NovelToon NovelToon
Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pena cantik

Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

trauma

Farah hanya duduk lama di ruang tamu yang sunyi, meremas tangannya yang terasa dingin dan gemetar.

Tubuhnya tampak tenang di dalam, tapi jauh di dalam Farah benar-benar hancur. Luka lama yang baru saja pulih kini kembali terbuka lagi.

Tangannya dingin, nafasnya pendek, seolah baru saja lari dari sesuatu yang sudah lama memburunya.

Ia menatap kedua anaknya yang tertidur pulas. Ia mengusap lembut kepala keduanya.

"Maafkan mama ya, sayang. Sudah membuat kalian takut," bisiknya pelan, suara ini nyaris tercekat oleh beban rasa bersalah yang menyesak di dadanya.

Kedua anaknya menyaksikan semua itu, dan ia tahu, seharusnya dia melindungi mereka dari kengerian semacam ini.

Dada ini semakin sesak, seperti udara segar enggan masuk ke paru-paru. Farah berusaha berdiri, langkahnya goyah saat meninggalkan kamar anak-anak.

Bayangan masa lalu yang selama ini ia pendam rapat, kini datang menghantui tanpa ampun.

Ia terhuyung, tangannya berpegangan pada tembok agar tidak roboh. Nafasnya pendek dan berat, jantung berdebar cepat seolah sedang berlari dari kegelapan yang mengancam. Ini bukan lagi kenangan, melainkan kengerian yang nyata—Jackson, sosok yang dulu menyiksanya, kembali berdiri di hadapannya.

"TIDAK... TOLONG JANGAN MENDEKAT!" Suaranya meninggi.

"Tolong, jangan sentuh aku... Jauh dariku! Pergi!"

Tubuhnya gemetar ketika tangannya tak sengaja menyenggol vas bunga di meja.

Suara pecahnya itu menggetarkan sunyi kamar ini, seperti jeritan yang tak pernah sempat ia utarakan selama ini.

Farah menguncikan dirinya didalam ruangan, mencoba menahan ketakutan yang menggulung dalam dada.

Farah memukul kecil kepalanya, berusaha untuk menyadarkan diri. Anak-anak tidak boleh melihatnya seperti ini.

Ia melihat pecahan kaca, tangannya bergerak cepat mengambil pecahan itu lalu menggenggam nya kuat.

Farah selalu melukai dirinya sendiri jika trauma itu kembali menghantui nya. Dengan melukai tubuhnya barulah ia bisa merasa sedikit lebih tenang.

Tubuhnya bersandar di dinding, darah menetes ke lantai.

Ia menangis tanpa suara agar tidur anak-anak tak terganggu. "Kenapa dia datang? Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?" gumamnya dalam hati sambil memukul dadanya sendiri, seolah rasa sakit ini bisa terobati dengan pukulan itu.

Farah menunduk, memejamkan mata, dan dada kirinya terasa seperti diremas kuat.

"Aku kira... aku sudah jauh dari semua itu," bisiknya lirih, mencoba meyakinkan diri yang semakin rapuh.

Tapi kedatangan Jackson yang tiba-tiba meruntuhkan segala usaha yang telah ia jalani selama ini.

Farah merasa bersalah, sangat bersalah pada Dimas. Kenapa ia malah menyeretnya ke dalam gelapnya masa lalunya yang penuh luka?

Dia tidak seharusnya ikut terseret dalam hidup yang ku benci ini.

"Semua ini salahku," pikirnya tanpa henti.

Rasa malu dan berat menyelimuti hatinya karena ia terus-menerus membuat Dimas repot, membahayakan dirinya tanpa ia sadari.

"Maaf, Dim... aku tak bisa lagi melibatkan mu. Jackson itu terlalu berbahaya, dan aku tak ingin gara-gara aku kalian terjebak dalam bahaya," ujarnya dalam hati dengan tekad bulat.

Ia harus bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, demi kehidupan anak-anak dan orang-orang yang ia sayangi.

"Farah.." Dimas memanggil namun tidak ada sahutan dari Farah.

Ia kembali lagi untuk mengantar makanan untuk Farah, karna sejak tadi ia belum makan.

Ia ke kamar anak-anak namun tidak menemukan Farah.

Namun, suara pecahan kaca di kamar belakang membuatnya terkejut. Dimas segera menuju kamar itu.

Tok! Tok!

"Farah... Kamu didalam?" panggil nya pelan. "Fa..."

Namun tidak ada jawaban dari arah dalam.

Dimas semakin khawatir, karna sejak tadi ia tidak menemukan Farah.

Tanpa berfikir panjang Dimas mendobrak pintu itu. Saat pintu berhasil dibuka, Dimas terkejut melihat keadaan Farah yang bersandar pada dinding dengan pandangan kosong, darah berceceran di lantai.

"Farah..." Dimas berlari ke arahnya.

"Astaghfirullah... Apa yang terjadi?" Ia mengambil pecahan kaca di tangannya lalu mengoyak bajunya dan segara membungkus tangan Farah yang terluka.

