Mawar, gadis cantik, diusianya yang telah matang harus menerima pernikahannya dengan Dirga, seseorang yang tak pernah dikenal sebelumnya. Menggantikan Dimas yang pergi entah Kemana di hari pernikahannya. Cinta yang tak pernah ada sebelumnya, berlahan hadir di dalam mahligai rumah tangga, Dimas yang pergi kembali dengan sejuta penyesalan, ingin kembali pada Mawar kekasih pujaan hati. Bisakah Dimas merebut Mawar dari tangan Dirga? akankah hidup mereka bahagia? ikuti kisahnya terus di Menikah Tanpa Cinta.
Coretan pertama Isti arisandi. Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
"Sayang, Aku sangat terkesan dengan hari ini. Kau pasti sudah merencanakan semua ini sebelumnya, iya kan?? Kau sangat binal tadi. Sampai aku kuwalahan." Dirga menopangkan kakinya pada tubuh Mawar. Dan tangannya merengkuh seluruh tubuhnya.
"Apa sih mas, kamu berlebihan deh!..."Mawar tersipu malu, ia menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
"Sayang telah lama kita melakukan hubungan suami istri seperti sekarang ini! Aku yakin kita akan segera memiliki Baby. Dari buah cinta Kita!. Aku sudah sangat menginginkan putra yang lahir dari rahim ini, sayang."
"Heem Aku juga Mas....." Mawar melirik Dirga sesaat yang kini tangannya beralih merapikan rambutnya.
"Pengennya cewek apa cowok, Mas?" Tanya Mawar lagi.
"Kalo dua-duanya boleh nggak.....?"
"Harus satu dulu. Jawab aja mau cewek apa cowok?"
"Terserah aja, dikasihNya apa, cewek boleh, cowok juga mau. Yang penting wajahnya mirip Aku, Kayak Papanya....!"
"Ah... Dirga kamu egois, itu nggak adil namanya!. Harusnya mirip Aku dong Maminya!" Mawar berkali-kali memukul tubuh Dirga dengan guling. Hingga ruangan sesaat terasa hidup.
"Oke...! Oke ! Biar adil kalo cowok mirip Mami Mawar. Kalo cewek Mirip Papi Dirga. Gimana?"
"Ide Mas boleh juga! " Mawar memutar bola matanya pertanda ia juga berharap demikian. Namun siapa yang bisa tahu, anak mereka nantinya mirip siapa.
"Nah..! Klo gitu kan adil." Ucapan Dirga penuh semangat.
Sesaat mereka diam. Hingga menciptakan suasana ruangan menjadi hening. Mereka berimajinasi dengan kata- katanya barusan.
Kali ini Dirga lagi ingin bermanja dengan Mawar saja. Kalau sudah berada di kamar seharian pun mereka betah. Pria sweet itu selalu mengumbar kata- kata cinta, makin hari bucinnya nggak ketulungan.
Dirga mengelus perut Mawar, ia sudah sangat mendambakan kehadiran seorang putra di tengah mereka.
Secepatnya kita akan memilikinya, Mas! Klo Tuhan sudah menghendaki." Tangan Mawar menggenggam erat tangan Dirga yang berada di atas perutnya. Mendukung ucapan suaminya barusan.
Kecupan hangat dari Dirga yang kesekian kalinya mendarat di dahi istrinya."Thank you for everything, I am your husband, Will never forget it."
"Thank you again my husband, the father of my future son." Mawar gemas dengan suaminya yang sok puitis itu.
Dirga menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Kini ia beranjak turun dari ranjang. Tangannya meraih sebuah kotak yang baru dibelinya.
"Hadiah kecil dariku semoga Kau menyukainya".Dirga membuka hadiah nya untuk Mawar yang ia beli sore tadi,ketika pulang dari kantor.
"Apa ini Mas......!"
"Buka aja, Kamu akan tahu sayang......! Itu sebagai tanda Aku minta maaf telah marah yang nggak jelas sama Kamu kemaren."
Mawar membuka kotak yang berisi hadiah dari Dirga. Mawar senang sekali, hadiahnya arloji cantik khusus dipake wanita. Klo nggak salah arloji ini hampir senada dengan milik Dirga yang dipakai pagi tadi. Mungkin maksudnya biar mereka berdua couple.
"Mas ini berlebihan sekali. Terlalu sering kau memberiku hadiah seperti ini..." Satu kiss dadakan dari Mawar buat Dirga. Yang membuat Dirga terkejut menerimanya.
"Thank you...." Dirga mengelus bibirnya bekas ciuman Mawar.
"Sayang Aku hampir lupa, sejak pulang kantor tadi. Kita sudah melakukannya 2 kali. Tapi Aku belum mandi sama sekali." Dirga mengambil handuk dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Setelah menutup pintu kamar mandi sesaat. Dirga membukanya lagi.
"Sayang...! Mau mandi bareng?" Teriak Dirga yang terlihat kepalanya menyembul keluar pintu dari dalam bilik.
"Nggak mau..! Pasti kamu punya rencana lain." Mawar meraih gawainya, dibalas tawa Dirga dari balik kamar mandi dan kembali menutup pintunya.
Selesai mandi Dirga menghubungi bi Susi, ia menanyakan bagaimana kabarnya.dan kapan ia bisa balik kerja. Dan Mawar sudah turun kebawah bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
Dirga tak sampai hati melihat Mawar yang harus mengurus banyak kebutuhan di dalam rumah. Istrinya sudah seperti pembantu saja sejak kedatangan keluarga besarnya.
