan karena jarak, tapi karena pikirannya yang tak kunjung tenang. Di depan gedung rumah sakit, ia berhenti mendadak.

Ibunya berdiri di sana.

Bukan terbaring.

Bukan duduk di kursi roda.

Tapi berdiri, meski tubuhnya masih tampak rapuh, dengan selendang tipis melingkari bahu.

Dan ibunya melambai.

“Aira,” panggilnya sambil tersenyum.

Senyum itu membuat dada Aira menghangat sekaligus perih. Ia berlari kecil mendekat, memeluk ibunya hati-hati, seolah takut tubuh itu masih bisa patah jika dipeluk terlalu erat.

“Bu… kok sudah di sini?”

“Kita pulang,” kata ibunya lembut.

Aira mengangguk cepat. “Iya, Bu. Aira pesenin taksi sekarang.”

Tangannya sudah merogoh ponsel, tapi dalam hatinya ada suara lain yang berbisik:

Tidak apa-apa, Ra. Demi ibu.

Nanti kamu bisa cari kerja.

Apa saja.

Yang penting ibu pulang.

Ibunya menahan tangan Aira.

“Tidak usah.”

Aira mengernyit. “Bu?”

“Sudah ada yang mengantar.”

Aira terdiam. Ia tidak bertanya lagi. Mungkin taksi sudah dipesan. Mungkin teman ibunya. Atau… siapa pun. Ia terlalu lelah untuk menduga-duga.

“Aira ambil barang dulu ya, Bu,” katanya kemudian. “Sama bayar administrasi dan ambil obat.”

Ibunya tersenyum, menggeleng pelan.

“Sudah.”

“Sudah…?” Aira menatap ibunya. “Ibu bayar sendiri?”

Ibunya tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Aira yang penuh tanya, lalu menghela napas pelan.

“Kartik,” katanya akhirnya. “Semua sudah Kartik yang urus. Tagihan, obat, surat-surat. Barang-barang kita juga sudah di mobil.”

Aira membeku.

“Kartik…?”

Suaranya nyaris tak keluar.

“Iya,” jawab ibunya lembut, seolah menyebut sesuatu yang sudah sewajarnya.

“Dia bilang, Aira tidak perlu mikir apa-apa hari ini. Tugas Aira cuma satu.”

“Apa, Bu?”

“Pulang.”

Mata Aira memanas.

Bukan karena uang.

Bukan karena bantuan.

Tapi karena seseorang telah mengambil alih beban yang bahkan tak sempat ia ucapkan.

Suara mesin mobil terdengar mendekat. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Kaca jendela terbuka.

Kartik duduk mengemudi.

Ia tersenyum kecil saat melihat ibu Aira. Senyum yang tidak dibuat-buat. Senyum orang yang lega karena tugasnya hampir selesai.

ia turun dari mobil turun dari mobil.

“Mobilnya sudah siap.”

“Terima kasih, Nak.”jawab ibu Aira.

Kartik membuka pintu belakang. Tangannya sigap, tapi gerakannya tetap hati-hati.

“Pelan-pelan, Tan,” katanya sambil menopang siku ibu Aira.

“Anak Tante galak kalau tahu Tante kenapa-kenapa.”

Ibunya tertawa kecil.

“Galaknya ke kamu atau ke Tante?”

“Keduanya,” jawab Kartik ringan.

Aira berdiri kaku beberapa langkah di belakang. Matanya mengikuti setiap gerakan Kartik. Cara ia membuka pintu. Cara ia memastikan ibunya duduk nyaman. Cara ia menutup pintu tanpa suara keras.

Semua terasa… terlalu penuh.

Kartik menoleh ke arah Aira.

“Kamu di depan aja, Ra.”

Aira mengangguk pelan. Ia masuk ke kursi penumpang. Tangannya gemetar saat menyentuh sabuk pengaman.

Mobil melaju.

Tidak ada musik. Tidak ada percakapan berlebihan. Hanya suara jalan dan napas yang akhirnya sedikit lebih tenang.

Aira menatap lurus ke depan.

“Kartik…”

“Iya.”

“Terima kasih.”

Kartik tidak langsung menjawab.

“Aku tidak membantu,” katanya akhirnya.

“Aku cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Aira menunduk.

“Itu tetap berarti.”

Kartik tersenyum tipis.

“Kalau begitu… anggap saja saya supir taksi.”

Ibunya di kursi belakang menyandarkan kepala. Matanya terpejam, wajahnya tenang.

“Kalau ayahmu tahu,” katanya lirih,

“dia akan bilang… pulang kita hari ini bukan karena kuat, tapi karena Allah masih baik.”

Aira menahan tangis.

Mobil terus melaju, meninggalkan rumah sakit yang selama dua minggu terakhir menjadi saksi air mata dan doa.

Dan di kursi penumpang itu,

Aira akhirnya mengerti:

Pulang bukan soal tempat.

Pulang adalah ketika seseorang memastikan

kamu tidak harus kuat sendirian.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!