Farah menatap Dimas dengan pandangan sendu. "Kenapa kau kembali lagi, Dim?" tanya Farah lirih.

"Kalau aku ngak datang, aku ngak bakal tahu kalau keadaan mu seperti ini." jawab Dimas sambil meredakan darah yang mengalir dari tangannya.

Dimas menatapnya tajam, "Apa kau sudah gila? kenapa kau melukai dirimu sendiri? Apa semua ini karena laki-laki itu?" Tanpa sadar Dimas meninggikan suaranya.

"Aku.....tidak tahu harus bagaimana," Lirih Farah.

Dimas menarik nafas panjang,"Maaf..." ucapnya merasa bersalah karna tanpa sengaja membentak wanita itu.

ia segera membawa Farah Ke dalam pelukannya.

"Kenapa dia harus datang sekarang?" gumam nya.

Ia hanya ingin hidup tenang bersama anak-anaknya. ingin membesarkan mereka tanpa bayang-bayang masalalu. Ingin dikelilingi ketenangan, bukan ketakutan.

Dimas mengusap lembut punggung Farah. tangannya mengepal kuat. ia bergumam dalam hati.

"Aku tidak tahu ada cerita apa antara kamu dan lelaki itu, Fa. Tapi aku janji, aku akan melindungi kalian. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu dan anak-anak."

~

Keesokan harinya rumah masih terasa sunyi. Anak-anak masih tidur. Hari ini, toko kue nya tidak buka. Ia belum sepenuhnya pulih dari rasa takutnya apa lagi tangannya yang masih terluka. Namun, Farah berusaha bersikap normal agar anak-anaknya tidak bersedih.

Farah masuk ke kamar anak-anak, ia tersenyum melihat angkasa yang sudah bangun. "Udah bangun, sayang? Tumben banget bangun awal?" tanya Farah lembut, wajannya cemberut, mata kecilnya tampak gelap tidak seperti biasanya.

Farah meletakkan tangannya di bahu angkasa. "Nak, mamak minta maaf soal kemarin ya." Ucapnya sambil membawa angkasa ke dalam pelukannya.

Angkasa tak menjawab. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya lalu berkata Dengan suara kecil, namun penuh dendam yang tak pernah ia tunjukkan.

"Acu Ndak cuka cama, Om itu."

Farah terdiam, ia tahu siapa yang dimaksud putranya.

"Angkasa.."

Anak itu menggeleng cepat, kalau memeluk boneka dinosaurus nya lebih kuat sampai jari jemarinya memutih.

"Om, itu cudah bikin mama nangis lagi. Aca, Ndak cuka! Aca, benci... Om itu jahat!"

Farah terhenyak. ini sudah kedua kalinya ia melihat putranya seperti ini.

"Tadi malam mama nangis! Tangan mama campai luka cepelti ini." angkasa menyentuh tangan Farah yang masih berbalut. "Acu Ndak cuka, om itu! Acu benci dia!"

Farah menahan nafas.

"Nak.. ngak boleh ngomong seperti—"

"Dia kasal!" angkasa memotong, suaranya tak biasa, pecah karna emosi.

"Dia malah-malah! Dia ngomong jahat ke mama. Telus... Dia mau dekati mama, acu Ndak mau dia dekat-dekat mama!"

Farah memeluk angkasa, tapi bocah itu menolak—mendorong pelan. Bukan menolak ibunya, tapi menolak rasa sakit yang baru ia kenal.

Lalu angkasa berkata lebih pelan, matanya berkaca-kaca. "Acu, Ndak cuka lihat mama nangis. Maafkan Aca, kalna aca Ndak bica lindungi mama Dali om jahat itu."

"Aca takut... Aca, takut kehilangan, mama."

Farah membeku, hatinya serasa seperti di sayat-sayat.

Anak sekecil itu, sudah memikirkan kehilangan ibunya.

Farah tersenyum tipis, hatinya terenyuh mendengar perkataan putranya yang seharusnya tidak keluar dari bibir bocah seusianya.

"Mama ngak akan kemana-mana, sayang. Mama akan selalu ada disini, bersama angkasa dan Anaya. Kalian adalah dunia mama, segala-galanya buat mama." Farah mencium pucuk kepala putranya.

Namun kata-kata itu tidak langsung menenangkannya. matanya masih memerah, ia mengusap hidungnya yang mulai berair.

"Om itu... Jangan datang lagi. Dia jahat, bikin mama nangis. Aca, Ndak cuka."

Farah hanya bisa mengiyakan saja. Ia ingin menjelaskan, namun setiap kata membuatnya sesak.

"Maafkan mama ya, nak. Gara-gara mama, Kalian seperti ini." gumam nya dalam hati.

1
Ma Em
Mungkin itu emang cicit ibu .
Ma Em
Angkasa anak baik dan berjanji akan melindungi ibu dan adiknya .
Ma Em
Semoga Farah selalu bahagia bersama sikembar dan usaha kue nya semakin sukses , Jackson sdh tiga tahun tdk bisa menemukan anak2 nya biar saja Jackson merasakan penyesalannya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!