Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat Bakso
Di sekolah, pagi itu suasana kelas terasa riuh tapi hangat. Naura sedang duduk di bangku pojok, asyik ngobrol dan bercanda dengan kedua sahabatnya, Sisil dan Lala. Suara tawa mereka terdengar hingga ke ujung kelas, membuat beberapa teman lain melirik sambil tersenyum.
“Eh, Naura! Gue nggak habis pikir kamu bisa bikin Gurunya lupa sama waktu!” celetuk Sisil sambil menahan tawa.
Naura meletakkan dagu di tangan, sambil nyengir.
“Ya iyalah. Gue kan jago strategi, Sis. Kalau nggak gue, siapa lagi?”
Lala ikut nimbrung sambil menepuk punggung Naura.
“Strategi apa? Strategi bikin kita ketawa sampai jam pelajaran pertama habis?”
Tiba-tiba, dari pintu kelas, muncul Akbar, teman beda kelas yang terkenal pintar dan juga sudah lama menaruh hati pada Naura. Wajahnya sedikit merah, langkahnya ragu tapi penuh tekad. Matanya tak lepas dari Naura saat ia berjalan ke arah mereka.
Naura masih asyik tertawa dengan Sisil dan Lala, sama sekali cuek terhadap kehadiran Akbar.
Akbar menarik napas dalam-dalam, mencoba terdengar santai.
“Eh… Naura…”
Naura hanya menoleh sebentar, anggukan singkat, lalu kembali tertawa pada lelucon Lala.
Akbar menelan ludah, tampak kikuk.
“Eh… maksud gue… hmm… tadi, apa kabar?”
Sisil dan Lala segera menahan tawa di belakang tangan mereka, saling bertukar tatap.
Naura, dengan santai, menatap Akbar sekejap.
“Ya… baik. Kamu sendiri gimana?”
Akbar tersenyum kaku, wajahnya memerah semakin menjadi.
“Ah… gue… gue… ya, baik.”
Naura sudah kembali fokus ngobrol sama teman-temannya, tertawa lepas. Akbar berdiri canggung, menatapnya dari dekat, rasanya ingin ngomong banyak hal tapi lidahnya terasa kelu.
Lala menepuk bahu Naura, sambil bergumam kecil agar Akbar dengar:
“Waduh, Naura emang susah ditaklukin ya…”
Naura hanya tersenyum tipis, tanpa menoleh.
“Eh, cuek itu seni, Lala,” bisiknya sambil menyesap minumannya.
Akbar cuma bisa geleng-geleng, tapi hatinya tetap deg-degan. Ia tahu, meskipun Naura cuek, ia tetap ingin mendekat lagi—karena ada sesuatu yang bikin dia nggak bisa lepas dari gadis itu.
Hari-hari berikutnya, Akbar mulai membuat strategi “pintar tapi romantis” untuk mendekati Naura.
Di kelas, saat guru menjelaskan pelajaran, Akbar menyiapkan catatan kecil dengan diagram lucu tentang hal-hal yang disukai gadis itu..dari mulai komik favorit hingga jajanan kesukaan. Ia berencana memberikannya diam-diam saat jam istirahat.
Naura, yang sedang asyik bercanda dengan Sisil dan Lala, tiba-tiba merasakan ada sesuatu mendarat di mejanya. Ia menoleh dan melihat selembar kertas dengan diagram aneh dan tulisan rapi.
Naura menahan tawa, alisnya terangkat.
“Hahaha… Akbar… lo bikin ini buat gue?”
Akbar menatap dari belakang kacamata tebalnya, wajah serius tapi sedikit memerah.
“Ya. Gue pikir… ini bisa bikin lo senang… atau setidaknya… tersenyum sedikit.”
Naura menatap diagram itu: ada gambar komik, jajanan, bahkan catatan lucu tentang tawa Naura. Ia tertawa pelan.
“Wah… anak pintar pun bisa lucu juga, ...makasih ya.”
Akbar menatapnya diam beberapa detik, lalu perlahan tersenyum tipis.
Saat jam istirahat, Naura sedang duduk santai di taman sekolah bersama Sisil dan Lala, menikmati angin sepoi-sepoi dan suara burung yang entah kenapa terdengar dramatis.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Naura menghela napas panjang dan menengok ponselnya.
“Ngapain sih ni orang?” dengusnya kesal, namun tetap membuka chat dari tetangga kampretnya, Hamka.
Hamka. : Naura… gue mau minta toloong.
Me: Nggak bisa… gue sibuk!!!
Naura menggigit bibir, masih kesal. Sudah cukup laki-laki itu membuatnya repot kemarin. Ia tak mau kerepotan kedua kalinya.
Hamka: Tega lo… nggak ada rasa peri-ke-te-tang-ga-an sama sekali.
Me: Bodo amat. E-G-P!
Hamka: EGP?
Me: Emang gue pikirin?! 🤪
Hamka membalas lagi, kali ini dengan nada dramatis maksimal.
