Kecelakaan maut yang menimpa sahabat baiknya, membuat Dara Asa Nirwana terpaksa menjalani nikah kontrak dengan Dante Alvarendra pria yang paling ia benci.
Hal itu Dara lakukan demi memenuhi wasiat terakhir almarhumah untuk menjaga putra semata wayang sahabatnya.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan lernikahan kontrak antara Dara dan Dante?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Nikah Kontrak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 24
Dara pulang dengan wajah dan hati yang tak karuan. Baru saja ia hendak menepikan kendaraannya di kediaman Max, tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan mobil antik Dante keluar dari garasi.
Langsung saja Dara berhenti dan keluar dari mobilnya, sebab bukan Dante yang mengendarai mobil tersebut, melainkan seseorang yang tak ia kenal. "Loh... Loh... Apa-apa ini?" ia mencoba mengejar mobil tersebut, namun mobil antik Dante terus melaju.
Dara ingin mengejarnya dengan menggunakan mobilnya namun pengacara Max menahannya. "Itu saudara sepupu Dante," ucapnya. "Kau betul-betul tak mengenalnya?"
Dara menggelengkan kepalanya, selain kedua orang tua Dante, ia tak ingat siapa-siapa saja yang datang ke acara nikahannya.
"Sudah kuduga," sang pengacara merotasikan bola matanya kesal. "Kalian menikah palsu, tentu mana ingat siapa-siapa saja saudara yang datang," ucapnya.
"Dante memintanya untuk mengambil mobil dan membawanya ke Cirebon, ke rumah orang tuanya karena dia sudah tidak lagi tinggal di Jakarta. Kau tahu itu kan?" tanya pengacara.
Dara mengangguk, dalam benaknya kembali bersedih mengetahui Dante benar-benar sudah tidak lagi tinggal di Jakarta.
Ia melirik ke arah teras, nampak koper-kopernya sudah berjejer di sana. "Loh itu? Siapa yang mengeluarkan?" tanyanya heran sembari mendekati koper-kopernya.
"Tentu saja kami," sang pengacara menunjuk dirinya dan timnya. "Kami sedang banyak pekerjaan, jadi terpaksa kami keluarkan barang-barangmu karena kami ingin mengunci rumah ini." Ia memperlihatkan kunci rumah Max yang kini sudah ada di tangannya.
"Itu sarapanmu ada di meja," tunjuk pengacara pada meja teras.
"Benar-benar tidak sopan," gerutu Dara, ia merapihkan koper dan barang-barangnya sembari memeriksa kalau-kalau ada yang tertinggal.
"Oh ya, satu hal lagi," ucap pengaca sebelum ia meninggalkan kediaman Max. "Tadi Dante menghubungiku, dia memintaku untuk membatumu mengurus perceraian. Bagaimana kau setuju? Kapan kau mau mengajukan?"
Dara terdiam. Padahal ia berniat menyusul Dante ke Jogja, tapi mengapa dia malah meminta pengacara Max untuk mengurus perceraian mereka, apa Dante sudah tidak mengingankan pernikahan ini lagi? Apa ia ingin membuka lembaran barunya di tempatnya yang baru? Apa kata-kata yang tadi malam Dante katakan hanya mimpi indahnya saja?
"Kau uruslah secepatnya, bila perlu besok aku sudah terima surat cerainya," ucap Dara dingin, ia fokus pada barangnya yang berserakan.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit. Semoga harimu menyenangkan." Pengacara dan timnya pun pergi dari kediaman Max.
***
"Pengacara sialan," Dara mulai memasukan koper-kopernya ke dalam mobil, ia bahkan tak di beri kesempatan untuk mandi sebentar padahal sebentar lagi ia harus ke toko untuk menemui vendornya.
Ketika mengambil tas besar terakhirnya yang berisi koleksi sepatu dan sandalnya, Dara melirik pada sarapan di atas meja. Mungkin roti-roti di tokonya rasanya lebih enak, namun buatan Dante...
Dara pun meraihnya, kemudian memasukannya kedalam mulutnya. Selesai menghabiskan sarapannya, ia memasukan tas terakhirnya ke mobil dan bergegas pergi dari kediaman Max.