Seminggu lagi bibi baru balik lama sekali rasanya bagi Dirga. Usai Dirga mengakhiri panggilan dengan bi Susi. Ia memutar akalnya sambil menggigit bibir bawahnya.Hand pone masih dalam genggamannya.
Dirga mencoba menghubungi jasa penyaluran tenaga ART. Disana juga masih tiga hari lagi baru bisa mengirim pegawainya.
Di lantai atas sendirian, Dirga merasa sangat kesepian. Akhirnya ia memutuskan untuk turun. Sebelum menemui Elis terlebih dahulu ia menghampiri ke meja makan. Ia penasaran dengan rasa kue buatan Mawar yang dibilang tadi spesial untuknya.
"Wooi siapa pelakunya... Ini pasti kerjaan kamu Elis..!" Suara Dirga memekik Membuat Elis terjengkit kaget yang sedari tadi fokus lihat acara televisi favoritnya.
"Kakak rese!... Teriakan Kakak mengganggu indera pendengaranku tau!" Elis kesal dengan kakaknya yang baru turun dari lantai atas sudah teriak heboh.
"Ini kue kenapa tinggal nampan sama tusuk doank, pasti kerja.an Kamu!! Tinggalin dikit napa, buat Kakak....!"
"Emang itu tadi special banget ya, Kak?...."
"Bangeeeet.....!" Baru kali ini kelakuan Dirga jutek gara gara makanan.
"Pantesan Kak rasanya mantul banget." Elis menunjukkan jari jempolnya. Membuat Dirga semakin kesal.
"Kakak marah ...! Kakak marah....! " Kini Elis dan Dirga bermain kejar-kejaran layaknya anak Sekolah Dasar.
Elis berlari memutar sekeliling sofa sedangkan Dirga mengejar dibelakangnya. Sejenak suasana ruangan menjadi gaduh. Mereka seperti mengenang masa kecilnya.
Mama Hana mendengar berisik di dalam segera masuk. Menemui anak- anaknya.
"Hey...! Hei..! Apa yang kalian lakukan?..."
"Ini, Ma !Kakak jahat. Mau pukul Elis pake bantal itu!" Elis menunjuk Dirga yang sedang memegang bantal di tangannya.
Gadis itu berlari menghampiri mamanya. Ia bersembunyi di bayangan tubuh Mama Hana.
"Udah kalian udah pada gedhe juga masih mirip balita." Besok biar Mawar bikin lagi aja.
Huh...Awas kamu...! Dirga mendengus kesal. Walaupun ia tak serius kesal. Sebenarnya ia kangen sudah lama tidak mengusili adiknya.
******
Keesokan harinya Dirga berangkat ke Kantor dengan semangat 45. Karena kali ini Ditemani dengan papa Heri. Papa Heri ingin mengetahui perkembangan kerja putranya. Walaupun usahanya sendiri. Jika ada keberhasilan orang tua juga turut bangga. Elis turut bersama kakaknya.
"Sayang, Mas Berangkat dulu!"
Dirga berdiri dari duduknya, ia mengecup kening Mawar dan pipi kanan kirinya.
"Hati-hati di jalan Mas..."Mawar terasa berat jika ditinggal suaminya berangkat kerja di akhir-akhir ini,seperti ada yang bergelayut berat di hatinya. Apakah mungkin sekedar rasa cinta yang besar atau yang lainnya.
Mawar....! Panggil mama Hana.
Merasa namanya dipanggil Mawar segera berhenti. Yang tadinya hendak kebelakang. Ia segera menghentikan langkahnya.
"Mama panggil Mawar? Tanya Mawar kemudian.
"Iya Mama panggil kamu! "
"Mawar...! Ada sesuatu yang pengen Mama omongin"
"Iya ,Ma... Mawar mendengarkan." Mawar bersikap sesopan mungkin kepada Mertuanya
"Mama sudah mengetahui perihal Dirga menikahi Kamu, Mama sangat mudah mengetahui seluk beluk kamu. Dan Mama kecewa kalian sudah bohong tentang semua itu"
"Maaf saja jika Mama kurang suka dengan masa lalu kamu!"
"Wanita sepertimu pasti akan terbayang bayang kenangan masalalu. Dan Dirga ia menikah denganmu tak ada cinta sama sekali."
"Mama tidak suka itu.."
"Tapi Ma... Mawar dan Mas Dirga se-se-ka-rang sa-Ling men-Cin-ta."
Ucapan Mawar terbata- bata karena sesak di dadanya membuat ia sulit untuk berkata dengan benar.
"Hah.... Mama rasa tidak. Mungkin Dirga kasian saja sama Kamu" Mama Hana menyangkal pembenaran dari Mawar.
"Jadi kamu jangan berasa di atas angkasa sekarang, Wanita sepertimu pasti ingin merubah status dari pekerja rendahan menjadi nyonya, Itu sering sekali terjadi !"
Sejak tadi Mawar berusaha tegar. Tapi mendengar penghinaan ini, Mawar sangat terpukul. Ia merasa seperti wanita matre yang mengejar harta semata.
"Mama....!"
Mawar tidak tahan dengan sikap mama Hana. Tidak percaya dengan kata kata yang keluar dari mulutnya.Ia segera ingin pergi. Namun mama Hana segera menghentikan langkah Mawar.
"Tunggu dulu!, Mama belum selesai bicara!" Cegah Mama Hana agar Mawar tidak pergi darinya.
Seketika Mawar menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap mama Hana.
#Selamat pagi Readers semuanya
#Suka cerita ini ?
#Jangan lupa kasih like ya? Agar penulis lebih semaaaaaangaat menulis.😍😍