Hamka: Jangan salahin kalau gue mati… lo orang pertama yang gue datengin. Beneran ini udah di ujung tanduk…
Naura bergidik kecil, sambil menatap langit.
“Ngomong apaan sih… nggak ngerti gue." Dasar aneh… malah bawa-bawa soal mati
Beberapa detik kemudian, ia menatap layar lagi.
Hamka: Gue pengen banget bakso yang dekat sekolah. Anggap aja ini permintaan terakhir gue.
Me: Kenapa lo nggak nyuruh teman-teman lo aja?
Hamka: Edo nggak sekolah. Faris sama yang lainnya juga nggak masuk. Mereka setia kawan… karena gue nggak masuk, jadi mereka pun bolos sekolah 😎😎😎
Naura menatap layar ponsel sambil menahan tawa.
“Setia kawan sampai bolos sekolah… dasar cowok kampret,” gumamnya.
Hamka tidak menyerah.ia kembali mengetik pesan.
Hamka: Ya udah kalau nggak mau… kalo saja tangan dan kaki gue nggak sakit…
Naura menghela napas panjang, berpikir sejenak. Antara iya dan tidak, hatinya kesal karena sikap seenaknya Hamka. Tapi ada secuil rasa peduli yang diam-diam muncul dihatinya dan itu berhasil mematahkan rasa kesalnya.
Naura menatap layar, tersenyum tipis sambil mengetik:
Me: Ya udah… gue beliin . Tapi lo bayar dua kali lipat dan jangan ganggu gue lagi ya!
Hamka langsung membalas cepat, seolah menang lotre.
Hamka: Ok siap...😚😚😚
Me : 🤮🤮🤮 Geli banget emot nya..ganti !
Hamka : 🤪🤪🤪
Naura menutup chat, masih kesal tapi tak bisa menahan senyum kecil.
Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Hamka.
Sepulang sekolah Naura benar -benar membeli beberapa bungkus bakso.Ia melangkah ke rumah Hamka setelah menyimpan tasnya terlebih dahulu di rumahnya .
Di tangannya bakso masih hangat, namun di hati ia setengah kesal karena sikap seenaknya Hamka yang pasti tak bisa ia tolak .Beberapa kali hatinya mengkhianati logikanya.
Logikanya keras: “Lo kesal sama dia kemarin, jangan peduli! Jangan repot-repot lagi!”
Tapi hatinya malah berteriak: “Tapi dia pasti lapar banget… kasihan juga.”
Begitu pintu dibuka, Hamka keluar dengan ekspresi setengah dramatis, setengah lapar.
"Hai… tetangga. Lo bawa bakso?” mata Hamka langsung berbinar.
“Lo Udah bener-bener nyelamatin hidup gue!” katanya, hampir melompat kegirangan kayak baru dapet hadiah undian.
Naura mengangkat alis, menatap Hamka datar, lalu meletakkan bakso di meja dengan gerakan seadanya.
“Ya… ini biar lo nggak mati penasaran,” ujarnya santai.
Hamka langsung pasang ekspresi dramatis, tangan menempel di dada.
“Wahhh… kejam banget lo. Doain gue mati.”
Naura mendengus.
“Yang bahas mati pertama kali siapa? Lo, kan?”
“Gue cuma lebay dikit,” bela Hamka.
“Lebay dikit katanya. Chat lo udah kayak wasiat terakhir,” balas Naura.
Hamka terkekeh sambil membuka satu bungkus bakso.
“Yang penting sekarang gue hidup… dan bahagia.”
Naura melirik sinis.
“Hidup iya. Bahagia juga. Tapi dramanya nggak ilang.”
“Kan hidup tanpa drama itu hambar,” sahut Hamka cepat.
Naura geleng-geleng kepala.
“Dasar cowok… makan bakso aja bisa jadi tragedi nasional.”
Mereka pun ribut lagi, saling sahut tanpa henti.
Naura dengan omelan ketusnya, Hamka dengan dramanya yang nggak ada rem.Sementara di meja, bakso mengepul hangat, jadi saksi dua tetangga kampret yang kelihatannya selalu bertengkar, tapi entah kenapa… selalu barengan.
Saat hendak mensempat Hamka membuka bungkusnya, terdengar suara dari ruang tamu,
“Eh… Nanaw..? Wah… bawain apa tuh..
perhatian banget sama Hamka ?”
Naura menoleh dan terkejut. Bu Tika muncul, matanya berbinar penuh arti.
“Perhatian?!” Naura nyaris tersedak udara sambil membalas:
“Eh… bukan begitu, Tante ! Aku cuma… ya, dia minta dibelikan bakso, jadi aku beliin aja…”
Kalimat terakhir keluar terbata, jelas tak meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.
Naura bingung menjelaskan pada Bu Tika .
Wanita itu tersenyum lebar, senyumnya terlalu tahu.
“Hmm… minta dibeliin bakso aja diturutin.”
Di sampingnya, Hamka menunduk, bahunya naik-turun menahan tawa, menikmati wajah Naura yang semakin merah seperti kuah bakso kepedasan.