Kenangan indah dalam rumah itu tidak akan pernah ia lupakan, bahkan mungkin separuh dari dirinya masih tertinggal di sana. Hari-hari yang ia lalui bersama sahabatnya, bersama Dion dan juga Dante, akan terus ada dalam benaknya.
'Selamat tinggal,' gumam Dara lirih.
***
Tidak ada waktu untuk pulang kerumahnya untuk membersihkan diri, Dara langsung tancap gas menuju toko, meski dirinya kini hanya menggunakan daster.
"Toh tadi juga ia larian-larian di bandara dalam keadaan seperti ini," pikirnya.
Tiba di toko Pak Banu sudah menunggunya, pri bertubuh gempal itu sudah bolak balik seperti tak tenang.
"Oh Dara.. Akhirnya kau datang juga."
Pria itu langsung menyambut kedatangan Dara, begitu melihatnya di pintu depan.
"Aku kira kau lupa dengan tagihan-tagihanmu."
Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal tersebut, sebab ia sudah mencari Dara sejak Dara berada di Bogor bersama Dion dan Dante.
Dara tidak mau langsung membayarnya sebab ia menemukan kejanggalan pada tagihan yang ia terima, lagipula ia pun sibuk mengemasi barang-barang Dion.
Mereka duduk berhadapan, dan tanpa basa-basi Dara mengulurkan tagihan bulan lalu dengan tagihan bulan ini, nampak perbedaan harga bahan-bahan kue yang ia beli.
"Dara, bukankah sudahku katakan jika ada kenaikan harga?" Banu meningatkan soal teleponnya satu bulan yang lalu sebelum ia mengirimkan barang.
Waktu itu Dara tengah sibuk mengurus pernikahannya yang begitu mendadak, agar ia lekas mendapatkan Dion. Ia tak begitu menyimak apa yang Banu katakan saat itu, Dara hanya bilang ia dan setuju.
Dara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mau tak mau ia harus membayar tagihan itu sekarang juga.
Setelah Banu mendapatkan apa yang ia minta, pria itu pergi. Sementara Dara memeriksa laporan keuangan tokonya. "Sepertinya daya beli masyarakat kini tengah turun," gumam Dara.
Seharian ia memutar otak untuk menekan pengeluaran, agar pendapatan bulan depan lebih stabil.
Setelah lelah bekerja, ia kembali kekediamannya dengan kondisi hati, pikiran dan tubuhnya yang lelah luar biasa. Dara sudah mencoba menghubungi Dante kembali, namun handphone pria itu masih di luar jangkauan.
Dara merasa tak ada satu pun aspek di kehidupannya yang berjalan dengan baik. Keluarga, asmara, hingga keuangannya semuanya berantakan.
Ia memarkirkan kendaraannya di rumah mungilnya, sekilas ia melirik ke arah spion untuk melihat tumpukan barang-barangnya. Ia memutuskan untuk merapihkannya besok, ia sudah tidak punya tenaga untuk beres-beres.
Begitu keluar dari mobil, ia terkejut melihat sesosok pria tertidur di teras rumahnya. Pria itu duduk di sudut sehingga tak terkena sorot lampu sehingga Dara hampir tak mengenalinya.
sepandainya org yg paham parenting harusnya tauu bahwa anak pasti akan keget ditempat hal2 baru
jangan2 mereka punya maksud nihh
klu menantukan seorang anak hrusnya kalian sebdiri yng mengurus bukannya pengasuh
nihh Dinsos nyaa gimana sihh
kok cepat banget yaa, langsung minta Dion gitu..emang tidak ada survei atau pengenalan thdap anaknya dulu kah..? bagaimana klu anknya tidak cocok? ini anak udah kayak barang ajaa
pleasee dehhh..BERANI KOTOR ITU BAIK
anak2 juga perlu diajarin mwngenal alam
truss salahnya dimanaa 🤣🤣
kamu tinggal balik, ambil baju kamu lalu kamu juga terbang ke Jogya menyusul Dante laaah